Asal Kejadian Dan Hakikat Nur Muhammad

oleh -919 views

PADANG,SUMBARTODAY-Untuk Memahami Hakekat dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj kita harus memahami dulu terkait “ Asal Mula Kejadian “. Karena hal ini adalah dasar dan merupakan suatu peristiwa yang berkaitan erat dengan Isra’dan Mi’raj. Sehingga dalam penafsirannya baik itu dalam bahasa syariat maupun hakekat akan tepat sasaran.

Dalam pembahasan terkait asal mula kejadian kita gunakan dua metode, Ilmu dan Akal yang digabungkan dengan pengalaman spiritual yang dialami oleh para sepuh dan berbagai narasumber.

Beberapa Pedoman yang digunakan selain dari Al Qur’an dan Hadist kita gunakan juga kitab ‘Sirrul Asrar Fi Ma Yahtaju Ilayhil Abrar’ oleh Ghawthul A’zham Shaikh Muhyiddin Abdul Qadir Jailani dan kitab Serat Wirid Hidayat Jati yang ditulis oleh R.Ng. Ronggo Warsito (Kiyahi Ageng Burhan). Semoga Kita semua selalu diberkahi hati dan jiwa yang bersih sehingga segala curahan ilmu-NYA mampu kita terima dan mengaplikasikannya untuk kepentingan alam semesta ini.

Wirid Hidayat Jati Dalam Wirid Hidayat Jati, makrifat yang di diajarkan adalah wejangan yang berasal dari delapan wali dari tanah Jawa, yang sudah dikumpulkan menjadi satu. Isinya bersumber dari intisari firman Allah SWT yang dijelaskan dalan hadis Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Ali r.a melalui telinga kirinya.

2.1 Kata Pengantar”Puniko babarang wirid ingkang mawi murat soho mangsud pisan,ngiras minongko bebukaning hikayat ingkang dados bebukaning pitedah dunungipun ngelmu makripat(makrifat). Sedoyo wiyosipun kantuk saking dalil, hadis, ijma’ , lakiyat (Mungkin maksudnya: kiyas). Dalil nedahaken pangandikanipun Allah, Hadis nedahaken piwulangipun Rasulullah,Ijma’ ngempalaken wejanganipun poro wali, Kiyas mencaraken wewarahipun poro pandito”.Terjemahan :

“Ini adalah pelajaran (ilmu) wirid yang menjadi bekal serta sekalian maksudnya, sebagai pembuka Hikayat, yang menjadi pembuka petunjuk untuk memahami ilmu makrifat. Semua keterangan berasal dari dalil, hadist, ijma dan qiyas. Dalil maksudnya penjelasan tentang firman Allah. Hadis berisi tentang keteladanan Rasulullah. Ij’ma adalah kumpulan wejangan para wali. Qiyas adalah penyebaran ajaran para ulama. ”

2.2 Dalil (Wejangan) Sapisan : Ananing Dat

“Sajatine ora ana apa-apa awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang anadhingin iku Ingsun, Ora ono Pangeran ananging Ingsun. Sajatine Dat kang maha sucianglimputi ing sipat- Ingsun, amrandani ing asma lan apngal (af’al) Ingsun.

“Dalil / Pelajaran ke-1 : Adanya Dzat” Sesungguhnya tidak ada apa pun ketika masih sunyi hampa belum ada sesuatu, yang awal adanya adalah AKU, Tiada Tuhan kecuali Aku, sesungguhnya yang Maha Suci meliputi sifat-KU, menyertai dan menandai perbuatan-KU).”Penjelasan Dalam wejangan diatas menekankan bahwa Sang AKU (Tuhan – Dzat Mutlak) bersifat Qodim (Maha awal tanpa ada awalnya) serta menyatakan kesucian-Nya yang meliputi segala sifat-Nya, nama -Nya dan juga menandai (mewujud-nyata) dalam perbuatan-Nya.

2.3 Dalil (Wejangan) kapindo : Wahananing Dzat”Sajatine Ingsun Dzat kang murba misesa nitahake sawiji-wiji, dadi podo sanalika, sampurnasaka kodrat Ingsun, ing kanyatan, pratandhane apngal Ingsun minangka bebukaniro Dzat Ingsun, kang dhingin Ing-sun anitahake Kayu aran Sajaratulyakin tumuwuh ing sajroningalam Adam-makdum ajali abadi. Nuli Cahya aran Nur Muhammad, nuli Kaca aran Mirhatul-kayai, nuli Nyawa aran Roh ilampi, nuli Damar (lampu) aran Kandil, nuli Sesotya (berlian)aran Da-rah, nuli Dhindhing Jalal aran Kijab. kang minangka wahananing Dzat-Ingsun.”Dalil / Pelajaran ke-2 : Wahana Dzat/Kejadian Dzat”Sesungguhnya AKU (Allah) adalah Dzat yang maha kuasa menciptakan segala sesuatu, jadi seketika, sempurna berasal karena kuasa-KU (Allah), menjadi nyata tanda perbuatan-KU, yang sebagai pembuka (akan pengenalan) Dzat-KU. Yang pertama AKU menciptakan Kayu(pohon) bernama Sajaratul yakin (pohon kehidupan) tumbuh di dalam alam Adam Makdum (kosong hampa) Ajalai Abadi (alam yang sejak jaman azali /dahulu dan kekal adanya).Kemudian Cahya bernama Nur Muhammad (Cahaya Yang Terpuji), berikutnya Cermin

bernama Mir’atulhayai (Kaca Wira’i), selanjutnya Nyawa bernama Roh Idhofi (nyawa yang jernih), lalu Lentera / Lampu / pelita bernama Kandil (lampu tanpa api), lalu Permata bernama Darah / dzarrah , lalu dinding agung bernama Hijab (dinding jalal atau penutup) yang merupakan wahana / sekat bagi penampakan Dzat-KU (Allah).”Penjelasan

2.3.1 Pertama, Dalam wejangan kedua ini diterangkan kemaha-kuasaan Sang AKU (Allah). Sekaligus diterangkan tingkat-tingkat ‘pengungkapan / penyingkapan’ Dzat-Nya supaya dikenali, melalui af’al-Nya (sifat-NYA) dalam penciptaan. Pertama diciptakanNyalah Kayu Sajaratul Yakin (pohon kehidupan) yang hidup dalam alam keabadian. Tumbuh dari benihKaf dan Nun. Hakekatnya ini adalah bukan penciptaan dalam arti harfiah namun lebih kepada pengungkapan Dzat-Nya untuk dikenali sebagai Sang Hidup. Kayu atau Hayu adalah Hidupatau Urip. Yaitu sebagai Dzat Yang Hidup Berdiri Sendiri. Sedang sifat-Nya belumlah bisadisifati dengan segala macam (bahasa) sifat. Disinilah alam sonya-ruri, awang-uwung, tankinaya ngapa, laisa kamitslihi syai’un.

2.3.2 Kedua, diciptakan Cahaya yang diberi nama Nur Muhammad atau cahaya yang terpuji. Menurut beberapa ahli, Nur Muhammad ini merupakan ‘bibit’ (wiji) alam semesta. Tercipta dari hasil penyaringan benih Kun sampai murni dan ditambah sinar Hidayah-NYA lalu ditenggelamkan dalam lautan ar-Rahmah Nur. Muhammad berarti cahaya yang terpuji, yang hakekatnya adalah Cahaya Keindahan-NYA sendiri.(Hadis) seperti burung merak permata putih berada arah sajaratul yakin, hakikat cahaya, tajali Zat berada dalam nukat gaib, merupakan sifat Atma (Wahdat).

2.3.3 Ketiga, Allah menciptakan Cermin bernama Miratulkhayai (Cermin Kehidupan /Cermin Malu), dimana ada sebagian ahli yang mengatakan bahwa setelah diciptakannya Cermin ini, Nur Muhammad akhirnya mengenali dirinya. Hakikatnya pramana yang diakui sebagai rahsanya Dzat, sebagai nama Atma (Wahidiyat).

2.3.4 Keempat, diciptakan Nyawa yang diberi nama Roh Idhofi, artinya nyawa yang jernih.Hadist ; ia berasal dari Nur Muhammad ; hakikat sukma yang diakui keadaan Dzat,merupakan perbuatan Atma (alam Arwah).

2.3.5 Kelima, diciptakan Lentera yang diberi nama Kandil, artinya lampu tanpa api. Hadis; berupa permata, cahaya berkilauan tanpa kaitan. Itulah keadaan Nur Muhammad dan tempat berkumpul semua roh, hakikat angan angan diakui sebagai bayangan Dzat, bingkai Atma(alam Misal).

2.3.6 Keenam, diciptakan Permata diberi nama Darah, Hadis ; ia mempunyai sinar yang beraneka warna satu tempat dengan malaikat, hakikat budi, sebagai perhiasan Dzat, pintuatma (alam Ajsam).

2.3.7 Ketujuh, diciptakan dinding agung yang disebut hijab. Hijab adalah pembatas / tabiryang agung. Namun hakekatnya bukan pembatas tetapi ‘penyambung’ antara yang dihijab danYang Menghijab. Diciptakan dinding pembatas antara kehidupan fisik dan non fisik, antarayang kasar dan halus.Hadis; ia timbul dari permata beraneka warna, pada waktu bergerak menimbulkan buih, asap dan air, sebagai hakikat jasad, tempat Atma (insan kamil).

Buihhijab kisma : jasad luar; kulit,daging, arihijab rukmi : jasad dalam : otak,manik, hati, jantunghijab retna : jasad lembut : mani,darah, sumsumhijab pepeteng (kegelapan), napashijab guntur, panca inderahijab api, nafsuhijab air embun hidup ;perwujudan sukmahijab nur rasa ; perwujudan rahsahijab nur cahya ; perwujudan AtmaAsapair

2.4 Dalil (Wejangan) keping Telu : Kahananing Dat

“Sajatine Ingsun kang nitahake Adam asal saka anasir patang prakara, bumi, geni, angin, banyu. Iku dadi kawujudaning sipat Ingsun, ing kono Ingsun panjang ngelmu daroh, limang prakoro : Nur, Roso, Roh, Napsu, lan Budi. Iya iku minangka kawarnaning wajah IngsunKang Maha Suci.”Dalil / Pelajaran ke-3 : Keadaan Dzat / Uraian Tentang Dzat

Sebenarnya manusia itu adalah Rahsa

Ku dan Aku ini adalah rahsa manusia karena Aku menciptakan Adam dari empat unsur yaitu : Tanah, Air, Api, dan Angin, Keempat unsur itu adalah perwujudan dan Sifat-Ku. kemudian Aku masukkan kedalam tubuh Adam lima macam mudzarrah, yaitu Nur, Rahsa, Ruh, Nafsu dan Budi, Itulah sebagai gambaran-citrawajah-KU Yang Maha Suci”.Penjelasan

2.4.1 Bahwa manusia diciptakan sebagai ‘rahsa’ (bukan rasa, sebab antara rasa dan rahsa dalam keilmuan jawa berbeda) dari Allah, dan Allah itu sebagai ‘rahsa’ dari manusia. Yang dimaksud adalah bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambaranNya atau menurutcitraNya.

2.4.2 Dalam pelajaran ini diterangkan bahwa manusia (jasmaninya) diciptakan berasal dari empat unsur alam semesta (bumi, angin /udara, api dan air.) yang masing-masing unsurmempengaruhi (membawa bawaan) dorongan nafsu manusia.a. Bumi dalam tubuh kita terwujud pada hal-2 yang bersifat kedagingan, dan dibagi menjadidua hal yaitu yang merupakan unsur dari :1) Bapa berupa tulang, otot, kulit dan otak, dan unsur.2) Ibu berupa daging, darah, sungsum dan jerohan. b. Api dalam tubuh menjadikan empat nafsu yaitu aluamah, amarah, supiyah danmutmainah.1) Aluamah berwatak suka terhadap makanan, sifatnya membangkitkan kekuatan badan.2) Amarah berwatak suka marah, emosi, sifatnya membangkitkan kekuatan kehendak.3) Supiyah berwatak keinginan, keterpesonaan, keinginan memiliki, bersifat membangkitkan kekuatan pikir berupa akal.4) Mutmainah berwatak kesucian dan ketenangan, bersifat membangkitkan kekuatan untuk berpantang (bhs jawa : tarak brata)c. Angin dalam tubuh kita terwujud dalam empat hal yaitu napas, tannapas, anapas dan nupus.

  • Napas merupakan ikatan badan fisik, bertempat di hati suwedhi, yaitu jembatan hati, berpintu di lisan
  • Tannapas merupakan ikatan hati, bertempat di pusar, berpintu di hidung
  • Anapas merupakan ikatan roh, berpintu di telinga
  • Nupus merupakan ikatan rahsa, bertempat di hati fuad yang putih yaitu jembatan jantung, berpintu di mata.d. Air dalam tubuh menjadikan empat elemen roh yaitu roh hewani, roh nabati, roh rabbani dan roh nurrani.
    • Roh hewani, menumbuhkan kekuatan badan.
    • Roh nabati menumbuhkan rambut, kuku, dan menghidupkan budi.
    • Roh rabbani menumbuhkan rahsa (dzat hamba)
    • Roh Nurrani menumbuhkan cahaya.

2.4.3 Setelah empat unsur alam terbentuk dalam tubuh manusia, kemudian Allah menempatkan pula lima hal sebagai gambaran wajah- Nya yaitu nur, rahsa, roh, nafsu dan budi.

  1. Nur, merupakan terangnya cahya, jika ‘menyambung’ kembali kepada Dzat Yang Maha Suci dapat menerangi manusia dalam mengenal-Nya dan menjalankan peran sebagai hambadan wakil-Nya di bumi (menerangi lahir batin).
  2. Rahsa, roso jati, adalah kesadaran ‘ar-ruh min-Ruhi’, kesadaran manusia yang hakiki, al- bashiroh manusia (menumbuhkan daya ketenteraman di lahir batin).
  3. Roh, nyawa, sukma yang dalam jasad mempunyai tali petanda berupa nafas (penglihatanroh jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menjadikan penguasaan sempurna).
  4. Nafsu, kekuatan nafsu menumbuhkan kekuatan kehendak / karep yang sentosa.
  5. Budi, menumbuhkan daya pikir dan cipta yang sentosa .Oleh karena itulah beberapa orang mengatakan bahwa manusia mempunyai sifat-sifat Tuhandan juga mempunyai kesucian wajah Tuhan.

2.5 Dalil (Wejangan) kaping Papat : Pambukaning Tata Malige (Mahligai)

2.5.1 Ayat Kapisan : Ing Dalem Betal Makmur:”sajatine Ingsun anata malige ana sajroning betalmakmur, iku omah sakjroning kerameyan-Ingsun, jumeneng ana sirahing Adam. Kang ana sajroning sirah iku utek, kang ana antaraningutek iku manik, sajroning manik iku bu-di, sajroning budi iku napsu, sajroning napsu ikusuksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran angingIngsn, dat kang nglimputi ing kaanan jati.”Dalil / Pelajaran keempat : Pembukaan Tahta Mahligai / SinggasanaAyat Pertama : Pembuka (susunan) tahta (Singgasana) dalam Baitul mukmur”Sesungguhnya AKU bertahta dalam baitul makmur, itu rumah tempat pesta-KU, berdiri didalam kepala Adam. Yang pertama dalam kepala itu otak, yang ada di antara otak itu manik di dalam manik itu budi, di dalam budi itu nafsu, di dalam nafsu itu suksma, di dalam suksma itu rahsa, di dalam rahsa itu AKU, tidak ada Tuhan selain hanya AKU, dzat yang meliputi keberadaan yang sejati / sesungguhnya”Penjelasana. Dalil ini menyatakan bahwa Allah bertahta atau bersinggasana di dalam baitul makmur, yang berada di dalam kepala manusia. Yang dimaksud dengan baitul makmur adalah cakra mahkota yang ada di puncak kepala.

  1. Di dalam kepala manusia terdapat otak. Di antara otak itu sendiri terdapat lapisan-lapisan sebagai berikut :
  2. Yang pertama ‘manik’
  3. Di dalam manik terdapat budi
  4. Dalam budi terdapat nafsu
  5. Dalam nafsu terdapat sukma
  6. Dalam suksma terdapat rahsa
  7. Dalam rahsa terdapat AKU Dan sesungguhnya tidak ada Tuhan selain hanya AKU, Dzat yang meliputi segalanya.
  8. Kepala : Bentuk lahiriah Baitul Makmur.
  9. Otak : Keadaan kontha, narik kejelasan cahaya, merupakan pembuka Dzat.
  10. Manik : Keadaan pramana, menjelaskan warna, menjadi pangkal penglihatan.
  11. Budi : Keadaan pranawa, memperjelas kehendak, menjadi pangkal pembicaraan.
  12. Nafsu : Keadaan hawa, memperjelas nyawa, menjadi pangkal pendengaran.
  13. Suksma : Keadaan nyawa, memperjelas cipta, menjadi pangkal penciuman.
  14. Rahsa : Keadaan atma, memperjelas kuasa, menjadi pangkal perasaan.

2.5.2 Ayat Kapindo : Pambuka tata malige ing dalem betalmukarram”sajatine Ingsun anata malige sajroning betalmukarram, iku omah enggoning lala-ranganIngsun, jumeneng ana ing dhadhaningg adam. Kang ana sajroning dhadha iku ati, kang anaantaraning ati iku jantung, sajroning jantung iku budi, sakjroning budi iku jinem , yaikuangen-angen, sajroning angen-angen iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsaiku Ingsun. Ora ana pangeran anging Ingsun dat kang anglimputi ing kahanan jati”Ayat kedua : Pembuka (susunan) tahta (Singgasana) dalam Baitul mukarram :”Sesungguhnya AKU bertahta dalam baitulmukarram, itu rumah tempat larangan-KU (tempat pengingat-Ku), berdiri di dalam dada Adam. Yang ada di dalam dada itu hati, yang ada diantara hati itu jantung, dalam jantung itu budi, dalam budi itu jinem, yaitu angan-angan,dalam angan- angan itu suksma, dalam suksma itu rahsa, dalam rahsa itu AKU. Tidak adaTuhan kecuali hanya AKU dzat yang meliputi keberadaan yang sejati / Dzat yang meliputi semua keadaan”

Penjelasannya:

Dalam dalil ini Allah menyatakan bahwa diriNya bertahta di baitul muharram yang menjadi tempat larangan, berada di dalam dada manusia. Mungkin yang dimaksud adalah cakra jantung.

Disebutkan bahwa di dalam dada manusia itu terdapat susunan sebagai berikut :

1) Pertama hati (kalbu)

2) Di antara hati terdapat jantung,

5) Di dalam manikem ada rahsa

6) Di dalam rahsa ada AKU dan sesungguhnya tidak ada Tuhan selain hanya AKU, Dzat yang meliputi segalanya.

Bentuk fisik Baitul Mukaddas

  1. Zakar adalah Bentuk lahiriah Baitul Mukaddas.
  2. Buah pelir : Keadaan purba, diresapi rasa birahi, menimbulkan asmaranala, yaitu tertariknya hati.
  3. Mani : Keadaan konta, diresapi hawa nafsu, menimbulkan asmaratura, yaitu tertarik nya penglihatan.
  4. Madi : Keadaan warna, diresapi kehendak, menimbulkan asmaraturida, yaitu tertariknya
  5. Wadi : Keadaan rupa, diresapi daya pikir, menimbulkan asmaradana, yaitu tertariknya oleh kesamaan pembicaraan.
  6. Manikem : Keadaan suksma, diresapi perasaan, menimbulkan asmaratantra, yaitu tertarik lantaran bersentuhan.
  7. Rahsa : Keadaan atma, diresapi kuasa, menimbulkan asmaragama, yaitu kesenangan bersenggama. Di sini juga disebutkan hal yang penting bahwa manusia sempurna (al -insan kamil) adalah sebagai perwujudan sifat-NYA (gambar citra-Nya) dan terbentuk melalui tujuh tahapan alam yang dilaluinya, biasa dikenal dengan istilah martabat pitu atau martabat tujuh yaitu :1. Alam ahadiyah wujud Tuhan merupakan Zat Mutlak lagi mujarrad, tidak bernama dan tidak bersifat. Karenaitu, Ia tidak dapat dipahami ataupun dikhayalkan. Pada martabat ini Tuhan

Sering diistilahkan al-Haq oleh Ibn ’Arabi-berada dalam keadaan murni bagaikan kabut yang gelap (fi al-’amâ’) tidak sesudah, tidak sebelum, tidak terikat, tidak terpisah, tidak ada atas, tidak ada bawah, tidak mempunyai nama, tidak musammâ (dinamai).

Pada martabat ini, al-Haq tidak dapat dikomunikasikan oleh siapa pun dan tidak dapat diketahui.Dalam memperkatakan Alam Qaibull-Quyyub yaitu pada martabat Ahdah di mana belum ada sifat, belum ada ada asma’, belum ada afaal dan belum ada apa-apa lagi iaitu pada Martabat LA TAKYIN, Zat UlHak telah menegaskan untuk memperkenalkan DiriNya dan untuk diberitanggungjawab ini kepada manusia dan di tajallikanNya akan DiriNya dari satu peringkat ke peringkat sampai zahirnya manusia berbadan rohani dan jasmani.Adapun Martabat Ahdah ini terkandung di dalam Al-Ikhlas pada ayat pertamaiaitu (Qulhuwallahu Ahad), yaitu Sa pada Zat semata-mata dan inilah dinamakan Martabatn Zat.

Pada martabat ini diri Empunya Diri (Zat Ulhaki) Tuhan Rabbul Jalal adalah dengan dia semata-mata yaitu dinamakan juga Diri Sendiri. Tidak ada permulaan dan tiada akhirnya iaitu Wujud Hakiki Lagi Khodim. Pada masa ini tiada sifat, tiada Asma dan tiada Afa’al dan tiada apa-apa pun kecuali Zat Mutlak semata-mata maka berdirilah Zat itu dengan Dia semata-mata di dalam keadaan ini dinamakan AINUL KAFFUR dan diri zat dinamakan Ahdah jua atau di namakan KUNNAHZAT.

Alam wahdat

Pada tahap wahdah ini mulailah individuasi. Inilah kenyataan Muhammad yang tersembunyi di dalam rahasia Tuhan, didalam cara-cara berada dzatNya. Semua kenyataan belum terpisah antara yang satu dengan yang lainnya, karena masih terikat satu sama lain dalam cara-cara berada itu. Antara ide yang satu belum ada perbedaan dengan ide yang lain, karena masih tersembunyi di dalam wahdat. Mereka masih terkumpul di dalam (kenyataan) Muhammad yang merupakan awal pemancaran cara-cara berada hakikat sejati. Yang dinamakan wahdah ialah hakikat Muhammad, semua hakikat masih berkumpul dalam martabat wahdah dan belum terpisah-pisah. Martabat wahdah ini dapat di ibaratkan dengan sebutir biji sehingga batang,cabang-cabang dan daun-daunnya masih tersembunyi di dalam biji itu dan belum terpisah-pisah. Batang, cabang-cabang dan daun-daun melambangkan engkau, aku, mereka,sedangkan bijinya tunggal (wahdat) Masih ada perumpamaan lain, yaitu tinta dalam wadahnya. Semua huruf terkumpul di dalam tinta, huruf yang satu belum dibedakan dari huruf lain. demikian juga dalam wahdah semua huruf, tuhan dan kita, sebelum terpisahkan Dari tinta inilah segala sesuatu itu terjadi, gambar rumah, gambar gunung, gambar manusia , batu,angin dan bentuk-bentuk lainnya. Dan Tinta itu bukanlah yang menulis, akan tetapi Dialah Yang menggerakkan, Yang hidup, Kuasa, Yang Gagah, dengan demikian muncullah sifat-sifat “siapa” yang menggoreskan tinta itu.

Bisa ditarik kesimpulan bahwa sifat bukan hakikat ketuhanan akan tetapi sifat adalah yang bersandar kepada Dzat Tuhan. Sesuatu yang bersandar kepada Dzat bukanlah Tuhan, kedudukannya sama halnya dengan tanaman, pohonan, gunung, surga dan neraka, karena semua muncul karena adanya Dzat yang Maha Hidup, Dzat-lah Yang menggerakkan semua ini. Mengetahui Martabat ini disebut wahdat dan hakikat kemuhammadan atau Nur Muhammad artinya cahaya yang penuh pujian Tuhan. Inilah permulaan segala sesuatu, sehingga Allah bisa disifati karena Ia Yang Menciptakan (Al Khaliq), Yang Memelihara (Al hafidz), Yang Perkasa (Al Jabbar), Yang Maha Kuat (Al qawwiyu), Yang Hidup (Al Hayyu) dst, sedangkan sifat itu sendiri bergantung kepada sang Dzat (tidak berdiri sendiri ), oleh karena itu Islam melarang berhenti kepada sifat. Karena sifat itu bukan Dzat itu sendiri. Dan untuk mengetahui Dzatullah harus meninggalkan sifat-Nya (mengembalikan kepada martabat pertama, yaitu keadaaan hakikat Tuhan yang belum ada apa-apa ) karena sifat merupakan sesuatu yang bergantung (membutuhkan sandaran) Dan sifat Allah itu masih bisa dirasakan oleh makhluk-Nya seperti Ar Rahman (Pengasih) Ar Rahiim (Penyayang), Al Qawiyyu (Kuat) sedangkan sifat itu muncul karena persepsi sang hamba (inna dzanni ‘abdi, Aku

tergantung persepsi hamba-hamba-KU) Hal ini digambarkan oleh kaum Hindu sebagai Trimurti (tiga sifat Tuhan yang tidak terpisahkan), yaitu sifat Tuhan Hyang Widi Wasa, dimana ketiga sifat itu tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya yaitu Dewa Brahma (Pencipta/ Al Khaliq),Wisnu ( Pemelihara/ Al Hafidz), Siwa ( Perusak atau pelebur/ Al Jabbar).

Kaum Hindu menyadari bahwa Tuhan yang sebenarnya tidak bisa digambarkan dengan pikiran, tidak bisa diserupakan dengan yang lainnya, Aku meliputi segala sesuatu alam semesta dalam bentuk-Ku yang tidak terwujud (tidak bisa dibayangkan). Semua makhluk hidup berada didalam diri-Ku(liputan-Ku) tetapi Aku tidak berada di dalam mereka dan tidak boleh menyembah sifatnya: orang yang menyembah dewa-dewa akan dilahirkan diatara para dewa , orang yang menyembah leluhur akan pergi ke leluhur, orang yang menyembah hantu dan roh halus akan dilahirkan ditengah-tengah makhluk-makhluk seperti itu. Dan orang yang menyembah-KU akan hidup bersama-Ku.

Hindu melarang menyembah dewa-dewa atau sifat-sifat seperti Brahmana,wisnu dan siwa, akan tetapi mereka membatasi diri terhadap sifat-sifatnya saja, mereka menyadari manusia tidak akan pernah sampai kepada Dzat Mutlak tersebut kecuali para Guru Suci, kaum Brahmana yang memiliki kasta lebih tinggi dari pada kaum Sudra dan Vaisa

Islam menyempurnakannya dengan langsung kepada Dzatullah, tidak berhenti kepada sifat- Nya, yaitu dengan menafikan (mengabaikan) segala sesuatu kecuali Allah. Laa ilaaha illallah atau laa syai’un illallah ( tiada sesuatu kecuali Allah) juga terdapat dalam Surat Thaha:14 innanii Ana Allah, laa ilaaha illa ANA, fa’budnii , sesungguhnya AKU ini Allah, tidak ada Tuhan selain AKU maka sembahlah AKU dan dirikanlah Shalat untuk Menyembah AKU.

Jelas dengan tegas bahwa Allah mengarahkan kita untuk menyembah DZAT-NYA bukan Nama-Nya bukan Sifat-Nya.

Islam tidak mengenal perantara, seperti tercantum dalam

Surat Al; An’am 79 : Sesungguhnya aku hadapkan diriku kepada wajah Dzat Yang Menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (aku tidak melalui perantara siapapun).

Ditegaskan dalam Baghavat Gita sloka 2.61 : orang-orang yang mengekang dan mengendalikan indriya-indriya sepenuhnya dan memusatkan kesadarannya sepenuhnya Kepada-KU, dikenal sebagai orang yang mempunyai kesadaran yang mantap !!Alam Wahdah merupakan peringkat kedua dalam proses pentajalliannya diri Empunya Diri telah mentajallikan diri ke suatu martabat sifat yaitu “La Tak Yin Sani” – sabit nyata yang pertama atau disebut juga martabat noktah mutlak yaitu ada permulaannya.

Martabat ini di namakan martabat noktah mutlak atau dipanggil juga Sifat Muhammadiah. Juga pada menyatakan martabat ini dinamakan martabat ini Martabat Wahdah yangterkandung ia pada ayat “Allahus Shomad” yaitu tempatnya Zat Allah tiada terselindung sedikit pun meliputi 7 petala langit dan 7 petala bumi. Pada peringkat ini Zat Allah Taala mulai bersifat. SifatNya itu adalah sifat batin jauh dari Nyata dan boleh diumpamakan sepohon pokok besar yang subur yang masih di dalam biji ,tetapi ia telah wujud, tidak nyata, tetapi nyata sebab itulah ia di namakan Sabit Nyata Pertamamartabat La Takyin Awwal iaitu keadaan nyata tetapi tidak nyata (wujud pada Allah) tetapi tidak zahir.Maka pada peringkat ini tuan Empunya Diri tidak lagi Berasma’ dan di peringkat ini terkumpul Zat Mutlak dan Sifat Batin. Maka di saat ini tidaklah berbau, belum ada rasa, belum nyata di dalam nyata yaitu di dalam keadaan apa yang di kenali ROH-IDDHAFI. Pada peringkat ni sebenarnya pada Hakiki Sifat. (Kesempurnaan Sifat) Zat Al Haq yang ditajallikannya itu telah sempurna cukup lengkap segala-gala. Ianya terhimpun dan tersembunyi di samping telah zahir pada hakikinya.

Alam wahidiyah

Martabat wahidiyah adalah penampakan pertama (ta’ayyun awwali) atau disebut juga martabat tajali zat pada sifat atau faydh al-aqdas (emanasi paling suci). Dalam aras ini, zat yang mujarrad itu bermanifestasi melalui sifat dan asma-Nya. Dengan manifestasi atau tajali ini, zat tersebut dinamakan Allah, Pengumpul dan Pengikat Sifat dan Nama yang Mahasempurna (al-asma al-husna, Allah). Akan tetapi, sifat dan nama itu sendiri identik dengan zat. Di sini kita berhadapan dengan zat Allah yang Esa, tetapi Ia mengandung didalam diri-Nya berbagai bentuk potensial dari hakikat alam semesta atau entitas permanen(al-’a’yan tsabitah).

Pada peringkat ketiga setelah ditajalli akan dirinya pada peringkat “La takyin Awal”, maka Empunya Diri kepada Diri rahsia manusia ini, mentajallikan pula diriNya ke satu martabat As’ma iaitu pada martabat segala Nama dan dinamakan martabat (Muhammad Munfasal) yaitu keadaan terhimpun lagi bercerai-cerai atau di namakan “Hakikat Insan.” Martabat ini terkandung ia didalam “Lam yalidd” iaitu Sifat Khodim lagi Baqa, tatkala menilik wujud Allah. Pada martabat ini keadaan tubuh diri rahsia pada masa ini telah terhimpun pada hakikatnya Zat, Sifat Batin dan Asma’ Batin. Apa yang dikatakan berhimpun lagi bercerai-cerai kerana pada peringkat ini sudah dapat di tentukan bangsa masing – masing tetapi pada masa ini ianya belum zahir lagi di dalam Ilmu Allah Iaitu dalam keadaan “Ainul Sabithaah”. Artinya sesuatu keadaan yang tetap dalam rahsia Allah, belum terlahir, malah untuk mencium baunya pun belum dapat lagi. Dinamakan juga martabat ini wujud Ardhofi dan martabat wujud Am karena wujud di dalam sekelian bangsa dan wujudnya bersandarkan Zat Allah Dan Ilmu Allah. Pada peringkat ini juga telah terbentuk diri rahsia Allah dalam hakiki dalam batin yaitu bolehlah dikatakan juga roh di dalam roh yaitu pada menyatakan Nyata tetapi Tetap Tidak Nyata.

Alam arwah

Martabat alam arwah adalah ”Nur Muhammad” yang dijadikan Allah Swt dari Nur-Nya, dan dari Nur Muhammad inilah muncullah ruh segala makhluk. Pada peringkat ke empat di dalam Empunya Diri, Dia menyatakan, mengolahkan diriNya untuk membentuk satu batang tubuh halus yang dinamakan roh. Jadi pada peringkat ini dinamakan Martabat Roh pada Alam Roh.Tubuh ini merupakan tubuh batin hakiki manusia dimana batin ini sudah nyata Zatnya, Sifatnya dan Afa’alnya. Ianya menjadi sempurna, cukup lengkap seluruh anggota-anggota batinnya, tiada cacat, tiada cela dan keadaan ini dinamakan(Alam Khorijah) iaitu Nyata lagi zahir pada hakiki dari pada Ilmu Allah. Tubuh ini dinamakan ia “Jisim Latiff” iaitu satu batang tubuh yang liut lagi halus. Ianya tidak akan mengalami cacat cela dan tidak mengalami suka, duka, sakit, menangis, asyik dan hancur binasa dan inilah yang dinamakan “Kholid Tullah.”Pada martabat ini terkandung ia di dalam “Walam Yalidd”. Dan berdirilah ia dengan diritajalli Allah dan hiduplah ia buat selama-lamanya. Inilah yang dinamakan keadaan TubuhHakikat Insan yang mempunyai awal tiada kesudahannya, dialah yang sebenarnyanyadinamakan Diri Nyata Hakiki Rahsia Allah dalam Diri Manusia.

Alam misal

Martabat alam mitsal adalah diferensiasi dari Nur Muhammad itu dalam ruh individualseperti laut melahirkan dirinya dalam citra ombak.Alam Misal adalah peringkat kelima dalam proses pentajallian Empunya Diri dalammenyatakan rahsia diriNya untuk di tanggung oleh manusia. Untuk menyatakan dirinya AllahS.W.T., terus menyatakan diriNya melalui diri rahsiaNya dengan lebih nyata denganmembawa diri rahsiaNya untuk di kandung pula oleh bapa iaitu dinamakan Alam Mithal.Untuk menjelaskan lagi Alam Mithal ini adalah dimana unsur rohani iaitu diri rahsia Allah belum bercamtum dengan badan kebendaan. Alam mithal jenis ini berada di Alam Malakut.Ia merupakan peralihan daripada alam Arwah (alam Roh) menuju ke alam Nasut maka itudinamakan ia Alam Mithal di mana proses peryataan ini, pengujudan Allah pada martabat ini belum zahir, tetapi Nyata dalam tidak Nyata.Diri rahsia Allah pada martabat Wujud Allah ini mulai di tajallikan kepada ubun-ubun bapa,iaitu perpindahan dari alam roh ke alam Bapa (mithal).Alam Mithal ini terkandung ia di dalam “Walam yakullahu” dalam surah Al-Ikhlas iaitudalam keadaan tidak boleh di bagaikan. Dan seterusnya menjadi “DI”, “Wadi”, “Mani” yangkemudiannya di salurkan ke satu tempat yang bersekutu di antara diri rahsia batin (roh)dengan diri kasar Hakiki di dalam tempat yang dinamakan rahim ibu. Maka terbentuklah apayang di katakan “Maknikam” ketika berlakunya bersetubuhan diantara laki-laki dengan perempuan (Ibu dan Bapa)Perlu diingat tubuh rahsia pada masa ini tetap hidup sebagaimana awalnya tetapi di dalamkeadaan rupa yang elok dan tidak binasa dan belum lagi zahir. Dan ia tetap hidup tidakmengenal ia akan mati.

Alam ajsam

Martabat alam ajsam adalah alam material yang terdiri dari empat unsur, yaitu api, angin,tanah, dan air. Keempat unsur material ini menjelma dalam wujud lahiriah dari alam ini dankeempat unsur tersebut saling menyatu dan suatu waktu terpisah.Pada peringkat keenam, selepas sahaja rahsia diri Allah pada Alam Mithal yang di kandungoleh bapa , maka berpindah pula diri rahsia ini melalui “Mani” Bapa ke dalam Rahim Ibu daninilah dinamakan Alam Ijsan. Pada martabat ini dinamakan ia pada martabat “InssanulKamil”iaitu batang diri rahsia Allah telahpun diKamilkan dengan kata diri manusia, dan akhirnya iamenjadi “KamilulKamil”. Iaitu menjadi satu pada zahirnya kedua-dua badan rohani dan jasmani dan kemudian lahirlah seoarang insan melalui faraj ibu dan sesungguhnya martabatkanak-kanak yang baru dilahirkan itu adalah yang paling suci yang dinamakan”InnsanulKamil”. Pada martabat ini terkandung ia di dalam “Kuffuan” iaitu bersekutu dalamkeadaan “KamilulKamil dan nyawa pun di masukkan dalam tubuh manusia.Selepas cukup tempuhnya dan ketikanya maka diri rahsia Allah yang menjadi”KamilulKamil” itu dilahirkan dari perut ibunya, maka di saat ini sampailah ia MartabatAlam Insan.

Insan kamil (manusia sempurna)

Martabat insan kamil atau alam paripurna merupakan himpunan segala martabat sebelumnya.Pada alam ke tujuh iaitu alam Insan ini terkandung ia di dalam “Ahad” iaitu sa (satu). Didalam keadaan ini, maka berkumpullah seluruh proses pengujudan dan peryataan diri rahsiaAllah S.W.T. di dalam tubuh badan Insan yang mulai bernafas dan di lahirkan ke Alam Mayayang Fana ini. Maka pada alam Insan ini dapatlah di katakan satu alam yang mengumpulseluruh proses pentajallian diri rahsia Allah dan pengumpulan seluruh alam-alam yang ditempuhi dari satu peringkat ke satu peringkat dan dari satu martbat ke satu martabat.Oleh kerana ia merupakan satu perkumpulan seluruh alam – alam lain, maka mulai alammaya yang fana ini, bermulalah tugas manusia untuk mengembalikan diri rahsia Allah itukepada Tuan Empunya Diri dan proses penyerahan kembali rahsia Allah ini hendaklah bermula dari alam Maya ini lantaran itu persiapan untuk balik kembali asalnya mula kembalihendaklah disegerakan tanpa berlengah-lengah lagi.d. Pada wejangan keempat terkait singgasana ini, dari ketiga ayatnya menegaskan bahwatidak ada Tuhan selain AKU (Allah), dzat yang meliputi keberadaan sesungguhnya (kahanan jati=keadaan sejati).Mengapa itu perlu ditegaskan, karena untuk menghindari salah pengertian bagi mereka yangtelah mendapatkan wejangan ini, jangan sampai karena merasa bahwa AKU (Allah) ‘bertahta’di kepala, di dada dan kelamin manusia (konthol Adam), lalu manusia tersebut mengakudirinya sebagai Tuhan, atau menjadi bagian dari Tuhan. Jika itu yang terjadi, maka manusiatsb. telah jauh tersesat. Ingat, bahwa semua wejangan tersebut adalah dalam makna kiasansemata. Intinya adalah bahwa Sang AKU MUTLAK (Allah Swt) adalah amat dekat denganmanusia, bahkan lebih dekat dari pada urat leher si manusia itu sendiri.2.6 Dalil (Wejangan) Kaping Limo : Panetep Santosaning Iman”Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun lan anekseni Ingsun satuhunemuhammad iku utusan Ingsun”Dalil / Pelajaran Kelima : Peneguh Iman :”AKU menyaksikan bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali hanya AKU dan AKUmenyaksikan sesungguhnya muhammad itu adalah utusan-KU”PenjelasanDalam dalil kelima ini Allah menyatakan kesaksianNya yang ditujukan kepada makhlukciptaanNya, bahwa tidak ada Tuhan lain kecuali hanya Dia semata, dan Muhammad adalah benar-benar rasul atau utusanNya.Ini adalah wirid rahasia, yang hanya boleh diamalkan oleh orang yang sudah mengetahuihakikat diriNya, yang telah mengerti sangkan paraning dumadi (asal muasal kejadian ). Wiridini dibaca dalam rasa terdalam, dalam sirr yang hanya dapat di dengar oleh dirinya danTuhannya dalam keadaan hening dengan menempatkan diri dalam martabat Ahadiyat, merasa

dirinya lenyap tak berwujud yang ada hanya wujud Dzat Allah yang tak teridentifikasikanoleh panca indera.Dalam khasanah makrifat :

“ Aku menyaksikan (dengan mata hatiku) bahwa tidak ada apa apa (hampa) selain hanya

(wujud) Allah saja. Dan Aku menyaksikan (dengan mata kepalaku) bahwa sesungguhnyaalam semesta ini (yang diciptakan dari Nur Muhammad) hakikatnya adalah utusan (yang bertugas memperlihatkan sifat, nama, af’al) Allah.

2.7. Dalil (Wejangan) kaping Nem : Sasahidan”Ingsun anekseni ing Dzat Ingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun, lananekseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun. Iya sejatine kan aran Allah iku badan Ingsun, rasul iku rahsa-Ningsun, Muhammad iku Cahaya-Ningsun. Iya Ingsun kangurip tan kena ing pati, iya Ingsun kang eling tan kena ing lali, iya Ingsun kang langgeng orakena owah gingsir ing kaanan jati, iya Ing-sun kang waskitha, ora kasamaran ing sawiji- wiji.Iya Ingsun kang amurba ami-sesa, kang kawasa wicaksana ora kekurangan ing pakerthi, byarsampurna padhang terawangan, ora karasa apa-apa, ora ana katon apa-apa, amung Ingsunkang anglimputi ing alam kabeh kalawan kodratIngsun”Dalil / Pelajaran Keenam : Sahadat / kesaksian”AKU bersaksi dalam Diri-Ku sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali AKU, danmenyaksikan AKU sesungguhnya Muhammad itu utusan-KU. Sesungguhnya yang bernamaAllah itu badan-KU (mungkin maksudnya : Nama-Nya), rasul itu rahsa-KU, Muhammad itucahaya-KU. AKU lah Yang Hidup tidak bisa mati, AKU lah yang Ingat tidak bisa lupa, AKUlah Yang Kekal tidak bisa berubah dalam keberadaan yang sesungguhnya, AKU lah waskita,tidak ada tersamar pada sesuatu pun. AKU lah yang Berkuasa Berkehendak, Yang Kuasa Bijaksana tidak kurang dalam tindakan, Terang Sempurna jelas terlihat, tidak terasa apa pun,tidak kelihatan apa pun, kecuali hanya AKU yang meliputi alam semua dengan kuasa(kodrat)- KU.”Penjelasana. Wejangan ini adalah wejangan penutup, yang merupakan Penyaksian Dzat (Allah)terhadap Diri-Nya sendiri dan terhadap Muhammad, utusan-nya, rahasia-Nya, Cahaya-Nya dan juga terhadap sifat-sifat kesempurnaan-Nya.

Dalil pertama hingga dalil keenam merupakan satu rangkaian yang tidak boleh diputus, sebab jika terputus maka pemahamannya akan berkurang. b. Mengawinkan badan dan nyawa; Allah yang mengawinkan, Rasul sebagai walinya, Muhammad penghulunya, dan saksi empat orang malaikat. Yakni Aku yang mengawini badanKu sendiri, sepertemuan dengan suksmaKu, dengan rahsaKu, sebagai wali, disyatikan oleh cahayaKu, disaksikan malaikat empat; Jibril ialah pengucapKu, Mikail penciumanKu, Israfil penglihatanKu, dan Izrail pendengaranKu, serta mas kawinnya sempurna karena kodrat Ku.

  1. Dalam filsafat ketuhanan Jawa, hubungan Manusia dan Tuhan (Kawulo-Gusti) memiliki makna sangat mendalam. Manusia harus merasakan benar-benar bahwa dirinya adalah hamba-Nya atau KUMAWULA yang artinya dirinya merupakan cermin yang sejati, sehinggaTuhan dan bayangan-Nya sungguh-sungguh tidak terhalang oleh kotoran sedikitpun. Hal ini ditandai oleh koreksi terus menerus atas diri “aku” manusia sehingga mencapai kualitas PRAMANA. Ketika rasa perasaan belum jernih, adalah rasa perasaan itu yang dianggap PRIBADI oleh sirasa perasaan. Artinya si rasa perasaan mengaku aku supaya dianggap: AKU. Jadi rasa perasaan manusia itu ternyata memang tidak bisa melihat yang meliputinya. Jadi dalam perbuatan MERASA, bahkan menghalang halangi. Karenanya, dapatnya manusia melihatterhadap yang meliputinya, tidak ada jalan lain kecuali TIDAK dengan MERASA, yaitu RASA PERASAAN KEMBALI KEPADA YANG MELIPUTI (Pribadi/Rasa Sejati). Apabilasudah tidak terhalang daya rasa perasaan, maka hanya PRIBADI yang ADA, disitulah barumengetahui terhadapi DIA, yaitu yang MEMILIKI RASA PERASAAN, bukan RASAPERASAAN YANG DIPUNYAI.7. Perbedaan antara Kawulo Gusti dengan perantaraan 16 terminologi yang memperjelas hubungan antara Gusti (yang disembah) dan Kawulo (yang menyembah) sebagai berikut: Dzat-sifat, Rasa-pangrasa, Cipta-ripta, Yang disembah-yang menyembah, Kodrat-Iradat, Qadim-baru, Sastra-gendhing, Yang Bercermin-bayangannya, Suara-gema, Lautan-ikan, Pradangga-gendhingnya, Papan Tulis-tulisannya, Manikmaya-Hyang Guru, Dalang-wayang, Busur-anak panah, Wisnu-kresna.

Dalam konteks pencapaian pribadi manusia tertinggi atau “pamungkasing dumadi” atau“sampurnaning patrap” adalah LULUHING DIRI PRIBADI, LULUHING RAOS AKU.

Itulah pamungkasing dumadi, di situ lenyap tabir kenyataan yang sebenarnya.

Manusia yang sempurna dengan demikian adalah manusia yang luluhnya “aku” yang“diengkaukan” (krodomongso) digantikan dengan “aku” yang tidak mungkin diengkaukan

(dudu kowe).Hubungan antara Kawulo-Gusti ini, akan ditutup dengan pernyataan Ranggawarsita:

“Sakamantyan denira angudi, widadaning ingkang saniskara, karana tan kena mleset,

surasaning kang ngelmu, nora kena madayeng jangji, jangjine mung sapisan, purihen den

kumpul, gusti kalawan kawula, supadine dinadak bisa umanjing, satu munggwing rimbagan”

(Upaya untuk mencapai pemahaman haruslah terus menerus sepanjang hidup, agar tercapaikeselamatan lahir-batin, yaitu KESESUAIAN HUKUM TUHAN, sebagai suatu janji, bahwa MANUSIA ITU WUJUD PERTEMUAN KAWULA GUSTI, artinya WAKIL TUHAN, sedemikian rupa seperti cincin permata).

  1. Sebagai Wakil Tuhan di alam semesta, manusia telah diberi berbagai perangkat lunaksehingga dia bisa berhubungan secara langsung dan berkomunikasi dengan Tuhan sebagaiGURU PALING SEJATI MANUSIA.
  2. Dalam Wirid Hidayat Jati dipaparka nada tujuh unsur pokok penyusun diri manusia itu:
    1. Hayyu..(hidup)   = disebut ATMA,terletak di luar DZAT
    2. Nur …..(cahaya)  = disebut PRANAWA terletak di luar Hayyu
    3. Sir……. (Rahsa)   = disebut PRAMANA terletak di luar Nur
    4. Roh ….(Nyawa)   = disebut Suksma,terletak diluar Rahsa
    5. Nafs …(Angkara) = letaknya di luar suksma
    6. Akal …(budi)        = letaknya diluar nafsu
    7. Jasad. (badan)     = letaknya di luar budi.
    8. Keterangan: Ada keterpaduan antara unsur di atas yaitu:
  3. Suksma wahya       = patemoning jasadlan napas
  4. Suksma dyatmika  = patemoningnapas lan budi
  5. Suksma lana           = patemoning budilan napsu
  6. Suksma mulya        = patemoning napsulan nyawa
  7. Suksma sajati         = patemoning nyawalan rahsa
  8. Suksma wasesa      = patemoning rahsalan cahya
  9. 7 Suksma kawekas = patemoningcahya lan urip

Penutup Terdapat kesulitan memahami hakekat hubungan antara Kawulo-Gusti dalam jagad filsafat ketuhanan Jawa bila kita hanya membaca dengan kemampuan akal budi. Dalam ajaran Jawa,kita diajari untuk melakukan praktik mistik dengan kepercayaan yang benar-benar penuh sehingga terwujud harmoni dan kesatuan dengan tujuan kosmos. Ini akan membuahkan kondisi-kondisi fisik dan metafisik yang bermanfaat bagi kita semua. Tuhan bersemayam di unsur terdalam pada diri manusia sehingga “Kenalilah diri sendiri, maka kau akan mengenal Tuhanmu.(Red)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *