Hengky Cobra & Syndicate Advokasi Pemilik Hotel El Shaddai: Laporkan Pelanggaran Pidana L.Tamba ke Polres Mentawai

oleh -937 views

TUAPEIJAT,SUMBARTODAY-Sengketa antara Leonardus Tamba dengan Balduin Purba pemilik Hotel El Shaddai di KM 0 Tuapeijat, Sipora Utara Kepulauan Mentawai masih berlanjut pasca putusan Pengadilan Negeri Padang nomor putusan 149/Pdt.G/2016/PN.Pdg.

Balduin Purba tidak terima dengan perbuatan Leonardus Tamba yang diduga telah melakukan tindakan pengrusakan plang merk hotel, parabola, pipa air, tangki air, septic tank, kamar mandi, instalasi kabel listrik, kloset, beberapa bak mandi dan tempat tidur,dan kemungkinan besar kerusakan struktur bangunan akibat hantaman martil, yang berada bagian lantai 2 hotel milik Balduin.

“Perbuatan yang dilakukan oleh Leonardus Tamba tersebut dinilai tidak murni eksekusi objek sengketa yang dimenangkan oleh Leonardus Tamba di Pengadilan Negeri Padang terkait tanah selebar 1,5 meter untuk akses jalan, namun sudah melebihi jika kita lihat dari waktu dan luas yang diperintahkan, diduga hal ini sangat erat kaitannya dengan persaingan bisnis dan sakit hati”, ulas Hengky menerangkan

Beni Benjamin Purba yang merupakan anak Balduin Purba menjelaskan bahwa, obyek sengketa bermula dari gugatan tanah selebar 1,5 meter di samping hotel El Shaddai oleh Leonardus Tamba. Jalan itu merupakan jalan raya menuju rumah kos milik Leonardus Tamba yang berada di belakang hotel.

“Kami sudah memberi kompensasi jalan 1,5 meter dari penggugat ke jalan raya, kemudian Pak Tamba ini melakukan eksekusi sepihak dengan cara merusak sebagian bangunan yang di atas, yang kami anggap itu sudah melampaui putusan pengadilan dan kami keberatan, dan kami menilai ini justru tindakan pengrusakan,” kata Beni Benjamin Purba pada Sabtu, 18 Agustus.

Tindakan pengrusakan yang dilakukan oleh Leonardus dinilai Beni di luar perintah pengadilan terkait eksekusi yang sudah dilaksanakan pada Kamis, 26 Juli lalu oleh Hendri, juru sita pada Pengadilan Negeri Padang.

Sebelum terjadi proses eksekusi, sebenarnya sudah ada upaya yang dilakukan oleh pihak Balduin Purba untuk mencari solusi agar ada akses jalan yang bisa dilalui oleh Leonardus Tamba dari jalan raya menuju rumah kos miliknya.

Solusi itu kemudian dapat diupayakan menimbang juga bangunan hotel tersebut sudah berdiri dan selesai dan tidak memungkinkan lagi dibongkar.

Untuk mencari solusi tersebut pihak Balduin Purba bahkan membeli tanah milik Dani, seorang warga Tuapeijat untuk akses jalan yang dapat dilalui Leonardus Tamba namun Leonardus Tamba menolak dan tetap menginginkan tanah yang dia gunakan akses jalan di samping Hotel El Shaddai.

“Kami sudah mengupayakan dengan itikad baik untuk memberikan solusi, kami sudah memberikan jalan yang bisa dilalui yang kami membeli tanah lain senilai Rp10 juta, namun Pak Tamba tidak menerima yang awalnya sudah disepakati, dia akhirnya tetap menginginkan tanah disamping penginapan kami,” ujar Beni.

Atas tindakan Leonardus Tamba tersebut pihak keluarga Balduin melaporkannya ke Polres Mentawai.

Kasus yang dilaporkan tersebut diduga telah terjadi tindakan pengrusakan yang tidak sesuai lagi dengan isi putusan hakim Pengadilan Negeri Padang  nomor 149/Pdt.G/2016/PN.Padang salah satunya menyatakan bahwa jalan 1,5 meter dapat dikuasai dan dipergunakan oleh pemohon (Leonardus Tamba) sebagai akses jalan menuju bangunan penggugat. Seterusnya dengan diterimanya objek ekseskusi pemohon boleh melakukan perbuatan yang tidak bertentangan dengan hukum.

Dugaan pengrusakan tersebut kemudian dilaporkan ke Polres Kepulauan Mentawai, dan telah diterima oleh SPKT Polres Mentawai dengan surat tanda penerimaan laporan polisi Nomor : STPL/B/41/VIII/2018 pada 11 Agustus 2018/SPK-C diterima oleh anggota jaga Bripda Rovi Rusadi.

“Berdasarkan hal itu kami buat laporan ke polisi, karena kami menduga ada pelanggaran hukum yang dilakukan pihak penggugat, kami juga heran kalau sudah bisa diakses pejalan kaki kenapa dirusak bangunan kami bagian atas, dan hal itu menimbulkan kerugian besar bagi kami, melalui media ini kami mau sampaikan hukum harus ditegakkan,” kata Beni Benjamin Purba.

Beni Benjamin Purba yang merupakan anak keluarga Balduin Purba meminta kasus tersebut segera diproses sesuai dengan hukum yang berlaku, “Kami meminta ini diproses sesuai hukum yang berlaku, Polres Mentawai agar menindaklanjuti laporan kami ini secepatnya, kalau berdasarkan keputusan pengadilan, lebar 1,5 meter belum layak dilewati dengan berbaik hati kami tambahkan lebarnya biar dia bisa jalan 2 meter lagi ke samping, tapi bangunan kami lantai dua juga di rusak, ini yang membuat kami keberatan,” kata Beni Benjamin Purba terlihat sedih.

Selain hal itu, juga dilaporkan kasus lain oleh pihak keluarga Balduin Purba yakni adanya dugaan tindakan penganiayaan terhadap pegawai Hotel Elshaddai, kemudian perbuatan masuk hotel tanpa izin.

Laporan kasus dugaan perusakan yang dilakukan oleh Leonardus Tamba ini telah siap dikawal Hengky Cobra &Sindycate selaku tim pengacara Balduin Purba.

Sebagai pengacara Hengki Cobra and Syndicate  sangat perhatian terhadap orang orang yang tertindas hak-hak hukumnya,  disamping kasus ini Hengki juga sedang menangani sebuah kasus penipuan dan penggelapan di Polda Sumbar terkait Notaris Kondang kota Padang.

Hengky yang merupakan pentolan dari Hengky Cobra Sindycate / Pardosi and partner akan membawa kasus ini hingga diproses hukum baik perdata maupun pidana, Hengky menilai tindakan yang dilakukan oleh Leonardus Tamba telah mengangkangi hukum yang berlaku di negeri ini.

tambahnya lagi “Ada kesalahaan pelaksanaan eksekusi, terjadi karena salah tafsir dari pihak pemohon (Leonardus Tamba), bahwa telah melakukan tindakan pengrusakan antara lain plang merk hotel, kemudian parabola, saptict tank, kamar mandi, bak-bak mandi di lantai atas, sementara yang dikabulkan oleh pengadilan adalah memberikan akses jalan 1,5 meter, setelah kita cek ke TKP terkait objek sengketa, ternyata yang mereka rusak itu adalah bangunan”, kata Hengky Pardosi kepada TIM Media mentawaikita dan Sumbartoday, Sabtu (18/8).

“Di sini terjadi pengangkangan hukum, mereka menafsirkan keputusan pengadilan sesuai seleranya, sehingga berakibat fatal buat para pelaku, hal ini sudah kita serahkan kepada pihak Polres Kepulauan Mentawai, kita akan mengawal kasus ini sampai tuntas, Kita yakin Polres Mentawai akan bersikap profesional menangani kasus tersebut, kasus ini harus ditangani secara bijak, kalau tidak ini akan menjadi bumerang aparat itu sendiri, kita akan pertanyakan kasus ini sampai tuntas kepada Polres Mentawai, ini murni pidana dan harus dipertanggung jawabkan dihadapan hukum, sementara kerugian materi  client kami harus dibayarkan, begitu juga operasinal penginapan yang terganggu sampai kembali berjalan normal,” ujar Hengky.

Estimasi kerugian yang dialami oleh Clientnya, kata Hengky Pardosi, mencapai Rp2,5 miliar. “Dan ini harus dibayar oleh Leonardus Tamba,” kata Hengky lagi dg yakin

Sementara dikonfirmasi kepada Leonardus Tamba pada Minggu, 19 Agustus, membenarkan pembongkaran dilanjutkan atas inisiatifnya padahal sesuai dengan berita acara eksekusi berakhir pada 16.05 pada Kamis, 26 Juli lalu.

“Waktu yang dberikan oleh Pengadilan hanya sehari untuk melakukan pembongkaran 1,5 meter, jadi yang kena itu kita bongkar,” kata Leonardus.

Ketika ditanyai, mengartikan putusan eksekusi pembongkaran 1,5 meter untuk akses jalan, menurut Leonardus Tamba bahwa eksekusi sesuai putusan pengadilan termasuk bangunan yang berada di atas harus steril.

“Tiangnya itu dari bawah, kalau dibongkar dari bawah jatuh dari atas jadi sekalian dibongkar termasuk dari atas, ini juga sudah putusan pengadilan kalau bukan putusan pengadilan kita tidak berani bongkar, pengertian 1,5 meter itu steril dari atas sampai ke bawah, sesuai dengan putusan,” kata Leonardus Tamba.

Sementara Ketum LSM KOMUNITAS ANAK DAERAH (KOAD) memberikan komentar serta pendapatnya terkait kejadian tersebut, “Tanah tersebut dimiliki dan dikuasai oleh Balduin Purba, terbukti pengadilan meminta Leonardus Tamba untuk memberikan uang konpensasi karena tanah objek sengketa selebar 1,5 m2 akan dipakai sebagai akses jalan masuk ke lokasi kos-kosan Leonardus Tamba itu yang terpenting.

Jika Balwin Purba sudah memenuhi keputusan pengadilan seharusnya masalah sudah selesai, sekarang terjadi masalah Eksekusi yang melebihi ketetapan pengadilan, hal itu adalah perbuatan melawan hukum, baik luas daerah maupun waktu yang digunakan, sekarang apa hendak dikata nasi sudah menjadi bubur, L Tamba tinggal menunggu balasan perbuatannya, diakhir cerita Leonardus Tamba akan menuai badai yang akan menyebabkan kehancuran terhadap dirinya, L Tamba memang sudah melakukan pembayaran kompensasi sesuai keputusan pengadilan kepada Balduin Purba sebesar 10 juta sebagai konpensasi tanah karena dipakai oleh L Tampa untuk akses masuk ke kos-kosan L Tamba bukan jual beli, Leonardus Tamba harus bersiap siap untuk mengganti seluruh kerugian yang diderita Balduin Purba baik Pisik maupun Mental, jika ada pihak pihak yang kurang puas dengan komentar kami bisa dihubungi di nomor 0823 88766363″,pungkas Indrawan ketum KOAD. (Red)

(sumber Mentawaikita.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *