Asal muasal Kejadian, Allah SWT menciptakan Seluruh Alam

oleh -15.066 views

Posted on 11.00 by Indrawan

PADANG,SUMBARTODAY-Puji Syukur terhadap Alloh Robbul’amin yang telah menjadikan Makhluk-Nya dan memberikan Ilmu dan Bimbingan-Nya bagi makhluk-Nya yang Ia kehendaki, semoga kita mendapat taufiq dan hidayah agar kita selalu bertaqwa kepada Allah SWT serta kita mendapat Rahmat dan syafaat Rosululloh saw.

Illustrasi Jagat Raya
Mari kita mempelajari Asal muasal Kejadian Allah SWT menciptakan Seluruh Alam dan bagaimana pertama tama Alloh SWt menciptakan Alam semsta beserta isinya ini, mudah mudahan kita mendapat taufik dan hidayah agar tetap beramal dan beribadah thd Alloh Ta,ala..aamiin.

Ketahuilah-semoga engkau diberi taufik pada segala yang dicintai dan diridhai Allah SWT -makhluk pertama yang diciptakan Allah SWT adalah ruh Muhammad SAW. Ia diciptakan dari cahaya

jamalullah. Sebagaimana firman Allah dalam Hadis Qudsi,

“Pertama kali yang Aku ciptakan adalah ruh Muhammad dari cahaya-Ku.”

Nabi SAW juga bersabda,

“Yang pertama diciptakan oleh Allah ialah RUHKU, dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah NURku, dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah AL QALAM, dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah AKAL.”

(HR. Abu Daud).

Artinya bahwa Ruh, Cahaya, Al-qalam, dan Akal pada dasarnya adalah satu, yaitu Hakikat Muhammad.

Hakikat Muhammad kemudian disebut Nur karena bersih dari segala kegelapan yang menghalangi jalalullah. Sebagaimana firman Allah,

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang meryelaskan.”

(QS. Al-Ma’idah [5]: 15)

Hakikat Muhammad disebut juga akal karena ia yang menemukan dan memahami segala sesuatu. Hakikat Muhammad disebut juga al-qalam (pena) karena ia menjadi sebab perpindahan ilmu seperti halnya mata pena sebagai penoreh ilmu di hamparan alam huruf (pengetahuan yang tertulis). Ruh Muhammad adalah ruh yang termurni, sebagai makhluk pertama dan asal seluruh makhluk. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW,

“Aku dari Allah dan orang-orang beriman berasal dari diriku.” Dan, dari ruh Muhammad itulah Allah SWT menciptakan semua ruh di Alam Lahut dalam bentuk yang terbaik dan hakiki. Muhammad adalah nama bagi seluruh manusia di Alam Lahut. Alam Lahut adalah Negeri Asal. Setelah 4.000 tahun dari penciptaan Ruh Muhammad, Allah SWT kemudian menciptakan ‘Arasy dari Nur Muhammad. Begitu pula, seluruh makhluk lainnya diciptakan dari Nur Muhammad.

Kemudian, ruh-ruh itu diturunkan ke alam yang terendah maksud nya (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani) ke dalam jasad-jasad manusia. Sebagaimana firman Allah,

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah­rendahnya.”

(QS. At-TIn [95]: 5)

Proses turunnya adalah setelah ruh diciptakan di Alam Lahut, kemudian ia diturunkan ke Alam Jabarut. Lalu, di sana ia dibalut dengan Cahaya Jabarut sebagai pakaian antara dua haram (dua tempat antara dimensi ketuhanan dan dimensi makhluk, di Alam Kabir). Ruh di lapisan kedua ini disebut Ruh Sulthani. Selanjutnya, diturunkan lagi ke Alam Malakut dan dibalut dengan Cahaya Malakut yang kemudian disebut dengan Ruh Ruwani. Kemudian, diturunkan lagi ke Alam Mulki dan dibalut dengar Cahaya Mulki. Ruh di lapisan keempat inilah yang disebut dengan Ruh Jismani.

Selanjutnya, Allah SWT menciptakan jasad-jasad. Sebagaimana firman Allah,

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.”

(QS. Thaha [20]: 55)

Setelah tercipta jasad-jasad, Allah SWT memerintahkan ruh (di Alam Mulki tadi) agar masuk ke dalam jasad-jasad itu dan ruh pun masuk ke dalamnya. Sebagaimana firman Allah, “Dan Aku tiupkan ruh ciptaan-Ku dari-Ku.”

(QS. AI-Hijr [15]: 29)

Ketika ruh berada di dalam jasad dan merasa senang di dalamnya, ruh lupa akan perjanjian awal di Alam Lahut, yaitu hari perjanjian ketika Allah SWT bertanya,

“Bukankah Aku ini Tuhan kalian?”

‘Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi:

(QS. AI-A’raf[7]: 172)

Akibat ruh lupa pada perjanjian awalnya maka ia tidak dapat kembali ke Alam Lahut sebagai Negeri Asal. Dengan kasihnya, maka Allah SWT pun menolong ruh-ruh itu dengan menurunkan kitab-kitab samawi yang mengingatkan mereka tentang Negeri Asal. Sebagaimana firman Allah,

“Dan ingatkanlah mereka pada hari-hari Allah.”

(QS. Ibrahim [14]: 5)

Maksud “hari-hari Allah” adalah hari saat pertemuan antara Allah SWT dengan seluruh arwah di Alam Lahut. Adapun para nabi, mereka datang ke bumi dan kembali ke akhirat. Badan mereka di bumi, sedangkan ruh intinya berada di Negeri Asal karena adanya peringatan ini. Sangat sedikit orang yang sadar, berkeinginan, dan berkeinginan sampai ke Negeri Asal.

Asal Mula Penciptaan Bumi, Alam Semesta, Dan Ruh. Pada awalnya alam semesta ini tidak mengenal perhitungan tanggal, waktu, detik, menit dan jam, hari, minggu, bulan serta tahun. Sebab, waktu itu allah belum menciptakan Matahari dan Bulan yang di jadikan sebagai sumber perhitungan waktu. Saat itu yang ada hanyalah Dzat yang MahaEsa, Allah sang maha pencipta.

Dialah yang menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya. Allah menciptakan bumi dan seluruh isinya tanpa bantuan dan tanpa menggunakan alat. Sebab, jika allah menghendaki sesuatu, cukuplah allah mengatakan  “Kun”  (jadilah), maka jadilah seperti yang di kehendaki-Nya.

Simaklah firman allah berikut ini :

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya,  “Jadilah”, maka jadilah ia.”   (Q.S. 36 : 82)

Di dalam hadis Qudsi di sebutkan, yang artinya.

“Aku adalah gudang yang tersembunyi. Maka Aku suka agar Aku di kenal, lalu aku ciptakan makhluk supaya ia mengenal aku. ”

Di dalam surat Yunus Allah berfirman :

Sesungguhnya Tuhan kamu Dialah Allah yang menciptakan langit dan Bumi dalam enam masa kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?  (Q.S 10: 3)

Begitulah, sebelum alam fana ini tercipta yang ada hanyalah Dzat Yang MahaAda dan MahaKekal, Allah swt. Dia menciptakan bumi, langit, dan isinya karena hendak menciptakan manusia yang pada mulanya berupa ruh. Demikian juga makhluk hidup lainnya.

Setelah menciptakan ruh para Nabi, Allah menciptakan ruh para wali, selanjutnya ruh para manusia. Kemudian, Allah menciptakan ruh malaikat, ruh jin, ruh hewan, dan yang terakhir ruh tumbuh – tumbuhan.

Selanjutnya, Allah menciptakan empat unsur pokok alam, yakni Air, Api, Udara, dan Tanah. Dari empat unsur itulah Allah menciptakan makhluk, langit, bumi, dan makhluk ghaib, yakni malaikat dan jin.

Riwayat lain menyebutkan, selain itu Allah juga menciptakan suatu jenis pohon raksasa bernama pohon Sajaratul Yaqin atau Sajaratul Muttaqin. Lalu Allah menjadikan nur Muhammad dan memasukkanya kedalaman sebuah kurungan yang di gantungkan di pohon raksasa tersebut. Di dalam kurungan itu nur Muhammad bertasbih memuji Allah selama 70 tahun.

Selanjutnya dikisahkan, di dekat kurungan nur Muhammad yang di gantungkan di pohon raksasa itu Allah meletakkan sebuah cermin Haya. Melihat keadaan dirinya dalam cermin tadi, bukan main malunya nur Muhammad, sehingga dari tubuhnya bercucuran keringat. Dengan Kodrat dan Iradat-Nya, oleh Allah setiap butir keringat tersebut dijadikan ruh manusia. Saat itu pula Allah memerintahkan mereka melakukan sujud lima kali dalam sehari. Itulah sebabnya umat Muhammad saw. Di wajibkan menjalankan shalat lima kali dalam sehari.

Nur Muhammad yang menyerupai burung merak yang indah itu kemudian oleh Allah di ubah menjadi wujud manusia dalam keadaan berdiri seperti orang yang sedang melakukan shalat. Lalu, Allah memerintahkan semua ruh thawaf, mengelilingi kurungan mutiara Muhammad sambil bertahmid dan bertasbih kepada Allah selama seratus ribu tahun.

Setelah itu allah menatap nur Muhammad, yang membuatnya berkeringat. Dari keringat hidungnya Allah menciptakan Malaikat.  ‘Arsy, Lauhil-Mahfuzh, Qalam, dan sebagainya diciptakan oleh Allah dari keringat wajahnya. Dari keringat dadanya Allah menciptakan para Nabi dan Rasul, Ulama, dan sebagainya.

Dari keringat punggungnya Allah menciptakan Baitul Ma’mur,Baitullah, Baitul Muqaddas, dan tempat ibadah lainya di seluruh dunia. Ruh-ruh umat Muhammad, laki – laki dan perempuan, oleh Allah di ciptakan dari keringat alis nur Muhammad, sedangkan ruh kaum yahudi dan Nasrani serta orang sesat lainya diciptakan dari keringat kirinya. Dan, dari keringat kakinya Allah menciptakan alam semesta ini beserta isinya.

Lalu Allah memerintahkan nur Muhammad melihat melihat nur di sekelilingnya, depan, belakang, samping kiri dan kanan. Di sekelilingnya terdapat nur-nur yang kelak di dunia menjadi sahabatnya, yakni abu bakar, umar, utsman, dan ali. Kemudian, nur Muhammad bertasbih dan bwrtahmid kepada Allah selama tujuhpuluh ribu tahun / 70.000 tahun.

Seterusnya, Allah menciptakan pijar yang berasal dari akik merah yang bening. Kemudian Allah menciptakan bentuk Muhammad, dan meletakkanya di atas pijar tersebut dalam posisi berdiri seperti sedang mengerjakan sholat, lalu ruh para Nabi mengelilingi nur Muhammad dan mengucapkan Subhanallah dan Laa-ilaaha illallah selama seratus / 100 tahun.

Allah memerintahkan ruh – ruh tersebut memandangi nur Muhammad. Tetapi, ternyata hasil penglihatan mereka tidak sama, baca kisah

Asal Mula Penciptaan Bumi, Alam Semesta, Dan Ruh 

Allah memerintahkan ruh-ruh tersebut memandangi nur Muhammad. Tetapi, ternyata hasil penglihatan mereka tidak sama, ada yang bisa melihat kepalanya, ada yang hanya melihat matanya, dan bagian – bagian lainya.

Ruh-ruh yang bisa melihat kepada nur Muhammad kelak di dunia bakal menjadi pembesar, raja, presiden, atau lainya. Yang dapat melihat keningnya, kelak bakal menjadi raja/pemimpin yang adil dan bijaksana. Yang melihat matanya, akan mampu menghafal Al-Qur’an. Yang hanya melihat alisnya akan menjadi seorang pelukis.

Sedangkan yang melihat telinganya bakal menjadi orang yang getol menuntut ilmu pengetahuan. Yang melihat Pipinya, akan menjadi orang yang gemar berbuat kebajikan terhadap sesama. Yang melihat bibirnya, bakal menjadi pegawai raja/pemimpin. Yang bisa melihat hidungnya akan menjadi ahli hukum, tabib, atau cendekiawan. Dan yang dapat melihat mulutnya bakal menjadi orang yang gemar berpuasa.

Ruh yang bisa melihat gigi Nur Muhammad akan menjadi orang cantik di dunia. Yang melihat lidahnya bakal menjadi utusan raja/pemimpin. Yang bisa melihat tenggorokanya akan menjadi penasihat, da’i, atau muadzin. Yang dapat melihat janggutnya bakal menjadi orang yang suka berjihad di jalan Allah. Yang bisa melihat tengkuknya bakal menjadi orang yang pintar berdagang. Yang melihat lenganya akan menjadi penembak atau pemanah ulung, atau penunggang kuda. Yang hanya melihat lengan kananya bakal menjadi ahli menangkap ikan. Jika hanya melihat lengan kirinya akan menjadi penjahit. Dan yang bisa melihat telapak tangan kanannya bakal menjadi pengrajin emas atau tukang timbangan.

Begitu pula, yang hanya melihat telapak tangan kirinya, akan menjadi tukang timbangan. Yang mampu melihat kedua lengannya bakal menjadi dermawan. Yang bisa melihat punggung tangan kananya akan menjadi orang kaya dan ahli memasak. Yang melihat punggung tangan kirinya bakal menjadi orang kikir. Yang hanya melihat ruas jari kananya akan menjadi ahli menjahit. Yang hanya melihat ruas jari kirinya bakal menjadi juru tulis. Yang bisa melihat dadanya bakal menjadi alim ulama, pengarang, atau filsuf. Sedangkan yang bisa melihat punggung nur Muhammad kelak akan menjadi orang shaleh yang berbakti kepada allah.

Yang melihat lambungnya akan menjadi mujahid. Yang mampu melihat perutnya bakal menjadi orang yang tidak serakah terdapat kesenangan dunia. Yang mampu melihat kedua lutunya bakal menjadi orang yang rajin mengerjakan sholat. Yang mampu melihat kedua kakinya bakal menjadi pemburu ulung. Yang bisa melihat telapak kakinya bakal menjadi pengembara dunia. Dan yang bisa melihat bayangannya bakal menjadi penyanyi, penari, atau pemusik.

Demikianlah, setiap ruh tidak sama dalam melihat nur Muhammad, begitu pula ruh kita, waktu itu telah pula menyaksikan nur Muhammad. Jika waktu itu, ruh itu bisa melihat lebih dari satu anggota nur Muhammad, berarti ia di dunia membawa atau mempunyai lebih dari satu bakat. Sebaliknya, bila pada waktu itu ruh itu tak mampu melihat apa – apa, di dunia pastilah ia tak mempunyai kecakapan apa – apa.

Jelasnya, bakat seorang di dunia ini telah tampak atau di tetapkan semenjak masih berada di alam ruh, salah satu alam yang di jalani semua manusia. Allah swt menjadikan empat alam bagi manusia, dan manusia berpindah – pindah dari satu alam ke alam lainya. Keempat alam itu ialah :

  1. Alam ruh : Pada tahap ini manusia belum berwujud, atau belum memiliki wujud kasar. Aktivitas ruh pada saat itu hanyalah bertasbih kepada Allah.
  2. Alam nyata (Dunia) = Yaitu, mulai dari umur sedetik di dalam rahim ibunya hingga mati.
  3. Alam barzah (kubur)  = Yaitu, alam yang tersembunyi dari pandangan manusia. Dalam alam ini ruh sudah berpisah dengan raganya.
  4. Alam Akhirat :Di alam ini ruh dan raga menyatu kembali. Akhirat merupakan alam terakhir dan kekal (Baqa) bagi seluruh makhluk Allah.

Kisah ini saya kutip dari sebuah buku berjudul : “BERITA ALAM GHAIB ALAM AKHIRAT SEBELUM DAN SESUDAH HARI PEMBALASAN”.

Sekiranya ada kata-kata yang salah saya mohon maaf, baik itu kesalahan saat saya menulis, maupun kesalahan kata di dalam itu sendiri. Wassalamualaikum……

Asal Penciptaan Langit & Bumi Menurut al-Quran

Bisakah dijelaskan proses penciptaan alam semesta menurut al-Quran!

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Prinsip penting yang perlu kita kedepankan ketika membahas masalah azali (kejadian masa silam) atau masalah ghaib secara umum adalah tidak memberikan rincian tanpa bukti dan dalil yang shahih. Sebatas teori, tidak bisa dijadikan acuan. Karena Allah tidak akan menanyakan masalah ghaib yang kita tidak tahu dan yang tidak disebutkan dalam dalil.

Karena Allah ta’ala mencela memberikan komentar tentang masalah ghaib, yang tidak memiliki bukti.

Diantaranya masalah proses penciptaan alam semesta. Dalam al-Quran, Allah hanya memberikan keterangan global dan tidak rinci. Hanya dengan mengetahui secara global, tanpa menggali yang lebih rinci, itu sudah cukup bagi seorang muslim.

Allah tegaskan dalam al-Quran,

مَا أَشْهَدْتُهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلا خَلْقَ أَنْفُسِهِمْ

Aku tidak menghadirkan mereka untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri (QS. al-Kahfi: 51)

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فأما الأيام الستة التي خلق الله فيها السموات والأرض فهي غيب لم يشهده أحد من البشر، ولا من خلق الله جميعاً

Rentang 6 hari yang Allah jadikan waktu penciptaan langit dan bumi, sifatnya ghaib. Tidak ada satupun manusia yang menyaksikannya, tidak pula makhluk Allah semuanya. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 190003)

Proses Penciptaan Alam Semesta dalam Al-Quran

Allah ta’ala menceritakan proses penciptaan alam semesta dalam al-Quran. Ada yang bersifat global dan ada yang lebih rinci.

Dalam penjelasan global, Allah menegaskan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi selama 6 hari. Allah tegaskan hal ini di tujuh ayat dalam al-Quran. Diantaranya,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Sesugguhnya Tuhan kalian, yaitu Allah, Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy. (QS. al-A’raf: 54).

Allah juga berfirman di surat al-Furqan,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ

Sungguh Aku telah menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada diantara keduanya dalam 6 hari, dan Aku tidak merasa capek. (QS. Qaf: 38).

Keterangan lainnya Allah sebutkan di surat Yunus (ayat 3), Hud (ayat 7), al-Furqan (ayat 59), as-Sajdah (ayat 4), dan al-Hadid (ayat 4).

Disamping penjelasan global, Allah juga memberikan penjelasan lebih rincin, di surat Fushilat (ayat 9 sampai 12), Dia berfirman,

قُلْ أَإِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَاداً ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ*

Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam”. (9)

وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ*

Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan penghuninya dalam empat hari. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. (10)

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعاً أَوْ كَرْهاً قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِين*

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati” (11)

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظاً ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua hari. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (12).

Makna Kata “Hari”

Selanjutnya, kita akan memahami makna kata ‘hari’ yang disebutkan dalam berbagai ayat di atas.

Ar-Raghib al-Asfahani mengatakan,

اليوم -في لغة العرب- يعبر به عن وقت طلوع الشمس إلى غروبها، وقد يعبر به عن مدة من الزمان أي مدة كانت

Kata ‘hari’ – dalam bahasa arab –, bisa digunakan untuk menyebut rentang waktu antara terbit matahari hingga terbenamnya. Bisa juga untuk menyebut rentang waktu tertentu. (al-Mufradat, hlm. 553).

Karena itulah, ulama berbeda pendapat dalam memahami kata ‘hari’ terkait proses penciptaan alam semesta.

Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa anNihayah menyebutkan perbedaan pendapat ulama tentang makna ‘hari’ dalam ayat di atas. Beliau menyatakan ada dua pendapat ulama tentang makna kata ‘hari’ terkait penciptaan langit dan bumi,

Pendapat Pertama, maknanya sebagaimana makna hari yang dikenal manusia, dimulai sejak terbit matahari hingga terbenamnya matahari. Ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama.

Pendapat Kedua, bahwa satu hari dalam proses penciptaan alam semesta itu seperti 1000 tahun dalam perhitungan manusia. Ini merupakan pendapat yang diriwayatkan dari Ibn Abbas, Mujahid, ad-Dhahak, Ka’b al-Ahbar, dan pendapat yang dipilih oleh Imam Ahmad sebagaimana keteragan beliau dalam ar-Rad ‘ala al-Jahmiyah. Pendapat ini pula yang dinilai kuat oleh Ibnu Jarir at-Thabari. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/15).

Diantara ulama yang berpendapat bahwa satu hari sama dengan seribu tahun adalah al-Qurthubi. Beliau mengatakan dalam tafsirnya,

في ستة أيام” أي من أيام الآخرة أي كل يوم ألف سنة لتفخيم خلق السماوات والأرض….

Dalam waktu 6 hari, maksudnya adalah hari di akhirat, bahwa satu hari sama dengan 1000 tahun, karena besarnya penciptaan langit dan bumi. (Tafsir al-Qurthubi, 7/219)

Bumi atau Langit Dulu?

Ada dua hal yang perlu dibedakan terkait proses penciptaan langit dan bumi, pertama, mengawali penciptaan (Ibtida al-Khalqi) dan kedua, penyempurnaan penciptaan (Taswiyah al-Khlqi).

Di surat Fushilat ayat 9 hingga 12 di atas, Allah menyebutkan bahwa Dia menciptakan bumi terlebih dahulu sebelum langit. Sehingga, secara Ibtida al-Khalqi, bumi lebih awal dibandingkan langit. Namun penyempurnaan bumi (Taswiyah al-Khlqi), baru dilakukan setelah Allah menciptakan langit.

Ketika menafsirkan surat Fushilat di atas, Ibnu Katsir mengatakan,

فذكر أنه خلق الأرض أولا لأنها كالأساس، والأصل أن يُبْدَأَ بالأساس، ثم بعده بالسقف، كما قال: هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ

Allah menyebutkan bahwa Dia menciptakan bumi terlebih dahulu, karena bumi ibarat pondasi. Dan pertama kali, harusnya dimulai dengan pondasi. Kemudian setelahnya adalah atap. Sebagaimana yang Allah firmankan,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian, kemudian Dia berkehendak (beristiwa) menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit (al-Baqarah: 29

Ibnu Katsir melajutkan dengen menjelaskan firman Allah di surat an-Nazi’at,

أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا وَالأرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا مَتَاعًا لَكُمْ وَلأنْعَامِكُمْ

Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya, ( ) Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, ( ) dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. ( ) Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. (30) Dia memancarkan dari bumi mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. ( ) Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, ( ) (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. (QS. an-Nazi’at: 27 – 33)

ففي هذه الآية أن دَحْى الأرض كان بعد خلق السماء ، فالدَّحْيُ هو مفسر بقوله: { أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا } ، وكان هذا بعد خلق السماء، فأما خلق الأرض فقبل خلق السماء بالنص

Dalam ayat ini disebutkn bahwa Dahyu al-Ardi (penyempurnaan bumi) dilakukan setelah menciptakan langit. Bentuk ad-Dahyu, ditafsirkan pada ayat, “Dia memancarkan dari bumi mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.” Dan ini dilakukan setelah penciptaan langit. Adapun penciptaan bumi, ini dilakukan sebelum penciptaan langit berdasarkan nash (dalil tegas). (Tafsir Ibnu Katsir, 7/165).

Selanjutnya, Ibnu Katsir menyebutkan keterangan dari Ibnu Abbas yang diriwayat Bukhari dalam Shahihnya.

Dari Said bin Jubair bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Ibnu Abbas beberapa ayat yang menurutnya bertentangan, diantaranya firman Allah tentang penciptaan langit dan bumi.

Orang ini menanyakan,

Di surat an-Nazi’at (ayat 27 – 30), Allah menyebutkan bahwa Dia menciptakan langit sebelum menciptakan bumi. Sementara di surat Fushilat (ayat 9 – 12) Allah menyebutkan bahwa Dia menciptakan bumi sebelum menciptakan langit.

Jawab Ibnu Abbas,

خلق الأرض في يومين، ثم خلق السماء، ثم استوى إلى السماء، فسواهن في يومين آخرين، ثم دَحَى الأرض، ودَحْيُها: أن أخرج منها الماء والمرعى، وخلق الجبال والجماد والآكام وما بينهما في يومين آخرين، فذلك قوله: {دَحَاهَا} وقوله { خَلَقَ الأرْضَ فِي يَوْمَيْنِ } فَخُلِقت الأرض وما فيها من شيء في أربعة أيام، وخلقت السماوات في يومين

Allah menciptakan bumi dalam 2 hari, kemudian Dia menciptakan langit. Kemudian dia beristiwa ke atas langit, lalu Allah sempurnakan langit dalam 2 hari yang lain. Kemudian Allah daha al-Ardha (menyempurnakan bumi). Bentuk penyempurnaan bumi adalah dengan Dia keluarkan dari bumi mata air, tumbuh-tumbuhan, Allah ciptakan gunung, benda mati, dataran tinggi, dan segala yang ada di antara langit dan bumi, dalam 2 hari. Itulah makna firman Allah, “Bumi dihamparkannya.” Sementara firman Allah, “Dia menciptakan bumi dalam 2 hari.” Diciptakanlah bumi dan segala isinya dalam 4 hari dan diciptakan semua langit dalam 2 hari. (HR. Bukhari secara Muallaq sampai al-Minhal, 16/85).

Kesimpulan dari keterangan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma,

Allah menciptakan bumi 2 hari belum sempurna dan belum ada isinya. Kemudian menciptakan semua langit dalam 2 hari, dan terakhir Allah mengisi bumi dengan tumbuhan, gunung, benda-benda dalam 2 hari.

Allahu a’lam.

(Sumber : Kitab Sirrur Asror (Syekh Abdul Qodir jailani ra)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *