Fadli Zon Buat Polling Di Twitter, Hasilnya Menjengkelkan Pihak Jokowi

oleh -16 views

PADANG,SUMBARTODAY-Ada banyak cara untuk mengetahui kecenderungan masyarakat dalam memilih calon pemimpinnya. Baik survey, polling dan lainnya.

Nah, Wakil Ketua DPR, Fadli Zon melakukan polling di twitter mengenai pilihan masyarakat soal siapa calon presiden yang akan dipilih jika Pilpres dilakukan hari ini. Hasilnya, bisa menjengkelkan pihak Jokowi.

Sebab, polling yang dilakukan selama 6 jam lebih itu dan melibatkan 8,957 pengguna twitter menginginkan Prabowo Subianto sebagai presiden.

Angka pastinya, 56 persen justru memilih Prabowo Subianto, 26 persen memilih Joko Widodo, dan 19 perse menjawab memilih yang lain. “Saya baru melakukan sejumlah polling opini publik di twitter. Ketika saya tanyakan Jika Pilpres hari ini, siapa yang akan dipilih, maka 56% justru memilih Prabowo Subianto, 26% memilih Joko Widodo, dan 19% menjawab memilih yang lain,” ungkap Fadli Zon.

Sebelumnya Fadli juga membuat polling, tentang bagaimana ekonomi 3 tahun terakhir. Hanya 24% yang menyatakan maju, sementara 68% menyatakan kecewa dan semakin buruk. Dan hasil ini juga senada dengan hasil sejumlah lembaga survey, yang mengajukan pertanyaan yang sama.

“Sering kita temukan, lembaga survey berupaya membangun kesimpulan hubungan antar variable yang tidak solid. Dalam penelitian ini dikenal dengan istilah spurious correlation. False presumption that two variables are correlated when in reality they are not. Survey seperti itu, alih-alih ingin menghadirkan kesimpulan objektif, justru sebenarnya sedang merekayasa kesimpulan politik.”

Wakil Ketua Umum Gerindra ini juga mencatat sejumlah survey di AS, yang banyak dilakukan oleh Gallup dan PEW Research Group. Pada 2016, kedua lembaga tersebut mengungkapkan bahwa Satisfaction has little impact on vote choice once presidential approval is taken into account. Tingkat kepuasan memilki korelasi yang lemah dengan elektabilitas.

“Contoh terbaru bisa kita lihat pada fenomena pilkada Jakarta. Tingkat kepuasan terhadap Ahok mencapai 70%, namun tingkat elektabilitas Ahok hanya 42%. Sehingga, mengaitkan tingkat elektabilitas semata-mata dengan tingkat kepuasan, bisa jadi false presumption.”

Lebih lanjut, bagi seorang incumbent, tingkat elektabilitas dibawah 50% justru mengkhawatirkan. Artinya lebih dari 50% tidak memilihnya. Dibandingkan dengan figur incumbent di negara lain, elektabilitas Jokowi justru terbilang rendah. Putin sebagai incumbent misalnya, sejak 2014 tingkat approvalnya mencapai 87%.

Sehingga, untuk melihat siapa yang akan jadi pemenang presiden di 2019 nanti, harus berdasarkan parameter yang jelas, solid, dan logis. “Publik kita kini sudah terbiasa dengan survey, dan semakin cerdas dalam memverifikasi kesimpulan yang disodorkan,” tandasnya. (Red)

(sumber Telusur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *