Kepala Sekolah SMAN 2 Padang Abaikan UU Perlindungan Anak

oleh -554 views

PADANG,SUMBARTODAY.net- Masih membekas diingatan kita tentang pengeroyokan yang dilakukan oleh siswa SMAN 2 Padang Ihsan cs terhadap M.Zaki Arasy yang juga menuntut ilmu disekolah itu.

Pengeroyokan yang terjadi pada hari Kamis   tanggal 5 Mei2016 lalu, yang bertempat di belakang Istano Pagaruyung Batu Sangkar, saat acara  kemping sekolah, sampai  berita ini diturunkan belum ada proses hukum yang jelas.

Sampai saat ini korban belum mendapatkan keadilan sesuai undang-undang yang berlaku . Sekarang Zaki tidak bisa mengecap pendidikan disekolah itu  karena setiap jam sekolah sering di intimidasi oknum guru disekolah itu.

Salah seorang guru pernah melontarkan kata-kata yang bukan ucapan seorang pendidik.Zaki menirukan “Hoi manga jo ang sekolah lai ,percuma senyo”artinya buat apa juga kamu sekolah disini lagi, percuma saja.

Saat Sumbartoday.net melakukan konfirmasi kepada orang tua korban Rini panggilan akrap ibunda zaki menjelaskan”kalau masalah ini mungkin sudah damai secara lisan,tapi negara ini memiliki hukum yang harus dihormati dan dijalani ” terangnya, tapi saya menyayangkan sikap oknum guru disekolah itu yang seakan melindungi tersangka”pungkasnya pada Jum’at (17/03).

Disinyalir pihak sekolah sengaja menghabat proses hukum pengeroyokan itu, sebab sampai saat ini belum ada keputusan dari pihak berwajib terhadap tersangka pengeroyokan ini.

Tersangka pengeroyokan lebih dari lima orang , yang teringat jelasnya, M.Ikhsan, Gevin Tri Ilham, Frans Malanio, M.David Maqwa dan Rudi, sampai saat ini masih berstatus terlapor pungkas Zaki.

Saat di konfirmasi kepada Syamsul Bahri selaku Kepala sekolah membenarkan atas  peristiwa perkelahian itu, tapi  bukan pengeroyokan, dan kedua belah pihak  sudah berdamai”terangnya pada hari yang sama via seluler.

Jika  proses hukumnya  sengaja diberhentikan atau dihambat pihak sekolah, ini jelas sudah mengakangi Undang-undang Perlindungan Anak (UPA).Pasal 54 ayat1 “  Anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak Kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

Ayat 2 “Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, aparat pemerintah, dan/atau Masyarakat.

Pasal 76c yang berbunyi” Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap Anak.

Pasal 80 ayat 1″Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76C, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).

Kami orang tua korban berharap penegak hukum lebih cermat dalam menetapkan pasal-pasal yang akan di kenakan terhadap terlapor, apabila mengacu kepada UU perlindungan anak sudah jelas Pendidik terlibat dalam kasus ini pungkas Indra panggilan akrap Papa M Zaki . (Chairur)