Bank Nagari Harus Berbenah, Jika Tidak, Suatu Saat Akan Kalah Kliring

oleh -1.016 views

PADANG,SUMBARTODAY– Dikutip dari berita tahun 2016 yang lalu, PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat (Bank Nagari) melaksanakan Penawaran Umum obligasi Senior VII senilai Rp500 miliar dan Sukuk Mudharabah II Bank Nagari Tahun 2015 Rp100 miliar dengan kupon 10,6-11,1 persen.

Perseroan telah memperoleh hasil pemeringkatan efek dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dengan rating idA (single A) untuk obligasi dan idAsy (single A sy) untuk sukuk mudharabah.

Pada aksi ini, perseroan menunjuk PT Mandiri Sekuritas dan PT Danareksa Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi.

Adapun, masa penawaran awal (book building) dilaksanakan mulai tanggal 8-17 Desember 2015. Kemudian, masa penawaran umum 4-5 Januari 2016. Pembayaran investor 7 Januari 2016. Sehingga pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dilakukan pada tanggal 11 Januari 2016.

Sekedar informasi, Bank Nagari pernah menebitkan ibligasi pada tahun 1989. Hingga saat ini perseroan telah menerbitkan obligasi sebanyak 7 kali.

Bank Indonesia sebagai bank sentral dapat memberikan persetujuan kepada bank lainnya (bank umum) untuk melakukan kegiatan kliring.

Seberapa pentingkah kegiatan kliring tersebut dalam dunia perbankan? Apa jadinya jika kegiatan ini tidak diadakan? Apakah penyelesaian utang-piutang antarbank akibat pembayaran giral tidak bisa diselesaikan jika tidak ada lembaga kliring?

Definisi kliring adalah suatu kegiatan pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antarbank baik atas nama bank maupun nasabah yang hasil perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu (Penjelasan Pasal 16 UU No. 23 Tahun 1999). Dalam penjelasan lanjutannya, dikatakan bahwa sistem kliring antar bank meliputi sistem kliring domestik dan lintas negara.

Dari definisi tersebut, dapat dipastikan kegiatan kliring ini adalah salah satu kegiatan yang sangat penting bagi dunia perbankan.

Tujuan diselenggarakannya kegiatan kliring itu sendiri adalah untuk mempermudah transaksi pembayaran yang aman dan cepat.

Baca: Bank Nagari Akan Disegel Pemilik Lahan Pasa Nagari Banda Buek

Sebagai contoh misalnya terjadi suatu transaksi bisnis antara A dan B yang melibatkan jumlah uang yang cukup besar dan keduanya adalah nasabah bank yang berbeda. Dapat dipastikan bahwa keduanya pasti merasa ragu-ragu untuk bertransaksi dengan menggunakan uang tunai, dengan alasan keamanan. Cara yang mudah untuk melakukan oleh keduanya adalah melakukan pembayaran dengan cek/bilyet giro dengan mekanisme kliring sebagai berikut:

  • A memberikan cek/bilyet giro bank BA ke B;
  • B menagih lewat bank BB di mana B sebagai nasabah.

Proses yang terjadi di Bank BA dan BB akan berlangsung sebagai berikut:

  • Setelah bank BB menerima warkat cek/bilyet giro, maka warkat tersebut akan dibawa dalam pertemuan antar bank di suatu tempat yang ditunjuk oleh Bank Sentral dan penyerahannya kepada bank BA;
  • Setelah menerima cek/bilyet giro dari bank BB, maka bank BA akan memeriksa kebenaran warkat serta saldo nasabahnya. Bila tidak ada masalah, maka bank BA akan memotong rekening A sebesar nilai cek/bilyet giro dan mengirimkannya ke bank BB;
  • Setelah mendapatkan kiriman dari bank BA, maka bank BB akan mengkreditkan rekening B sebesar nilai yang berhak diterimanya.

Dengan cara di atas, maka B akan menerima uang pembayaran dengan mudah dan aman.

Baca : OJK Berperan Mengatur Sistem Keuangan, OJK Sumbar Bukan Juru Bicara Bank Nagari

Cara lain yang dapat ditempuh oleh B setelah menerima cek dari A adalah dengan cara mendatangi bank BA untuk mencairkan cek tersebut, namun cara ini memiliki risiko bagi B karena dia akan menerima dan membawa pulang uang tunai, atau dia akan kena biaya transfer bila B akan memasukkannya ke rekeningnya di bank BB.

Sedangkan jika dilakukan dengan bilyet giro, maka B tidak bisa menerima uang tunai melainkan harus memindahbukukan pada saat jatuh tempo sesuai dengan instruksi dalam bilyet giro yang dikeluarkan oleh A.

Mekanisme Kliring

Dalam pelaksanaannya, kliring harus dihadiri oleh peserta-peserta yang terdiri dari Bank Indonesia, bank-bank umum, dan kantor cabang-cabang. BI atau bank umum yang ditunjuk sebagai penyelenggara oleh Bank Indonesia, harus yakin bahwa para peserta kliring mempunyai jaminan kliring pada bank penyelenggara, karena hal tersebut adalah syarat utama bagi para peserta kliring untuk mengikuti proses kliring. Dalam proses kliring biasanya ada pihak-pihak yang mempunyai “utang” dan ada pihak-pihak yang mempunyai “piutang”. Pihak yang mempunyai “utang” adalah bank yang mendapat tagihan dari bank lainnya.

Sepanjang tidak ada penolakan dari bank yang bersangkutan mengenai tagihan yang masuk kepadanya, bank penyelenggara akan mengurangi saldo rekening bank tersebut sebesar jumlah tagihannya. Peristiwa ini biasa disebut dengan istilah kliring masuk. Sedangkan pihak yang mempunyai “piutang” adalah bank yang melakukan tagihan kepada bank lainnya. Sama dengan kliring masuk, maka sepanjang tidak ada penolakan dari pihak lawan, pihak penyelenggara (dalam hal ini Bank Indonesia) akan menambah rekening bank yang bersangkutan sebesar jumlah tagihannya. Peristiwa ini biasa disebut dengan istilah kliring keluar.

Baca juga : Kejati Sumbar Terus mendalami kasus korupsi Bank Nagari

Perhitungan kliring yang melibatkan dua bank, penyelesaian utang-piutangnya akan dilakukan dengan mudah dan cepat, namun bila melibatkan banyak bank prosesnya membutuhkan waktu yang cukup lama dan cenderung lebih rumit. Sehingga penyelesaiannya perlu dilakukan pada suatu lembaga yang yang merupakan tempat untuk memperhitungkan utang-piutang antarbank yang terlibat dalam proses kliring yaitu Lembaga Kliring.

Menang dan Kalah dalam Proses Kliring

Tidak dipungkiri bahwa dalam proses kliring dapat terjadi menang atau kalah. Peristiwa menang kliring artinya bank yang bersangkutan pada akhir masa kliring memiliki tagihan keluar (kliring keluar) lebih besar dari tagihan yang masuk (kliring masuk). Sedangkan untuk bank yang tagihan masuknya lebih besar dari tagihan keluarnya dikatakan sebagai kalah kliring. Atau dapat juga dikatakan jika jumlah mutasi kredit lebih besar dari jumlah mutasi debet dikategorikan sebagai menang kliring, sedangkan jika jumlah mutasi debet lebih besar dari jumlah mutasi kredit dapat dikaterogikan sebagai kalah kliring.

Di atas kita tahu bahwa bank-bank peserta kliring dapat saja melakukan tolakan kliring dengan alasan-alasan yang mungkin terjadi sebagai berikut:

  1. kesalahan administratif seperti warkat yang sudah kedaluarsa (untuk bilyet giro, terjadi apabila warkat tersebut sudah melebihi tanggal jatuh temponya), belum waktunya ditarik, endosemen tidak menuruti peraturan, bea meterai belum dipenuhi, tanda tangan tidak sama dengan specimen atau meragukan, perbaikan atau coretan tidak ditandatangani oleh penarik, salah pengisian pada kolom-kolom yang tersedia, antara nomor dan nama pemegang rekening tidak sesuai;
  2. kesalahan catat seperti penulisan angka untuk jumlah tidak sama dengan penulisan jumlah dalam huruf;
  3. terjadi pemblokiran oleh pihak-pihak yang berwenag;
  4. saldo rekening nasabah yang tidak cukup (Bila terjadi saldo nasabah tidak cukup, bank akan memberikan peringatan kepada nasabahnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dengan memberikan tembusan kepada Bank Indonesia. Bila keadaan tersebut berulang kembali, maka nama nasabah tersebut akan masuk dalam daftar hitam bank-bank peserta kliring sampai masalahnya selesai menurut peraturan yang berlaku).

Akibat terjadinya penolakan kliring, maka konsekuensi yang timbul adalah pengembalian warkat (retur warkat) yang ditolak yang bersifat retur masuk(pengembalian warkat kliring kepada bank penagih, hal ini terjadi karena bank tertagih tidak mau membayar tagihan karena satu dan lain sebab seperti yang sudah diuraikan di atas) maupun retur keluar.

Disarikan dari buku Sistem Moneter dan Perbankan di Indonesia, Rimsky K. Judisseno, 2005

dibaca juga: TIM P2BB (KAN Lubuk Kilangan) Pertanyakan Terbitnya Kartu kuning Bank Nagari

Dikatakan oleh pak De (panggilan akrap ketua LSM Tipikor Sumbar), “kita sudah sama sama mengetahui bahwa Bank Nagari dalam kondisi banyak masalah, setiap tahun Bank Nagari selalu dikatakan beruntung, namun setelah Bank Nagari bagikan Deviden kepada pemegang saham, tidak lama setelah itu Bank Nagari minta tambah modal, hal itu sudah dari berjalan beberapa tahun yang lalu, tahun 2019 ini kita saksikan lagi apa jurus yang dipakai oleh para direksi, semoga mereka tidak kaehabisan akal, yang paling penting cepat menyadari jika ada kebohongan prihal laporan jangan diteruskan,” kata Pak De kepada Media ini

Ditambahkan oleh Pak De,”Runtuhnya sebuah Bank adalah karena ketidak percayaan masyarakat terhadap Bank tersebut, akhirnya lama kelamaan selalu dirundung masalah, akibat ketidak pedulian para pemimpinnya, bisa menyebabkan sebuah Bank KALAH KLIRING, Bank Nagari harus berhati hati terhadap resiko ini ulas PAk De mengakhiri.
(sumber dikutip dari Viva.co id dan sumber lain)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *