FKI-1 Sumbar : Bank Nagari Berpotensi Alami Kesulitan Liquiditas.

oleh -468 views

PADANG, SUMBARTODAY-Keuntungan yang dilaporkan Bank Nagari tahun 2016 berdampak pada pada RUPS 2017,  pemegang saham sepertinya sulit menerima. Direksi diminta perbaiki laporan yang berkaitan dengan Laba Bank. Waktu 15 hari untuk perbaikan sepertinya dapat membuat pengambil kebijakan di Bank Nagari sadar, bahwa masyarakat Sumatera Barat melalui LSM dan ORMAS bisa mengajukan mosi tidak percaya terhadap Direksi Bank Nagari”, ujar Rico Adi Utama Ketua FKI-1 Sumbar.

Berdasarkan data yang diperoleh FKI-1 Sumbar, kekeliruan yang dialami Bank Nagari diduga tidak terlepas dari beberapa rentetan kejadian yang menerpa Bank Daerah Sumatera Barat akhir-akhir ini, diantaranya adalah sbb :

  • Pada tahun 2016 Bank Nagari diperintahkan oleh Pengadilan untuk membayar kekalahan kasus perdata Alsintan, dimana total pembayaran tersebut sekitar 11 Milyar.
  • Beberapa Pejabat daerah pindahkan dananya keluar dari Bank Nagari, menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya. Perpindahan tersebut diduga ke Bank BRI, hal ini merupakan salah satu penyebab kesulitan liquiditas yang akan terjadi di Bank Nagari.
  • Biaya-biaya untuk mengganjal masalah hukum serta publikasi media dan lain-lain.

Untuk melengkapi data-data, sehingga kita bisa melakukan evaluasi terhadap masalah yang terjadi adalah sebagai berikut:

Manajemen PT BPD Sumatra Barat alias Bank Nagari mengajukan tambahan modal kepada pemegang saham sebesar Rp 488 miliar tahun ini, guna ekspansi dan pengembangan bisnis perseroan.

Direktur Utama Bank Nagari Dedy Ihsan menyebutkan perseroan mengajukan tambahan modal untuk ekspansi dan memperluas jaringan bisnis perseroan.

“Tambahan modal dibutuhkan untuk ekspansi dan pengembangan bisnis,” ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (2/2/2017) sore.

Menurutnya, manajemen berencana meningkatkan layanan dengan membuka sejumlah kantor cabang, mengembangkan digital branch, serta menambah penyebaran electronic data capture (EDC) hingga 600 unit tahun ini.

Selain itu, bank yang dimiliki 19 kabupaten/kota di Sumbar dengan Pemprov Sumbar sebagai pemegang saham pengendali sebesar 31% tersebut, berencana memulai perekrutan agen layanan keuangan tanpa kantor dalam rangka keuangan inklusi (Laku Pandai).

“[Laku Pandai] kami tinggal menunggu izin OJK, untuk sistemnya sudah siap. Semoga tahun ini sudah bisa rekrut agen,” kata Dedy.

Dia mengharapkan suntikan modal pemegang saham melalui APBD 2017 bisa dicairkan setidaknya mencapai 70% dari nominal yang diajukan agar kebutuhan penguatan modal perseroan terpenuhi.

Adapun, untuk penambahan modal melalui opsi obligasi, perseroan memilih opsi tersebut sebagai pilihan terakhir karena besarnya beban bunga yang harus dibayarkan kepada obligor atau pemegang obligasi.

Sedangkan untuk mekanisme penghimpunan dana publik melalui penawaran saham perdana di Bursa Efek Indonesia juga belum final karena masih menunggu restu pemegang saham.

Sebelumnya, Pemprov Sumbar mendorong perseroan memanfaatkan sumber pendanaan lainnya, menyusul keterbatasan APBD untuk menginjeksikan modal Bank Nagari.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengakui agar mampu bersaing dengan bank umum lainnya, maka Bank Nagari harus memiliki modal yang kuat. Namun, penguatan modal tidak mesti dilakukan hanya dengan mengandalkan suntikan pemda melalui APBD yang terbatas.

“Kalau mengandalkan APBD susah, karena sangat terbatas. Makanya manajemen juga harus lebih kreatif mencari sumber pendanaan lain,” katanya.

Sebagai kuasa pemegang saham Bank Nagari, Irwan mengatakan memberikan ruang lebih luas kepada manajemen untuk memilih opsi penguatan modal perseroan, termasuk melakukan initial public offering (IPO) di bursa saham.”

Bank Nagari mencatatkan perolehan laba Rp 353 miliar sepanjang tahun lalu atau tumbuh 11,43% dari tahun 2015 yang mencapai Rp 317 miliar.

Direktur Utama Bank Nagari Dedy Ihsan menyebutkan pertumbuhan laba bersih itu merupakan capaian tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

“Sepanjang 2016, pencapaian laba bersih kami sebesar Rp353 miliar, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir,” katanya, Selasa (14/2/2017).

Menurutnya, peningkatan laba itu diperoleh dari efisiensi yang dilakukan perseroan, tercermin dari penurunan rasio biaya operasional terhadap pencapatan operasional (BOPO) sebesar 0,59%.

Meski tidak turun signifikan BOPO sudah mencapai 81,22%, perseroan berkomitmen menurunkan BOPO hingga 75% untuk meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan pendapatan laba.

Adapun, secara keseluruhan bank milik pemda Sumbar itu mencatatkan pertumbuhan aset 6,67% dari Rp19,44 triliun menjadi Rp20,74 triliun.

Sedangkan penyaluran kredit hanya tumbuh 5,87% dari Rp14,50 triliun menjadi Rp 15,36 triliun, dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 7,22% menjadi Rp15,66 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 14,61 triliun.

Rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan/NPL masih berada di bawah rerata industri sebesar 3,05%, dan ditargetkan di bawah 3% tahun ini.

Dedy menyebutkan masih ketatnya tekanan ekonomi sepanjang tahun lalu membuat sejumlah indikator kinerja industri tidak tumbuh optimal. Dan itu dirasakan seluruh perbankan di Tanah Air.

Meski begitu, untuk tahun ini dia mengaku lebih optimistis meski belum ada tanda perbaikan ekonomi yang signifikan. Namun, sejumlah kebijakan pemulihan ekonomi pemerintah diyakini perperan mendongkrak kinerja sektor keuangan.

Bank Nagari menargetkan pertumbuhan laba tahun ini di kisaran 11,15% dengan target pertumbuhan aset 10,5%, pertumbuhan kredit 10,5% dan pertumbuhan DPK 10,3%  “.

Sementara Acong Kabag humas Bank Nagari mengatakan kepada Sumbartoday bahwa “Hasil RUPS Bank nagari tidak ada masalah, semuanya aman-aman saja, tutur acong kepada Sumbartoday pagi ini melalui Ponselnya.

Kabupaten Pesisir Selatan menerima deviden dari Bank Nagari sebesar Rp 5,7 miliar. Deviden tahun 2016 ini diserahkan Bank Nagari Pessel langsung kepada Bupati Pessel H.Hendrajoni kemarin.

Jumlah deviden yang diterima tahun ini naik dibandingan deviden tahun 2014 lalu Rp 4,1 miliar “.

Sedangkan dikutip dari haluan, Pada 2016, Bank Nagari Cabang Painan menyerahkan deviden tahun buku 2015 kepada Pemda Pessel. Deviden sebesar Rp 5.070.336.669 itu diterima oleh Bupati Pessel, Hendrajoni, di halaman Kantor Bupati Pessel, Senin (2/5). Deviden tahun ini naik daripada deviden 2014 lalu, yakni Rp4.107.566.970.

Dikutip dari Metro Padang
Bank Nagari menjanjikan bakal memberikan deviden kepada Pemko Padang mencapai Rp 11,2 miliar di tahun 2016 mendatang. Pemberian deviden ini dibarengi dengan catatan, pemko mesti memberikan penyertaan modal mencapai Rp 28 miliar lebih.
Hal itu dikatakan Kepala Cabang Bank Nagari Pasar Raya Padang, Maryianto saat pembahasan pendapatan di APBD 2016 bersama Pansus I DPRD Padang dipimpin Ketua Pansus Masrul, kemarin (12/11).
Dalam kesempatan itu, Maryianto mengatakan, penyertaan modal tahun 2016 itu harusnya Rp 20,254 miliar. Namun pada penyertaan modal tahun 2015 di mana Pemko Padang seharusnya menyertakan modal sebesar Rp 17,8 miliar, tapi hanya disetor sebesar Rp 10 miliar. Makanya sesuai RUPS Bank Nagari, penyertaan modal 2016 sebesar Rp 20,245 miliar ditambah kekurangan tahun 2015 maka jadi Rp 28 miliar, katanya.
Dengan penyertaan modal Rp 10 miliar yang disetor tahun 2015, maka posisi modal Pemko Padang di Bank Nagari saat ini sebesar Rp 64,72 miliar. Dan Bank Nagari telah memberikan deviden sebesar Rp 10,3 miliar tahun 2015, kata Maryianto.
“Koordinator Pansus I DPRD Padang, Wahyu Iramana Putra mempertanyakan besaran deviden yang disetor Bank Nagari tersebut. Seharusnya, dengan menyetor modal Rp 28 miliar, deviden yang di dapat lebih dari Rp 25 miliar. Itu baru menarik untuk dibicarakan, sebab dengan menyetor Rp 10 miliar saja, dapat deviden Rp 10,3 miliar. Tapi ini Rp 28 miliar, kenapa hanya Rp 11,2 miliar saja”, tanyanya.
Sementara anggota Pansus I Wismar Panjaitan mempertanyakan porsi saham Pemko Padang di Bank Nagari. Kenapa porsi saham Padang saat ini hanya 4,96 persen. Dengan makin besarnya saham Pemko tentu akan semakin besar pula porsinya, kata Wismar.Dia mengatakan, porsi saham Padang itu tergerus akibat tidak disetornya penyertaan modal sebagaimana disepakati sebesar Rp 17,8 miliar.
Sementara daerah lain juga menyetorkan modal, makanya porsi Padang sedikit tergerus.(02)Anggota Pansus lainnya Hadison juga mempertanyakan hal itu. Kenapa pemko hanya menyetor Rp 10 miliar saja.
Padahal, sudah ditetapkan di APBD modal yang disertakan Rp 17,8 miliar.Kepala DPKA Padang Syahrul mengatakan, sebenarnya pemko sudah menyiapkan dana sebesar Rp 17,8 miliar.
Namun setelah APBD dievaluasi gubernur, terpaksa diturunkan menjadi Rp 10 miliar saja.
Gubernur meminta agar ada rasionalisasi anggaran. Makanya penyertaan modal ikut dirasionalisasi. Jadi itu bukan kesalahan pemko, katanya.Ketua Pansus I Masrul menyayangkan hal itu.
Seharusnya, kalau sudah ditetapkan sebaiknya dipatuhi. Kalau ada evaluasi gubernur, harusnya pemko bisa menjawab dengan alasan-alasan yang masuk akal, sehingga tidak terjadi pengurangan yang cukup banyak.Sementara terkait penyertaan modal 2016 sebesar Rp 20,254 miliar, pansus akan berupaya untuk merekomendasikan bisa dimasukkan di APBD 2016.

Berdasarkan data yang dirangkum oleh FKI-1 Sumbar.

Setiap tahun Bank Nagari sulit dikatakan beruntung. hanya saja kalau Bank Nagari dilaporkan rugi, Apa saja sih kerja Direksi Bank Nagari?. Bank Nagari punya dana cadangan untuk tujuan tertentu, misalkan untuk back up kredit bermasalah minimal Bank Nagari harus cadangkan keuntungan untuk antisipasi kredit macet mulai dari 1% sampai 100% dari total kredit macet, jadi… kami dari FKI-1 Sumbar sulit untuk mempercayai Bank Nagari, Buktinya Tiap tahun minta tambah modal, pungkas RICO Ketua FKI-1 Sumatera Barat.

Sementara saat di klarifikasi kepada kabid pengawasan OJK wilayah Sumbar Efrizal (Can) jam 15.35 Wib (28/4) tentang dana cadangan tujuan tertentu, beliau katakan bahwa “dana cadangan tujuan tertentu tidak boleh dialihkan”, pungkas nya.

Jeleknya lagi, apabila Pemko, Pemkab dan Pemprov tidak lakukan tambahan modal yang diminta, Saham pemerintah kab, kota dan provinsi tersebut akan berkurang atau tergerus. tambah Rico mengakhiri komentarnya. (Chairur Rahman)

sumber,kincikincia, Bisnis.com,metro