Kode-kode korupsi Kerah Putih Yang Telah Dibongkar KPK

oleh -168 views

Oleh: Dian Fath Risalah

PADANG,SUMBARTODAY-Selama 2018, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah menetapkan 78 orang tersangka dari 22 kegiatan operasi tangkap tangan (OTT). Terungkap pula beberapa kode atau sandi suap yang mereka gunakan mulai dari istilah agama, buah-buahan, jajanan anak-anak, jenis kopi-kopian, nama penyanyi, hingga makanan tradisional.

Pegiat antikorupsi dari Transparency International Indonesia (TII), Dadang Trisasongko, mengatakan, tingkat kecerdasan koruptor di Indonesia dapat diklasifikasikan berdasarkan kode-kode yang mereka ciptakan. Ada koruptor yang kaku, tetapi ada pula yang sangat kreatif.

Menurut dia, kode diciptakan untuk menyamarkan aksi yang sedang mereka lakukan. Kode untuk penyamaran pun bisa menggunakan istilah apapun yang tidak terbatas. “Istilah yang digunakan para koruptor itu menurut saya sudah lazim dipakai sejak puluhan tahun lalu,” kata Dadang, Senin (8/10).

Ia menjelaskan, di zaman Orde Baru, kode lazim digunakan sebagai bagian dari cara menyelesaikan keruwetan birokrasi pemerintah. Akhirnya, kode digunakan sebagai pemberian kepada pejabat publik.

“Ini sudah menjadi bahasa gaul yang disepakati antara pemberi dan penerima suap. Tujuannya mungkin ada dua, pertama untuk menyamarkan praktik korupsi dan juga untuk melunakkan istilah sogok atau suap,” kata Dadang.

Dikutip dalam buku Metamorfosis Sandi Komunikasi Korupsi, para koruptor memahami bahwa setiap gerak-gerik mereka sedang diawasi. Sehingga, kode korupsi tampaknya diciptakan secara mendadak, tanpa melalui kompromi terlebih dahulu.

Hal terpenting dalam komunikasi kode korupsi adalah adanya kesepahaman dan kesepakatan di antara dua orang yang sedang berkomunikasi. Misalnya, dua orang yang berkomunikasi menggunakan istilah yang dekat dengan lingkungan mereka.

Makin kreatifnya sandi komunikasi juga dilatarbelakangi dengan munculnya KPK pada 2002. Bagaimana tidak, KPK memiliki kewenangan khusus menyadap kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Mereka terpaksa beradu strategi dengan penyidik supaya praktik korupnya tidak ketahuan.

Jalan keluar terbaik, kata para koruptor, adalah kembali memakai kode-kode rahasia. Walaupun KPK sudah terbiasa melacak percakapan rahasia, sandi tetaplah tak bisa langsung dipahami dalam sekali dengar.

Sementara, sejak 2012 hingga Oktober 2018, KPK telah menangkap 34 kepala daerah melalui operasi tangkap tangan (OTT). Para kepala daerah ditangkap atas kasus suap dengan beragam modus.  “Namun semua kepala daerah ini ditangkap dalam kasus suap,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah.

Febri menuturkan, sebagian besar kepala daerah ini menerima suap terkait fee proyek. Selain itu, kepala daerah yang menerima uang suap terkait perizinan, pengisian jabatan di daerah, dan pengurusan anggaran otonomi khusus.

Terakhir, KPK menangkap tangan Wali Kota Pasuruan Setiyono terkait penerimaan fee proyek di daerahnya pada Kamis (4/10). Dalam suap itu, terungkap sejumlah kode untuk menyamarkan suap kepada Setiyono dan orang dekatnya, seperti ‘apel’ dan ‘kanjengnya’.

“(Kode) ‘apel’ untuk fee proyek, dan ‘kanjengnya’ yang diduga berarti wali kota,” kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata.

Daftar Penggunaan Kode Korupsi

1. Apel dan Ready Mix

Kode itu digunakan dalam kasus suap Wali Kota Pasuruan Setiyono. Kode “apel” (upacara) merujuk pada menghadap kepada wali kota. Kemudian, kode “ready mix”, “apel” sebagai kata ganti fee proyek, dan “kanjengnya” yang diduga panggilan Setiyono.

2. Undangan

Kode “undangan” sudah digunakan dalam beberapa kasus korupsi. Pertama, kasus dugaan suap yang menjerat Wali Kota Batu Eddy Rumpoko pada September 2017 dan penyerahan uang ketok palu anggota DPRD Jambi oleh gubernurnya, Zumi Zola, pada 2018.

3. Cheese

Kode “cheese” digunakan dalam kasus suap Anggota DPRD Lampung Tengah pada Februari 2018. Dalam kasus ini Bupati Lampung Tengah, Mustofa, diduga ikut mengarahkan agar bawahannya ikut memberikan uang suap bagi anggota DPRD.

4. Koli Kalender

Kode “koli kalender” digunakan dalam pemberian uang suap kepada calon gubernur Sulawesi Tenggara, Asrun dan putranya, Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra. Keduanya melakukan transaksi korupsi senilai Rp 2,8 miliar. Kode “koli kalender” mengacu pada uang Rp 1 miliar.

5. Vodka, McGuire, dan Chivas Regal

Kode minuman keras ini digunakan dalam kasus megakorupsi KTP elektronik dengan tersangka keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi. Di dalam persidangan, saksi bernama Muhamad Nur mengaku diperintahkan Irvanto untuk menyerahkan uang dengan menggunakan kode warna biru, merah, dan kuning ke anggota DPR.

Diduga warna itu menggambarkan warna partai politik yang akan menerima duit dari proyek KTP-el.  Namun, Irvanto memerintahkan pegawainya di PT Murakabi Sejahtera untuk mengganti kode dari warna ke minuman keras. Akhirnya, pada pemberian yang ketiga, ada tulisan “Vodka”, “McGuire”, dan “Chivas Regal.”

6. Pengajian, Ustaz, Santri, Murtad, Liqo, dan Juz

Istilah “ustaz” dan “pengajian” merupakan kode yang digunakan dalam pemberian suap oleh politikus Golkar, Aditya Anugrah Moha, untuk Ketua Pengadilan Tinggi Madano, Sudiwardono. Kode “ustaz” merujuk pada Aditya sebagai penyuap, sedangkan “pengajian” berarti lokasi transaksi suap.

Pada kasus korupsi pengadaan Alquran di Kementerian Agama, muncul juga kode “santri”, “murtad”, dan “pengajian”. “Santri” disebut sebagai pengganti nama tiga politikus Golkar yang memengaruhi pejabat Kemenag dalam lelang proyek, yaitu Fahd El Fouz, Zulkarnaen, dan Dendy Prasetia. Adapun “pengajian” merujuk pada pembahasan tender, sementara “murtad” berarti mangkir dari kesepakatan.

Dalam kasus suap proyek jalan di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, muncul juga istilah bahasa Arab, yakni ‘liqo’ dan ‘juz’. ‘Liqo’ digunakan untuk mengganti kata pertemuan, sedangkan ‘juz’ berarti miliar.

7. Ahok, Telur Asin, Kalender, dan Sarung

Mantan hakim Mahkamah Konstitusi, Patrialis Akbar, menyebut “Ahok” untuk merujuk Basuki Hariman, pengusaha yang menyogoknya pada judicial review UU 41/2014 tentang peternakan dan kesehatan hewan. Kemudian dalam kasus suap Dirjen Perhubungan Laut, Antonius Budiono terdapat tiga kata sandi dari penyuapnya, pengusaha Adi Putra Kurniawan: “telur asin”, “kalender”, dan “sarung”.

8. Apel Washington, Apel Malang, Pelumas, dan Semangka

Kode ini digunakan dalam kasus suap Kemenpora pada 2012. Kata-kata itu digunakan oleh mantan anggota DPR Angelina Sondakh. “Apel malang” merupakan kode untuk uang rupiah. Sementara, “apel washington” digunakan untuk menandai kode uang dolar. “Pelumas” bermakna uang dan “semangka” berarti permintaan dana.

Kode tersebut ditemukan dalam pesan Blackberry Messenger dari Angelina ke Direktur Marketing PT Anak Negeri Mindo Rosalina Manulang. Kode-kode ini terungkap dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada 2012.

Sumber: Data Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *