Ini orang-orang tangan kanan Ali Moertopo (Edisi 1)

oleh -39 views

PADANG,SUMBARTODAY– Riwayat Tangan Kanan Ali Moertopo, Dia berkiprah di balik senyapnya operasi khusus telik sandi. Terlibat dalam serangkaian rekayasa politik tingkat tinggi di era Orde Baru.

Letjen (Purn.) Suryo Prabowo (kiri) bersama mantan perwira Operasi Khusus (Opsus) Kolonel (Purn.) Aloysius Sugianto. Foto: @suryoprabowo2011/Instagram.

Sebuah cuitan bersambung atas nama @abirekso mengungkap siapa sosok ayah Johannes Suryo Prabowo. Sebagaimana diketahui, Suryo Prabowo merupakan politisi loyalis Prabowo Subianto yang belakangan getol menggugat hasil pemilu dalam laman media sosialnya. Sebelum menggeluti dunia politik, Suryo Prabowo adalah seorang militer yang pernah menduduki sejumlah posisi penting.

Jabatan terakhirnya Kepala Staf Umum TNI (2011-2012) dan pensiun dengan pangkat Letnan Jenderal.
Menurut @abirekso, karier militer Suryo Prabowo tak lepas dari peran sang ayah, Rakimin Ngaeran, perwira asal Madura yang merupakan tangan kanan sang master Intelijent Ali Moertopo.

Rakimin Ngaeran banyak terlibat dalam serangkaian operasi khusus intelijen. Beberapa diantaranya seperti penyusupan rahasia ke pejabat tinggi Malaysia dan menjalin penggalangan Darul Islam (DI) untuk menghantam PKI.

Pada 1965, Ngaeran disebut mengepalai badan intelijen cikal bakal Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin). Dalam beberapa catatan, Rakimin Ngaeran memiliki banyak kedok intelijen. Dia juga dikenal dengan sebutan Rakimin, dengan fungsi dan peran yang lain. Rakimin banyak dikenal dalam komunitas sipil (non-militer). Dilingkungan militer dia dikenal sebagai Ngaeran. Lantas siapa sesungguhnya Rakiman Ngaeran ini? Mari kita lacak catatan sejarahnya.

Rakimin Ngaeran Merupakan teman dari Jendral Ahmad Yani
Nama Ngaeran setidaknya terjejaki sebagai salah seorang kadet tentara sukarela Jepang atau PETA (Pembela Tanah Air). Dari Magelang, Ngaeran mengikuti pendidikan lanjutan untuk menjadi perwira Sodan-cho (setara letnan) di asrama PETA Bogor.

Di asrama tersebut, Ngaeran tinggal sekamar dengan Ahmad Yani dan Sarwo Edhie Wibowo. Mereka sebenarnya pernah berada dalam satu pelatihan reinseitai (pelatihan kepemimpinan/kepanduan PETA) di Magelang namun belum saling mengenal. Dari ketiganya, Ngaeran punya postur tubuh paling jangkung. Sehingga, kalau lagi tidur, dia selalu berada di tempat paling pojok

“Diantara mereka bertiga pemuda Ngaeran tingginya lebih dari Yani, maka Ngaeran ditempatkan paling ujung kemudian Yani, dan disebelahnya menyusul tempat tidur Sarwo Edhie,” tulis Amelia Yani dalam biografi Ahmad Yani, Profil Seorang Prajurit TNI.

Regu Yani ini dianggap sebagai siswa yang cukup baik. Mereka tak lagi dituntut latihan merangkak tetapi lebih sering menjadi pembantu pelatih. Di kemudian hari, Yani, Sarwo, dan Ngaeran merintis nama dengan jalan sejarahnya masing-masing. Ahmad Yani menjadi perwira tinggi yang cemerlang namun mengalami akhir hidup yang tragis. Sarwo Edhie sempat melejit karena prestasinya menumpas PKI di Jawa pasca 1965 meski akhirnya tersisih di masa Orde Baru. Sementara Ngaeran, kiprahnya agak misterius.

Rakimin Ngaeran merupakan tangan kanan Ali Murtopo
Sepak terjang Ngaeran dalam operasi intelijen mulai terendus ketika Indonesia bermasalah dengan pembentukan Federasi Malaya. Saat itu, tim Operasi Khusus (Opsus) Kostrad yang dipimpin oleh Ali Moertopo ingin melobi Tun Abdul Razak, Menteri Pertahanan Malaysia. Untuk itu, dipakailah jasa Des Alwi yang dapat memperantarai kedua belah pihak. Misi ini terbilang rahasia karena bertujuan mengakhiri konflik tanpa sepengetahuan Presiden Sukarno.

Pertemuan dengan Des Alwi berlangsung pada pertengahan Juli 1965 di Hotel Amarin, Bangkok, Thailand. Julius Pour mencatat : Tragedi Sang Loyalis, Des Alwi dihadapkan ke Ali Moertopo yang sudah menunggu di kamar, bersama dua petugas opsus: Ngaeran dan Benny Moerdani. Dari pertemuan itulah kemudian pertemuan lanjutan dengan petinggi Malaysia terjalin.

Pada 1969, aksi intelijen Opsus berlanjut dalam penyelenggaran Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Irian Barat (kini Papua). Komandan Opsus, Ali Moertopo bersama pembantu-pembantu terdekatnya turun untuk memenangkan Pepera lewat berbagai cara.Mereka antara lain Letkol Ngaeran, Letkol P. Soedarto, dan Letkol Soegianto. Perwira-perwira intel ini berperan dalam mengerahkan mahasiswa dan pemuda dari Jawa ala Peace Corps untuk menggalang rakyat Papua bergabung ke dalam RI.

“Pepera berhasil. Irian Jaya tetap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari RI, ” tulis Krissantono dalam artikel “Ali Moertopo dan Orde Baru” termuat di edisi khusus 20 tahun majalah Prisma tahun 1991. Siapa nyana, Pepera ternyata sarat dengan tipu-tipu dan kecurangan.

Masih dalam Opsus, Ngaeran juga terlibat dalam penggalangan sisa-sisa pemberontak Darul Islam. Sejak 1965, Ali Moertopo menggandeng kelompok radikal ini guna  menumpas habis PKI. Mereka kemudian menamakan diri sebagai Komando Jihad (Koji).  Ken Conboy, pakar intelijen mencatat, pembinaan Opsus terhadap Koji punya tujuan politik jangka panjang.

“Opsus melihat kesempatan untuk menghidupkan kembali kelompok kanan berlatar agama ini. Ini dikarenakan Ali Moertopo sedang mencari-cari kelompok-kelompok pemilih yang akan mendukung Golkar – mesin politik Orde Baru – dalam pemilihan umum 1971 mendatang,” tulis Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia.

Dalam susunan penyelenggara pemilu yang termuat di risalah Pemilihan Umum 1971, nama Letkol Ngaeran benar tercatat sebagai kepala biro pengadaan. Sebagai imbalan, Opsus melalui rekanannya di Pertamina memberi hak distribusi minyak tanah kepada kelompok Koji. Misi Opsus berhasil. Golkar menang telak dalam pemilu perdana rezim Soeharto itu.

Baca juga:  Di lingkaran utama Opsus, Ngaeran tampaknya menjadi salah satu orang penting. Heru Cahyono dalam Pangkopkamtib Jenderal Soemitro Dan Peristiwa 15 Januari ’74 mencatat, sejumlah perwira berperan menangani bidang tertentu. Kolonel Sumardan mengurusi soal teknis operasi. Kolonel Pitut Soeharto ahli dalam penggalangan kelompok Islam. Sementara itu, Kolonel Ngaeran bersama Kolonel Giyanto  bagian “grasak-grusuk” mencari uang (pendanaan).

Maka tak heran, ketika Taman Mini Indonesia Indah yang disebut sebagai proyek ambisius Ibu Tien Soeharto, dibangun, Ngaeran menjadi penasihat mewakili Opsus. (Bersambung)

LB Murdani penjaga setia penguasa orde baru.
Dia menjaga Soeharto seperti menjaga dirinya sendiri. Termasuk mengamankan seluruh kepentingan presiden.

Saat Presiden Soeharto dihadapan jenazah Benny Moerdani yang wafat pada 29 Agustus 2004.  “Benny: Tragedi Seorang Loyalis”.
Benny Moerdani menelan pil pahit setelah Presiden Soeharto mencopotnya sebagai Panglima ABRI.

Setelah menyingkirkan Benny, Soeharto mengalihkan tangan kepercayaannya kepada kelompok politisi. Dia pun mulai merapat ke kalangan Islam untuk memantapkan kekuasan. Hingga Soeharto lengser, hubungannya dengan Benny tak pernah kembali seperti semula: renggang, dingin, dan berjarak.

Pada 29 Agustus 2004, Soeharto dan Benny Moerdani kembali bertemu. Namun dalam pertemuan kali ini, tak ada pembicaraan. Benny yang dulu tersohor karena sangar hanya terbujur kaku. Peti mati menjadi pembaringannya. Di hari minggu itu, Si Raja Intel menghembuskan nafas terakhir pada usia 71 tahun.

Di hadapan jenazah Benny, Soeharto yang telah uzur menundukan wajah seraya melantunkan doa. Itulah penghormatan terakhirnya untuk sang pelindung setia. Mereka berdamai di senjakala kehidupan.

Bertugas menjaga keamanan Presiden.
Soeharto adalah atasan langsung Benny Moerdani dalam operasi militer pembebasan Irian Barat. Ketika itu, Benny berpangkat mayor dan berasal dari satuan RPKAD (kini Kopassus). Sementara Soeharto, menjabat Panglima Komando Mandala. Benny diterjunkan ke Merauke memimpin Operasi Naga yang hampir merenggut nyawanya dalam misi infiltrasi. Dari sinilah pengabdian Benny kepada Soeharto bermula.

Kerjasama Soeharto-Benny terus berjalin pada misi selanjutnya: konfrontasi ganyang Malaysia. Soeharto merancang operasi rahasia untuk menggagalkan perang dengan Malaysia. Benny yang bertindak sebagai perwira intelijen bersama Ali Moertopo berperan dalam lobi-lobi diplomasi. Operasi khusus (Opsus) ini berujung pada pemulihan hubungan diplomatik kedua negara.

Semasa naik tampuk kepresidenan, Soeharto tak melupakan kecakapan Benny dalam bertugas. Saban kali bepergian ke luar negeri, Soeharto selalu meminta Benny mendampinginya. Benny didatangkan secara khusus untuk menjadi penasihat keamanan presiden. Pengawalan semacam ini jadi rutinitas di kemudian hari sekalipun Benny berada di Kuala Lumpur ataupun di Seoul, Korea Selatan sebagai konsulat.

“Ini berarti Soeharto sejak lama sudah mengenal dan mengakui keandalan Moerdani sebagai security officer,” tulis Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto.

Menurut Salim Said, Benny memandang Soeharto layaknya seorang kawula melihat rajanya. Kesibukan “melindungi” penguasa Orde Baru itu tetap dilakoni Benny bahkan saat di puncak kariernya memimpin lembaga intelijen negara merangkap panglima ABRI. Di mata sejumlah jenderal senior, Benny lebih condong menampilkan diri sebagai kepala bodyguard buat Soeharto dan keluarganya.

Presiden Soeharto melantik Jenderal Benny Moerdani menjadi panglima ABRI. dalam cerita “Biografi Benny: Tragedi Seorang Loyalis”

Julius Pour dalam biografi Benny: Tragedi Seorang Loyalis mengungkapkan rupa-rupa keputusan kontroversial Benny saat menjadi pengawal Soeharto. Dulu, setiap kali kepala negara lain berkunjung ke Indonesia, Soeharto menyongsong langsung kedatangannya. Sambutan ini disemarakkan dengan upacara militer dan pawai pasukan. Begitu kekuasaan ABRI dalam genggamannya, Benny mengubah tradisi tersebut. “Pak Harto tak perlu datang ke bandara, upacara penghormatan militer juga tak perlu satu batalion, cukup satu kompi Paspampres,” tegas Benny.

Begitu juga mengenai penggunaan pintu keamanan yang selalu mengikuti perjalanan Soeharto. Peralatan tersebut dipakai pada acara di Istana maupun luar Istana setelah Benny memutuskan. Kemanapun Soeharto melangkah, pintu keamanan harus ada. Semua personil, tanpa kecuali termasuk menteri, harus melewati pintu keamanan. “Dengan demikian semua yang ada di sekitar Presiden Soeharto dipastikan sudah dalam keadaan steril,” tulis Julius Pour.

Itu semua dilakukan Benny semata-mata demi keselamatan pribadi Soeharto. Memang agak terkesan berlebihan. Konon, Ibu Tien Soeharto pernah mengeluhkan aksi pengamanan Benny yang dianggap mengganggu privasi keluarga.

Melindungi citra Prsiden Soeharto
Selain keamanan fisik, nama baik sang presiden pun jangan sampai kena usik. Benny Moerdani lagi-lagi memikul tanggung jawab ini. Di era Soeharto berkuasa, metode penegakan hukum pernah dilakukan dengan cara sadis: Penembakan Misterius (Petrus).

Petrus dialamatkan kepada preman ataupun pelaku kriminal di sejumlah kota. Ibarat pembunuh berdarah dingin, mereka yang dicurigai –biasanya bertato– akan menghadapi ajal tanpa melewati proses pengadilan. Laman utama suratkabar pada awal 1980 acapkali memberitakan tentang pentolan penjahat yang tewas mengenaskan. Mayat mereka ditemukan dalam keadaan tertembak, tangan terikat, ataupun diringkus dalam kardus.

Presiden Soeharto sebenarnya tak pernah mengetahui tentang Petrus. Benny Moerdani, kata Jusuf Wanandi dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998, sengaja menutupi peristiwa berdarah ini agar Soeharto lepas dari tanggung jawab. Benny membungkam perihal Petrus kepada siapapun

“Ia tahu bahwa ini sebuah preseden buruk dan dia tahu juga bahwa sesuatu yang buruk seperti ini sebaiknya tak diungkap,” tulis Jusuf Wanandi.

Namun dalam otobiografinya, Soeharto justru mengatakan bahwa dirinya mengetahui pembunuhan-pembunuhan itu. “Itu untuk shock therapy, terapi goncangan,” aku Soeharto kepada Ramadhan K.H. Menurut Soeharto, pembunuhan demikian bisa dibenarkan untuk memutus rantai kriminalitas.

“Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas perikemanusiaan itu, ujar Soeharto dalam Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. “Maka kemudian meredalah kejahatan-kejahatan yang menjijikan itu.”

Menurut Jusuf Wanandi, Benny berusaha melindungi Soeharto. Alih-alih berterimakasih, Soeharto sendiri yang kemudian ingin mendapatkan pengakuan atas jasa Benny. “Benny terperangkap di tengah,” kata Jusuf. “Ia berusaha melayani atasannya dengan setia, tetapi ia kalah pamor.”

Benny, Tragisnya Loyalis Soeharto
Jenderal Benny Moerdani hendak menyampaikan laporan kepada Presiden Soeharto di Bina Graha.

Benny Moerdani boleh jadi tipikal intel sejati. Ia selalu menampilkan ekspresi wajah yang dingin, tanpa senyum. Irit bicara, tanpa basa-basi. “Pokoknya angkerlah, ha-ha-ha…,” kata Bambang Wiwoho, wartawan Suara Karya pada 1970-an, saat berbincang dengan detikX, Rabu, 14 September 2016.

Keangkeran Benny bertambah beberapa waktu setelah operasi pembebasan para sandera di Bangkok pada akhir Maret 1981. Dalam operasi yang populer disebut Operasi Woyla itu, duet Yoga Soegama-Benny Moerdani sukses membebaskan sandera dalam tempo empat hari. Selepas itu, Wiwoho mengaku menyarankan kepada Jenderal Yoga selaku Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin), untuk mengubah prioritas operasi intelijen. Sementara sebelumnya lebih banyak menggunakan taktik berbau SARA, selanjutnya pendekatan ekonomi harus lebih diprioritaskan.

Yoga menerima baik saran tersebut, tapi Benny sebagai Wakil Kepala Bakin sepertinya kurang setuju. Beberapa kali Wiwoho bertemu di ruangan Yoga, ekspresi wajah Benny terhadapnya menjadi super-angker. “Dia seperti mau menelan saya saja, ha-ha-ha…,” ujar Wiwoho.

Kalau saya tidak percaya pada you, tidak akan you sampai di tempat ini.”
Bagi wartawan senior Salim Haji Said, yang kini lebih dikenal sebagai pengamat militer, keangkeran Benny tak pudar meski bertahun-tahun tak lagi menjadi penguasa dunia intelijen. Ketika dia menyapa di sela-sela acara timbang terima Kepala Staf TNI Angkatan Darat, dari Jenderal R. Hartono kepada Jenderal Wiranto, Benny malah menukas dengan ketus, “Whom you are working for?” (Kau kerja untuk siapa?) Tapi, dua hari kemudian, Salim diberi waktu untuk mewawancarainya di kantor CSIS di Tanah Abang, Jakarta.

“Pagi itu, segala doa untuk jumpa pembesar yang pernah diajarkan Ayah (almarhum) saya baca dengan khusyuk. Harus saya akui, hari itu saya masuk ke gedung CSIS dengan rasa takut,” tulis Salim dalam buku Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto.

Ketika pintu diketuk, Benny sendiri yang membukakan pintu. Wajahnya datar, tanpa emosi, dan pastinya tanpa senyum. “Pak Benny, saya itu takut kepada Anda.” Spontan Benny menukas, “Kalau saya tidak percaya pada you, tidak akan you sampai di tempat ini.”

Presiden Soeharto melantik Jenderal Benny Moerdani sebagai Panglima ABRI, 29 Maret 1983.
Benny dan Soeharto bercengkerama di Istana Negara, Jakarta. Leonardus Benyamin Moerdani mengawali karier sebagai prajurit komando. Dia pernah ditugasi Jenderal Achmad Yani memimpin Operasi Naga, menyusup ke Papua (Irian Barat). Juga diminta merancang aksi untuk menangkal penyusupan pasukan Inggris di Kalimantan. Atas prestasi Benny di Papua itu, Presiden Sukarno menyematkan Bintang Sakti, lalu menawarinya masuk resimen Tjakrabirawa, pengawal presiden. Benny juga sempat dijodohkan dengan putrinya, Megawati. Dia menolak kedua tawaran tersebut.

Beberapa tahun kemudian, karena satu hal, justru Yani yang menyingkirkan Benny dari Korps Baret Merah. Dia diminta bergabung dengan Baret Hijau di Kostrad di bawah komando Soeharto. Saat memimpin Operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat, Soeharto sudah mengenal Benny sebagai komandan tim Operasi Naga. Di Kostrad pula Benny kembali berhubungan dengan Ali Moertopo, perwira intelijen yang dikenalnya saat di Irian Barat. Pada awal Orde Baru, Ali menjadi salah satu tangan kanan Soeharto dalam membereskan berbagai kemelut politik di Tanah Air.

Man, koki lu yang dulu sering lu tabokin sekarang kerja sama gua.”
Di Kostrad-lah kemampuan intelijen Benny mulai diasah dan diarahkan. “Medan perang”-nya mula-mula adalah Malaysia, lalu Seoul, Korea Selatan. Pasca-Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974, Benny kembali ke Jakarta dari Seoul untuk menangani masalah-masalah intelijen hankam. Dia juga terlibat dalam operasi militer ke Timor Timur. Beberapa bulan kemudian, Presiden Soeharto mempercayainya untuk memimpin lembaga intelijen strategis, Intel Kopkamtib, dan merangkap Wakil Kepala Bakin. Sementara itu, peran dan pamor Ali Moertopo sebagai orang intelijen memudar.

Pada akhir Maret 1981, Benny sukses memimpin tim antiteror Kopassus melumpuhkan para pembajak pesawat Garuda di Bangkok, Thailand. Pada 29 Maret 1983, Soeharto mempromosikannya menjadi Panglima ABRI dan Panglima Kopkamtib. Sejarawan Rushdy Hoesein menyebut pencapaian Benny itu termasuk luar biasa, karena lazimnya petinggi ABRI adalah orang tempur, bukan intelijen. “Dia memang perwira hebat dan sangat loyal kepada Pak Harto,” ujarnya. Selain loyal, Benny punya kesetiaan bak seorang samurai.

Sebagai intelijen yang pernah dibina Ali Moertopo, Rushdy melanjutkan, Benny punya kemampuan mem-blow-up cerita yang sifatnya fiktif. Rushdy mencontohkan, pada suatu waktu saat kongko bersama Benny dan Jenderal Herman Sarens Soediro, sekonyong-konyong sang perwira intel itu melontarkan kisah fiktif. “Man, koki lu yang dulu sering lu tabokin sekarang kerja sama gua,” ujarnya kepada Herman Sarens. Setelah Benny pergi, giliran Herman yang ngedumel. “Ah, kapan saya pernah tabokin koki.”

Salim Haji Said saat mewawancarai Panglima ABRI Benny Moerdani, November 1984.
Kian moncernya karier dan kuasa anak pasangan Raden Bagus Moerdani dan Yohana Roeche itu justru kian tak disenangi sebagian kalangan Islam. Dia kerap dituding sebagai aktor intelektual dalam berbagai peristiwa berdarah yang mengorbankan umat islam, seperti dalam Tragedi Tanjung Priok pada 1984. Juga arsitek pembumihangusan preman di seluruh pelosok Tanah Air lewat Petrus (Penembakan Misterius).

“Itu untuk shock therapy supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya,” kata Soeharto membelanya dalam otobiografi Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya yang ditulis sastrawan Ramadhan K.H.

Belakangan, loyalitas Benny kepada Soeharto tak sepenuhnya membabi buta. Seperti halnya yang disampaikan Yoga, Benny pun akhirnya mafhum bahwa kiprah anak-anak sang presiden dalam berbisnis menumbuhkan iklim tak sehat. Hingga pada suatu hari, Benny memberanikan diri untuk menyampaikannya langsung kepada Soeharto di sela-sela bermain biliar di Cendana. Sang presiden pun murka.

“Wah bapake ketoke nesu banget. Saya pasti selesai, hanya akan sampai di sini…,” keluh Benny kepada Laksamana Sudomo. Feeling sang intel sepenuhnya benar. Beberapa saat menjelang Sidang Umum MPR, Benny dicopot dari jabatannya sebagai Panglima ABRI/Panglima Kopkamtib. Berkat lobi mantan Pangkopkamtib Sudomo, yang juga dikenal dekat dengan Soeharto, sang intel tak sepenuhnya dibuang. Dalam kabinet 1988-1993, Benny ditempatkan sebagai Menteri Pertahanan.

“Saya tahunya kembali dijadikan menteri ya baru sesudah mendengar pengumuman di radio. Sebab, saya sudah tidak pernah dihubungi Pak Harto, juga tidak lewat telepon sejak saya tak lagi menjadi Panglima ABRI,” tutur Benny dalam buku Tragedi Seorang Loyalis karya Julius Pour.

Beny Murdani adalah seorang penganut Khatolik
Cerita menarik saat Jenderal Sumitro memarahi juniornya Jenderal Benny Moerdani. Saat itu Benny Moerdani menjadi Panglima ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, kini diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia atau TNI). Benny meninjau latihan militer di Jawa Timur, namun dia tidak sowan pada Kiai As’ad, seorang ulama terkenal di Asem Bagus.

Benny membela diri saat dimarahi Jenderal Mitro. “Saya bukan Muslim,” katanya.
Jenderal Mitro langsung menegurnya. “Ben, kau Panglima ABRI bukan Panglima Katolik.”
Hal itu dikisahkan wartawan senior Salim Said dalam buku ‘Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian’ yang diterbitkan Mizan tahun 2013.

Entah karena teguran itu, atau bukan, tapi setelah peristiwa Tanjung Priok tahun 1984, Jenderal Benny Moerdani jadi sering blusukan ke pesantren. Benny menjadi dekat dengan beberapa kiai.

Dalam buku ‘Tragedi Seorang Loyalis’, Julius Pour menuliskan Benny Moerdani disambut baik oleh para kiai. Benny ingin meluruskan rumor bahwa TNI tak pernah memusuhi Islam.

Saat Benny datang, Kiai Achmad Siddiq memeluk Benny. Begitu juga Kiai Mahrus Ali dari Pondok Pesantren Lirdoyo, Kediri.

“Saya coba-coba undang Pak Benny, Kok ya mau datang. Yang ngundang itu saya, kalau saya yang jenderal, saya belum tentu mau datang,” puji Kiai Mahrus saat Benny berkunjung ke Kediri.

Reporter: Pasti Liberti Mappapa
Penulis/Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *