Buya H.Ahmad Rasyid Sutan Mansur Adalah Guru dan Ulama Besar Minangkabau

oleh -2.336 views

PADANG, SUMBARTODAY-Buya AR Sutan Mansur sebagai seorang yang telah kenyang asam-garam dalam melaksanakan gerakan Muhammadiyah amat sangat mengerti ruh Muhammadiyah. Muhammadyah adalah organisasi perjuangan Islam didirikan oleh KHA Dahlan.

KH Ahamad Dahlan adalah sosok yang mengenalkan gerakan Muhammadiyah kepada Buya AR Sutan Mansur. Karenanya, dalam setiap kesempatan meski ia tak memegang lagi pimpinan Muhammadiyah, ia selalu menekankan anggota Muhammadiyah untuk memiliki ruh Muhammadiyah. Karena kesungguhannya dalam memegang ruh Muhammadiyah ini, Buya HAMKA yang juga adik iparnya, menyebut Buya AR Sutan Mansur sebagai seorang ideolog Muhammadiyah.

Setelah malang melintang menyebarkan ide-ide Muhammadiyah ke seantero Nusantara, Buya AR Sutan Mansur diberi kepercayaan untuk memimpin Muhammadiyah. Ia terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah untuk pertama kalinya dalam. Kongres Muhammadiyah ke-32 di Banyumas Purwokerto pada tahun 1953. Ini berarti ia dikukuhkan sebagai Ketua PB Muhammadiyah periode tahun 1953-1956. Oleh karena itu, ia pun pindah ke Yogyakarta. Padahal sebelumnya ia menolak ketika diminta berulangkali untuk pindah dari Bukiittinggi ke Jakarta untuk dijadikan pejabat. Ia lebih cinta kepada dunianya, dunia tabligh dan dunia Muhammadiyah.

Buya AR Sutan Mansur menjadi Ketua PP Muhammadiyah selama dua periode. Setelah memimpin Muhammadiyah pada periode 1953-1956, pada kongres berikutnya yaitu Kongres Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang ia terpilih lagi menjadi Ketua PB Muhammadiyah periode 1956-1959. Ini menjadikannya untuk bertekad bulat dalam pemulihan ruh Muhammadiyah yang memang hampir menipis.

Karenanya, dalam masa kepemimpinannya, upaya pemulihan roh Muhammadiyah di kalangan warga dan pimpinan Muhammadiyah digiatkan. Untuk itu, ia memasyarakatkan dua hal,

Pertama, merebut khasyyah (takut pada kemurkaan Allah), merebut waktu, memenuhi janji, menanam roh tauhid dan mewujudkan akhlak tauhid. Kedua, mengusahakan buq’ah mubarokah (tempat yang diberkati) di tempat masing-masing, mengupayakan shalat jamaah pada awal setiap waktu, mendidik anak-anak beribadah dan mengaji al-Qur’an, mengaji al-Qur’an untuk mengharap rahmat, melatih puasa sunat Senin dan Kamis juga pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan Islam sebagaimana yang dipesankan oleh Nabi Muhammad, dan tetap menghidupkan taqwa. Di samping itu ia juga mengupayakan kontak-kontak yang lebih luas antar pemimpin dan anggota di semua tingkatan dan konferensi kerja diantara majelis dengan cabang atau ranting banyak diselenggarakan.

Dalam periode kepemimpinannya pula, Muhammadiyah berhasil merumuskan khittahnya tahun 1956-1959 atau yang popular dengan Khittah Palembang, yaitu:

  1. Menjiwai pribadi anggota dan pimpinan Muhammadiyah dengan memperdalam dan mempertebal tauhid, menyempurnakan ibadah dengan khusyu’ dan tawadlu’, mempertinggi akhlak, memperluas ilmu pengetahuan, dan menggerakkan Muhammadiyah dengan penuh keyakinan dan rasa tanggungjawab.
  2. Melaksanakan uswatun hasanah.
  3. Mengutuhkan organisasi dan merapikan administrasi.
  4. Memperbanyak dan mempertinggi mutu anak.
  5. Mempertinggi mutu anggota dan membentuk kader.
  6. Memperoleh ukhuwah sesama muslim dengan mengadakan badan ishlah untuk mengantisipasi bila terjadi keretakan dan perselisihan; dan
  7. Menuntun penghidupan anggota.

Meskipun setelah 1959 tidak lagi menjabat ketua, Sutan Mansur yang sudah mulai udzur tetap menjadi Penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah dari periode ke periode. Ia meski jarang sekali dapat hadir dalam rapat, konferensi, tanwir, dan Muktamar Muhammadiyah akan tetapi ia tetap menjadi guru pengajian keluarga Muhammadiyah.

Buya Sutan Mansur juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif. Dari beberapa tulisannya yang antara lain berjudul Jihad; Seruan kepada Kehidupan Baru; Tauhid Membentuk Kepribadian Muslim; dan Ruh Islam nampak sekali bahwa ia ingin mencari Islam yang paling lurus yang tercakup dalam paham yang murni dalam Islam. Doktrin-doktrin Islam ia uraikan dengan sistematis dan ia kaitkan dengan tauhid melalui pembahasan ayat demi ayat dengan keterangan al-Qur’an sendiri dan hadits.

Sebagai seorang yang mempunyai pengetahuan agama mumpuni, Buya AR Sutan Mansur banyak diminta berbagai kalangan untuk menjadi penasehat dalam bidang agama, baik itu perorangan maupun institusi. Ketika Bung Karno diasingkan ke Bungkulu pada tahun 1938, Sutan Mansur menjadi penasehat agama Islam bagi Bung Karno. Karenanya tidak mengherankan jika kemudian, Bung Karno, pada waktu itu, aktif dalam Muhammadiyah menjadi pengurus Bagian Pendidikan. Dalam keadaan ini pula, kemudian Bung Karno bertemu dengan Fatmawati, anak tokoh Muhammadiyah Bengkulu, yang akhirnya diperistri dan salah satu anaknya adalah Megawati Sukarno Putri.

Karena kemampuannya dalam bidang agama ini pula, Buya AR Sutan Mansur sejak tahun 1947 sampai 1949 oleh wakil Presiden Mohammad Hatta diangkat menjadi Imam atau Guru Agama Islam buat Tentara Nasional Indonesia Komandemen Sumatera, berkedudukan di Bukittinggi dengan pangkat Mayor Jendral Tituler. Tugas ini ia laksanakan dengan baik dan penuh tanggungjawab.

Karenanya, setelah pengakuan kedaulatan tahun 1950, ia diminta menjadi Penasehat TNI Angkatan Darat, berkantor di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Akan tetapi, permintaan itu ia tolak karena ia harus berkeliling ke semua daerah di Sumatera, bertabligh sebagai pemuka Muhammadiyah. Pada tahun 1952, Presiden Soekarno pun memintanya lagi menjadi Penasehat Presiden dengan syarat harus memboyong keluarganya dari Bukittinggi ke Jakarta. Permintaan itu lagi-lagi ditolaknya. Ia hanya bersedia menjadi penasehat tidak resmi sehingga tidak harus berhijrah ke Jakarta.

Sebagaimana tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya di masa perjuangan kemerdekaan, Buya AR Sutan Mansur tidak bisa melepaskan diri dari dunia politik, karena ketokohannya di masyarakat, pada masa pendudukan Jepang, ia diangkat oleh pemerintah Jepang menjadi salah seorang anggota Tsuo Sang Kai dan Tsuo Sangi In (semacam DPR dan DPRD) mewakili Sumatera Barat.

Demikian pula pada masa awal-awal kemerdekaan. Sebagaimana umumnya warga Muhammadiyah, dalam berpolitik pun Buya AR Sutan Mansur aktif dalam Masyumi. Karena kemampuannya beragama dan ketokohannya ini pula, dalam Kongres Masyumi tahun 1952, ia diangkat menjadi Wakil Ketua Syura Masyumi Pusat. Pada saat pemilihan umum 1955, ia terpilih sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan anggota Konstituante dari Masyumi sejak Konstitunate berdiri sampai dibubarkannya oleh Presiden Soekarno. Tahun 1958 ketika pecah pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) di Padang, ia pun berada di tengah-tengah mereka karena didasari oleh ketidaksukaannya pada PKI dan kediktatoran Bung Karno, meskipun peran yang dimainkannya dalam pergolakan itu diakuinya sendiri tidak terlalu besar.

Buya H Ahmad Rasyid Sutan Mansur akhirnya meninggal pada hari Senin tanggal 25 Maret 1985 yang bertepatan 3 Rajab 1405 di Rumah Sakit Islam Jakarta dalam usia 90 tahun. Ia meninggalkan kesan yang mendalam pada warga Muhammadiyah. Sang ulama, da’i, pendidik,dan pejuang kemerdekaan ini setiap hari Ahad Pagi senatiasa memberikan pelajaran agama terutama tentang Tauhid di Ruang Pertemuan Gedung Muhammadiyah jalan Menteng Raya 62 Jakarta. Jenazah almarhum Buya dikebumikan di Pekuburan Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan setelah disahalatkan di Masjid Kompleks Muhammadiyah.

Peran-peran yang dilakukan Buya AR Sutan Mansur sangat Brilian dan berani sehingga beberapa tokoh mengungkapkan beliau adalah tokoh penting Muhammadyah. Buya Hamka menyebutnya sebagai ideolog Muhammadiyah,

M Yunus Anis dalam salah satu Kongres Muhammadiyah mengatakan, bahwa di dalam organisasi Muhammadiyah ada dua bintang. Bintang Timur adalah KH Mas Mansur dari Surabaya, Ketua PP Muhammadiyah 1937-1943 dan Bintang Barat adalah AR Sutan Mansur dari Minangkabau, Ketua PP Muhammadiyah 1953-1959.(eff).

(Sumber Suara Muhammadiyah Edisi 17 2004)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *