Ketika Adil dan Makmur Tidak Kunjung Didapat, Maka Kehancuran NKRI Bukan Mustahil

oleh -552 views

PADANG,SUMBARTODAY-Dalam upaya penggantian dasar negara dan konstitusi tentu tidak semudah menghembuskan nafas. Peran serta penyandang dana pun mutlak diperlukan karena revolusi ini bukan seperti revolusi atas penjajahan bangsa asing.

Pihak yang dinyatakan sebagai musuh adalah saudara sebangsa setanah air. Dan ini bukan perkara tanpa biaya dan unsur kepentingan. Seperti yang saya sampaikan pada tulisan disana dan disini bahwa ada kemungkinan besarnya biaya untuk menggerakkan rakyat di seluruh pelosok tanah air adalah sebesar Rp 1 trilyun per propinsi atau mungkin lebih dan untuk mengumpulkan dana sebesar itu hampir tidak mungkin dilakukan oleh perorangan.

Bila didukung dana perorangan maka wajiblah orang itu mempunyai kekayaan puluhan atau ratusan trilyun rupiah. Sehingga hanya organisasi atau bahkan mungkin satu negara yang ada kemungkinan mampu menyediakan dana dan fasilitas yang diperlukan untuk menggalan opini massa dalam hal mengganti Pancasila sebagai ideologi dan UUD 1945.

Siapa yang menjadi penyandang dana?

Bisa siapa saja. Pertanyaan akan lebih spesifik jika kita melihat faktor kepentingan. Kepentingan ini bisa berupa kekayaan alam, ekonomi maupun ideologi. Jika mengubah Pancasila sebagai ideologi itu susah dilaksanakan maka menyusupkan atau merubah nilai Pancasila dengan nilai ideologi yang lain akan menjadi sangat mungkin dilakukan.

Sebuah analisa Tentang penyandang dana

Negara Asing “Di sana (Darwin) sudah ada 1.500 pasukan Amerika dan akan ditingkatkan menjadi 2.500,” kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di Depok. Tentang pasukan militer berarti tidak bisa dilepaskan dari peran intelijen. Ini berarti intelijen Amerika sudah memantau dan mungkin juga sudah melakukan test case di republik ini. Termasuk Australia yang baru saja juga telah menyinggung harga diri bangsa. Australia tentu tidak akan tinggal diam melihat Amerika memantau Indonesia dan mungkin saja mereka berbagi di belakang layar. Masela adalah primadona paling menarik saat ini Sebuah kekayaan yang mubadzir bila dikelola Indonesia,Amerika mungkin tidak rela bia Masela betah dalam pelukan ibunya yang bernama Indonesia. Masela hanyalah satu contoh yang hadir dalam tulisan ini. Wajar bila seorang Panglima TNI merasakan dan melihat hal itu sebagai ancaman.

Kita bicara kedaulatan!!

Kita bicara kemerdekaan!!

Kita bicara harga diri sebagai bangsa!!

Intelijen Amerika pun sulit berdiri sendiri tanpa adanya Mossad. Bangsa ini perlu khawatir tentang Yahudinisasi sebagai Rencana besar dunia untuk menguasai dunia baru(New World Oerder) karena tema sentral adalah glory, sebuah kejayaan dari ekonomi. Ini menjadi wajar karena kawasan Arab sedang menuju kehabisan sumber daya energi sehingga mereka akan melirik Indonesia adalah keniscayaan.

Laut Cina Selatan juga tidak bisa lepas dari gangguan. Kawasan Natuna adalah produsen ikan laut dengan kapasitas lebih dari 1 juta ton/tahun, dan ladang gas blok D-Alpha dengan total cadangan 222 trillion cubic feet dan gas hidrokarbon yang bisa didapat sebesar 46 trillion cubic feet merupakan salah satu sumber cadangan gas alam terbesar di Asia. Sekalipun China menunjukkan ada keinginan kuat untuk menguasai kawasan Laut China Selatan tetapi mengingat posisi strategis Indonesia sebagai mitra kerja investasi maka posisi Indonesia dalam keadaan aman tetapi tetap wajib waspada. Karena kedua negara ini,Amerika Serikat dan China, adalah negara yang lebih dari mampu menyediakan dana minimal 33 trilyun untuk menggerakkan penggantian dasar negara. Sehingga motif ekonomi adalah motif yang paling logis apabila negara ini memang berniat memecah NKRI melalui penggantian dasar negara.

Negara-negara kawasan Arab juga mempunyai potensi untuk menyandang dana untuk revolusi guna menghancurkan NKRI. Dengan cadangan minyak yang semakin sedikit, bukan tidak mungkin negara-negara ini mempunyai keinginan untuk bermain di Indonesia melalui jaringan yang tidak kita ketahui. Perkembangan terakhir adalah peranan Saudi dalam krisis Yaman dan Suriah. Kita tidak bisa menutup mata atas perkembangan yang terjadi. Oleh sebab itu saya katakan bahwa negara-negara Arab juga mempunyai kemungkinan untuk bermain di Indonesia dengan skema Indonesia rusuh, mereka masuk untuk menambang minyak dan gas melalui jaringan-jaringan yang sudah terbangun sebelumnya. Kementerian Luar Negeri Suriah dalam rilis persnya menyatakan, “Penekanan Saudi pada penyingkiran Suriah khususnya Presiden Bashar al-Assad, menunjukkan berlanjutnya peran destruktif Riyadh dalam krisis Suriah.”

Dalam konteks ini, sewajarnya bila muncul kecurigaan bahwa bantuan kemanusiaan memang tidak mengenai sasaran jadi untuk itu dibutuhkan klarifikasi dan data yang valid supaya apa yang samar itu berubah terang benderang.

Apabila bicara tentang organisasi internasional, ini tak lebih dari bentukan suatu negara. Karena, sekali lagi, biaya sebesar Rp 33 trilyun / propinsi untuk sebulan hanya bisa didanai oleh negara. Bila harus organisasi maka organisasi itu harus besar dan benar-benar kaya. Bila anda menyebut IHH Turki itupun tak bisa lepas dari peran serta pemerintah Turki. Dalam sebuah teori konspirasi ada pakem yang harus disepakati bersama : jangan pernah percaya siapapun titik

Direktur Imparsial Al Araf menekankan pentingnya negara melawan intoleransi dan kekerasan atas nama agama. Namun demikian, keharusan melawan intoleransi dilakukan tidak dalam bentuk kekerasan.

Begitupun dalam menjawab masalah terorisme, Al Araf secara tegas menuntut negara menempuh jalan yang sesuai dengan konteks demokrasi dan penegakan hukum, tidak mengambil langkah proteksionisme melalui kekerasan sebaiknya Negara tidak melupakan tujuan berdirinya Negara Kesatuan Republic Indonesia yaitu Keadilan yang bermuara kepada kesejateraan seluruh Rakyat Indonesia. Sebab, hal tersebut akan berakumulasi kepada penguatan radikalisme dan terorisme itu sendiri.

“Kita memang sedang geram pada radikalisme dengan segala ekspresinya. Tetapi kita perlu tenang dalam menyikapi ini. Jangan melawan teror dengan teror. Karena kita akan berada pada satu lingkaran tindakan kekerasan yang tidak berujung,” kata Al Araf dalam diskusi bertema intoleransi dan radikalisme atas nama agama dalam perspektif keamanan negara di hadapan seratus lebih peserta Konferensi Jaringan Antar Iman Indonesia (JAII) Sabtu malam (5/8/2017) di Hotel Yehezkiel Bandung.

Sehingga, secara struktural kehadiran negara menjadi keniscayaan. Sebab, jika negara lemah, justru terjadi konflik di internal negara itu sendiri.  Maka, menurut Al Araf, peran kepolisian menjadi sangat penting dalam memberikan  perlindungan kebebasan beragama warga negaranya, yakni dengan menindak setiap manifestasi intoleransi dari bentuk yang rendah sampai yang tinggi.

“Bentuk intoleransi yang paling rendah bernama hate speech; manifestasi di tengah adalah radikalisme; dan tertinggi adalah terorisme,” ujar Al Araf selaku narasumber diskusi yang merupakan rangkaian Konferensi JAII kedelapan yang digelar selama tiga hari, 3-5 Agustus 2017.

Konflik Identitas Politik di Indonesia

Secara faktual, Al Araf memberi peringatan, berbagai bentuk intoleransi bisa berjujung pada konflik internal. Hal tersebut mengacu pada sejarah negara bernama Yugoslavia yang sekarang sudah hancur menjadi negara yang bebeda-beda. Runtuhnya negara Yugoslavia tidak diprediksi oleh semua orang.

Jadi, kenapa Yugoslavia hancur dan runtuh, lanjut lanjut pria yang akrab dipanggil A’al ini, karena konflik di elit politik yang diikuti dengan konflik etnis  dan identitas. Pasca perang dingin konflik internal negara menjadi lebih besar. Berbeda sebelum perang dingin, yang terjadi justru konflik eksternal. Ketika Uni Soviet runtuh dan demokrasi berekembang, lalu diikuti dengan berkecamuk konflik internal negara-negara pecahan Soviet.

Sialnya, sambung Al Araf, konflik internal banyak terjadi di negara-negara Asia dan Afrika. Dan Indonesia juga ikut serta mengalami persoalan tersebut, seperti konflik Ambon, Poso dan  beberapa daerah lainnya.

Kawasan Asia dan Afrika terus dilanda instabilitas politik. Demokrasi  mengalami satu dinamika perubahan. Di setiap rezim politik akan mengalami perubahan dan konflik karena terjadi pertarungan elit dalam perebutan kekuasaan.

“Maka kita harus belajar dari kasus Yugoslavia agar Indonesia tidak mengalami hal yang sama. Sehingga, keragaman Indonesia harus dirawat,” ajak Al Araf kepada para peserta Konferensi yang terdiri dari tokoh agama dan aktivis lintas-iman dari berbagai wilayah seperti Papua, NTT, NTB, Bali, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Jawa, Sumatera sampai Aceh.

Karena itulah Al Araf kembali mengajak peserta untuk melihat radikalisme dan kekerasan atas nama agama sebagai problem keamanan di tingkat global, karena ada pergerakan global dan hal itu mempengaruhi Indonesia.

“Ada fakta politik di tingkat  global, yakni konflik internal negara-negara di dunia lebih besar dari konflik eksternal. Ini menunjukkan bahwa dimensi konflik di dalam negara sangat kuat, seperti Irak, Suriah, Sudan, Tunisia, dan lain-lain,” ungkap Al Araf dalam diskusi yang dimoderatori dosen Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur Papua Pater Konstantinus Bahang.

Penegakan hukum terhadap kasus-kasus intoleransi harus dilakukan pihak keamanan dengan tidak tebang pilih, dalam analisisnya Al Araf, tidak pernah masuk pada akar persolannya. Jika ada persolan intolernasi, pasti ada persolan perbedaan kelas dan kesenjangan ekonomi. Makanya, kasus-kasus intoleransi banyak terjadi di Asia dan Afrika, tetapi tidak di Eropa. Begitupun, isu-isu identitas sangat mudah disulut jika gap sosial di Indonesia levelnya lebar, sehingga persoalan intoleransi dan konflik identitas terus terjadi.

Untuk itu, ia mengingatkan para peserta betapa konflik elit politik di Indonesia yang terjadi saat ini begitu mengkhawatirkan. Karena pada level tertentu akan mengarah pada konflik identitas.

Dalam pilkada DKI elit-elit politik melakukan mobilisasi massa dengan menggunakan politik identitas dan sampai sekarang terus berlanjut dengan saling menuduh dan menyerang atas identitas dan paham ideologi tertentu.

Indonesia memang berbeda dengan negara-negara seperti Irak dan Suriah. Namun, bagi Al Araf, sepanjang elit politik tidak menggunakan isu perbedaan agama dan identitas, maka konflik bisa dihindari.

Akhir-akhir ini elit politik kita sedang menyeret masyarakat yang awalnya toleran, lalu membawanya pada persoalan kekuasaan yang melibatkan emosi mereka.

“Elit politik harus berhati-hati dalam berbicara karena ini akan sangat berdampak di masyarakat,” pesan Al Araf yang tujukan kepada para elit politik negeri ini.

Politik SARA dan Peran Negara

Senada dengan Al Araf, Kakorbinmas Polri Irjen Pol. Arkan Lubis menyampaikan bahwa kepolisian juga melihat munculnya ancaman persatuan dan kesatuan bangsa yang disebabkan oleh masalah konflik politik. Pilkada DKI telah menyebabkan polarisasi dan pengkotak-kotakan di masyarakat yang ternyata masih terjadi sampai saat ini.

Dalam kehidupan sosial, lanjut Arkan Lubis, hal tersebut sangat rentan terjadi konflik SARA karena bermunculan persolaan intoleransi. Artinya, semua itu menandakan sedang ada hubungan yang kurang baik di intra dan antar-agama yang menimbulkan tantangan bagi kebinekaan.

“Itu semua adalah bentuk-bentuk kerawanan yang jika dibiarkan akan membesar dan dapat membahayakan NKRI,” ucapnya.

Lebih lanjut Arkan Lubis mengatakan, Pancasila sudah menghadapi tantangan sejak dulu dan kita sudah bisa menjaganya dengan persatuan dan kesatuan. Oleh karena itu ancaman-ancaman terhadap Pancasila jangan sampai terulang lagi.

“Faktor penyebabnya adalah pembelajaran terhadap Pancasila kurang, sementara pengaruh kemajuan teknologi semakin membuat terbukanya sekat-sekat global,” Arkan Lubis selaku narasumber menyampaikan pandangannya dalam diskusi di ujung Konferensi JAII 2017 ini.

Radikalisme Agama dan Langkah Polri

Arkan Lubis menegaskan bahwa saat ini penanganan terhadap kelompok radikal yang intoleran dan pro-kekerasan dilakukan secara optimal oleh Polri bekerjasama dengan TNI. Selain itu, peran serta masyarakat dalam mendukung pemerintah untuk memperkuat keamanan negara dari ancaman radikalisme merupakan upaya yang sangat penting.

Sebab, menurutnya, kondisi gerakan terorisme dan ISIS telah terdesak di Suriah dan Irak. Lalu mereka ingin menyebarkan paham terorisme di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Saat ini ISIS berniat membangun basis perjuangannya di Filipina Selatan yang dapat berakibat terhadap keamanan dalam negeri Indonesia. ISIS adalah gambaran singkat kelompok garis keras, pemberontak bersenjata, yang menarik masyarkat dan melegalkan kekerasan dan kekejaman di Suriah dan Irak dengan mengklaim diri sebagai Daulah Khilafah Islamiyah.

“Untuk menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme terhadap NKRI, maka TNI dan Polri harus solid. Seluruh elemen masyarakat diharapkan lebih bersatu padu melawannya agar Indonesia lebih aman,” kata Arkan Lubis mengakhiri pemaparan langkah-langkah kepolisian dalam melawan radikalisme dan terorisme pada ujung diskusi.

Indonesia Ganti Nama Jadi Nusantara Agar Tidak Hancur, Setujukah Anda?

Sudah berpuluh-puluh tahun kita memboyong nama republik tercinta dengan nama Indonesia. Sudah siapkah Anda bila suatu ketika nama negeri ini diganti dengan Nusantara?

Dilansir dari Merdeka.com, saat ini sedang terjadi kasak-kusuk tentang perubahan nama Indonesia yang disarankan berganti menjadi Nusantara. Hal ini disampaikan oleh seorang pakar metafisika yang juga doktor lulusan University of Metaphysics International Los Angeles, California, Amerika Serikat

Menurut ilmu metafisika yang sudah bertahun-tahun ia tekuni, Indonesia akan hancur di tahun 2020 bila masih mempertahankan nama Indonesia. Ritual ganti nama sering terjadi dalam budaya Jawa bila seorang anak sering sakit-sakitan. Nah, runtutan masalah yang menerpa negara ini merupakan salah satu indikasi negara sedang sakit dan kita perlu mengganti nama.

“Jika di banyak budaya di dunia yang mengganti nama seseorang yang sering sakit pada masa anak-anak melalui pendekatan budaya dan religiusitas, maka saat ini kita mendekatinya juga melalui pendekatan budaya, religiusitas dan ilmu pengetahuan. Tiga pendekatan ini menemukan satu kata: Nusantara,” kata Arkand.

Arkand menjelaskan bahwa ilmu yang ditekuninya menjelaskan bahwa dari tahun ini hingga tahun depan, sudah bisa dirasakan gejala carut marut dalam negara Indonesia. “Tidak ada, yang ada Pakar metafisika sebut tahun 2020 puncak kehancuran Indonesia. Bukan dari arti nama. Kita tidak bicara dari arti nama,” terangnya.

Banyak demo, Indonesia sakit-sakitan dan bisa hancur di tahun 2020

Beberapa alasan perlu dilakukan pergantian nama antara lain adalah karena nama Indonesia merupakan pemberian negara lain Samuel Windsor Earl yang memberi nama Indunesia dan diganti oleh James Richardson Logan menjadi Indonesia. Selain itu perhitungan nama Indonesia kurang memenuhi syarat dari coherence value dan synchronicity value yang menunjukkan struktur nama Indonesia berkualitas rendah.

“Bahwa negara-negara maju memiliki struktur nama yang berkualitas baik dan negara-negara yang belum juga maju dan tetap miskin memiliki struktur nama yang berkualitas rendah,” kata Arkand dalam situsnya.

Wah, merinding juga ya mendengarkan penjelasan tentang ganti nama ini. Bagaimana menurut Anda? Haruskah negeri kita tercinta berganti nama menjadi Nusantara? Percayakah Anda pada hubungan nama dengan nasib suatu negara?

Pakar metafisika sebut tahun 2020 puncak kehancuran Indonesia

Arkand Bodhana Zeshaprajna. ©arkand.com

Dikutip dari Merdeka.com – Indonesia diprediksi akan hancur di tahun 2020 jika tak segera berganti menjadi Nusantara. Prediksi itu datang dari Arkand Bodhana Zeshaprajna, pria yang belasan tahun mempelajari metafisika.

Doktor lulusan University of Metaphysics International Los Angeles, California, Amerika Serikat ini menjelaskan, dalam ilmu yang dikuasainya dapat terlihat kapan sesuatu hal bakal terjadi. Khusus Indonesia, kehancuran itu akan terjadi dalam enam tahun ke depan.

“Di sana ada satu garis waktu, justru kita bisa lihat polaritas-polaritas negatif. Nah kita sudah melewati 2 fase negatif polarity, nanti kita lewati lagi satu, di 2014 sampai 2023 dengan puncak tahun 2020,” kata Arkand kepada merdeka.com di Jakarta, Rabu (26/2)

Pria bernama asli Emmanuel Alexander ini menjelaskan, tidak ada satu negara maupun perusahaan yang mampu melewati tahapan negatif yang memuncak seperti itu. Maka dari itu, dirinya tetap optimis nama Indonesia diubah menjadi Nusantara.

“Dalam fase negatif seperti itu, jarang sekali hampir tidak pernah bahkan, bila satu perusahaan atau negara dengan polaristas fase memuncak tak bisa melampauinya. Tak pernah ada. Jadi kita sangat berbahaya bila kita tak menggunakan nama nusantara,” jelasnya.

Menurut Arkand, gejala kehancuran Indonesia bisa dirasakan di tahun ini dan tahun depan. Dirinya pun menyebut bahwa mempertahankan nama Indonesia sebagai hal yang nekat.

“Seharusnya nanti berjalan dari tahun ini sampai tahun depan kita lihat gejala-gejalanya itu. Adalah satu kenekatan ketika kita mempertahankan nama Indonesia,” ungkapnya.

Ketika ditanya persoalan selain kehancuran Indonesia dari segi metafisika, Arkand menyebut tidak ada lagi. Sebab, dari ilmu yang dikuasainya ini telah menganalisa bahwa negara ini akan hancur.

“Tidak ada, yang ada Pakar metafisika sebut tahun 2020 puncak kehancuran Indonesia. Bukan dari arti nama. Kita tidak bicara dari arti nama,” terangnya.

Seperti diketahui, Arkand yang merupakan doktor University of Metaphysics International Los Angeles, California, Amerika Serikat itu tetap bersikukuh jika nama Nusantara adalah nama terbaik untuk pengganti nama Indonesia. Sebab, menurutnya, dalam struktur nama Nusantara tak mempunyai angka merah dan bisa membuat kehidupan yang semakin baik untuk orang-orang yang berada di dalamnya kelak.

Analisa Arkand juga bukan tanpa alasan, dia sudah membuat piranti lunak atau software untuk menganalisa hitungan-hitungan struktur nama yang baik. [ded]

Pesan Bijak Leluhur Untuk Kita Sekarang; Kehancuran NKRI

Wahai saudaraku. Apakah engkau ingin tahu apa yang akan terjadi di Nusantara nanti? Apakah dirimu ingin kuberi tahu tentang sesuatu yang akan terjadi dalam waktu dekat ini, di tanah pertiwi kita? Karena yakinlah, tidak akan mungkin kejahiliyahan yang terjadi sekarang ini terus berjaya selamanya. Tidak akan mungkin Tuhan membiarkan orang-orang yang kufur di negeri ini tetap hidup dengan melakukan banyak kerusakan. Bahkan bangsa ini pun akan hancur, musnah dan hanya meninggalkan sejarah kelam, jika saja kerusakan yang ada sekarang ini tetap di pelihara oleh para pemimpin dari negeri ini.

Untuk itu saudaraku. Kisah kejayaan masa lalu akan terulang kembali dengan nyata. Sedangkan di Nusantara, maka semuanya akan dimulai dan dipusatkan. Engkau akan menyaksikan, bahwa yang legenda akan kembali menjadi fakta dan yang fakta akan membenarkan mitos yang ada. Untuk itu bersiaplah, karena sebelum itu terjadi maka ada bencana dahsyat yang datang. Yang akan menyapu seluruh permukaan Bumi dengan banyak kerusakan. Dan bencana besar yang kumaksudkan itu bukan hanya sekedar fenomena alam biasa, tetapi di tambah lagi dengan perang dunia ke III.

Namun sayang, di akhir zaman ini, tidak banyak lagi yang masih menaruh harapan itu, terlebih meyakini pesan dan peringatan dari para leluhur kita yang bijak. Dan dengan ilmu yang sedikit, mereka lantas begitu mudahnya mengatakan bahwa itu semua hanyalah mitos dan dongeng belaka. Semuanya mustahil. Padahal banyak sekali dari keajaiban yang hingga kini tetap tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan ilmiah dan teknologi moderen, padahal nenek moyang kita sudah menjelaskannya sejak dulu. Karena yakinlah, bahwa azab dan laknatullah itu akan tetap ada, selama ada kejahiliyahan di dalam kehidupan manusia.

Untuk itu, agar lebih jelas, berikut ini ku sampaikan di antara pesan leluhur kita dulu, yang berasal dari Prabu Jayabaya (Raja kerajaan Kediri) dan Prabu Siliwangi (Raja kerajaan Pajajaran):

”Bojode ingkang negara, Narendra pisah lan abdi, Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram” (Prabu Joyoboyo, Raja Kediri)
Artinya: ”Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti zaman Kutila. Rajanya Kara Murka. Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram” (Prabu Joyoboyo, Raja Kediri)

”Nakoda melu wasesa, Kaduk bandha sugih wani, Sarjana sirep sadaya, Wong cilik kawelas asih, Mah omah bosah-basih, Katarajang marga agung, Panji loro dyan sirna, Nuli Rara ngangsu sami, Randha loro nututi pijer tetukar.”
Artinya: ”Nakhoda ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (orang pandai) tidak berdaya. Rakyat kecil sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu, janda dua kali dibawah bayang-bayang”

“Selet-selete yen mbesuk ngancik tutup ing tahun sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu bakal ana dewa ngejawantah apeng awak manungsa apa surya padha bethara Kresna watak Baladewa agegaman trisula wedha jinejer wolak-waliking zaman wong nyilih mbalekake, wong utang mbayar utang, nyawa bayar nyawa utang wirang nyaur wirang” (Prabu Joyoboyo, Raja Kediri),
Artinya: “Selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun (sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu) akan ada dewa tampil berbadan manusia, berparas seperti Batara Kresna, berwatak seperti Baladewa, bersenjata trisula wedha. Tanda datangnya perubahan zaman, orang pinjam mengembalikan, orang berhutang membayar hutang, nyawa bayar nyawa, malu dibayar malu” (Prabu Joyoboyo, Raja Kediri)

“Saking marmaning Hyang Sukma, jaman Kolobendhu sirna sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata, ing kono raharjaniro, karaton ing tanah jawa mamalaning bumi sirna, sirep dur angkara murka” (Prabu Joyoboyo, Raja Kediri)
Artinya: “Atas kehendak Tuhan, zaman Kolobendu hilang berganti zaman yang baru, kalian akan teratur dalam kemulian dan kemakmuran, kerajaan di tanah jawa hilang dari muka bumi, sirnalah angkara murka” (Prabu Joyoboyo, Raja Kediri)

”Darengekeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan”
Artinya: ”Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu: tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah negara akan pecah, pecah oleh kerbau bule (bangsa Eropa; kolonialisme), yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. Semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan”

“Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh, yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngaranteur pamuka jalan; tapi jalan nu pasingsal!”
Artinya: “Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet (kapitalisme). Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa zaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah! (saat sekarang)”

“Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon”
Artinya: “Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara pecahan diserbu monyet (orang serakah dan kapitalis)! keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit, sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. Mereka tidak sadar bahwa zaman sudah berganti cerita lagi”

Engkau masih kurang jelas? Baiklah, kuberikan termejahan lengkap dalam bahasa Indonesia, yang diambil dari Unggah Wangsit Prabu Siliwangi, yaitu:

“Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin.”

Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara! Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat!

Dengarkan! Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan kalian! dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan orang lain. Tapi kalian harus ingat, nanti mereka akan memerintah dengan semena-mena. Akan ada pembalasan untuk semua itu. Silahkan pergi!

Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya.

Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!

Kalian yang di sebelah utara! Dengarkan! Kota takkan pernah kalian datangi, yang kalian temui hanya padang yang perlu diolah. Keturunan kalian, kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Adapun yang menjadi penguasa tetap tidak mempunyai kekuasaan. Suatu hari nanti akan kedatangan tamu, banyak tamu dari jauh, tapi tamu yang menyusahkan. Waspadalah! Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian.

Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong dan bahkan berlebihan kalau bicara.

Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai zaman yang satu datang lagi satu zaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap zaman membuat sejarah. Setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.

Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu. Tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah negara akan pecah, pecah oleh kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. Semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa, sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan.

Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet (Kapitalisme). Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa zaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah!

Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara pecahan diserbu monyet (orang serakah dan kapitalis)! Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit, sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. Mereka tidak sadar bahwa zaman sudah berganti cerita lagi.

Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan kita mengamuk. Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. Yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. Seluruh nusa dihancurkan dan dikejar. Tetapi… ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang sebrang.

Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas keturunan penguasa, penguasa baru susah dianiaya! Semenjak itu berganti lagi zaman. Ganti zaman ganti cerita! Kapan? Tidak lama, setelah bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran.

Lalu akan ada penguasa, tapi penguasa yang mendirikan benteng yang tidak boleh dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran ditengah jalan, memelihara elang dipohon beringin (Indonesia). Memang penguasa buta! Bukan buta pemaksa, tetapi buta tidak melihat, segala penyakit dan penderitaan, penjahat juga pencuri menggerogoti rakyat yang sudah susah.

Sekalinya ada yang berani mengingatkan, yang diburu bukanlah penderitaan itu semua tetapi orang yang mengingatkannya. Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli. Memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omongan, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Wajar saja bila kolam semuanya mengering, pertanian semuanya puso, bulir padi banyak yang diselewengkan, sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar kebelinger.

Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung tua. Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar kebelinger, maunya menang sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan kepenjara. Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan.

Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran. Sebab takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule (bangsa Eropa; Belanda, Inggris, Portugis), mereka tidak sadar zaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan. Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara.

Yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa. Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné! Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati.

Dengarkan! zaman akan berganti lagi, tapi nanti, setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati. Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala. Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!”

Selain itu, untuk melengkapinya, berikut ini kusampaikan pula pesan yang berasal dari Serat Kalatidha; karya R.Ng. Ronggowarsito (Pujangga Mataram Islam) yang tertuang dalam Serat Centhini jilid IV (karya Susuhunan Pakubuwono V) pada Pupuh 257 dan 258:

“Wong agunge padha jail kurang tutur, marma jeng pamasa, tanpa paramarteng dasih, dene datan ana wahyu kang sanyata”
Artinya: “Para pemimpinnya berhati jahil, bicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang sejati”

“Keh wahyuning eblislanat kang tamurun, apangling kang jalma, dumrunuh salin sumalin, wong wadon kang sirna wiwirangira”
Artinya: Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis dan sulit bagi kita untuk membedakannya, para wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu

“Tanpa kangen mring mitra sadulur, tanna warta nyata, akeh wong mlarat mawarni, daya deye kalamun tyase nalangsa”
Artinya: “Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling memberi berita dan banyak orang miskin beraneka macam yang sangat menyedihkan kehidupannya”

“Krep paprangan, sujana kapontit nurut, durjana susila dadra andadi, akeh maling malandang marang ing marga”
Artinya: “Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat, kejahatan/perampokan dan pemerkosaan makin menjadi-jadi dan banyak pencuri malang melintang di jalan-jalan”

“Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep grahana surya, kalawan grahana sasi, jawah lindhu gelap cleret warsa”
Artinya: “Alampun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan abu dan gempa bumi”

“Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung prang rusuhan, mungsuhe boya katawis, tangeh lamun tentreming wardaya”
Artinya: “Angin ribut dan salah musim, banyak terjadi kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada rasa tenteram di hati”

“Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur pangreh tata, karana tanpa palupi, pan wus tilar silastuti titi tata”
Artinya: “Kewibawaan negara tidak ada lagi, semua tata tertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan”

“Pra sujana, sarjana satemah kelu, klulun Kalathida, tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dening karoban rubeda”
Artinya: “Para penjahat maupun para pemimpin tidak sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan masalah/kesulitan.

“Sitipati, nareprabu utamestu, papatih nindhita, pra nayaka tyas basuki, panekare becik-becik cakrak-cakrak”
Artinya: “Para pemimpin mengatakan seolah-olah bahwa semuanya berjalan dengan baik, padahal hanya sekedar menutupi keadaan yang jelek”

“Nging tan dadya, paliyasing Kalabendu, mandar sangking dadra, rubeda angrubedi, beda-beda hardaning wong sanagara”
Artinya: “Yang menjadi pertanda zaman Kalabendu (zaman sekarang), makin lama makin menjadi kesulitan yang sangat, dan berbeda-beda tingkah laku/pendapat orang se-negara”.

“Ing Paniti sastra wawarah, sung pemut, ing zaman musibat, wong ambeg jatmika kontit, kang mangkono yen niteni lamampahan”
Artinya: “Memberikan peringatan pada zaman yang kalut dengan bijaksana (zaman sekarang), begitu agar kejadiannya/yang akan terjadi bisa jadi peringatan”

“Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya jaman edan, ewuh aya kang pambudi, yen meluwa edan yekti nora tahan”
Artinya: “Untuk dibuktikan, akan mengalami zaman gila, yaitu zaman edan, sulit untuk mengambil sikap, apabila ikut gila/edan tidak tahan (saat sekarang ini)”

“Yen tan melu, anglakoni wus tartamtu, boya keduman, melik kalling donya iki, satemahe kaliren wekasane”
Artinya: “Apabila tidak ikut menjalani, tidak kebagian untuk memiliki harta benda, yang akhirnya bisa kelaparan”

“Wus dilalah, karsane kang Among tuwuh, kang lali kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang eling lawan waspada”
Artinya: “Sudah kepastian, atas kehendak Allah SWT, yang lupa untuk mengejar keberuntungan, tapi yang sebetulnya, lebih beruntung yang tetap ingat dan waspada (dalam perbuatan berbudi baik dan luhur)”

“Wektu iku, wus parek wekasanipun, jaman Kaladuka, sirnaning ratu amargi, wawan-wawan kalawan memaronira”
Artinya: “Pada saat itu sudah dekat berakhirnya zaman Kaladuka. Hilangnya pemimpin karena sesama teman menjadi musuh diri sendiri”

“Saka marmaning Hayang Sukma, jaman Kalabendu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata, ing kono raharjanira, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka”
Artinya: “Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Nusantara menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murka pun mereda”

Bagaimana saudaraku? Lihatlah! Bahwa gambaran singkat tentang kondisi di negeri ini sudah dijelaskan oleh para leluhur kita yang bijak, bahkan sebelum semuanya itu terjadi. Atas rasa cinta mereka kepada kita, maka sejak dulu mereka pun sudah mengingatkan kita untuk waspada dan bersatu ke dalam satu panji, yaitu Nusantara. Tetapi memang bangsa ini masih terlalu egois bahkan senang melupakan sejarah. Terlebih para pemimpinnya kini, mereka masih saja larut dalam kesenangan harta dan tahta belaka. Sehingga apa yang sudah di ramalkan oleh para leluhur kita dulu – tentang kerusahan dan kehancuran – terus saja terbukti hingga kini.

Ingatlah wahai semuanya, ingatlah kembali tentang pesan mulia ini; “Bhinnêka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa: Terpecah belah tapi satu jualah, tiada kerancuan dalam kebenaran” (Kitab Negara kertagama, pupuh 139, bait 5, karya Empu Tantular). Sebab, jika ini di abaikan maka itu pulalah yang menjadi salah satu penyebab mengapa bangsa ini tidak bisa bangkit seperti dulunya. Dan kau jangan pernah berkata dan meyakini bahwa hanya Medang, Sri Wijaya dan Majapahit saja yang pernah jaya di Nusantara ini. Karena justru bila dibandingkan dengan Nusantara di masa lalu (jutaan – milyaran tahun silam), maka ketiga kerajaan ini masih terbilang negara yang kecil. Begitu banyak sejarah yang sudah terjadi, bahkan disaat Nusantara ini masih berbentuk satu daratan, maka begitu banyak peradaban luarbiasa yang pernah ada di tanah pertiwi ini. Bahkan bila di bandingkan dengan sekarang, maka perabadan mereka jauh lebih maju dari kita.

Ya. Jika dirimu memang benar-benar mengetahui sejarah dan arkeologi, tentunya engkau sudah bisa mengetahui begitu luarbiasanya bangsa ini. Satu bangsa yang dahulunya sangat hebat dan berulang kali menjadi pusat peradaban dunia. Mereka sangat disegani, bahkan semua peradaban dunia kini masih tetap dipengaruhi oleh banyak hal yang pernah ada di Nusantara tempo dulu. Begitu pun sosok para pemimpinnya, yang karena kehebatan dan kharismatiknya yang luarbiasa, bahkan hingga di jadikan dewa dan disembah oleh bangsa lain (khususnya di benua Eropa, Afrika dan Amerika).

Tetapi memang, kini kita tidak bisa berkata tentang banyak hal, tentang luar biasanya nenek moyang kita dulu. Terlebih kita pun sulit menemukan bukti dan sisa-sisa dari kejayan mereka itu. Bahkan kita sendiri pernah dijajah oleh bangsa asing selama ±350 tahun. Sehingga kalau pun sudah banyak bukti sejarah ditemukan, maka semua itu sudah berada di negara mereka; para penjajah. Dan jika masih ada disini, maka pemerintah republik tidak menaruh perhatian yang serius.

Makanya, ada “sesuatu” wahai saudaraku. Ada banyak pihak yang tidak menginginkan bila bangsa ini kembali pada jati dirinya, bangkit dan berjaya seperti dulu. Karena bagi mereka (golongan serakah, kapitalis), jika itu benar terjadi maka kita akan hidup dalam keteraturan dan keadilan. Manusia akan hidup dalam kesejahteraan dan kedamaian. Sehingga menurut mereka, nanti mereka tidak bisa lagi mengeruk kekayaan dari negeri ini. Dan mereka ini (kaum jahiliyah), akan tetap berusaha merusak negeri ini agar tidak bisa bangkit, agar mereka tetap bisa mencengkeram dengan kuat, salah satunya dengan merusak akhlak para pemimpin bangsa kita sekarang.

Untuk itulah semuanya, aku dan dirimu, mari mulai menyingkirkan perbedaan kita. Mari kita kembali bergotong royong dalam membangun negeri tercinta ini. Lakukan apa saja yang bisa kita lakukan di tempat kita, di rumah kita, di kampung kita, yang penting itu semua hanya untuk kemajuan bangsa tercinta ini. Dan jika memang Tuhan menakdirkan bahwa nanti ada bencana yang dahsyat (laknatullah dan perang dunia ke III), maka biarkanlah. Teruslah beserah diri dan mempersiapkan segala kemungkinan yang terburuk sejak saat ini. Tetaplah demikian, karena jika Tuhan mengizinkan, maka kita pun akan bertemu di zaman yang baru dan peradaban yang baru pula, nanti.

Saat Media Tak Lagi Suarakan Kebenaran, Kehancuran NKRI Di Depan Mata

Langgengnya NKRI adalah keniscayaan apabila bangsa ini masih berpegang teguh pada UUD 1945, menerapkan Pancasila dalam tingkah laku, dan mampu menjadikan Kebhinekaan sebagai sebuah Rahmat. Begitu pula kehancuran NKRI adalah keniscayaan tatkala bangsa ini sudah lepas kendali dari 4 pilar tersebut.

Hingga detik ini, Pancasila merupakan hal yang  final menjadi dasar hidup bangsa, Bhineka Tungal Ika sebagai “nafas” kehidupan sehari-hari, UUD 1945 sebagai ketentuan langkah dan NKRI sebagai bentuk negara. Untuk itu bagaimanapun alasan dan dengan kedok apapun, tatkala sebuah paham sudah berani menyeberang dari 4 pilar yang menjadi rambu-rambu bangsa tersebut, maka dapat dipastikan bahwa pihak terkait tengah membuka pintu gerbang kehancuran NKRI.

Salah pemaknaan dalam menyikapi Reformasi adalah pemicu dari mudahnya penyebaran faham-faham kontra Pancasila. Kemudahan mengakses media sosial saat ini justru dijadikan oleh sebagian pihak sebagai sosialisasi dengan alasan demokrasi namun faktanya justru menginjak demokrasi itu sendiri. Mereka adalah pihak yang sengaja memanfaatkan demokrasi untuk kemudian membunuh demokrasi itu sendiri.

Saat ini kita dengan mudah akan melihat postingan dan unggahan berisi hujatan dan pemaksaan pendapat. Labelisasi Kafir, Komunis maupun hujatan lainya, saat ini begitu mudah kita temukan. Apakah hal tersebut terjadi karena kebetulan semata?

Tidak. Doktrinasi melalui Media Sosial adalah pola sistematis dari pihak-pihak yang ingin mengganti Pancasila dan NKRI dengan ideologi mereka. Memanfaatkan kecenderungan sebagian besar masyarakat yang saat ini masih imitative (senang meniru) dan mudah sharing pembeberitaan,mereka sebarkan hoax dengan pola adu domba agar tercipta keresahan yang endingnya adalah munculnya simpati publik terhadap cita-cita mereka ,yakni mengganti NKRI.

Kita Memiliki Andil Dalam Kokoh dan Kehancuran NKRI

Ketika muncul sebuah pertanyaan, apakah propaganda dari mereka yang anti Pancasila melalui jejaring sosial dan situs-situs terkait dapat di hentikan?Jawabanya adalah PASTI BISA. Walau kita tahu bahwa pemblokiran situs-situs tertentu oleh Pemerintah tak bisa juga langsung dibenarkan,tapi membiarkan media-media tak berbadan hukum tersebut terus menebarkan hoax, juga tidak bijaksana, bahkan bisa menjadi sebuah kesalahan fatal.

Ada yang berpendapat bahwa, kesalahan terbesar dari semakin merebaknya wacana pembentukan Khilafah, namun sadarkah kita bahwa kesalahan itu terletak pada kita semua, penggiat media yang justru abai dengan hal tersebut. Dan kami memilih untuk dapat menjadi corong kebenaran. Ketika Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI menjadi sesuatu yang sudah Sah, maka menyuarakan untuk kokohnya 4 Pilar tersebut adalah merupakan Kebenaran.

Untuk itu, apabila kita masih menginginkan Republik ini utuh, mari kita perangi Rekayasa perpecahan anak bangsa yang sedang marak-maraknya dilakukan oleh persekongkokolan dunia global yang bertujuan hanya untuk menguasai kekeayaan Alam Nusantara.

Caranya meneyediakan dana besar dengan menyebarkan cerita propaganda yang sedang marak disebut sebagai hoax. Kita harus berani mengcounter dengan selalu menyebarkan berita fakta. Namun apabila kita terus abai atau justru terlibat dalam penyebaran hoax, cepat atau lambat, bukan lagi seperti Irak dan Syuriah, tapi kita akan masuk dalam jurang Petaka. Ini bukan phobia tapi ini keniscayaan.

dikutip dari MetroNews

Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kembali mendapat ujian berat. Sejumlah kecamatan di Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia kini ramai-ramai menuntut agar daerahnya dilepaskan saja dari Indonesia. Mereka lebih memilih menjadi bagian dari Malaysia.

“Masyarakat yang berdomisili di daerah Krayan, Sebatik dan Ligitan selalu menuntut agar daerahnya dilepaskan saja untuk bergabung dengan Malaysia,” ujar Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Kalimantan Timur, Luther Kombong di gedung DPD RI, Jakarta, Kamis (12/5).

Menurut Luther, permintaan mereka itu didasarkan atas faktor bahwa segala seluruh kebutuhan sehari-hari masyarakat setempat didatangkan dari Malaysia. Bahkan, alat tukar dalam bertransaksi sekarang adalah ringgit, bukan rupiah.

Senada dengan Luther Kombong, anggota DPD asal Sulawesi Utara, Ferry FX Tinggogoy menyatakan ada kesenjangan infrastruktur yang begitu signifikan antara daerah perbatasan dengan kota-kota lain di Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, mantan Ketua Pansus Perbatasan Negara DPD RI itu mempertanyakan pembangunan jembatan Selat Sunda yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Sumatra.

“Pembangunan jembatan Selat Sunda itu benar-benar menyakiti masyarakat Indonesia wilayah timur yang masih berkutat dengan kemiskinan dan sangat menggantungkan hidup dari kebaikan Negara Malaysia dan Brunei Darrusalam,” kata Ferry.

Persoalan kesenjangan antara wilayah Indonesia barat dan timur khususnya mereka yang tinggal di daerah perbatasan negara bukanlah isu yang baru. Sejak zaman Soeharto, masalah ini sudah ada. Perlu keseriusan dari pemerintah pusat khususnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar permasalahan ini benar-benar tidak selesai. Salah satu jalan keluarnya, tidak lain tidak bukan yakni menyejahterakan masyarakat yang tinggal di perbatasan dan membangun wilayah disana. Adakah kemauan pemerintah untuk melakukannya?

Sumber : metrotvnews.com/bm

Jumat siang, Gedung Joeang 45, Jakarta Pusat bergemuruh.  Pekikan takbir, teriakan “merdeka” menggema di dalam acara diskusi bertajuk ‘Kedaulatan NKRI Tanggung Jawab Kita Semua’ pada Jumat (20/1/2017) ini.

“Allahu Akbar dan merdeka dua kosakata yang tidak boleh dihilangkan. Sebab, pada zaman dahulu dua kosa kata ini diteriakan para pejuang kemerdekaan,” ujar Dr. Firdaus Syam, Wakil Direktur Sekolah PascaSarjana Universitas Nasional (UNAS) saat menjadi pembicara pada dialog yang digelar Center of Study for Indonesian Leadership (CSIL) dan Dewan Harian 45 di Gedung Juang 45, Jakarta, Jumat (20/01/2017).

Riuh peserta yang hadir juga disebabkan pemaparan materi yang disampaikan masalah pelik kondisi bangsa Indonesia saat ini.

Sementara itu, Jenderal TNI (Purn.) Tyasno Sudarto menyebut Indonesia didalam ambang kehancuran. Perpecahan yang disemarakkan bukan persatuan dinilainya pemicu hancurnya Indonesia kelak.

“Sekarang bangsa Indonesia diadu dan dipecah. Itu bentuk devide at impera, menjadi pintu kehancuran suatu bangsa,” kata Jenderal bintang empat itu.

Untuk itu, mantan Kepala staf angkatan darat (KSAD) itu mendesak rezim pemerintahan untuk membuka diri dengan berdialog dengan para tokoh, ulama dan elemen lain untuk memikirkan solusi bangsa Indonesia.

“Kita harus berubah, dan perubahan itu namanya revolusi. Allahu Akbar!,” pungkasnya menyemangati peserta diskusi.

Sementara itu, Letjen Marinir (Purn.) Suharto menyatakan Indonesia sedang mengalami krisis keadilan. Sebab, keadilan yang tidak merata dan tebang pilih terus menerus menerpa Merah Putih.

“Kita sekarang krisirs keadilan, krisis kedaulatan. Ini harus kita kembalikan dan perjuangkan,” ujarnya.

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab prihatin aparat intelijen justru ditugasi memata-matai para ulama dan tokoh nasional.

Pasalnya, mereka menginginkan Indonesia kembali pada cita-cita luhur para pendiri bangsa, yakni sebagai negara merdeka dan lepas dari penjajahan asing. Seharusnya, menurut Habib Rizieq, aparat intelijen ditugaskan untuk memata-matai kebangkitan PKI.

Sebagaimana diketahui, acara diskusi bertajuk ‘Kedaulatan NKRI Tanggung Jawab Kita Semua’yang diinisiasi Center Of Study For Indonesian Leadership (CSIL) itu menghadirkan sederet tokoh nasional dari berbagai kalangan. Mulai dari militer, intelek sampai ulama seperti Habib Rizieq Shihab.*/M Fajar (INA)

(sumber diambil dari berbagai sumber yang kami sebutkan diatas)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *