Kegagalan Proyek “Pasar Banda Buek”, Sebab, Akibat, dan Solusi(Eds.3)

oleh -390 views

Kecurangan  : Laporan Polisi oleh Direktur PT Syafindo Mutiara Andalas dikala itu Beri Bur ke Polsek Luki atas kasus Penggelapan sebuah Laptop adalah awal kegagalan proyek ini.

Takut ditagih atas pembayaran pekerjaan, walaupun akhirnya diketahui bahwa issue itu hanya fitnah keji yang sengaja dihembuskan agar si terlapor akhirnya harus terbuang dari proyek tersebut.

Tujuan dari pelaporan itu tidak lain adalah untuk mengambil alih semua pekerjaan, sehingga pembayaran bisa diabaikan, terbukti terlapor diputus kerjasamanya dan dikeluarkan dari proyek.

H.Syafruddin Arifin, SH selaku komisaris utama PT. Syafindo Mutiara Andalas mengambil alih seluruh pekerjaan dan mengikuti langkah direktur yang lama dengan membuat perjanjian kerjasama dengan Direktur PT Langgeng Giri Bumi.

Dengan demikian seluruh hasil yang telah dibangun bebas untuk di bagi-bagi, dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. 65 (Enam puluh lima) petak kios dijual oleh Direktur PT SMA yang lama.
  2. 16 (Enam belas) petak kios dikuasai oleh Bank Nagari atas hutang PT. Langgeng Giri Bumi.
  3. 5 (Lima) petak kios di jual dan digadaikan oleh  H. Syafruddin Arifin SH.

Sedangkan si terlapor tidak mendapatkan pembayaran dari hasil penjualan yang telah dilakukan.

Dari hasil bagi-bagi tersebut dapat diduga bahwa kecurangan yang dilakukan oleh ketiga pihak tersebut sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya.

Sebanyak 65 kios serta petak meja batu yang telah dijual oleh Direktur PT Syafindo Mutiara Andalas tanpa setoran pembayaran ke rekening  perusahaan Perusahaan merupakan modus pelaku untuk menghindari pajak, Hal ini diduga kuat merupakan pelanggaran dari Perjanjian kerjasama dan pelanggaran pidana.

“Kejadian ini sudah dilaporkan ke Polda Sumbar, namun proses hukum masih jalan ditempat”, kata Indrawan .

“Begitu juga dengan 16 petak kios dengan luas 355 m2, telah dilakukan perpindahan hak secara tidak sah ke Bank Nagari melalui penerbitan sebuah kartu kuning, hal ini juga merupakan pelanggaran pidana, karena perpindahan hak harus melalui sebuah akta jual-beli (Penyerahan Yuridis) yang merupakan kelanjutan dari Perjanjian Pengikatan Jual-Beli (PPJB), kalau kita telusuri satu persatu begitu banyak pelanggaran yang terjadi pada proyek ini”,tukuk Indrawan menjelaskan

“Diduga kuat toko tersebut berpindah hak terkait dengan penyelesaian kredit PT. Langgeng Giri Bumi”, pungkas Indrawan lagi.

Saat TIM dari media mempertanyakan kepada Ir Asnel Sekda Kota Padang dengan disaksikan beberapa orang asisten dan wakil walikota, beliau dengan bersemangat mengatakan bahwa ” kartu kuning Itu resmi dikeluarkan oleh Dinas Pasar”, ujar Asnel dengan nada tinggi.

Lima petak kios di jual dan digadaikan oleh  H. Syafruddin arifin, kejadian ini menambah panjang daftar dugaan pelanggaran pidana pada proyek tersebut, bagaimana tidak terkait 5 kartu kuning tersebut Syafruddin melibatkan nama 3 anak dan istrinya.

H.Syafrudin arifin seakan tidak mengetahui akan pelanggaran tersebut,  saat kami lakukan konfirmasi dengan gamblang beliau mengatakan ” Saya mau untuk memulangkan ” tutur Haji Syaf panggilan akrap H.Syafrudin Arifin, SH.

“Dalam hal ini diduga H.Syafruddin telah melakukan pelanggaran memakai Kartu kuning Palsu, hanya saja Syafruddin seakan akan tidak mengetahui bahwa memakai kartu kuning palsu adalah pelanggaran berat”, tutur Indrawan lagi.

Saat para pihak yang melakukan pembangunan pada proyek tersebut mengadakan rapat di jakarta, diterangkan bahwa resiko jika masalah ini tidak selesai,beberapa dugaan tindak pidana yang terjadi akan memasuki ranah hukum.

Sampai saat ini sekitar 2 Milyar dana pihak ketiga belum dapat diselesaikan oleh Perusahaan.(Red)

Bersambung…Eds 4