Brigjend Pol.Drs.FAKHRIZAL, M.Hum, Kapolda Ideal di Ranah Minang

oleh -1.396 views

PADANG,SUMBARTODAY-Hampir empat bulan lamanya, Brigjend Pol. Drs. FAKHRIZAL, M.Hum menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Barat (Polda Sumbar) yang senantiasa terstruktur mengatasi keresahan masyarakat selama ini. Hal sedemikian amat dirasakan, terbukti dari kesiapan jajaran polisi seluruh penjuru Sumbar dalam mengatasi kegundahan ranah minang. Sederhananya, idealisme Kapolda “urang awak” ini sangatlah teguh dan kental. Tanpa pandang bulu demi terciptanya rasa aman dan nyaman bagi daerah yang merupakan tanah asalnya sendiri.

Pria kelahiran Kota Bukittinggi, 26 April 1963 silam, telah mengukir banyak prestasi membanggakan bagi orang kampungnya. Dia dikenal akrab,bersahaja dan tegas dalam mengambil sikap. Senada dengan itu, Istri Kapolda, Ibu Ade Fakhrizal menceritakan tentang sikap pemberani suaminya. Ia mengatakan pernah melihat langsung ketika sang imam dikeroyok oleh tujuh orang, namun bisa menang.

“Bapak waktu itu dikenal sangat berani. Pernah, saat pergi berdua, kami digaduh dan terjadi keributan, lalu bapak turun dari mobil. Saya melihat dia dikeroyok tujuh orang. Akhirnya menang,” ungkap Ibu cantik mantan Putri Ayu Sumatera Barat tahun 1988 kepada awak media beberapa waktu lalu.

Kemudian tidak hanya itu, jiwa besar seorang pemimpin yang dimiliki oleh , BRIGJEN POL. Drs. FAKHRIZAL, M.Hum sudah mengalir sedari kecil. Kapolda Sumbar menceritakan, ia lahir di keluarga Tentara Nasional Indonesia (TNI), ayahnya seorang anggota TNI-AD. Sejak kecil sampai kelas 3 SMA, tidak ada niat untuk menjadi abdi negara. Hanya, orang tua menekankan untuk serius dalam menyelesaikan sekolah.

“Ayah saya mendidik seperti anak biasanya, hanya menekankan untuk sekolah pintar,”sebutnya.

Setelah tamat SMA, anak pertama dari enam bersaudara ini baru mempunyai keinginan untuk masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Salah satu alasannya pun adalah untuk membantu meringankan beban orang tuanya dan bisa membantu pendidikan adik-adiknya nanti.

Saat mendaftar, polisi bukan menjadi target utamanya. TNI-Angkatan Darat dan Angkatan Udara justru menjadi incarannya sejak awal. Namun, hasil psikotes membawanya untuk menjadi polisi.

“Iya, niatnya masuk tentara, malah masuk polisi,”celetuknya.

Tidak sesuai pilihan bukan berarti harus patah semangat. Jendral yang pernah menjadi wakil dari Budi Waseso (BW) di Karo Paminal Mabes Polri itu mencoba menerima dan belajar tugas menjadi polisi.

 

Tahun 1986 menyelesaikan pendidikan dan bertugas di Mabes Polri. Bapak anak empat itu pun menyadari tugas polisi itu sangat mulia dan sangat membanggakan. Asal, sesuai dengan aturan dan ikhlas.

“Saya cinta pada polisi dan bangga menjadi polisi,” tegasnya.

Beberapa tahun berikutnya, jabatan Kanit buser Polres Jakarta Selatan pun diembannya. Saat itu masih berpangkat Letnan dua (saat ini Ipda). Beberapa kasus besar berhasil diungkap. Saat itu, yang masih diingat kasus Slamet gundul, Kusno, perampok yang meresahkan masyarakat, berhasil diselesaikannya dengan baik.

 

Tantangan berikutnya saat berada di pulau Bali. Setelah menjalani Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK). Dua kali menjabat sebagai Kapolsek. Pertama Kapolsek Nusa Dua dan Kapolsek Denpasar kota. Ada kasus besar yang menjadi perhatian waktu itu, sekira tahun 1995-1996. Demikian halnya saat menjadi Wakapolres Singaraja.

Diungkapkannya, perjalanan menjadi jendral tidak mudah ada banyak tahapan-tahapan untuk meraihnya. Setelah menjadi wakapolres, melanjutkan untuk sekolah staf dan pimpinan (Sespim).

”Dari 12 peserta, hanya satu yang lulus. Itu saya,”katanya. Ia pun bersyukur untuk bisa tembus menapaki pendidikan di PTIK, Sespim, dan Sespati hanya dilalui dengan satu kali tes.

Pengalaman menantang lainnya saat menjabat sebagai Karo Paminal (Kepala biro pengamanan internal) Mabes Polri 2013 -2015. Jabatan sebelum menjadi Kapolda Kalteng. Yang tugasnya harus membenahi dan memberi shock terapi kepada oknum-oknum polisi nakal di kepolisian.

Salah satunya, menangani kasus oknum perwira menengah penerima suap dari bandar narkoba beberapa waktu lalu dan oknum yang terlibat dalam judi online.

“Kita bersihkan waktu itu. Kita terbuka dan kita ekspos waktu itu. Menunjukkan Polri benar-benar ingin berbenah diri,”ungkapnya.

Dari segi  kepribadian, mantan Kapolres Jepara itu terlihat apa adanya. Santai tapi tegas. Semua dilalui seperti air mengalir. Tidak pernah dirinya meminta- minta jabatan. Semua dijalani dengan ikhlas.

“Saya tidak pernah ngurus – ngurus. Jadi polisi ini, kalau dijalani dengan ikhlas enak kok. Ngak usah neko-neko,” imbuh jendral yang selalu mendapat dukungan sangat luar biasa dari keluarganya.

Tentunya, pengalaman dan prestasi akan ditularkan kepada anggota-anggotanya. Termasuk para anggota di Polda Kalteng. Dengan berbagai program- program yang menjadi prioritas.

Riwayat jabatan :

  • 00-00-1986 Wapamapta Res Metro Jaksel Polda Metro Jaya
  • 00-00-1987 Paur Minik Serse Res Jaksel Polda Metro Jaya
  • 00-00-1989 Kanit Resintel Res Metro Pasar Minggu Polda Metro Jaya
  • 00-00-1990 Kanit Res Intel Metro Kebayoran Baru Polda Metro Jaya
  • 00-00-1994 Kapolsek Khusus Buala Polres Badung Polda Nusra
  • 00-00-1995 Kapolsekta Denpasar Polres Badung Polda Nusra
  • 01-04-1997 Waka Polres Buleleng Polda Bali
  • 01-03-2000 Kabag Pammasbang Dit Intelpam Polda Bali
  • 01-09-2000 Pamen Sespim Polri
  • 23-05-2001 Kabag Serse Ek Dit Serse Polda Jateng
  • 27-02-2003 Kapolres Jepara Polwil Pati Polda Jateng
  • 02-01-2006 Wadir Intelkam Polda Metro Jaya
  • 09-02-2007 Kaden D.1 Dit D Baintelkam Polri
  • 16-03-2008 Dir Intelkam Polda Jambi
  • 05-08-2010 Pamen Sde Sdm Polri (dlm rangka dik sespati)
  • 30-12-2010 Analis Kebijakan Madya Bidang Paminal Divpropam Polri
  • 01-04-2011 Kabagdumas Rorenmin Itwasum Polri
  • 19-10-2011 Sesropaminal Divpropam Polri
  • 31-10-2013 Karopaminal Divpropam Polri
  • 05-06-2015 Kapolda Kalteng
  • 22-12-2016 Kapolda Sumbar

Inilah sedikit cerita biografi mengenai cara mendidik keempat anaknya. Iptu Alfano Ramadhan, si kembar Julia Nofadini dan Julia Nofadina serta si bungsu Syarfina. (Red)