Negeri Dongeng Sedang Dihancurkan, ALLAH Sudah Ingatkan Melalui Al Qur’an Surat 17 Ayat 16

oleh -523 views

PADANG,SUMBARTODAY-“Sudah lama kita medengar dan kita baca ada suatu negeri dimana semua orang sama derajatnya dimata hukum. Tidak seperti di negeri khayalan. Kata dongeng di negeri itu mereka sangat menjunjung tinggi dan memuliakan kemerdekaan,  persamaan hak dan persaudaraan bahkan katanya dilindungi oleh undang undang, Aku ingin melihat negeri dongeng itu dalam kenyataan”

Rasanya sebuah sindiran yang patut kita dengar dan saksikan karena tidak demikian adanya,  di Negeri Dongeng, Hukum hanya sebuah lelucon para penguasa sombong yang tidak menyadari atas keberadaannya sebagai orang yang di amanahkan oleh negara, banyak dari mereka yang seenaknya berbohong tanpa dapat dipersalahkan.

Para pemangku kekuasaan yang dipercayakan rakyat seakan menjadikan hukum adalah sebuah kata yang tidak berarti apa-apa. Nyawa anak bangsa tidak berharga, mereka lebih memikirkan bagaimana bisa melanggengkan kekuasaannya.

Apapun mereka lakukan, fitnah, memutar, balikkan fakta, memenjarakan orang yang tidak sejalan dengan mereka adalah tontonan yang sudah biasa kita saksikan.

Sebenarnya jika umat Muslim di Indonesia peka terhadap pesan-pesan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW dalam hadist-hadistnya berabad-abad silam, maka negara kita tercinta ini tidak akan begitu sengsara, tertinggal, teraniaya dan dipermalukan negera-negera lain.

Dalam Hadistnya, Nabi pernah mengatakan bahwa ada tiga hal yang menyebabkan Negara (negera dalam arti yang luas) hancur.

  1. Pertama Umat, masyarakat, kaum terlalu banyak omong, banyak bicara kosong, banyak bual akan tetapi tidak banyak berbuat.Penyebab negara atau kaum hancur.
  2. Kedua adalah terlalu banyak tidur. Kita bisa melihat, jika seseorang terlalu banyak tidur maka ekonominya bisa dikatakan ‘buruk’. Maka tidak salah kalau shalat subuh dan orang-orang yang selalu bangun pagi akan lebih segar, sehat dan mampu berpikir kuat serta memiliki waktu yang banyak untuk mencari rezki. Dalam azan Shubuh juga ada kata-kata ash shalatu khairun minan naum” (Shalat itu lebih baik dari pada tidur).
  3. Penyebab ketiga kenapa negara atau kaum cepat hancur adalah terlalu banyak makan. Kata makan disini bisa kita tafsirkan dengan bermacam-macam tafsir. Bisa diartikan memang banyak makan secara fisik dan bisa diartikan sebagai orang-orang yang tamak, loba, tanpa malu, korupsi, dsb. Jika memang negara ini tidak ingin hancur maka hindarilah ketiga hal tersebut.

Alam Punya Cara Sendiri Hancurkan Negeri Dongeng.
Mari kita renungkan cerita letusan gunung  Krakatau yang sempat mengegerkan dunia,

Karakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di selat Sunda yang berada antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana yang, karena letusan pada tanggal 26-27 Agustus 1883, kemudian sirna.

Letusan yang sangat dahsyat disertai tsunami yang mengakibatkan tewasnya sekitar 36.000 jiwa. Sampai tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer.

Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki pada saat Perang Dunia II.

Letusannya Menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Suara letusannya terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Seperti dikutip dari Wikipedia, tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut. apa hubungannya dengan cerita ini memang tidak berhubungan secara langsung dengan kehancuran negeri dongeng ini. tapi setidaknya kita bisa berkaca kepada kejadian masa lalu yang pernah menhancurkan Nusantara.

Dikutip dari Portal Media Online, Berikut kami sajikan kepada pembaca yang budiman tentang kehancuran suatu negara dapat disebabkan lima hal yang abai diperhatikan oleh rakyat yang mendiami negerinya. Penguasa Angkuh dan Sombong menjadi salah satu faktor sebuah negara lebih cepat menuju kebangkrutan dan kehancuran.

Dikatakan Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Prof Rusjdi Ali Muhammad, Rabu (29/10)  saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Kupi Luwak Rumoh Aceh, Jeulingke, Banda Aceh. Pada pengajian tersebut, Prof Rusjdi Ali Muhammad lebih banyak mengupas isi Al-Qur’an surat Ghafir ayat 36-37, surat Al-A’raf ayat 176 dan beberapa surat lainnya yang mengingatkan kehancuran umat terdahulu masa Fir’aun dan kaum Bani Israil.

Dijelaskannya, ada lima penyebab kehancuran suatu negeri menurut Al-Qur’an karena ada lima golongan yang ingkar dan tidak patuh pada perintah Allah.

  1. Pertama, penguasa yang angkuh dan sombong, seperti halnya yang pernah terjadi pada Fir’aun masa Bani Israil dulu. Selain bersikap sombong dan zalim kepada rakyatnya, Fir’aun juga mengaku dirinya sebagai Tuhan.
  2. Kedua, kata Rusjdi, intelektual atau golongan cendikiawan yang selalu menjilat penguasa agar diberi jabatan. “Kaum intelektual yang berada di samping penguasa itu harus selalu bersikap kritis dan selalu mengingatkan penguasa untuk berada di jalan yang benar, jangan menjadi penjilat penguasa yang salah jalan agar diberi jabatan,” sebutnya.
  3. Hal ketiga yang membawa kehancuran adalah ulama yang jahat (su’) dan tidak bersikap tegas dan kritis untuk mengingatkan penguasa yang salah. “Ulama jangan seperti Syekh Bal’am di masa Fir’aun. Jangan sampai diam terhadap penguasa yang salah karena sudah dikasih sesuatu oleh penguasa. Ulama juga jangan tergantung pemerintah, tapi harus independen. Karena kalau ada ulama su’, bagaimana suatu negeri mau maju,” ungkap Prof Rusjdi.
  4. Keempat, pengusaha atau orang kaya yang kikir dan jahat seperti Qarun karena ingkar kepada perintah Allah. “Qarun itu dulu waktu miskin taat kepada Allah, namun setelah kaya justru ingkar kepada Allah,” jelasnya.
  5. Golongan kelima  yang membawa kehancuran suatua negeri, menurut Rusjdi adalah rakyat yang malas, penakut, dan tidak kreatif. “Rakyat itu harus mau bekerja keras untuk hal-hal yang baik, mendukung penguasa pada hal-hal yang benar. Seperti disuruh bekerja dan belajar, jangan malas,” terangnya.

Ia juga menegaskan, masyarakat diharapkan jangan sampai pesimis dalam menjalankan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh) yang kini berlaku di provinsi itu, asalkan semuanya bersungguh-sungguh melaksanakannya.

“Sikap optimis dan konsisten dalam menjalankan syariat Islam ini harus benar-benar dimiliki oleh setiap komponen masyarakat dan pemerintah di,” ujarnya.

Menurut Prof Rusjdi yang juga mantan Kepala Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh ini, sikap pesimis apalagi sampai merasa sinis dengan syariat ini, justru akan membuat kita semakin jauh dari aturan syariat Islam tanpa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

“Jangan pesimis dengan syariat ini. Seolah-olah semuanya sudah hancur dan tidak ada lagi orang-orang baik yang hidup di akhir zaman seperti ini. Padahal di setiap zaman itu sejak dulu sampai sekarang ada orang baik yang selalu berada dan konsisten di jalan syariat dan mendapat pertolongan Allah karena sikap optimisnya,” jelas mantan Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh ini.

Namun, Tuhan juga tak cukup dengan berharap saja tanpa berusaha. “Kerja,Ihktiar dan berdoa terus untuk mencapai tujuan,” sebutnya.

Suatu ketika di bulan Juli tahun 90-an, di negara bagian Massachusetts, Amerika Serikat tengah berlangsung sebuah konfrensi besar pendidikan, dihadiri oleh sebagian besar kalangan pendidikan, mulai dari pengamat, praktisi, pakar hingga penentu kebijakan di bidang pendidikan.

Tema yang diambil. kali itu adalah mengenai “evaluasi sistem pendidikan dalam menghasilkan Generasi Unggul”

Tema ini sengaja diangkat, karena ternyata berdasarkan penelitian, selama 60 hari terakhir sistem pendidikan lebih banyak menghasilkan generasi yang gagal dan bahkan cenderung bermasalah ketimbang yang unggul.

Banyak sekali tokoh-tokoh yang diminta bicara menyampaikan pikiran, pandangan juga hasil penelitian mereka.

Dari semua pembicara, ada salah seorang yang pemaparannya begitu dahsyat, tajam dan mengena, hingga mendapatkan simpati dan dukungan yang luar biasa dari hampir semua peserta konferensi tersebut.

Tepuk tangan yang riuh serta dukungan antusiasme terus mengalir hingga sang pembicara ini turun. Apa saja yang di paparkan oleh si pembicara ini…? marilah kita simak cuplikan utama dari pemaparannya;

“Saudara-saudaraku tercinta sebangsa dan setanah air, saya sungguh prihatin melihat perkembangan generasi kita dari tahun ke tahun, sehingga saya begitu tertantang untuk membuat suatu pengamatan untuk mengetahui akar pemasalahannya.”

“Lebih dari 30 tahun saya melakukan pengamatan terhadap para pelajar dan para lulusan sekolah di tiap jenjang mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. dan ternyata dari tahun-ke tahun menunjukkan suatu peningkatan grafik jumlah anak-anak yang bermasalah ketimbang anak-anak yang berhasil.”

Salah satu yang membuat saya menangis adalah ketika saya mengunjungi beberapa Lembaga Pemasyarakatan yang ada di beberapa negara bagian; yang dulu pada tahun 60an mayoritas di huni oleh orang-orang yang berusia antara 40-60an, namun apa yang terjadi pada tahun 90, penjara-penjara kita penuh di isi oleh anak remaja antara usia 14 s/d 25 tahun. Jumlah peningkatan yang drastis juga terjadi pada penjara anak dan remaja.

Fenomena yang sedang terjadi di negara kita, Akan jadi apakah kelak negara ini jika kita semua tidak peduli dan merasa bertanggung jawab?

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, Dari pengamatan panjang yang saya lakukan akhirnya saya mengetahui bahwa sumber dari semua masalah ini ada pada Harmonisasi hubungan Keluarga dan Sistem Pendidikan kita.

Sebagian besar anak-anak yang bermasalah ternyata juga memiliki orang tua yang bermasalah atau keluarga yang berantakan dan yang memperparah ini semua adalah bahwa Lembaga yang kita agung-agungkan selama ini, yang kita sebut sekolah ternyata sama sekali tidak mampu menjadi jalan keluar bagi anak-anak yang mengalami permasalahan di rumah.

Sekolah yang mestinya bertanggung jawab pada pendidikan anak (karena mengklaim sebagai lembaga pendidikan) ternyata sama sekali tidak melakukan proses pendidikan, melainkan hanya menjadi lembaga yang memaksa anak untuk mengikuti kurikulum yang kaku dan sudah ketinggalan zaman.

Guru-guru yang diharapkan menjadi pengganti orang tua yang bermasalah tapi ternyata tidaklah lebih baik dari pada orang tua si anak yang bermasalah tadi. Guru lebih suka memberikan pelajaran dari pada mendidik dan melakukan pendekatan psikologis untuk bisa membantu memecahkan masalah anak-anak muridnya. Guru-guru juga lebih suka saling melempar tanggungjawab ketimbang merasa ikut bertanggung jawab sebagai seorang pendidik.

Dan yang sungguh menyakitkan adalah ternyata Pemerintah kita khususnya yang bertanggung jawab pada bidang pendidikan hanya mementingkan masalah nilai, angka-angka dan Ujian-Ujian Tulis. Pemerintah seolah menutup mata terhadap menurunya prilaku moral, rusaknya anak-anak sekolah dan meningkatnya prilaku kekerasan di kalangan remaja.

Ukuran keberhasilan pendidikan lebih diletakkan pada menjawab soal-soal ujian dan target-target perolehan nilai, bukan pada Indikator Moral dan Pengembangan Karakter Anak. Sehingga pada akhirnya kita mendapati banyaknya anak-anak yang mendapat nilai tinggi namun moralnya justru begitu rendah.

Inilah saya pikir yang menjadi biangkeladi dari permasalahan meningkatnya jumlah anak-anak yang menjadi penghuni penjara di hampir seluruh negara bagian di negara kita.

Saya melihat bahwa sesunguhnya jauh lebih penting mengajarakan anak kita Nilai Kejujuran dari pada Nilai matematika, Fisika dan sejinisnya, yang pada umumnya telah membuat anak kita stress dan mulai membeci sekolahnya. Sungguh jauh lebih penting mengajarkan pada mereka tentang kerjasama dan saling tolong menolong ketimbang persaingan merebut posisi juara di kelas. Sekolah kita hanya mampu membuat 3 anak sebagai juara ketimbang membuat mereka semua menjadi juara.

Sekolah kita memang tanpa sadar telah dirancang untuk mencetak anak yang gagal jauh lebih banyak dari yang berhasil. Sekolah kita juga telah dirancang untuk lebih banyak memberi label anak yang bermasalah ketimbang memberi label anak yang berpotensi unggul di bidangnya.

Lihatlah fakta di lapangan, betapa banyaknya anak-anak yang dinyatakan oleh sekolah sebagai anak lambat belajar, tidak bisa berkonsentrasi, Diseleksia, Hiperaktif dsb. Hingga ada seorang pengamat pendidikan yang pernah menyindir “sesungguhnya anaknya yang hiperaktif atau sekolahnya yang “Hiper Pasif”.

Bayangkan anak-anak kita telah di paksa untuk duduk di kursi yang keras selama berjam-jam dari pagi hingga petang, tanpa adanya pergerakan sedikitpun. Yang sesungguhnya tidak hanya membahayakan mental mereka bahkan juga fisik mereka.

Berapa banyak anak-anak kita yang katanya termasuk golongan anak-anak pandai harus menderita “bungkuk” di usia mereka yang masih relatif muda karena proses belajar yang hiper pasif ini.

Saya pikir sudah saatnya kita sadar akan hal ini semua. Saudara-saudaraku tercinta, sungguh berdasarkan penelitian yang telah dilakukan  menunjukkan bahwa jauh lebih penting mengajari anak kita tentang Akhlak, moral, attitude, dan Character Building dari pada hanya mementingkan nilai-nilai yang tinggi dan mendapatkan sertifikat kelulusan.

Karena kehidupan lebih mengharapkan orang-orang yang berakhlak, bermoral dan berkarakter untuk membangun tatanan kehidupan yang jauh lebih baik. Orang-orang yang mencintai sesama, menolong sesama dan menjaga kelestarian lingkungan tempat mereka hidup.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan bertahun tahun terhadap sejarah bangsa-bangsa yang mengalami kemunduran atau kehancuran, kami telah menemukan ciri-ciri yang sangat jelas untuk bisa kita jadikan Indikator dan petunjuk bagi kita, apakah negara kita juga sedang menuju ke titik kemajuan atau justru kehancuran.

Paling tidak kita telah menemukan ada 10 tanda-tanda dari suatu bangsa yang akan mengalami kemunduran dan bahkan kehancuran; dan jika ternyata ke sepuluh tanda ini muncul di negara kita maka sudah saatnyalah kita untuk melakukan perubahan besar-besaran terhadap sistem pendidikan bagi anak-anak kita. dikutip dari tulisan Thomas Lickona.

Mari kita teliti bersama kesepuluh tanda-tanda tersebut, apakah telah muncul dinegara kita;

1. Peningkatnya prilaku kekerasan dan merusak dikalangan remaja dan pelajar
2. Penggunaan kata atau bahasa yang cenderung memburuk (seperti ejekan, makian, celaan, bahasa kasar dll)
3. Pengaruh teman jauh lebih kuat dari pada orang tua dan guru.
4. Meningkatnya prilaku penyalahgunaan sex, merokok dan obat-obat telarang dikalangan pelajar dan remaja.
5. Merosotnya prilaku moral dan meningkatnya egoisme pribadi/mementingkan diri sendiri.
6. Menurunya rasa bangga, cinta bangsa dan tanah air (Patriotisme).
7. Rendahnya rasa hormat pada orang lain, orang tua dan guru.
8. Meningkatnya prilaku merusak kepentingan Publik.
9. Ketidak Jujuran terjadi dimana-mana
10. Berkembangnya rasa saling curiga, membenci dan memusuhi diantara sesama warga negara (kekerasan SARA)

Bagaimana kesimpulan kita,? Apakah kita melihat ke 10 tanda tersebut telah muncul di negeri tercinta kita ini…? atau mungkin malah sudah muncul pada anak-anak kita tercinta dirumah?

Saudaraku, dengan melihat fakta dan kenyataan yang terjadi sekarang ini, wahai para pendidik dan pengambil kebijakan dibidang pendidikan serta segenap kita semua, Apakah kita masih akan mementingkankan nilai angka-angka sebagai Indikator kesuksesan Pendidikan di sekolah-sekolah.?

Semoga logika dan nurani kita masih mampu bicara untuk mendobrak sistem pendidikan yang selama ini terbukti telah menghasilkan lebih banyak kegagalan bagi anak-anak tercinta.

Jika kita tidak mau bertindak, maka tidak tahu berapa banyak lagi penjara-penjara yang harus kita bangun bagi anak-anak kita tercinta, yang semestinya ini semua bisa kita cegah dari sekarang melalui harmonisasi hubungan keluarga dan Sekolah-sekolah yang lebih berorientasi membangun Akhlaqul Qarimah dan bukan hanya mengejar angka-angka semata.

Mantan Ketua Pengadilan Tinggi Jakarta, Ansyahrul meramalkan Indonesia akan memasuki siklus kenegaraan per 74 tahun. Menurutnya Indonesia bisa hancur di 2019 seperti Uni Soviet atau sebaliknya. Lalu bagaimana agar Indonesia tidak hancur?

“Siklus 74 tahun, kita bicara data, bukan bicara teori,” kata Ansyahrul.

Hal itu disampaikan dalam Seminar ‘Desain Status Hakim’ di Hotel Atlet Century, Senayan akhir pekan ini. Dalam analisanya, Uni Soviet didirikan pada 1917 dan hancur tepat pada 31 Desember 1991 memasuki usia ke-74. Bagiamana dengan Amerika Serikat? Negara adidaya itu nyaris hancur memasuki usia ke-74 dengan ditandai Perang Saudara yang dikenal dengan Perang Utara-Selatan yang menghasilkan Amandemen ke-13 dan menghapus perbudakan.

“Hasilnya beda, Uni Soviet bubar, Amerika bertahan, Amerika selamat. Dari kedua negara besar itu, kuncinya di lembaga yudikatif. Uni Soviet lembaga yudikatifnya lemah, partai komunis masuk. Amerika Serikat, yudikatifnya kuat, sehingga mereka bertahan,” ujar hakim yang mengawali karier sebagai calon hakim di PN Wamena pada 1971 itu.

Adapun Indonesia akan memperingati HUT ke-74 pada tahun 2019. Satu-satunya lembaga yang belum pernah bubar sejak penjajahan adalah lembaga yudikatif. Adapun eksekutif silih berganti dan DPR pernah bubar pada 1959. Sehingga berdasarkan data dua negara adi daya itu, Ansyahrul sangat khawatir dengan kondisi Indonesia kekinian.

“Berarti kita di dalam fase-fase kritis. Di dalam 5 tahun ini harus ada penguatan yudikatif. Kuncinya yudikatif. Ibarat jazad manusia, eksekutif dan legislatif itu jazad, yudiktif itu roh. Roh ini yang harus dipertahankan,” cetus Ansyahrul.

Siapakah Ansyahrul? Dia menghabiskan 7 tahun pertamanya dengan bertugas sebagai hakim di Papua. Setelah itu dia keliling Indonesia sebagai hakim seperti di Subang, Klaten, Ponorogo, Bojonegoro, Palembang, Palangkaraya dan Jakarta. Pada 2009 ia dipercaya menjadi Ketua PT Jakarta dan memasuki pensiun pada 1 Juni 2013.

Umat Islam tentu saja lebih cenderung untuk berpedoman pada Surat 17 Ayat 16 dalam kitab suci Al qur’an yang artinya:

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Di Indonesia hari ini sedang berlaku keadaan seperti yang ditulis dalam Al Qur’an. Tanda kehancuran tersebut sudah kasat mata, setiap individu wajib menghentikan proses kehancuran ini,Bangkitlah hai pejuang negeri!!!!!, . (Deff)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *