Balairung Gate, Polda Sumbar Periksa Tiga Saksi Pekan Ini

oleh -895 views

PADANG, SUMBARTODAY-Polda Sumbar terus mendalami pengaduan masyarakat terkait dugaan korupsi terhadap biaya operasional Hotel Balairung, hotel milik Pemprov Sumbar di Jakarta yang dibangun dengan anggaran daerah, dan dikelola oleh PT Balairung Citrajaya Sumbar selaku Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Pekan ini, penyidik berencana memeriksa dua dari lima saksi yang dipanggil.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Sumbar, Kombes Pol Margiyanta, melalui Kasubdit 3 Dirkrimsus Polda Sumbar, AKBP Sugeng Hariyadi mengatakan, hingga berita ini ditulis, Selasa (5/2), pihaknya telah memeriksa 14 orang saksi.

“Rencananya minggu ini kami akan melakukan pemanggilan terhadap lima saksi lain. Sekarang yang sudah diperiksa baru satu orang. Tapi menurut info terakhir yang kami dapat, dua orang saksi yang akan dipanggil sudah meninggal dunia. Jadi, mungkin ada dua saksi lagi yang akan kami panggil untuk diperiksa minggu ini,” kata Sugeng Hariyadi.

Sugeng juga menyebutkan, dalam penyelidikan kasus tersebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan beberapa Bank untuk menelusuri data terkait data transaksi keuangan dan biaya operasional di Hotel Balairung. “Kami sudah melakukan koordinasi dengan pihak bank, terkait ihwal transaksi keuangan di PT Balairung itu. Kira-kira antara lima-enam bank yang sudah kami kontak,” sebut Sugeng lagi.

Sugeng Hariyadi memastikan, pihaknya akan terus melakukan pendalaman terkait dugaan korupsi dalam pengelolaan hotel plat merah tersebut. Baik pemeriksaan dokumen mau pun mengumpulkan keterangan dari para saksi. “Kami akan terus mendalami kasus ini, dan menargetkan secepatnya terselesaikan,” katanya lagi.

Selain diselidiki oleh Polda Sumbar, Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Sumbar, Prima Idwan Mariza kepada Haluan, beberapa waktu lalu juga menyebutkan, pihaknya juga telah memeriksa setidaknya sepuluh saksi terkait laporan masyarakat tentang dugaan korupsi dalam pengelolaan hotel tersebut..

“Kami sedang melakukan penyelidikan, sudah sepuluh saksi yang dimintai keterangannya. Evaluasi atas pemeriksaan itu juga telah dilakukan. Berdasarkan rapat evaluasi dengan pimpinan, kami dari tim yang ditunjuk untuk mendalami, diminta memberikan laporan sejauh mana informasi yang diperoleh,” kata Prima.

Terkait pengusutan secara bersamaan yang dilakukan oleh Kejati bersama Polda Sumbar, Prima mengaku pihaknya menyerahkan sepenuhnya kelanjutan pengusutan tersebut kepada pimpinan masing-masing. “Untuk koordinasinya, itu kami serahkan ke pimpinan,” katanya lagi.

Sementara itu, Direktur PT Balairung Citrajaya Sumbar selaku BUMD pengelola Hotel Balairung, Irsyal Ismail, saat ditanya terkait pengusutan kasus tersebut, serta tentang pemasukan dan keuntungan yang diperoleh Hotel Balairung selama beroperasi, ia mengaku pihaknya masih fokus dalam proses pemeriksaan, sehingga enggan berkomentar panjang lebar. “Kami masih fokus dengan pemeriksaan dulu,” kata Irsyal kepada Haluan beberapa waktu lalu.

Sedangkan Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno beberapa waktu lalu juga telah mengomentari dugaan praktik korupsi dalam pengelolaan Hotel Balairung. Ia menilai, minimnya kontribusi hotel yang dikelola dalam bentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) itu terhadap pemasukan daerah, tidak dapat menjadi pijakan untuk memberi cap bahwa hotel tersebut memiliki manajemen yang buruk.

“Saya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwajib. Saya tidak akan intervensi. Namun, kita harus menelaah dulu, inti persoalannya itu di mana. Memang, selama ini Hotel Balairung hampir tidak memberikan deviden untuk kas daerah. Akan tetapi, bukan berarti kita bisa bilang kalau hotel itu merugi,” ujarnya, usai menghadiri Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, bulan lalu.

Secara keuangan, kata Irwan, Hotel Balairung memang tampak merugi. Namun secara bisnis, Hotel Balairung justru dalam keadaan untung. Hal itu dapat terlihat dari tingkat okupansinya yang terbilang tinggi, yakni selalu di atas 60 persen dari total kamar yang tersedia.

Nah, jadi kenapa secara keuangan kelihatannya merugi? Pertama, Gedung Balairung yang sekarang menjadi hotel itu, saat awal dibangun tahun 2007 dimaksudkan untuk menjadi gedung kantor dengan investasi besar. Seperti halnya kalau kita bangun rumah sendiri, dibangun sebagus mungkin. Dindingnya tinggi, temboknya tebal, lantainya tebal, dan sebagainya. Ternyata pada 2009, lewat Perda, diubah menjadi hotel,” kata Irwan.

Sementara itu, tentang usulan Pansus DPRD Sumbar untuk menggaet pihak ketiga, Irwan Prayitno mengaku telah menindaklanjuti usulan itu. Ia telah menawarkan kepada beberapa grup hotel besar seperti Ibis, Santika, Novotel, dan lain-lain untuk mengelola Hotel Balairung. Akan tetapi, usaha tersebut belum membuahkan hasil.(Red)

(sumber Harianhaluan.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *