Kredit Alsintan Diduga Sarat Dengan Rekayasa, Pihak Yang Terlibat Harus Diproses Hukum

oleh -607 views

PADANG,SUMBARTODAY-Lagi-lagi, oknum karyawan Bank Nagari terbukti tidak profesioanal dalam mengelola aset kebanggan masyarakat Sumatera Barat ini, seperti yang terjadi pada beberapa waktu silam  PT. ALSINTAN MAKMUR JAYA yang memperdatakan Bank Nagari dan Kejaksaan.

Akibatnya Bank Nagari Sumatera Barat dan Kejaksaan terpaksa menelan pil pahit dengan kewajiban membayar Rp 11 Milyar.

Dengan pokok hutang Rp 9 milyar lebih yang tak akan kembali, estimasi bunga kredit, 12% dan provisi 1,5% pertahun, diperkirakan kerugian Bank Nagari dapat mencapai angka lebih kurang Rp 14 milyar. dengan demikian total kerugian yang diderita Bank Nagari  bisa mencapai angka 35 milyar.

Sangat tidak relevan, demi kepentingan pribadi dan kelompok mereka tega membuat Bank milik masyarakat Sumatera Barat ini dipecundangi habis habisan, Rico Adi Utama menerangkan

Tingkat kepedulian serta rasa  tanggungjawab pejabat bank Nagari terhadap bank ini sangat kurang. keberpihakan kepada bank milik rakyat Sumatera Barat dapat dikatakan tidak ada, sepertinya bagi mereka keuntungan Bank Nagari adalah prioritas terakhir, Pada hal setiap tahun mereka mendapatkan bonus besar. jelas Indrawan yang merupakan sekertaris FKI-1 Sumbar.

“Siapakah yang harus bertanggung jawab ? siapakah yang harus menanggung kerugian yang diderita Bank Nagari?”, tukuk Indra.

Dijelaskan oleh Riko , “yang pasti  APBD Sumbar akan menjadi taruhannya, sedangkan oknum yang berbuat masih saja melenggang bebas, bahkan salah satunya sukses menjadi Direktur kepatuhan pada Bank Nagari”, tukas Riko ketua FKI-1 Sumbar.

Dijelaskan oleh Rico bahwa, ” pada saat itu Edrizanof adalah wakil pimpinan cabang Painan, beliau diduga ikut menanda tangani surat-surat pendukung kredit  yang mengakibatkan Bank Nagari harus menderita kerugian yang sangat besar.

Bank Nagari memang aneh bin ajaib, orang yang sudah jelas gagal mungkinkan akan sanggup untuk mengawasi Bank Nagari ini. berdasarkan temuan bukti surat keputusan pengadilan sampai kemahkamah agung, disinyalir Endrizanof  ikut bertanggung jawab atas kerugian yang dialami Bank Nagari pada masa itu.

Tapi apa hendak dikata itulah hasil RUPS Bank Nagari dan hasil Fit and Proper Tess yang dilakukan oleh OJK, kita juga harus menghargai keputusan mereka.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah lembaga yang dipercaya oleh Negara untuk mengawasi setiap tindak-tanduk yang terjadi pada perbankan, termasuk termasuk Bank Nagari.

“Edrizanof berasal dari  keluarga besar kejaksaan seperti yang di terangkan Suryadi Yanwar. Seakan kebal hukum, bahkan jadi saksipun tidak, tapi itulah faktanya, Bank Nagari harus telan pil pahit akibat ulah anak sendiri”, Riko Adi Utama memaparkan.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Indrawan,“Bandingkan dengan dengan kasus PT.Chiko, sangat jelas kejanggalan yang terjadi, dalam kasus Chiko wakil pimpinan cabang utama jadi tersangka, sedangkan wakil pimpinan cabang Painan bahkan naik pangkat jadi direktur kepatuhan, sepertinya itu bonus Bagi Edrizanof “, ujar Indrawan menjelaskan

Kami sebagai penggiat Anti Korupsi, bahwa kedua jabatan itu adalah sama, yang berbeda adalah perlakuan jaksa yang berbuat sekehendak hati, yang bekerja tidak sesuai dengan KUHAP, begitu juga dengan OJK wilayah Sumbar, sepertinya mereka lupa mencatat track record sang anak jaksa”,  ungkap Ketua FKI-1 Sumbar ini.

Saat dikonfirmasikan kepada Endrizanof yang sekarang menjabat sebagai direktur kepatuhan melalui selulernya, tidak ada jawaban. begitu juga dengan Acong selaku humas Bank Nagari, juga tidak menjawab telepon Sumbartoday, Rabu (15/03).

“Bank Nagari adalah Bank milik masyarakat Sumatera Barat, siapa lagi yang akan membela dan menjaga kalau bukan kita, sekarang Bank Nagari digerogoti oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab, Bank Nagari dibuat merugi oleh anak-anaknya sendiri”, kata Indrawan sebagai sekertaris FKI-1 mengakhiri.(CR)