Minim Data, Jokowi dan Prabowo Dikritik, Debat Tak Maksimal

oleh -371 views

PADANG,SUMBARTODAY-Keberadaan data justru akan membuat perdebatan lebih menarik. Masing-masing paslon bisa menghantam lawan dengan fakta terkait HAM, korupsi, dan terorisme.

Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Joko Widodo-Maruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saling serang dalam debat perdana Pilpres 2019. Dalam segmen kedua, Jokowi dan Prabowo saling menimpali mengenai isu penegakan hukum.

Debat calon presiden dan wakil presiden semalam dinilai datar dan cenderung normatif. Jawaban yang diberikan kedua pasangan calon (paslon), yakni Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno relatif minim substansi dan data.Deputi Direktur dan Data PARA Syndicate Jusuf Suroso mengatakan, keberadaan data justru akan membuat perdebatan lebih menarik. Hal ini akan membuat masing-masing paslon dapat menghantam lawannya dengan fakta terkait hukum, hak asasi manusia (HAM), korupsi, dan terorisme. “Mudah-mudahan (data) dapat terjawab dalam episode debat berikutnya,” kata Jusuf, di Jakarta, Jumat (18/1).Ia mengatakan, Jokowi dapat mengungguli Prabowo dengan telak apabila menyampaikan sejumlah data. Saat perdebatan soal korupsi, Jokowi seharusnya mengangkat adanya 2.357 Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dipecat karena terlibat korupsi. Dia menyayangkan keseruan debat tidak terlihat karena data model ini tidak tersaji.

“Paslon 01 sebenarnya agak diuntungkan, sayang tidak menyajikan data. Kalau ada, mungkin paslon 02 langsung terpuruk,” kata Jusuf.

Sebaliknya, Prabowo juga kena kritik lantaran tidak membeberkan data negara mana saja yang ternyata mendukung teroris. Ini menyikapi pernyataan Prabowo yang menyebutkan bahwa selain faktor ekonomi, ada faktor eksternal yang melatarbelakangi aksi terorisme. “Hanya berhenti di situ saja, tidak teridentifikasi apik,” kata Jusuf.

Pengamat politik PARA Syndicate FS Swantoro mengatakan, dengan adanya kisi-kisi pertanyaan, seharusnya kedua paslon dapat menyampaikan visi-misi dengan lebih mendalam. Namun, dalam debat perdana kemarin tidak ada hal baru yang diangkat oleh Jokowi maupun Prabowo. “Kemarin masih kurang terlihat,” kata dia.

Sementara itu, Deputi Direktur PARA Syndicate Ari Nurcahyo, memberi nilai tujuh untuk Jokowi dan enam untuk Prabowo dalam debat kemarin. Ia menilai kedua paslon belum berhasil mengelaborasi visi-misi dalam debat tersebut. Meskipun ada kemiripan dari visi-misi kedua paslon, Jokowi lebih menekankan kepada kemajuan pembangunan Indonesia sedangkan Prabowo pada pemerataan keadilan dan kemakmuran.

Jokowi dinilai belum mampu mengelaborasi pondasi ideologis Pancasila juga soal tumpang-tindih hukum dan peraturan. Adapun Prabowo kurang dapat memanfaatkan debat untuk menjawab isu-isu yang beredar di masyarakat terkait kasus pelanggaran HAM di masa lalu.

Pengamat komunikasi dan media PARA Syndicate Bekti Waluyo menganggap debat pertama ini layaknya edisi mencicipi makanan. Dia berharap, dalam debat berikutnya tim kedua paslon segera mengkoordinasikan visi dan misi lebih tajam kepada kedua calon agar debat berlangsung menarik. “Karena sebagaiĀ event, ini masih jauh dari harapan,” kata Bekti.

Namun berbeda dengan pendapat yang lainnya Indrawan sebagai Ketua LSM KOAD menyatakan, “Dalam sebuah debat yang akan menguasai medan pertempuran adalah orang yang menguasai data. tidak perlu kasihan, tidak perlu diatur-atur, direkayasa, buat apa kasihan dipermalukan, saya perhatikan Jokowi sendiri yang sering menyerang Prabowo, dalam sebuah Debat, buka saja semua yang kita ketahui, salah satu harus tersungkur, biar tau bahwa dia tidak pantas memimpin Indonesia, salah satu harus ‘KALAH’ disaksikan oleh rakyat, jika perlu berdarah darah, jangan beralasan lagi, rakyat menginginkan presiden yang memenuhi kriteria seorang pemimpin yang hebat, bukan hebat berbohong”, tuturnya kepada media ini.(sumber Katadata)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *