Balairung Gate, Polisi Sudah Periksa 21 Saksi

oleh -6 views

PADANG,SUMBARTODAY-Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumbar, terus menyelidiki pengaduan masyarakat terkait dugaan korupsi terhadap biaya operasional Hotel Balairung. Hingga saat ini, polisi telah memeriksan 21 saksi. Setelah mendalami dokumen dan keterangan saksi, polisi membuka peluang memanggil beberapa kepala daerah untuk dimintai keterangan.

Direktur Reskrimsus Polda Sumbar, Kombes Pol Margiyanta, Selasa (19/2) mengatakan, pihaknya saat ini memang tengah mendalami dokumen dan keterangan saksi yang telah dikumpulkan sebelumnya. Sampai saat ini, belum satu pun kepala daerah kabupaten/kota yang ikut tercatat sebagai pemilik saham Hotel Balairung yang dipanggil sebagai saksi.

“Sementara ini, kami belum ada jadwal dalam waktu dekat untuk memanggil kepala daerah sebagai saksi dalam kasus ini. Sebab, kami masih mendalami dokumen dan keterangan saksi-saksi yang lain,” sebut Margiyanta.

Meski begitu Margiyanta menyebutkan, pihaknya tidak menutup kemungkinan bahwa pemanggilan kepada beberapa kepala daerah akan dilakukan tergantung kebutuhan pemprosesan perkara.

“Sekarang yang sudah kami periksa ada dari staf Pemprov Sumbar; direksi, komisaris, dan pegawai PT Balairung Citrajaya Sumbar selaku BUMD pengelola Hotel Balairung di Jakarta, dan kemudian akan disasar para pemegang saham PT Balairung. Pemegang saham di sini adalah mereka yang hadir saat rapat umum pemegang saham (RUPS),” ucapnya.

Sebelumnya, Rencana Dirreskrimsus Polda Sumbar untuk memanggil sejumlah kepala daerah sebagai saksi dalam pengusutan dugaan korupsi dalam pengelolaan Hotel Balairung, menuai ragam komentar dari beberapa bupati/wali kota. Beberapa di antaranya menyatakan siap bekerja sama, tetapi ada yang menyatakan tidak ikut sebagai pemegang saham di hotel milik Pemprov Sumbar itu.

Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah kepada Haluan mengatakan, tidak ada masalah jika memang pihak kepolisian membutuhkan keterangan dari dirinya sebagai saksi dalam pengusutan dugaan korupsi atas dasar laporan masyarakat tersebut. “Kalau memang ada yang perlu diberikan keterangan, tentu tidak ada masalah. InsyaAllah saya siap untuk datang,” kata Mahyeldi, Senin (11/2).

Dukungan tentang kesiapan jika dipanggil sebagai saksi ikut diutarakan oleh Bupati Pesisir Selatan (Pessel), Hendrajoni. Ia juga menyatakan mendukung penuh langkah tegas kepolisian untuk mengusut sampai tuntas kasus dugaan korupsi tersebut. “Jika memang ada pemeriksaan dari penyidik di Polda, saya siap. Saya akan hadir memberikan keterangan,” ujarnya di Painan. Senin, (11/2).

Sementara itu komentar lain disampaikan Wali Kota Payakumbuh, Riza Falepi, soal rencana Polda Sumbar memanggil para kepala daerah terkait pengusutan Hotel Balairung. Riza menegaskan, bahwa Pemko Payakumbuh tidak terlibat dalam investasi di Hotel Balairung yang dikelola dalam bentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) tersebut.

“Siapa bilang semua kepala daerah? Jangan asal ngomong. Pakai data dong. Dulu memang Pemko Payakumbuh ditawarkan, tetapi saya menolak tawaran itu. Kami tidak mau karena tidak punya uang yang cukup untuk beli saham. Jadi, Payakumbuh tidak punya saham di sana,” ucapnya.

Sebelumnya, terkait pengusutan laporan dugaan praktik korupsi tersebut, Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno telah menyangkal kemungkinan terjadinya praktik korupsi dalam pengelolaan hotel milik Pemprov Sumbar yang dikelola oleh BUMD PT Balairung Citrajaya Sumbar tersebut. Ia menilai, minimnya kontribusi hotel yang terhadap pemasukan daerah, tidak dapat menjadi pijakan untuk memberi cap bahwa hotel tersebut memiliki manajemen yang buruk.

“Terkait dugaan itu, saya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwajib. Saya tidak akan mengintervensi. Namun, kita harus menelaah dulu, inti persoalannya itu di mana. Memang, selama ini Hotel Balairung hampir tidak memberikan deviden untuk kas daerah. Akan tetapi, bukan berarti kita bisa bilang kalau hotel itu merugi,” ujarnya, usai menghadiri Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, Kamis (3/1) lalu.

Secara keuangan, kata Irwan, Hotel Balairung memang tampak merugi. Namun secara bisnis, Hotel Balairung justru dalam keadaan untung. Hal itu dapat terlihat dari tingkat okupansinya yang terbilang tinggi, yakni selalu di atas 60 persen dari total kamar yang tersedia.

“Nah, jadi kenapa secara keuangan kelihatannya merugi? Pertama, Gedung Balairung yang sekarang menjadi hotel itu, saat awal dibangun tahun 2007 dimaksudkan untuk menjadi gedung kantor dengan investasi besar. Seperti halnya kalau kita bangun rumah sendiri, dibangun sebagus mungkin. Dindingnya tinggi, temboknya tebal, lantainya tebal, dan sebagainya. Ternyata pada 2009, lewat Perda, diubah menjadi hotel,” kata Irwan. (Red)

(sumber : HarianHaluan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *