Diduga, PT.Rimbo Paraduan Kongkalingkong Dengan Pengawas

oleh -204 views

PADANG,SUMBARTODAY-Pekerjaan pembangunan lanjutan jembatang lolong (P.099) milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUR)Provinsi Sumbar terindikasi kongkalingkong antara kontraktor PT.Rimbo Paraduan (RP) dan pengawasnya PT.Daya Cipta Dianrancana.

Baca berita sebelumnya:PT.RP dan Pengawas Terindikasi Abaikan SMK3

Sebab, proyek dengan nomor kontrak 630/20/KTR-BM/2018 bernilai Rp.8.620.550.000,- itu kuat dugaan abaikan Sistim Manajemen Kesehatan Keselamatan Kerja(SMK3) oleh kontraktor, seakan-akan dibiarkan oleh pengawas.

Karena, diakui Site Manejer (SM) yang akrab dipanggil Swe bahwa, ” rekanan ada mengadakan SMK3 dalam proyek jembatan lolong itu seperti yang tertuang dalam kontrak, seperti helm, sepatu, sarung tangan, masker, dan alat terkait lainnya“,kata Site Manager, Kamis (06/09) tadi via telponnya.

“Tapi dasar para pekerja ini bandel, mereka tidak mau menggunakan alat keselamatan kerja yang kami sediakan, mereka malah meletakan alat  dan keselamatan mereka itu dibawah tempat mereka bekerja“, tambah Swi.

Melanjutkan keterangannya, saat dikonfirmasi keberadaan konsultan pengawasnya, Swe dengan jelas mengatakan “pengawas selalu ada dilapangan setiap hari selama jam kerja,” pungkasnya.

Menanggapi hal demikian,akhirnya Ronal, aktivis pemerhati pembangunan diKota Padang ini angkat bicara.

Meskipun sudah diperingatkan oleh pihak kontraktor, pekerja itu tetap membandel untuk tidak menggunakan alat keselamatan tersebut, mereka malah menggunakan sepatu, dan topi milik mereka sendiri, bahkan, pelaksana lapangan (Angga) juga tidak menggunakannya, buktinya, saat dilapangan media mendapatinya demikian, kata Ronal pada hari yang sama dirumahnya.

Ironis memang, “setiap hari pekerjaan diawasi oleh pengawas, namun, pengawas masih kecolongan juga, menyangkut kebandelan para pekerja yang tidak mau memakai alat keselamatan itu saat bekerja” tutur Ronal.

“Sejatinya, sebagai perpanjangan tangan dari dinas, pengawas (PT. Daya Cipta Dianrancana) harus bertindak tegas bahkan punya kuasa untuk berhentikan pekerjaan, apabila ada temuan baik dari speks maupun secara administrasi” tukasnya.

Begitu juga sang kontraktor, terindikasi takut dengan para pekerjanya, jelas-jelas sudah menentang secara aturan, kok malah dibiarkan saja, padahal tanggung jawab tetap pada kontraktor, apabila terjadi kecelakaan dalam bekerja, tambah nya.

Terakhir Ronal mengatakan, “peranan konsultan pengawas dalam proyek sangat dibutuhkan, demi kelancaran pembangunan yang sesuai Kualitas dan Kuantitas, jangan sampai menjadi pengawas yang tidak profesional” pungkas Ronal.

Budaya kerja sama saling menguntungan dalam proyek yang menggunakan kocek negara, sepertinya bukan rahasia umum lagi, asal sama-sama untung apapun caranya akan dihalalkan.

Sampai berita ini diturun, pihak media masih berupaya berusaha menghubungi PPTK, Kadis, dan pihak terkait lainnya.Tunggu lanjutannya..(CR).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *