Rakyat Sudah Muak Saksikan, Ketidak Adilan Dan Kecurangan Seperti Dibiarkan

oleh -15 views

PADANG,SUMBARTODAY-Mengapa pilpres yang hanya soal pergantian presiden dan kita sudah pengalaman menyelenggarakannya beberapa kali tapi sekarang ini demikian panas, tegang, sulit saling mengalah, kecurangan masif berani terang-terangan? Petahana akan menangkap siapa saja yang dianggapnya provokator bahkan sekarang dibuatkan hukum oleh Wiranto untuk menangkap siapa saja yang menghina Jokowi. Sisi lain, oposan akan mengerahkan gerakan rakyat yang disebut people power walaupun sebuah gerakan damai.

Kata “kalah” sekarang ini, nampaknya tidak akan diterima oleh kedua belah pihak. Apakah kekalahan tidak akan diterima hanya oleh kubu 02? Tidak. Kubu 01 juga sama, suasananya tidak akan menerima kekalahan untuk pilpres kali ini.

Bagi kubu 02, pemilu kali ini penuh rekayasa, karena itulah kecurangan struktural dan masif disiapkan sejak awal, catatannya di tim BPN mencapai ribuan, termasuk membangun opini melalui quick count yang diyakini hanya pesanan semata, hanya konstruksi untuk mempengaruhi pikiran dan mental masyarakat agar hasil pemilu bisa diterima dari hasil quick count dan perhitungan KPU.

Bagi kubu 01, pemilu kali tampaknya tidak bisa terima kekalahan karena diyakininya kelompok Islam radikal menyatu pada kubu 02 yang dituduhkannya akan merubah NKRI dan Pancasila. Prabowo iya nasionalis tapi dia didompleng oleh elemen Islam radikal dan ini membahayakan kelangsungan NKRI. Itulah pikiran di kubu 01. Maka, bagaimana pun caranya, 02 tidak boleh menang walaupun itu kekuatan rakyat.

Kalau soal pemilu biasa yang jurdil dan kondisi negara normal, kubu Jokowi dan kubu Prabowo pasti akan menerima kalah dan menang sebagai hal yang biasa. Tapi mengapa kondisi jadi rumit, panas, tegang dan gawat? Mengapa ada ribuan kecurangan yang dibaca masyarakat dari berita-berita media dan ditonton langsung dari banyak sekali video yang beredar? Mengapa survei dan quick count yang fungsinya membantu menghitung cepat tapi kali ini kontroversial dan tak diterima oleh satu paslon? Berarti ada sesuatu. Itu jawabannya.

Bukankah pada banyak pemilu sebelumnya, kwikkoun tidak jadi masalah? Karena tidak ada nuansa kecurangan apalagi masif. Di pilpres 2019 ini, masalahnya jelas karena pemilunya tidak wajar. Bukankah sepanjang sejarah pemilu Indonesia baru kali ini begitu banyak kecurangan yang disaksikan masyarakat? Mengapa ada korban kematian panitia begitu banyak hingga 550 lebih? Ada apa? Apa artinya? Sekali lagi, artinya ada sesuatu, ada yang tidak wajar, ada misteri yang besar yang sekarang jadi kontroversi. Bukankah mudah saja memahami itu? Diagnosis Ikatan Dokter Indonesia sudah membuktikan mereka bukan mati oleh kelelahan. Kelelahan bukan penyebab langsung kematian. Bila kematian massal itu diautopsi, sebabnya akan terbuka.

Mana mungkin sebuah hasil pemilu akan diterima oleh peserta bila kecurangan begitu banyak? Di negara manapun pasti akan jadi masalah, yang kalah pasti akan protes karena permainan tidak fair, karena pemilu tidak jujur. Ada apa dengan kematian panitia KPPS hingga 500 orang lebih? Apakah ini pemilu yang biasa? Pemilu yg normal dan wajar? Tentu tidak. Semua masyarakat tahu dan merasakan ini pemilu yang tidak biasa, tidak wajar. Kematian massal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi, sekali lagi, ada apa dengan pemilu pilpres 2019?

Mengamati dan merasakan ketidakwajaran Pilpres 2019 sebenarnya bukan soal Jokowi lawan Prabowo, bukan hanya soal pergantian presiden, bukan soal Islam moderat dan Islam radikal, bukan soal Pancasila vs Khilafah, bukan soal nasionalisme religius vs nasionalisme sekuler. Bukan soal rebutan kekuasaan antar anak bangsa. Kalau hanya itu semua, pemilu tidak akan segawat dan segenting ini. Dalam banyak hal masyarakat kita sudah terbiasa dan menerima perbedaan.

Maka, jawabannya tidak lain adalah sesuatu yang lebih besar dari sekedar pemilu. Yang lebih besar dari sekedar pergantian presiden yaitu masalah kedaulatan negara dan masa depan bangsa. Hanya, yang satu kubu seperti tidak perduli, tidak menyadari, karena lebih memandang aspirasi politik kelompoknya. Kubu lain tahu, sangat perduli dan melihat urusan yang lebih besar, yaitu soal kedaulatan bangsa dan negara yang sedang tergadaikan. Soal ancaman kepada rakyat yang akan jadi kacung di negerinya sendiri.

Ini era global. Negara-negara besar mencaplok negara-negara lain tidak melalui penjajahan langsung tapi melalui neo-kolonialisme, melalui imperialisme politik yang gejalanya sudah banyak di Indonesia tapi masih juga sulit diyakinkan kepada sebagian masyarakatnya.

Samuel Huntington menjelaskan secara rasional dalam bukunya “The Clash of Civilization and Remaking New Order,” bahwa negara-negara raksasa dengan ledakan penduduknya yang sudah tak terkendali di negerinya karena sudah lewat batas, pasti akan mencari sumber-sumber alam dan penghidupan dengan membanjiri negara-negara tetangganya dan menganeksisasi secara ekonomi dan politik. Kolonialisme dulu karena kerakusan, sekarang kolonialisme karena mempertahankan hidup dari negara yang terlalu besar.

Penduduk Cina sekrang sudah sekitar 1,4 milyar yang sumber alamnya sudah tak bisa diandalkan. Bagaimana ia harus mempertahankan hidup? Seperti air, dengan meluber keluar, menganeksasi bangsa-bangsa lain. Dan Cina sudah membuktikan itu dengan jebakan-jebakan utang yang besar yang membuat negara lain tidak berdaya: Tibet sudah jadi negara Cina, Malaysia sudah terlambat untuk bisa lepas dari hegemoni Cina.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurahman mengungkapkan, Zimbabwe memiliki utang sebesar 40 juta dollar AS kepada China dan tak mampu membayar sehingga harus mengganti mata uangnya menjadi Yuan sebagai imbalan penghapusan utang sejak 1 Januari 2016. Nigeria yang disebabkan oleh model pembiayaan melalui utang yang disertai perjanjian merugikan dalam jangka panjang membuat China mensyaratkan penggunaan bahan baku dan buruh kasar asal China untuk pembangunan infrastruktur di Negeria.

Sri Lanka yang juga tidak mampu membayarkan utang luar negerinya untuk pembangunan infrastruktur dan harus melepas Pelabuhan Hambatota sebesar Rp 1,1 triliun atau sebesar 70 persen sahamnya dijual kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) China. Angola mengganti nilai mata uangnya. Zimbabwe juga.

Kapan Rakyat Indonesia akan sadar?

Hutang Indonesia sudah mencapai lebih dari 5000 Trilyun dan Indonesia akan kesulitan membayarnya. Satu-satunya cara adalah intervensi Cina harus diterima menghegemoni Indonesia dengan dikte-dikte ekonomi dan politiknya yang kini semakin kuat.

Melalui konglomerasi raksasa, Indonesia harus dibawah kendali mereka. Jokowi dan petahana adalah akses yang bisa diintervensi yang selama menambah terus utangnya hingga titik kritis. Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman yang sangat berkuasa, sudah menandatangi 23 kontrak proyek dengan Cina untuk memperkuat dan semakin mengunci Indonesia dengan utang.

Liputan Kompas dan banyak media lain mengkhawatir bahaya jebakan hutang ini dan banyak tokoh mengkritiknya. Tapi Wiranto malah menyambutnya dengan membentuk Tim Hukum Nasional yang bernuansa dihidupkannya politik otoriter Orde Baru.

Kesadaran ancaman atas kedaulatan negara disikapi berbeda oleh kedua kubu capres dan masing-masing pendukungnya. Petahana menganggapnya bukan masalah karena mungkin sudah akrab tanpa melihat dampak dan akibatnya, kubu oposisi sangat merasakan ini berbahaya bagi kelangsungan bangsa dan negara.

Kapan keduanya akan menyadari bersama? Mungkin kelak kalau bangsa ini, tanpa sadar dan tidak berdaya, sudah menjadi bagian dari negeri asing. Kita baru akan menyadari ketika kedaulatan sudah hilang di negeri yang dimerdekakan oleh hasil keringat darah rakyat, para pejuang dan para ulama dari 350 tahun kolonialisme.

Maka, siapa pemenang pilpres 2019 akan menentukan apakah Indonesia akan menjadi bangsa kacung dan kekayaan negerinya habis dikeruk oleh asing yang sekarang sebagiannya sudah terbukti atau menjadi negara dan bangsa “baru” yang berdaulat sebagai amanat Pancasila dan UUD 1945.

Kali ini saya ingin mengutip sebuah tulisan dari Tengku Zulkifli Usman, seorang analis politik dunia Islam dan Internasional. Seorang intelektual, berpendidikan, sehingga cara ia menuangkan pikiran-pikirannya dalam sebuah tulisan mencerminkan kualitas kecerdasan, kedalaman ilmu dan kematangan dari sisi penguasaannya di bidang politik.

Ia menyebutkan begini :

Aa Gym itu dai yang lemah lembut, kalem, damai dan anti kekerasan. Kalau dalam kacamata syariah, tidak ada kesalahan fatal yang beliau lakukan, tapi beliau dibusukkan lewat isu poligami.

Habib Rizieq dai yang tegas, beliau bukan keras apalagi brutal.
Langkah-langkahnya selalu pakai payung hukum, taat asas, taat konstitusi, tidak suka melanggar aturan negara, tapi namanya dibusukkan lewat isu “chat mesum” palsu murahan.

Ustadz Abdul Somad dai yang lugas, jelas, tegas dan selalu menyerukan persatuan, langkah-langkahnya juga konstitusional, tapi namanya dibusukkan dengan isu pendukung HTI dan Terorisme.

PKS itu partai politik yang moderat, haluan politiknya humanis, jalan tengah antara ekstrem kiri dan kanan, jauh dari kata radikal.

Langkah-langkah politik PKS masuk logika demokrasi modern, tidak ada aturan yang ditabrak, tapi tetap saja dibusukkan lewat isu-isu murahan lain sebagai partai radikal, partai penyebar bibit paham ekstrem, dstnya.

Sesungguhnya sasaran mereka bukan Aa Gym, bukan Habib Rizieq, bukan Ustadz Abdul Somad, bukan PKS, tapi sasaran mereka yang sesungguhnya adalah ISLAM. Ya, Islam adalah SASARAN TEMBAK mereka.

Musuh-musuh Islam bekerja keras membusukkan tokoh tokoh islam, baik secara individu maupun secara institusi, mereka membayar media, relawan, dst, dst, agar nama Islam buruk dan tokoh Islam jadi busuk.

Apa boleh buat, masyarakat awam yang mayoritas menghuni negeri ini tidak paham apa itu agenda setting, apa itu konspirasi, apa itu media-malaise, apa itu teori preming dan framing, dan apa itu spin doctor yang bekerja siang malam men-jelek2kan Islam.

Otak muslim kita dicuci, yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan, penjahat dianggap pahlawan, penjahat dibilang ulama, sedangkan pahlawan dianggap penjahat, tokoh yang lurus dibusukkan, tokoh Islam yang menyimpang dipuja-puji.

Sasaran mereka adalah Islam, karena kalau nama Islam sudah busuk, maka partai Islam juga akan busuk, pasar Islam juga akan sepi, tujuan besar mereka adalah melemahkan Islam dari berbagai sisi.

Semua isu yang mereka angkat, baik dari isu pribadi poligami sampai isu sensitif soal terorisme, semua mereka kemas dengan baik, dengan packaging yang cantik yang tujuan akhirnya adalah men’down grade’ Islam secara menyeluruh, sayangnya, muslim awam kadang ikutan nyinyir sesamanya.

Muslim awam ikut nyinyir poligami Aa Gym, ikut menyerang Habib Rizieq, ikut-ikutan menuduh UAS itu radikal, ikut menyerang PKS sebagai partai Islam yang sama dengan partai yang lain.

Misi musuh kita kadang tercapai bukan karena mereka pintar, tapi karena kebodohan kita sendiri, kedunguan kita, kurangnya self criticism kita, kita sibuk riuh ricuh ini-itu, karena selalu lupa akan tema utama yang lebih urgent dan darurat untuk dibahas, kita lupa tangan-tangan kotor yang beroperasi setiap detik untuk melemahkan Islam.

Itulah yang dituliskan oleh Tengku Zulkifli Usman tentang kondisi umat dan keadaannya saat ini. Mengingat namanya, saya jadi teringat nama Wakil Ketua MUI Pusat Tengku Zulkarnaen, beliau pun tak luput dari pembusukan, sebagai ulama yang lurus dan tegas, ia difitnah sebagai ulama wahabi, ulama pro ISIS yang beraliran keras dan radikal.

Semoga umat Islam mampu dan segera tersadar dari lalai, bangkit dari kebodohan berpikir, bangun dari kecerobohan mencerna, karena telah begitu mudah percaya dengan MULUT BUSUK penebar fitnah,yang justru sering menyamar di balik nama Islam, menyamar sebagai tokoh Islam, menyamar sebagai tokoh demokrasi, bahkan menyamar di balik nama kyai dan habaib.

Diam, Berarti Mendukung INDONESIA Hancur Oleh Para “KACUNG” Politik kaki tangan China

Tahap 1. Indonesia diambang penyerahan kepada China?

  1. Seorang Pejabat Militer Keturunan China menjabat sebagai Direktur Bais TNI, sesuai dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.19/TNI/tahun 2017 tanggal 22 Maret 2017 dan diteruskan dengan Surat Perintah Panglima TNI No Sprin/522/III/2017 tanggal 23 Maret 2017.
    Marsekal Pertama TNI Chen Ke Cheng (Tjhin Kho Syin) atau nama kamuflasenya adalah Surya Margono.
    Sumber : Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Surya_Margono
  2. Kepala BIN adalah seorang Kader PDIP yang ditugaskan oleh Hendro Priyono melalui tangan sang boneka untuk kendalikan Intelijen.
  3. Polisi diposisikan berhadapan dengan Rakyat dan TNI. cukup 3 tahun negara akan jatuh bertekuk lutut ditangan para elit perpanjangan china.
  4. HP dan LBP adalah otak dari politik yang mengendalikan arah pemerintahan Rezim ini. Rezim ini juga diduga menjadi kaki tangan MSS (Badan Intelijen China) yang bekerja sama dengan mafia konglomerat hitam taipan China.
  5. TNI dibuat hingga tak berdaya dengan kekuatan politik MSS.
  6. Penyebaran tentara merah telah mencapai 45% diseluruh Indonesia dengan kamuflase sebagai Emigran/buruh China.
  7. Delapan Juta Hektar lahan di 4 wilayah Indonesia (Sumatra, Kalimantan, Sulawesi & Papua) sudah dikuasai China dan pada tahun 2017 telah berdiri 2(dua) instalasi militer rahasia di area tersebut.
  8. Tanpa sadar Rakyat telah dininabobokan dengan pencitraan dan (alam bawah sadar) dipaksa mengakui eksistensi rezim ini.
  9. Sembilan aktivis Islam dan aktivis Nasionalis ditangkap, para Ulama dikriminalisasi serta diburu oleh aparat rezim.
  10. Hutang Ribuan Trilyun digunakan untuk membiayai semua menguasai negara ini, akhirnya Rakyat dibebankan hutang yang tak akan mampu dibayar oleh negara. Forbes menerbitkan bahwa Presiden Jokowi masuk dalam 20 besar orang terkaya di dunia.

Tahap 2, Periode penyerahan sepenuhnya NKRI kepada China: hingga Detik Ini Media Nasional Memberitakan lebih dari 500 Saksi & Petugas KPPS Tewas, Korban Jiwa Terus Bertambah.

  1. Ultimatum “PERANG TOTAL” Kubu 01 : Menjelang kemenangan kubu 02, mendadak Sandiago Uno tiba-tiba sakit yang hampir menewaskan dirinya.Upaya pembunuhan gagal akibat racun yang menyerang Sandiago segera hilang karena Puasa Sunnah yang sering dilakukannya.Tanda-tandanya pun sama dengan detik² tewasnya ketua KPU pada tahun 2015 silam ketika akan mengungkapkan kecurangan pada Pilpres tahun 2014.
    Saat itu 2015 ketua KPU tiba² sakit keras, kemudian masuk instalasi ICU, pihak RS menemukan dalam darahnya ditemukan 3jenis racun berbahaya. Ketua KPU pun tewas dengan tubuh lebam akibat racun.
  2. Kematian Petugas & Saksi Pemilu : Usai pencoblosan 17 April 2019, beberapa hari kemudian ratusan petugas KPPS dari sekitar 500.000 TPS se-Indonesia mendadak sakit dan banyak yang tewas, ada yang gantung diri, dibunuh dengan berbagai cara yang sangat bertentangan dengan akal sehat kita. Tahun² Pemilu sebelumnya semua petugas KPPS walau bekerja berhari hari tapi tak satupun ada yg tewas. Kali ini ultimatum “PERANG TOTAL” yang diumbar kubu Petahana telah menewaskan ratusan petugas KPPS demi menutupi kecurangan kubu 01 agar tak ada saksi kecurangan. Sementara ratusan saksi Pemilu pun tak luput dari operasi pembunuhan agar rezim Jokowi dapat leluasa memanipulasi hasil Pilpres untuk kembali berkuasa dua periode. Sumber “Komunitas Spionase” di lapangan menemukan ada kegagalan pembunuhan² terhadap saksi PKS karena disaat hari pencoblosan para kader PKS yang menjadi saksi dalam keadaan berpuasa sehingga upaya meracuni pun gagal walaupun tak sedikit saksi PKS yang tewas.
  3. Penjajahan Mencengkeram Ibu Pertiwi : disaat seluruh kekuatan Indonesia sudah dikuasai, rakyat sudah tidak memilki harapan lain selain kekuatan yang sebenarnya yang menupang Demokrasi yaitu Kedaulatan Rakyat.

Mendukung pendapat diatas kami melihat akhir akhir ini sudah banyak melarikan keluarganya keluar negeri, Fahri mengatakan,  Kapolri saja merasa tidak aman Tinggal di Indonesia, Apalagi Rakyat yang tidak memiliki Pasukan.
Kapolri Tito mengungsikan Keluarga nya ke singapore demi keselamatan anak anaknya karena merasa tidak aman tinggal di indonesia.

Coba Bayangkan Pejabat setingkat Jabatan Kapolri adalah jabatan tertinggi di kepolisian. Seorang Kapolri dan keluarga nya dapat pengawalan berlapis. Memiliki pasukan khusus untuk pengamanan seorang kapolri dengan keluarganya.

Bagaimana dengan rakyat yg tidak punya pengawal?

Kapolri enak, memiliki harta yg banyak. Sehingga pergi keluar negeri melancong nggak ada masalah….

Nah….. Rakyat gimana??
Beras aja beli nya sasetan..
Boro2 mikirin mengamankan diri ke Luar negeri..

Betulkah ada yg bilang:
Ini lah indonesia Negeri Dangelan dengan pemimpin yang cengengesan ?

Pak Jokowi mengatakan pemilu berlangsung aman dan damai, kalau aman dan damai kenapa Pak Kapolri mengungsikan keluarga nya ke singapore??

(sumber tulisan By Moeflich H. Hart)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *