Kronologis Supersemar, Kekuasaan Dan Kekayaan Alam Nusantara

oleh -407 views

PADANG,SUMBARTODAY – Surat Perintah Sebelas Maret atau sering disingkat Supersemar masih terus menjadi teka-teki sejak tahun 1966 hingga kini. Rupanya Central Intelligence Agency (CIA) memantau situasi politik Indonesia saat Supersemar dikeluarkan.

Dalam dokumen CIA yang dikutip tim Media, Sabtu (11/3/2017), tergambar bagaimana transisi kekuasaan dari Presiden Sukarno ke Jenderal Soeharto terjadi.

Dokumen CIA itu dilaporkan pada tahun 1966 dan baru dipublikasikan pada Desember 2016 lewat situs resmi lembaga tersebut.ada apa dengan CIA?

CIA menulis kronologi transisi kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto pada tahun 1966. Laporan itu menuliskan bahwa pemicu perpindahan kekuasaan adalah demonstrasi mahasiswa. Namun kita jangan lupa bahwa Demontrasi itu benar adanya, sama seperti kejadian 1998, mahasiswa juga melakukan hal yang sama.

Penyebabnya antara lain adalah karena kesalahan pemimpin itu sendiri, yang telah melewati batas dalam menjalankan roda pemerintahannya. berikutnya adalah kepentingan pihak lain yang terganggu karena pemerintahan saat itu yaitu kepentingan negara negara Eropa dan Amerika Serikat.

Kalau kita lihat kebelakang, tahun 1963 terjadi kesepakatan antara Amerika Serikat dengan Indonesia, prihal Emas milik raja-raja Nusantara yang dibawa kabur oleh belanda. kemudian emas tersebut dijadikan pampasan perang oleh jerman dan terakhir dijadikan harta rampasan perang oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

Setelah melakukan negosiasi yang sangat ulet dan akhirnya Amerika dan Indonesia sepakati dengan membuat sebuah perjanjian yang dikenal dengan Grand Hilton Memorial Agreement yang disaksikan oleh negara swiss(william vooker), yang berisikan antara lain negara yang memakai emas tersebut untuk Colateral sebagai jaminan pencetakan uang harus membayar sewa 2,5% pertahun kepada Nusantara. hal inilah yang membuat Amerika dengan CIA melakukan aksi politik tindakan curang. seakan mereka tidak akan pernah senang sampai kekayaan kita habis dan sebagian mereka bawa kenegaranya.

Mereka akan selalu menghalangi hingga kita tidak bisa menikmati hasil dari sewa colateral emas tersebut.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah, selama terjajah rakyat kita berada dalam posisi yang sangat sulit, sehingga kita tidak jarang harus saling menghianati untuk mempertahankan dan melanjutkan kehidupan.

Kita dibodoh bodohi dengan janji-janji manis yang sebenarnya adalah cara belanda menina bobokkan rakyat Nusantara, semua usaha yang dilakukan selalu di bumbui politik adu domba.

Apalagi saat masa penjajahan, mendapatkan pendidikan sangatlah sulit, hanya orang yang dekat dengan pemerintah kolonial Belanda saja yang diprioritaskan mendapatkan pendidikan tinggi.

Rakyat kita yang sudah lemah, makin dilemahkan dengan sulitnya mendapatkan pendidikan.

Akhirnya, Mahasiswa secara bersama sama menduduki kantor Kementerian Luar Negeri dan melakukan penjarahan.

Situasi politik Indonesia digambarkan memanas, terutama setelah peristiwa G-30-S atau Gestok pada 1965.

Laporan CIA itu juga menuliskan bagaimana Sukarno sebetulnya tidak bermaksud menyerahkan seutuhnya kepada Soeharto, menurut salah seorang pengikut sukarno yang tidak mau disebutkan namanya bahwa isi supersemar tersebut hanya menyerahkan sementara.

Namun dalam situasi yang sedemikian genting, ada pihak pihak yang memiliki kepentingan yang sangat besar agar bisa menguasai situasi politik indonesia. sehingga dengan mendapatkan mandat tersebut, Soeharto langsung membentuk kabinet. kenapa saya katakan “merasa mendapat mandat”, sebenarnya Supersemar tersebut adalah sebuah stratergi yang dilakukan oleh orang orang bekerja untuk kepentingan CIA dalam menjalankan misinya di Indonesia.

Dengan demikian maka rencana Amerika menguasai Kekayaan alam nusantara menjadi mulus tanpa hambatan yang berarti.

Namun laporan CIA tidak menulis secara detail bagaimana “penyerahan kekuasaan” dari Sukarno ke Soeharto itu terjadi. CIA hanya menulis Sukarno tiba-tiba meninggalkan rapat pada tanggal 11 Maret 1966.

Begini kronologi perpindahan kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto dalam pantauan CIA tersebut:

3 Maret
Dalam menghadapi kelanjutan demonstrasi mahasiswa di Ibu Kota, Sukarno memerintahkan penutupan Universitas Indonesia di Djakarta.

8 Maret
Mahasiswa Indonesia mengintensifkan demonstrasi anti pemerintahnya, menduduki dan menjarah kantor Kementerian Luar Negeri.

8 Maret
Pemuda dari gerakan kiri membuat serangan kecil ke kantor Kedubes AS.

10 Maret
Menindaklanjuti pertemuan dengan Sukarno, pemimpin partai politik mengeluarkan pernyataan dukungan untuk presiden dan mengutuk agitasi anti pemerintah.

11 Maret
Dalam pertemuan dengan kabinet barunya, Sukarno, bersama Menlu Subandrio, tiba-tiba meninggalkan Istana Kepresidenan Bogor.

12 Maret
Menghadapi ultimatum militer, Sukarno menandatangani penyerahan otoritas eksekutif kepada Jenderal Soeharto. Soeharto tiba-tiba mengeluarkan pemerintah “atas nama” Sukarno secara resmi melarang Partai Komunis.

16 Maret
Dalam pengumuman kepresidenan, Sukarno mencoba mendapatkan kembali otoritas yang dia berikan kepada Soeharto, Dia menegaskan bahwa perintahnya kepada Soeharto adalah kesalah pahaman, bahwa dia sendiri bisa menentukan komposisi kabinet Indonesia. Dalam pernyataan terpisah, Jenderal Soeharto sepakat bahwa otoritas presiden belum surut.

18 Maret
Bertindak untuk memenuhi kekuasaan yang dia asumsikan, tentara menahan 15 menteri dari aliran kiri, termasuk target utama mereka Menlu Subandrio, dan menggantinya dengan orang yang berasal dari kalangan moderat. Pimpinan tentara dan sekutu sipilnya mulai membicarakan formasi kabinet baru.

23 Maret
Sukarno membuat kemunculan yang mengejutkan dalam sebuah resepsi diplomatik dalam rangka mencoba memperbaiki citra dirinya yang hancur.

27 Maret
Kabinet moderat yang baru diumumkan didominasi oleh Jenderal Soeharto; Sultan Yogyakarta, bertanggung jawab atas kementerian ekonomi; dan Menlu yang baru Adam Malik. Jenderal Nasution kembali ke pemerintahan dengan jabatan kementerian sebagai deputi komandan tertinggi dari Kogam, ‘Komando Ganyang Malaysia’. Sukarno mempertahankan posisinya sebagai presiden dan perdana menteri.

4 April
Menlu Adam Malik dan Sultan Yogyakarta mengumumkan pernyataan publik tentang peletakan dasar moderat dalam kebijakan ekonomi dan luar negeri. Adam Malik mulai intens untuk mengembalikan keanggotaan Indonesia di PBB dan memulai upaya untuk mengakhiri konfrontasi melawan Malaysia yang sudah dilakukan selama tiga tahun. Sultan menerima bantuan asing dari berbagai sumber dan memberi garis program stabilisasi atas ekonomi Indonesia yang chaos.

10 April
Pemerintahan yang baru mengumumkan penekanannya untuk memperpanjang pengakuan kembali ke Singapura tetapi menegaskan kembali permusuhannya terhadap Malaysia.

Sekarang mereka sedang memainkan lagi perannya, Aktor utama adalah rakyat kita sendiri, polanya masih sama dari masa ke masa, mereka sebagai sutradara dan kita sebagai pion pion yang akan mereka gerakkan sesuai kepentingan mereka.

Sekarang tinggal dengan kita, maukah kita di permainkan lagi oleh para Negara Neokolonialis tersebut, kita yang memutuskan, berfikirlah pergunakan akal, jangan mau di adu domba, kita adalah negara besar, jangan mau dikerdilkan, mereka akan memecah belah kita negara yang berdaulat.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *