Ketahui dan hindari faktor kegagalan pemimpin jika ingin menjadi pemimpin yang berhasil dan sukses.

oleh -1.737 views

PADANG,SUMBARTODAY-Simak artikel berikut ini dan jadilah pemimpin yang mampu mengubah dunia! Selamat membaca!

Apa yang Dilakukan PEMIMPIN?

Kepemimpinan adalah seni memotivasi sekelompok orang untuk bertindak mencapai tujuan bersama.

Meninjau dari definisi kepemimpinan di atas, tentu seorang pemimpin perlu mempersiapkan diri untuk dapat menginspirasi orang lain.

Dengan cara demikian, tujuan yang ingin dicapai oleh pemimpin harus dikomunikasikan dengan cara melibatkan anggota kelompok untuk dapat bertindak sesuai dengan keinginan pemimpin tersebut.

Pemimpin membantu diri mereka sendiri dan orang lain untuk melakukan hal yang benar.

Mereka memberikan berbagai arahan baik secara praktis maupun teoretis, membangun visi yang inspiratif, dan menciptakan strategi, perencanaan dan cara eksekusi yang baru.

Sembari memberikan arahan, para pemimpin juga harus menggunakan keterampilan manajemen yang telah mereka pelajari untuk membimbing orang lain ke tujuan yang tepat, dengan cara yang halus (bukan memaksa) dan efisien.

“Seorang pemimpin mampu menyentuh hati orang lain sebelum meminta mereka melakukan sesuatu.” kata John C. Maxwell

Secara sederhana, seorang pemimpin menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan cara mengkombinasikan kepribadian, keterampilan dan kompetensi (baik soft skills maupun hard skills) sehingga memberikan inspirasi dan dorongan motivasi kepada orang lain sehingga tujuan yang ia inginkan menjadi tujuan bersama dan dapat tercapai secara efektif dan efisien.

“Pemimpin tidak memaksa orang lain untuk mengikutinya, dia mengundang orang untuk ikut dalam sebuah perjalanan.” -Charles Lauer

Banyak pemimpin yang berusaha mempelajari berbagai kunci keberhasilan untuk menjadi pemimpin yang dapat menginspirasi dan berhasil.

Namun, ternyata ada banyak faktor yang membuat mereka gagal menjadi seorang pemimpin yang berhasil. Anda harus mengenali faktor-faktor ini jika Anda ingin menjadi pemimpin sukses.

Faktor Kegagalan Pemimpin! Anda Perlu Tahu

Bagaimana mungkin seorang pemimpin bisa sukses hanya dengan mengenali apa saja yang harus mereka lakukan, tanpa mengetahui apa saja yang tidak boleh mereka lakukan sebagai seorang pemimpin?

Berikut ini adalah daftar berbagai faktor kegagalan pemimpin, semoga dapat menjadi sebuah pembelajaran bagi para pemimpin yang ingin sukses dalam usaha kepemimpinannya.

1 Memimpin Tanpa Kasih

“Leadership without love is manipulation” -Rick Warren

Seorang pemimpin rohani bernama Rick Warren mengatakan bahwa seorang pemimpin yang memimpin tanpa adanya kasih, maka kepemimpinannya itu hanyalah sekadar manipulasi.

Kalimat tersebut bukan berarti Anda sebagai seorang pemimpin harus mencintai semua orang yang Anda pimpin, melainkan Anda harus memiliki hati yang penuh kasih.

Kepemimpinan yang dilakukan berdasarkan paksaan dan memberikan, tidak akan pernah bertahan dalam jangka waktu yang lama.

2 Gagal Dalam Melayani

“To command is to serve, nothing more and nothing less.” -Andre Malraux

Seorang pemimpin yang berhasil harus mampu melayani. Ini juga dapat diteladani oleh para bawahannya.

Dengan rajin bekerja, tentu seorang pemimpin akan memberkan inspirasi dan motivasi yang positif bagi semua orang.

Mereka yang gagal dalam memimpin tentu telah gagal dalam melayani dan memberikan contoh yang seharusnya kepada orang-orang yang dipimpinnya.

3 Memiliki Sikap yang Buruk

“The quality of a leader is reflected in the standards they set for themselves.” -Ray Kroc

Sikap yang Anda perlihatkan sebagai seorang pemimpin akan menular kepada para bawahan Anda.

Sebagai contoh, jika Anda seorang pemimpin seringkali terlambat tanpa adanya alasan yang jelas dan seringkali menyepelekan tugas, demikian juga para bawahan Anda.

Mereka tentu akan beralasan bahwa pemimpin juga melakukan hal yang sama.

Respon Anda terhadap segala masukan, pertanyaan, saran dan gagasan baru, itu sangat penting.

Sikap Anda akan sangat menentukan pandangan dari para pengikut Anda, apakah mereka akan terus mengikuti Anda sebagai pemimpin atau tidak.

4 Terlalu Sibuk

“A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way.” -John C. Maxwell

Setiap orang tentu punya kesibukan masing-masing.

Seorang pemimpin yang sukses seharusnya tidak pernah “terlalu sibuk” untuk tugas yang membutuhkan perhatian mereka.

Kepemimpinan menuntut agar Anda teratur dan efisien.

Tentu saja, para pemimpin yang sukses tahu bagaimana mendelegasikan tugas-tugas tertentu kepada anggota tim tapi itu tidak berarti mereka tidak memberikan waktu mereka untuk keadaan darurat saat mereka dibutuhkan.

Gunakan penjabaran berbagai tugas yang urgent hingga yang tidak perlu dilakukan.

Itu akan membantu Anda dalam memprioritaskan setiap tugas Anda setiap hari.

5 Berharap Hasil yang Memuaskan Hanya dari Pengetahuan

“Leadership and learning are indispensable to each other.” -John F. Kennedy

Hasil yang baik dan memuaskan tidak datang dari apa yang Anda tahu, tetapi berasal dari apa yang Anda lakukan.

Strategi dan perencanaan yang baik tidak akan pernah berhasil jika tidak dieksekusi dengan benar.

Gelar perguruan tinggi dan jabatan yang bagus tidak akan pernah menjamin kesuksesan seorang pemimpin.

Tidak hanya secara pengetahuan, tetapi seorang pemimpin juga melakukan pekerjaannya secara bijak.

 

6 Hanya Mengandalkan Gelar

“Leadership is not about a title or a designation. It’s about impact, influence and inspiration. Impact involves getting results, influence is about spreading the passion you have for your work, and you have to inspire team-mates and customers.” -Robin S. Sharma

Tak jarang mereka yang mengaku sebagai pemimpin atau memiliki jabatan sebagai seorang pemimpin tetapi tidak melakukan fungsi mereka dengan benar sebagai pemimpin.

Mereka hanya menduduki kursi seorang pemimpin namun setiap keputusan dan juga perilakunya tidak mencerminkan seorang pemimpin sejati.

Seorang pemimpin sejati tidak membutuhkan gelar untuk mendapatkan rasa hormat dari timnya.

Setiap pemimpin yang terlalu fokus pada gelar mereka mengungkapkan bahwa mereka tidak punya banyak hal yang dapat dilakukan untuk memimpin.

7 Tidak Menyatakan Kebenaran

“Leadership is practiced not so much in words as in attitude and in actions.” -Harold S. Geneen

 

Menutupi apa yang seharusnya, membuat pemimpin menjadi seorang pecundang.

Tidak mengatakan yang sebenarnya, memperlihatkan segalanya akan nampak lebih baik dari kenyataannya atau sebaliknya.

Ini tentu akan membuat para pengikut menjadi kecewa ketika mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.

8 Takut akan Regenerasi Kepemimpinan

“I am not afraid of an army of lions led by a sheep; I am afraid of an army of sheep led by a lion.” -Alexander the Great

Mereka yang terlalu takut akan munculnya pemimpin muda yang memiliki potensi dan kemampuan dalam kepemimpinan, akan membuatnya menjadi pemimpin yan gagal.

Seorang pemimpin sejati yang berhasil akan membuahkan para pemimpin baru yang lebih inovatif dan inspiratif.

Kualitas seorang pemimpin akan terlihat dari buah yang ia hasilkan, termasuk pemimpin baru yang ia hasilkan untuk meneruskan kepemimpinannya.

Pemimpin besar menciptakan lebih banyak pemimpin.

 

9 Kurangnya Antusias

“The art of communication is the language of leadership.” -James Humes

Jika Anda sebagai pemimpin tidak bersemangat atau kurang antusias dengan apa yang Anda lakukan, jangan berharap orang lain yang Anda pimpin akan antusias dan bersemangat juga.

Setiap pemimpin bisa memberikan perintah dan memberitahu orang apa yang harus dilakukan kepada para bawahannya.

Antusiasme menular. Jika Anda ingin tim Anda lebih antusias, pahami hal itu dimulai dari diri Anda.

10 Melepaskan Tanggung Jawab

“Ultimately, leadership is not about glorious crowning acts. It’s about keeping your team focused on a goal and motivated to do their best to achieve it, especially when the stakes are high and the consequences really matter. It is about laying the groundwork for others’ success, and then standing back and letting them shine.” -Chris Hadfield

Memberikan tugas atau mendelegasikan tugas, bukan berarti Anda sebagai pemimpin pada akhirnya lepas tanggung jawab.

Malahan, tanggung jawab yang harus Anda emban lebih berat karena Anda harus memberikan arahan kepada bawahan yang mendapat tugas untuk dapat bertanggung jawab dengan tugasnya, dan hasil akhirnya, Anda jugalah yang harus bertanggung jawab.

Entah itu keberhasilan maupun kegagalan yang dilakukan oleh bawahan, Anda pun tetap ada pada posisi bertanggung jawab atasnya.

Kenali Diri Anda sebagai Seorang Pemimpin

Pemimpin gagal seringkali bersembunyi di balik meja atau gelar seorang pemimpin ketika bawahan melakukan kelalaian atau kegagalan.

Melemparkan kesalahan dan lepas tangan terhadap kegagalan anggota tim membuatnya menjadi pemimpin yang tidak akan bertahan lama.

Pemimpin yang kuat dan berhasil adalah mereka yang mendelegasikan tugas, bukan tanggung jawabnya.

Anda dapat membagikan setiap artikel dari Finansialku kepada rekan-rekan atau kenalan Anda yang membutuhkan.

Apabila Anda memiliki kesulitan dalam perencanaan keuangan, Anda dapat menghubungi Konsultan Perencana Keuangan Finansialku yang siap membantu Anda.

Jika Anda memiliki saran, tanggapan atau pertanyaan, Anda dapat menuliskannya pada kolom yang telah tersedia di bawah ini. Terima kasih!

Berikut ini kami kutip dari amajalah forbes

Menjadi pimpinan dalam suatu perusahaan bukanlah suatu perkara yang mudah. Seorang pemimpin harus memegang tugas besar akan tangung jawab kepada semua bawahannya. Banyak pemimpin besar di dunia ini yang bisa bertahan lebih dari satu abad dalam kepemimpinannya, namun tidak sedikit pula pemimpin yang gagal dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai pemimpin.

Sidney Finklestein, seorang profesor manajemen di Tuck School of Business di Dartmouth College, dalam  artikel ”Why Smart Executives Fail” membagikan sebagian dari penelitiannya tentang mengapa 50 perusahaan besar seperti Enro, Tyco, Worldcom, Rubbermaid and Schwin menjadi sebuah kegagalan besar. Hasilnya menyatakan bahwa didalam perusahaan para senior eksekutif memiliki 7 kebiasaan yang sama. Finkelstein menyebutnya 7 Kebiasan dari pemimpin yang gagal. Salah satunya adalah perusahaan yang terlalu mendominasi.

Kebiasaan Para Pemimpin yang Gagal

Perusahaan Terlalu Mendominasi

Kebiasaan terburuk pertama yang mengakibatkan seorang pemimpin gagal adalah sebuah perusahaan yang mendominasi lingkungan bisnisnya yang mengatur arah pasar bisnis antara para Pemimpin/Eksekutif dengan perusahaan-perusahan lain. Dalam teorinya sebuah perusahaan memang seharusnya mendominasi perusahaan namun ada hal-hal yang harus diperhatikan, salah satunya dalam membentuk gambaran dan karakter perusahaan. Tidak seperti pemimpin yang sukses dan berhasil, pemimpin yang gagal kurang peka terhadap kesalahan yang dibuat, dalam arti seluasnya para pemimpin yang gagal kurang memahami letak kesalahan dan tidak berusaha untuk memperbaikinya. Yang terkadang tidak menyadari bahwa mereka sedang diberikan kesempatan untuk memperbaikinya.

Terlalu Mengontrol

Hal kedua kebiasaan buruk yang membuat para pemimpin gagal adalah Mereka (pemimpin) yang sangat berlebihan dalam berfikir tentang kemampuan mereka yang dapat mengontrol keadaaan dan merendahkan peran perubahan keadaan lingkungan dalam kesuksesan mereka. CEO yang termangsa oleh kepercayaan ini, tersiksa dalam ilusi tentang keunggulan pribadi mereka.

Seperti seorang sutradara film, tentu melihat dirinya sebagai pencipta perusahaan mereka. Menurut pendapatnya, semua orang yang ada diperusahaan hanya berperan sebagai eksekutor atau implementor visi mereka terhadap perusahaan. Sebagaimana mereka menyadari, setiap orang dalam perusahaan tersebut berada disana untuk melakukan kepentingan personal bagi perusahaan mereka. Seorang CEO Samsung, Kun Hee Lee, yang sukses dan berhasil dalam bidang elektronik, berfikir bahwa kesuksesan yang diraihnya mampu dia ulangi dalam bidang automobile. Beliau menginvestasikan dana sebesar 5 Billion US Dollar di dalam pasar auto yang sudah tidak berjalan secara baik Mengapa ? Tidak ada alasan bisnis. Lee hanya menyukai mobil dan bermimpi untuk berada di industri ini.

Remember! Kurangnya rasa hormat atau sifat angkuh yang tinggi dapat menghancurkan Anda.

Tidak mudah menjadi seorang pemimpin dalam era digital dan milenial saat ini. Oleh karena perubahan yang terjadi begitu cepat, dan sulit dideteksi apa yang akan terjadi besok atau bulan depan, maka dituntut kemampuan extra dari seorang pemimpin untuk mengelola perubahan yang terjadi itu.

Era sekarang sering digambarkan dengan isu-isu global yang mengarahkan perubahan yang terus terjadi, yaitu Sosial Media, Globalisasi, Mobile commerce, Geopolitic war, Renewable techonologies and Smart mechines, OutsourcingPerubahan iklim dan kelangkaan sumber daya, Telecommuting dan virtual teams, CybercrimeRedistribusi kekuatan ekonomi. Hal-hal inilah yang diperhadapkan kepada seorang pemimpin.

Dengan dinamika perubahan seperti ini, harus diakui bahwa tidaklah mudah mencari seorang pemimpin yang hebat atau pemimpin yang efektif. Kecenderungan yang terjadi adalah krisis kepercayaan kepada seorang pemimpin semakin meningkat, karena perilaku pemimpin banyak yang menipu dan berbohong kepada pengikutnya, tidak setia pada janji dan sumpahnya.

Kejadian ini bisa diamati yang selalu muncul dalam pemberitaan, baik di media cetak maupun di media televisi, sosial media dan sebagainya.

Seorang pakar dan penulis buku tentang Kepemimpinan, Richard Daft (2016) dalam buku teksnya mencatat apa yang terjadi di Amerika Serikat misalnya, dengan mengatakan bahwa “hampir setiap bulan ada laporan baru mengenai seorang pemimpin yang berbohong, menyesatkan, atau menipu karyawan, pelanggan, atau pemerintah. Tidak heran survei menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap pemimpin menurun dan kecurigaan atau ketidakpercayaan terhadap pemimpin meningkat”.

Ini sebuah fenomena ironis di zaman modern dan kemajuan teknologi informasi yang sangat canggih saat ini.

Walaupun harus diakui bahwa pemimpin yang berkualitas dan hebat serta efektif banyak ditemukan dimana-mana, tetapi kecenderrungan peningkatan jumlah pemimpin yang gagal dengan perilaku yang tidak benar, menjadi sesuatu yang serius untuk dicermati.

Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa para pemimpin yang gagal, tidak berkualitas dan tidak efektif adalah mereka yang masih mempertahankan Paridigma Usang (Old Paradigm Leader) dalam memimpin.

Paradigma usang atau juga disebut paradigma tradisional yang sudah tidak sesuai dan mampu lagi mengelola perubahan yang terjadi di dalam organisasi, dan lebih banyak menciptakan permasalahan dalam organisasi ketimbang kemajuan yang akan diraih.

Makna Dasar Kepemimpinan : Pemimpin dan Pengikut

Para peneliti Manajemen dan Kepemimpinan mengakui bahwa defenisi kepemimpinan ini berubah dan berkembang sangat luar biasa. Bahkan seorang pakar kepemimpinan, James McGregor Burns menyimpulkan bahwa kepemimpinan “adalah salah satu fenomena yang paling diamati dan paling tidak dipahami di bumi.”

Mendefinisikan kepemimpinan telah menjadi masalah yang kompleks dan sulit dipahami karena sifat kepemimpinannya sendiri sangat kompleks dan terus menerus berubah.

Walaupun demikian, perlu sebuah pengertian sederhana tetapi representatif tentang leadership atau kepemimpinan ini, yaitu yang mengatakan bahwa “kepemimpinan adalah hubungan yang saling mempengaruhi antara pemimpin dan pengikut yang menginginkan perubahan dan hasil nyata yang mencerminkan tujuan bersama diantara mereka”

Pengertian kepemimpinan ini menyimpulkan, terdapat komponen kunci yang menjadi makna dasar tentang leadership itu, yaitu (i). Kepemimpinan melibatkan pengaruh (Influence); (ii) Terjadi di antara orang-orang; (iii) Orang-orang itu dengan sengaja menginginkan perubahan yang signifikan; (iv) Perubahan mencerminkan tujuan bersama antara para pemimpin dan pengikut (follower).

Kepemimpinan melibatkan pengaruh atau influence. Mempengaruhi berarti hubungan antar manusia tidak pasif; namun harus difahami bahawa yang mempengaruhi adalah multiarah dan tidak memaksa.

Saling mempengaruhi berarti ada timbal baliknya, bukan saja pemimpin yang mempengaruhi tetapi pengikut juga dapat mempengaruhi pimpinan. Di sebagian besar organisasi, atasan memengaruhi bawahan, tetapi bawahan juga mempengaruhi atasan.

Orang-orang yang terlibat dalam hubungan kepemimpinan menginginkan perubahan yang substantif,  kepemimpinan menciptakan perubahan, tidak mempertahankan status quo. Sebagai tambahan, perubahan yang dicari tidak didikte oleh para pemimpin tetapi mencerminkan tujuan para pemimpin dan bersama pengikutnya.

Apalagi, perubahan adalah menuju hasil yang baik bagi pemimpin dan para pengikut, masa depan yang diinginkan atau tujuan bersama yang memotivasi mereka. Aspek penting dari kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama dalam satu visi, satu tujuan, satu mimpi dan satu kapal.

Dengan demikian, kepemimpinan melibatkan pengaruh untuk membawa perubahan menuju masa depan yang diinginkan dan lebih baik, berkualitas dan membahagiakan tentunya.

Selain itu, kepemimpinan adalah kegiatan manusia, berbeda dari dokumen administrasi atau kegiatan perencanaan. Kepemimpinan terjadi antara orang-orang, karena kepemimpinan melibatkan orang, sehingga harus ada pengikut.

Seorang ilmuwan, musisi, atlet, atau pemahat kayu dapat menjadi pemimpin dalam bidang keahliannya tetapi bukan pemimpin sebagaimana yang memiliki pengikut terlibat. Pengikut  atau followeradalah bagian penting dari proses kepemimpinan  dan semua pemimpin terkadang juga pengikut. Pemimpin yang baik tahu cara mengikuti dan mereka memberi teladan bagi yang lain.

Salah satu stereotipe penting yang harus difahami dengan sungguh-sungguh, menyatakan bahwa pemimpin merasa bahwa mereka berada di atas orang lain, ini tidak benar sepenuhnya. Karena kenyataannya, kualitas yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang efektif adalah sama dengan yang diperlukan untuk menjadi pengikut yang efektif.

Pengikut yang efektif berpikir untuk diri mereka sendiri dan melaksanakan tugas dengan energi dan antusiasme sendiri. Mereka berkomitmen untuk mengerjakan sesuatu di luar kepentingan mereka sendiri, dan mereka memiliki keberanian untuk membela apa yang mereka percayai.

Pengikut yang baik bukanlah orang yang begitu saja mengikuti seorang pemimpin. Pemimpin dan pengikut yang efektif kadang-kadang bisa menjadi orang yang sama, memainkan peran yang berbeda pada waktu yang berbeda.

Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang teridiri dari para pemimpin dan pengikut dengan semua orang yang sepenuhnya terlibat dan menerima tingkat tanggung jawab yang lebih tinggi.

Saat ini, musti dimengerti bahwa kepemimpinan itu bisa saja datang dari siapa pun. Ketika kita berhenti menyamakan kepemimpinan dengan kehebatan dari visibilitas publik, maka akan menjadi lebih mudah untuk melihat peluang kita sendiri untuk kepemimpinan dan mengenali kepemimpinan dari orang-orang yang berinteraksi setiap hari.

Pemimpin datang dalam berbagai bentuk dan ukuran, dan banyak pemimpin sejati bekerja di belakang layar. Kepemimpinan yang memiliki hasil besar seringkali dimulai dari kecil.

Ada peluang untuk menjadi pemimpin di sekitar kita yang melibatkan pengaruh dan perubahan menuju tujuan maupun hasil yang diharapkan. Para pemimpin organisasi akan datang dari mana saja dan di mana saja. Kepemimpinan adalah cara untuk bertindak dan berpikir yang tidak ada hubungannya dengan jabatan atau posisi formal dalam organisasi.

Sumber: natoma.com
Sumber: natoma.com

Kenyataan Baru bagi Seorang Pemimpin

Saat ini dan hari-hari mendatang, bila Anda sedang dalam posisi seorang pemimpin maka hari-hari yang dihadapi dan dikelola dengan benar adalah hal-hal yang berkaitan dengan isu-isu besar seperti Sosial Media, Globalisasi, Mobile commerce, Geopolitic war, Renewable techonologies and Smart mechines, Outsourcing Perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya, Telecommuting dan virtual teams,  Cybercrime, hingga pada Redistribusi kekuatan ekonomi. 

Sebuah kenyataan, sebuah dunia yang sama sekali berbeda sebelum 10 tahun yang lalu. Dan dipastikan akan terus berubah dan berbeda dalam segala aspek, arah, dinamika, tantangan dan tentu saja strategi mengelolanya.

Perubahan besar sedang terjadi di dunia berarti para pemimpin saat ini menghadapi tantangan yang tidak dapat mereka lakukan bahkan bayangkan beberapa tahun yang lalu. Dalam sebuah survei oleh Center for Creative Leadership ditemukan bahwa sebesar 84 persen pemimpin yang disurvei mengatakan definisi kepemimpinan yang efektif berubah secara signifikan dalam beberapa tahun pertama abad kedua puluh satu yang baru dijalani 15 tahunan ini. 

Bahkan sebelum teknologi informasi mobile dan sosial media  mulai membentuk kembali kehidupan pekerjaan sehari-hari. Keterhubungan dan mobilitas sosial menjadi aspek utama yang harus dieklola oleh seorang pemimpin.

Hasil-hasil pemikiran para sejarawan dan bahkan para ilmuwan percaya bahwa dunia kita sedang mengalami transformasi. Lebih mendalam dan jauh jangkauannya daripada yang dialami sejak zaman modern dan Revolusi Industri lebih dari 500 tahun yang lalu. Pemimpin hari ini beroperasi di dunia di mana sedikit yang pasti, kecepatannya tanpa henti, dan segalanya lebih kompleks.

Paradigma Usang ke Paradigma Baru

Kenyataan dunia baru yang telah berubah sangat drastis dalam segala aspek, maka pemimpin harus meninggalkan paradigma usang, paradigma tradisional dan segera berpindah dalam wilayah paradigma modern yang lebih maju.

Transformasi ini membutuhkan transisi dari Paradigma Kepemimpinan Tradisional masuk kedalam Paradigma Kepemimpinan Baru nan Modern.

Paradigma adalah pola pikir bersama yang mencerminkan secara fundamental pola berpikir seorang pemimpin tentang melihat dan memahami dunia ini. Atau secara sederhana dapat dikatakan bahwa paradigma adalah cara memandang dunia ini dan dengan cara memandang demikian, akan menentukan sikap, langkah dan perilaku mengelola dunia ini.

Dalam ranah kepemimpinan, dikenal juga paradigma kepemimpinan yang usang dan sama sekali tidak efektif untuk mengelola organisasi, karena akan banyak menimbulkan permasalahan ketimbang kinerja yang baik.

Terdapat lima macam paradigma usang seorang pemipin yang tidak berkualitas dan akan menemui kegagalannya, yaitu (i). Stabilazer, (ii). Controller, (iii). Competitor, (iv). Diversity Avioder, dan (v). Hero.Sementara itu, ada juga lima aspek Kepemimpinan Paradigma Baru, yaitu (i). Change Manager, (ii). Facilitator, (iii). Collabolator, (iv). Diversity Promoter, dan (v). Humble.

PertamaFrom Stabilizer to Change Manager

 Di masa lalu, banyak pemimpin berasumsi bahwa jika mampu melakukan hal-hal yang berjalan dengan baik terus menerus dan mantab maka organisasi akan sukses. Namun dunia sekarang ada di dalamnya gerakan perubahan yang konstan dan dijamin tidak ada lagi yang pasti. Jika seseorang pemimpin masih memiliki ilusi adanya stabilitas pada awal abad kedua puluh satu ini dipastikan organisasinya atau perusahaan yang dimpimpinnya sudah hancur dan gulung tikar.

Kejadian-kejadian maha dahsyat yang terjadi diberbagai belahan dunia beberapa tahun terakhir menjadi bukti konkrit tentang terjadinya gerakan perubahan yang memaksa seorang pemimpin untuk tidak lagi berpikir stabilitas.

Sekadar contoh, Gempa dahsyat di Jepang pada tahun 2011 memicu gelombang tsunami besar-besaran dan merusak reaktor nuklir di pembangkit listrik Daiichi Fukushima dan menyebabkannya penutupan beberapa perusahaan, menciptakan gangguan rantai pasokan produsen di seluruh dunia. Setelah bencana tersebut, para manajer di Tokyo Electric Power Company (Tepco) dikritik karena gagal bertindak cepat mendinginkan reaktor di Fukushima.

Contoh lainnya, The Arab Spring, sebuah gelombang protes revolusioner di dunia Arab itu dimulai pada akhir 2010, telah menciptakan lingkungan yang hiruk-pikuk untuk bisnis yang beroperasi di wilayah ini serta meningkatnya ketidakpastian dan ketidakstabilan perusahaan di seluruh dunia.

Ketidakstabilan tetap meningkat di seluruh dunia dunia Arab menyebabkan masalah bagi organisasi lokal dan asing.

Lihat misalnya yanga terjadi di Uni Eropa (UE), Spanyol, Irlandia, dan khususnya Yunani mengalami kesulitan membayar hutang mereka, menyebabkan kemungkinan perpecahan sistem euro (mata uang tunggal yang diadopsi oleh negara-negara Uni Eropa).

Pemimpin perusahaan multinasional melakukan bisnis di negara-negara Uni Eropa harus bersiap menghadapi yang terburuk dan mengambil langkah melindungi diri sendiri, serta mempertimbangkan apa yang akan dilakukan jika  kembali ke mata uang nasional.

Mempertahankan sesuatu yang stabil sesungguhnya menjadi usaha yang sia-sia belaka. Yang dibutuhkan adalah upaya dan reaksi gerak sangat cepat agar tidak ketinggalan mengikuti perubahan yang ada dan akan terus ada. Bila perlu harus mendahului perubahan itu. Ini artinya paradigma stabilitas tidak menjadi jawaban persoalan yang ada.

Pemimpin terbaik hari ini menerima keniscayaan perubahan dan krisis dan memanfaatkannya, mereka sebagai sumber potensial energi dan pembaharuan diri. Kemampuan beradaptasi adalah semboyan hari ini.

Bahwa kesuksesan organisasi hasil dari pemimpin yang bisa tetap tenang, fokus, dan disiplin dalam menghadapi ketidakpastian dan perubahan yang tak terelakkan.

Kedua, From Controller to Facilitator

Para pemimpin yang sedang berkuasa pernah percaya bahwa kontrol yang ketat dibutuhkan organisasi yang berfungsi efisien dan efektif. Hirarki organisasi yang ketat, pekerjaan terstruktur dan proses kerja, prosedur yang terperinci dan mengikat semua orang, bahwa orang-orang di puncak memiliki kekuatan dan mereka yang berada di bawah tidak memiliki kuasa apapun.

Saat ini, asumsi usang tentang distribusi kekuasaan tidak lagi bisa diterima. Penekanan pada kontrol dan kekakuan berfungsi untuk memadamkan motivasi, inovasi, dan moral sehingga bukan lagi  menghasilkan capain yang diinginkan tetapi ambruknya moral dan semangat kerja karyawan.

Pemimpin yang efektif berbagi kekuasaan ketimbang menimbunnya dan menemukan cara untuk meningkatkan kemampuan otak organisasi dengan mendapatkan semua orang yang terlibat dan berkomitmen dalam organisasi.

Alih-alih menjadi pengendali, pemimpin adalah fasilitator yang membantu orang melakukan dan menjadi yang terbaik dengan menghilangkan rintangan untuk mencapai kinerja yang baik, membuat orang menyukai apa yang mereka butuhkan, memberikan kesempatan belajar, dan menawarkan dukungan dan umpan balik.

Ini berarti modal manusia menjadi lebih penting daripada modal finansial. “Ide atau gagasan jauh lebih penting daripada materi”.  Bila semua organisasi membutuhkan pekerja menjalankan mesin delapan jam sehari, sistem komando dan kontrol tradisional umumnya bekerja cukup baik, tapi kesuksesan hari ini tergantung dari kapasitas intelektual semua karyawan.

Salah satu tugas pemimpin yang paling menantang adalah yang memungkinkan setiap orang untuk merangkul dan menggunakan kekuatan mereka secara efektif bagi kemajuan perusahaan.

Ketiga, From Competitor to Collaborator

Dunia sekarang dikuasai oleh sosial media yang luar biasa. Sehingga media sosial telah menempatkan konektivitas pada steroid,”  yang tampil dalam bentuk samar-samar nan kabur kabur dan kadang-kadang melenyapkan batas-batas di dalam dan di antara organisasi.

Dalam jaringan yang saling terkait usia, kolaborasi menjadi lebih penting daripada persaingan. Artinya, perkembangan teknologi media sosial menempatkan paradigma usang sebagai Pesaing/Competitor, sudah tidak lagi relevan.

Karena kecenderungan orang saat ini menjadi menyatu dalam sebuah kerjasama atau kolaborasi untuk menghadapi dan mengelola sesuatu. Keberhasilan seorang pemimpin memanfaatkan ide, talenta, dan sumber daya secara maksimal dari segala jenis  dan sumber.

Pemimpin yang paling berhasil menekankan kerja tim, kompromi, dan kerja sama, tim self-directed dan bentuk kolaborasi horizontal lainnya menyebar pengetahuan dan informasi di seluruh organisasi.

Pemimpin yang efektif juga bekerja sama dengan pemasok, pelanggan, pemerintah, universitas, dan organisasi lainnya. Ada trendyang berkembang di dalam perusahaan yang menganggap diri mereka sebagai tim yang menciptakan nilai bersama bukan sebagai entitas otonomi dalam persaingan dengan yang lainnya. Kolaborasi menghadirkan tantangan kepemimpinan yang lebih besar daripada konsep lama kompetisi.

Pemimpin pertama harus mengembangkan pola pikir kolaboratif mereka sendiri dan kemudian menciptakan lingkungan kerja tim dan komunitas yang mendorong kolaborasi dan saling mendukung. Mereka belajar menjaga komunikasi tetap terbuka dan menggunakan pengaruh alih-alih menggunakan wewenang mereka untuk memadamkan bahaya politik, dan bergerak maju.

Keempat, From Diversity Avoider to Diversity Promoter

Banyak organisasi saat ini dibangun berdasarkan asumsi keseragaman, pemisahan, dan spesialisasi. Orang yang berpikir sama, bertindak sama, dan memiliki keterampilan kerja yang sama dikelompokkan ke dalam sebuah departemen, seperti akuntansi atau manufaktur, terpisah dari departemen lain.

Kelompok homogen merasa mudah bergaul, berkomunikasi, dan saling memahami. Pemikiran seragam yang muncul, bagaimanapun, bisa menjadi bencana di dunia menjadi lebih multinasional dan beragam.

Membawa keragaman ke dalam organisasi adalah cara untuk menarik manusia berbakat terbaik dan mengembangkan pola pikir organisasi yang cukup luas untuk berkembang dalam dunia multinasional.

Mencari karyawan dengan usia, nilai, latar belakang etnis, dan pengalaman kerja yang berbeda. Orang-orang memiliki gaya yang berbeda, namun organisasi nampaknya bekerja lebih baik. Kelompok orang yang berbeda peran, dan beragam pengalaman memungkinkan perusahaan untuk merespons dengan baik untuk kinerja yang lebih baik.

Kelima, From Hero to Humble

Aspek terakhir dari paradigma kepemimpinan adalah merasa menjadi pahlawan. Seorang pemimpin targetnya adalah menjadi orang yang dianggap penyelamat dan paling besar di dalam sebuah organisasi. “Leader-as-hero“, sebuah paradigma usang yang sudah tidak berlaku lagi.

Yang dibutuhkan sekarang adalah paradigm baru, yaitu “leader-as-humble”, mengenali pemimpin dibelakang layar dengan susah payah yang dengan tenang membangun perusahaan yang kuat dan tangguh dengan mendukung dan mengembangkan setiap orang lain daripada memaksakan kemampuannya sendiri untuk sukses dan dianggap pahlawan.

Adalah seorang Abraham Lincoln yang memutuskan  membuat pilihan yang jitu di awal karir politiknya untuk menggunakan kemampuannya untuk melayani kepentingan rakyat Amerika Serikat daripada memberi makan egonya sendiri.

Sumber: strategicleaders.wordpress.com

Salah satu alasan untuk beralih dari hero  ke humble nan rendah hati adalah kurang realistis untuk pemimpin individu menghadapi semua tantangan di dalam tim atau organisasi yang keadaaannya kompleks dan berubah dengan sangat cepat.

Pemimpin pahlawan mungkin lebih berisiko dan berani membuat keputusan sendiri seringkali tanpa mempertimbangkan kebaikan yang lebih besar, sedangkan pemimpin yang rendah hati akan meminta nasehat dan meluangkan waktu untuk memikirkan konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakannya.

Melihat perubahan dunia yang sudah menglobal habis-habisan ini, seakan tidak ada jarak lagi antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, seakan dunia ini telah menjadi sebuah “Global Village” atau desa dunia, dimana kemajuan telekomunikasi, komunikasi dan informasi menyebabkan konektivitas yang tinggi antara semua manusia sejagad ini, maka hanya pemimpin yang meninggalkan paradigm usang  yang berhasil, dan berkualitas ketika dengan sungguh-sungguh menerapkan Paradigma Kepemimpinan Baru.

Yang diinginkan saat ini dan dimasa yang akan datang, bukan lagi seorang Pemimpin Pahlawan, tetapi yang dirindukan adalah Pemimpin yang Humble!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *