Pengelolaan Kekayaan Alam Terkait Kekacauan Politik di Indonesia

oleh -784 views

Edisi Satu

PADANG,SUMBARTODAY– berikut kami paparkan sekelumit cerita tentang kekejian yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sampai saat ini sulit dimaafkan dan tak akan bisa dilupakan oleh bangsa ini. Berkali-kali partai berlambang palu arit itu berulah dengan melakukan kudeta (makar).

Dibalik kejadian demi kejadian, kita harus melakukan telaah yang mendalam terhadap sebab, akibat dari kejadian tersebut secara konfrehensif.

Semua itu adalah peristiwa politik yang sangat berkaitan erat dengan kekuasaan di negara ini. diduga kuat hal ini melibatkan kekuatan politik dunia Internasional.

Sejarah mencatat, sejak bangsa ini merdeka pada tahun 1945, PKI sudah beberapa kali melakukan pemberontakan. Wakil Sekretaris PBNU Abdul Mun’im DZ mengatakan pembantaian ulama oleh PKI misalnya, kata dia berawal ketika PKI tidak mengakui revolusi kemerdekaan 1945 yang dideklarasikan oleh Soekarno dan Moh. Hatta. Sebaliknya PKI mendeklarasikan revolusi sendiri pada tahun 1948. Saat itulah pemberontakan pertama PKI dilakukan.

Mun’im melanjutkan, Nahdlatul Ulama (NU) kala itu memang selalu melakukan dukungan penuh terhadap Bung Barno dan Moh. Hatta dalam membangun bangsa Indonesia. Dan PKI malah membuat gerakan perlawanan dan mencoba untuk melakukan gerakan coup d’État (kudeta) terhadap posisi dari Bung Karno dan Bung Hatta.

NU dianggap sebagai musuh yang sangat berbahaya oleh PKI karena secara kuantitas NU adalah organisasi yang mempunyai basis massa yang besar dan kiyai mempunyai pengaruh yang kuat terhadap warga NU. Maka tidak heran jika NU dianggap sebagai batu sandungan oleh PKI. itulah alasan hingga PKI menculik kyai-kyai dan membunuhnya.

Kekejaman PKI terhadap kyai, santri dan ulama juga terekam dalam buku berjudul Ayat-ayat yang disembelih karya Anab Afifi dan Thowaf Zuharon. Buku yang diangkat dari kisah nyata korban kekejian PKI, kedua penulis menjelaskan bahwa PKI pertama kali melakukan gerakan revolusioner yang disebut formal fase nonparlementer, yakni pengambilalihan kekuasaan dari pemerintah yang sah.

Usaha kudeta itu disertai penculikan dan penganiayaan serta pembunuhan sejumlah penduduk sipil, para ulama, santri, pejabat, dan polisi. Anab Afifi mengungkap bagaimana kekejaman PKI di Tegal dan sekitarnya. Kekejian pertama PKI yaitu pada penghujung tahun 1945, tepatnya Oktober.

Di kota ini, ada seorang pemuda PKI di Slawi, Tegal, Jawa Tengah, berjuluk Kutil (nama asli Sakyani). Ia telah menyembelih seluruh pejabat pemerintah di sana. Sakyani juga melakukan penyembelihan besar-besaran di Brebes dan Pekalongan. Sakyani mengarak Kardinah (adik kandung RA Kartini) keliling kota dengan sangat memalukan, syukurlah ada yang sempat menyelamatkan Kardinah, tepat beberapa saat sebelum Kutil memutuskan mengeksekusi Kardinah.

Selanjutnya kisah nyata kekejaman PKI terjadi di Kota Lebak, Banten. Kekejian datang dari Ce’Mamat, pimpinan gerombolan PKI dari Lebak (Banten) yang merencanakan menyusun pemerintahan model Uni Soviet. Gerombolan Ce’Mamat berhasil menculik dan menyembelih bupati Lebak R. Hardiwinangun di jembatan sungai Cimancak pada tanggal 9 desember 1945.

Kemudian di Jakarta, Jalan Oto Iskandar Dinata di selatan Kampung Melayu. Dimana seorang tokoh nasional Oto Iskandar Dinata dihabisi secara keji oleh Laskar Hitam Ubel-Ubel dari PKI, pada desember 1945.

Daerah Sumatera dan Jawa

Di Sumatera Utara, juga banyak menyimpan kisah yang tak kalah memiriskan. Di sana PKI menumpas habis seluruh keluarga (termasuk anak kecil) Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura, pada Maret 1946. Tak hanya itu, anggota PKI juga merampas harta benda milik kerajaan. Dalam peristiwa ini, putra mahkota kerajaan Langkat, Amir Hamzah (banyak dikenal sebagai penyair), ikut tertumpas. Tak ada lagi penerus kerajaan Langkat.

Masih di tanah Sumatera, tepatnya di Pematang Siantar, PKI menunjukkan kebrutalannya. Pada 14 Mei 1965, PKI melakukan aksi sepihak menguasai tanah-tanah negara. Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) melakukan penanaman secara liar di areal lahan milik Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Karet IX Bandar Betsi.

Pembantu Letnan Dua yang sedang ditugaskan di perkebunan kebetulan menyaksikan aksi perilaku anggota PKI tersebut. Sudjono pun memberi peringatan agar aksi dihentikan. Bukannya pergi, para anggota PKI ini justru berbalik menyerang dan menyiksa Sudjono. Akibatnya, Sudjono tewas dengan kondisi yang amat menyedihkan.

Sementara di daerah Jawa Timur salah satu kekejian PKI ketika mereka menghadang Gubernur Jawa Timur RM Soerjo, sepulangnya dari lawatan menghadap Soekarno. Di tengah jalan, mobil Gubernur Soerjo bersama dua pengawalnya dicegat pemuda rakyat PKI. Mereka lalu diseret menggunakan tali sejauh 10 kilometer hinga meregang nyawa, lalu mayatnya dicampakkan di tepi kali.

Begitupun di Madiun. PKI menusuk dubur banyak warga desa Pati dan Wirosari (Madiun) dengan bambu runcing. Lalu, mayat mereka ditancapkan di tengah-tengah sawah, hingga mereka kelihatan seperti pengusir burung pemakan padi. Diantaranya wanita, ditusuk kemaluannya sampai tembus ke perut, juga ditancapkan ke tengah sawah.

Sebenarnya masih banyak lagi fakta-fakta mengerikan PKI terhadap para ulama dan tokoh-tokoh lainnya yang terekam dalam buku tersebut. Tahun 2009 lalu, sejarawan Aminudin Kasdi secara terang-terangan membuka rahasia rencana besar Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terdapat dalam buku saku berhudul ABC Revolusi, keluaran Comite Central (CC) PKI pada 1957. Buku saku itu berupa dokumen penting yang ditemukan Aminudin Kasdi berisi tiga rencana revolusi atau pemberontakan PKI di Indonesia menuju negara komunis.

Sementara itu, masih mengenai kekejian PKI pada ulama dan satri Ketua Umum PBNU Kyai Said Aqil Siradj kepada RMOL (15/6/2016) menceritakan bagaimana waktu itu (1965) PKI sangat-sangat menghina dan melecehkan umat Islam. Sampai-sampai sering terjadi bentrok fisik. Ada pengajian NU diserang, di Blitar, di Banyuwangi. “Saya melihat sendiri ya, di Ciwaringin itu kecamatan saya. Ada tokoh PKI setelah diciduk, di rumahnya, konon ada sumur untuk mengubur siapa-siapa yang diculik. Termasuk ayah saya. Jadi ada itu,” ungkapnya.

Mengenai kisah almarhum ayahnya, Kyai Said bercerita bahwa ayahnya juga kerap menjadi incaran para anggota PKI. “Ya Ayah saya sering diganggu ketika dakwah. Misalkan, waktu itu belum ada listrik ya, ayah saya kan pakainya dokar ketika dakwahnya itu, nanti di tengah-tengah jalan ada batu sampai ku­danya jatuh. Sabotase seringlah. Pernah juga, sound system-nya diganggu. Kan waktu itu pakai diesel listrik kan, dieselnya di­ganggu. Itu contoh kecil ya,” ujar dia.

Untuk melengkapi pengatahuan kita berikut kami kutip dari Publik-News.com

Pemberontakan dan kekejian Partai Komunis Indonesia (PKI) sampai kapanpun tampaknya tak bisa dimaafkan dan tak akan bisa dilupakan oleh bangsa ini. Karena berkali-kali partai berlambang palu arit itu kerap berulah dengan melakukan kudeta (makar).

Sejarah mencatat, sejak bangsa ini merdeka pada tahun 1945, PKI sudah beberapa kali melakukan pemberontakan. Wakil Sekretaris PBNU Abdul Mun’im DZ mengatakan pembantaian ulama oleh PKI misalnya, kata dia berawal ketika PKI tidak mengakui revolusi kemerdekaan 1945 yang dideklarasikan oleh Soekarno dan Moh. Hatta. Sebaliknya PKI mendeklarasikan revolusi sendiri pada tahun 1948. Saat itulah pemberontakan pertama PKI dilakukan.

Mun’im melanjutkan, Nahdlatul Ulama (NU) kala itu memang selalu melakukan dukungan penuh terhadap Bung Barno dan Moh. Hatta dalam membangun bangsa Indonesia. Dan PKI malah membuat gerakan perlawanan dan mencoba untuk melakukan gerakan Coup d’État (kudeta) terhadap posisi dari Bung Karno dan Bung Hatta.

NU dianggap sebagai musuh yang sangat berbahaya oleh PKI karena secara kuantitas NU adalah organisasi yang mempunyai basis massa yang besar dan kiyai mempunyai pengaruh yang kuat terhadap warga NU. Maka tidak heran jika NU dianggap sebagai batu sandungan oleh PKI. Dan PKI menculik kiyai-kiyai dan membunuhnya.

Kekejaman PKI terhadap kyai, santri dan ulama juga terekam dalam buku berjudul Ayat-ayat yang disembelih karya Anab Afifi dan Thowaf Zuharon.

Di buku yang diangkat dari kisah nyata korban kekejian PKI itu, kedua penulis menjelaskan bahwa PKI pertama kali melakukan gerakan revolusioner yang disebut formal fase nonparlementer, yakni pengambilalihan kekuasaan dari pemerintah yang sah.

Usaha kudeta itu disertai penculikan dan penganiayaan serta pembunuhan sejumlah penduduk sipil, para ulama, santri, pejabat, dan polisi. Anab Afifi mengungkap bagaimana kekejaman PKI di Tegal dan sekitarnya. Kekejian pertama PKI yaitu pada penghujung tahun 1945, tepatnya Oktober.

Di kota ini, ada seorang pemuda PKI di Slawi, Tegal, Jawa Tengah, berjuluk Kutil (nama asli Sakyani). Ia telah menyembelih seluruh pejabat pemerintah di sana. Sakyani juga melakukan penyembelihan besar-besaran di Brebes dan Pekalongan. Sakyani mengarak Kardinah (adik kandung RA Kartini) keliling kota dengan sangat memalukan, syukurlah ada yang sempat menyelamatkan Kardinah, tepat beberapa saat sebelum Kutil memutuskan mengeksekusi Kardinah.

Selanjutnya kisah nyata kekejaman PKI terjadi di Kota Lebak, Banten. Kekejian datang dari Ce’Mamat, pimpinan gerombolan PKI dari Lebak (Banten) yang merencanakan menyusun pemerintahan model Uni Soviet. Gerombolan Ce’Mamat berhasil menculik dan menyembelih bupati Lebak R. Hardiwinangun di jembatan sungai Cimancak pada tanggal 9 desember 1945.

Kemudian di Jakarta, Jalan Oto Iskandar Dinata di selatan Kampung Melayu. Dimana seorang tokoh nasional Oto Iskandar Dinata dihabisi secara keji oleh Laskar Hitam Ubel-Ubel dari PKI, pada desember 1945.

Daerah Sumatera dan Jawa

Di Sumatera Utara, juga banyak menyimpan kisah yang tak kalah memiriskan. Di sana PKI menumpas habis seluruh keluarga (termasuk anak kecil) Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura, pada Maret 1946. Tak hanya itu, anggota PKI juga merampas harta benda milik kerajaan. Dalam peristiwa ini, putra mahkota kerajaan Langkat, Amir Hamzah (banyak dikenal sebagai penyair), ikut tertumpas. Tak ada lagi penerus kerajaan Langkat.

Masih di tanah Sumatra, tepatnya di Pematang Siantar, PKI menunjukkan kebrutalannya. Pada 14 Mei 1965, PKI melakukan aksi sepihak menguasai tanah-tanah negara. Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) melakukan penanaman secara liar di areal lahan milik Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Karet IX Bandar Betsi.

Pembantu Letnan Dua yang sedang ditugaskan di perkebunan kebetulan menyaksikan aksi perilaku anggota PKI tersebut. Sudjono pun memberi peringatan agar aksi dihentikan. Bukannya pergi, para anggota PKI ini justru berbalik menyerang dan menyiksa Sudjono. Akibatnya, Sudjono tewas dengan kondisi yang amat menyedihkan.

Sementara di daerah Jawa Timur salah satu kekejian PKI ketika mereka menghadang Gubernur Jawa Timur RM Soerjo, sepulangnya dari lawatan menghadap Soekarno. Di tengah jalan, mobil Gubernur Soerjo bersama dua pengawalnya dicegat pemuda rakyat PKI. Mereka lalu diseret menggunakan tali sejauh 10 kilometer hinga meregang nyawa, lalu mayatnya dicampakkan di tepi kali.

Begitupun di Madiun. PKI menusuk dubur banyak warga desa Pati dan Wirosari (Madiun) dengan bambu runcing. Lalu, mayat mereka ditancapkan di tengah-tengah sawah, hingga mereka kelihatan seperti pengusir burung pemakan padi. Diantaranya wanita, ditusuk kemaluannya sampai tembus ke perut, juga ditancapkan ke tengah sawah.

Sebenarnya masih banyak lagi fakta-fakta mengerikan PKI terhadap para ulama dan tokoh-tokoh lainnya yang terekam dalam buku tersebut. Tahun 2009 lalu, sejarawan Aminudin Kasdi secara terang-terangan membuka rahasia rencana besar Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terdapat dalam buku saku berhudul ABC Revolusi, keluaran Comite Central (CC) PKI pada 1957. Buku saku itu berupa dokumen penting yang ditemukan Aminudin Kasdi berisi tiga rencana revolusi atau pemberontakan PKI di Indonesia menuju negara komunis.

Sementara itu, masih mengenai kekejian PKI pada ulama dan satri Ketua Umum PBNU Kyai Said Aqil Siradj kepada RMOL (15/6/2016) menceritakan bagaimana waktu itu (1965) PKI sangat-sangat menghina dan melecehkan umat Islam. Sampai-sampai sering terjadi bentrok fisik. Ada pengajian NU diserang, di Blitar, di Banyuwangi. “Saya melihat sendiri ya, di Ciwaringin itu kecamatan saya. Ada tokoh PKI setelah diciduk, di rumahnya, konon ada sumur untuk mengubur siapa-siapa yang diculik. Termasuk ayah saya. Jadi ada itu,” ungkapnya.

Mengenai kisah almarhum ayahnya, Kyai Said bercerita bahwa ayahnya juga kerap menjadi incaran para anggota PKI. “Ya Ayah saya sering diganggu ketika dakwah. Misalkan, waktu itu belum ada listrik ya, ayah saya kan pakainya dokar ketika dakwahnya itu, nanti di tengah-tengah jalan ada batu sampai ku­danya jatuh. Sabotase seringlah. Pernah juga, sound system-nya diganggu. Kan waktu itu pakai diesel listrik kan, dieselnya di­ganggu. Itu contoh kecil ya,” ujar dia. Ns

Sumur itu saat ini dikenal dengan Lubang Buaya yang lokasinya di Pondok Gede, Jakarta Timur. Tempat itu dijadikan pembuangan para korban gerakan 30 September tahun 1965.

“Saya tidak berfikir kalau dapat tugas seperti itu,” kata Soegimin di kediamannya di Surabaya, Kamis, 21 September 2017. “Kebetulan tugas itu bisa berhasil.”

Soegimin kini berusia 79 tahun. Pada saat mendapat tugas mengevakuasi jenazah korban G30S itu, dia adalah seorang tentara. Pangkatnya waktu itu Pembantu Letnan Dua di Korps Komando Operasi (KKO), sekarang menjadi Korps Marinir.

Menurut Soegimin saat itu dia bersama 11 anggota Marinir lainnya mendapat tugas istimewa. Keistimewaan tugas itu karena dia diberitahu atasanya secara dadakan.

“Salah satu perwira angkatan darat (Kostrad) waktu itu Pak Sukendar menuhi perwira Mako KKO atas perintah Soeharto,” ujar Soegimin. “Suruh cari orang yang mampu melaksanakan tugas (evakuasi pengangkatan jenazah) ini.”

Soeharto saat itu berpangkat mayor jenderal di Pangkostrad. Menurut Soegimin, persiapan evakuasi berjalan singkat. Dia diberitahu atasannya pada 3 Oktober 1965 malam.

Keesokan harinya, dia bersama rombongan anggota tim evakuasi yang terdiri dari para pasukan Marinir berangkat menuju Lubang Buaya. Pada saat itu, tak ada yang tahu lokasi persis Lubang Buaya.

Yang dia ingat hanya lokasinya tak jauh dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Rombongan Soegimin bahkan sempat tersesat dan berputar di satu lokasi selama dua jam.

“Kesimpulan terakhir, kami tidak bisa menemukan daerah itu (Lubang Buaya) dengan jelas,” ujar Soegimin. “Pas kami mau keluar Halim, kami bertemu dengan polisi Angkatan Udara. Kami tanya dan dia berani menunjukkan.”

Sesampainya di Lubang Buaya, Soegimin kaget. “Ternyata Lubang Buaya sudah dikuasai pasukan-pasukan baret merah,” ujar dia.

Soegimin dan tim sebelum melaukan evakuasi diberi pengarahan oleh dokter, “saat evakuasi jenazah jangan sampai diikat bagian leher,” ujar dia.

Dengan mengenakan alat dan seutas tali, Soegimin dan tim mulai mengevakuasi para jenderal dan perwira Angkatan Darat itu di dalam sumur yang dalamnya 12 meter dengan diameter 75 sentimeter. Mereka masuk ke liang sempit itu.

Soegimin kaget ketika tahu bahwa posisi jenazah korban G30S di dalam sumur kondisinya sangat mengenaskan. “Semua kakinya itu di atas. Berarti saat itu dijungkir, kepala di bawah,” ujar dia.

Jenazah yang paling mengenaskan, kata Soegimin, adalah Jenderal Ahmad Yani. “Karena saat ditarik ke atas, perutnya sudah mengeluarkan kotoran. Kulitnya sudah mengeluarkan pembusukan.” Jasad 6 jenderal dan satu perwira yang dibenam di sumur itu adalah Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani, Letnan Jenderal (Anumerta) Siswondo Parman, Letnan Jendral (Anumerta) Suprapto, Letnan Jenderal (Anumerta) Mas Tirtodarmo Harjono.

Kemudian ada Mayor Jenderal (Anumerta) Donald Isaac Panjaitan, Mayor Jenderal (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten (Anumerta) Pierre Tendean.

“Kesimpulan terakhir, kami tidak bisa menemukan daerah itu (Lubang Buaya) dengan jelas,” ujar Soegimin. “Pas kami mau keluar Halim, kami bertemu dengan Polisi Angkatan Udara. Kami tanya dan dia berani menunjukkan.” Sesampainya di Lubang Buaya, Soegimin kaget. “Ternyata Lubang Buaya sudah dikuasai pasukan-pasukan Baret Merah,” ujar dia.

Namun kita jangan terlena terhadap kejadian-kejadian pemberontakan tersebut, wilayah indonesia yang luas dan kaya tentu saja banyak yang berminat untuk menguasainya.

Kita bebas beropini dan boleh menduga-duga bahwa berdasarkan berbagai kejadian yang kita alami juga ada Sutradara, pemain lain selain Partai Komunis, Pater Beek misalnya. dikesempatan lain akan kita ulas siapa PATER BEEK? (Red)

(Sumber: NETZ)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *