Penghulu di Ranah Minang

oleh -7.002 views

PADANG,SUMBARTODAY– Berikut ini redaksi menyajikan prihal pengangkatan penghulu di Ranah Minang, Penghulu  adalah pemimpin kaum.

Gelar

Datuak adalah gelar yang diberikan kepada pemimpin sebuah suku atau korong di wilayah dengan populasi etnis Minang, Datuak adalah gelar adat yang diberikan kepada seseorang melalui kesepakatan suatu kaum atau suku yang ada di wilayah Minang (provinsi Sumatra Barat sekarang) dan selanjutnya disetujui sampai ke tingkat rapat adat oleh para tokoh pemuka adat setempat

Sebelum gelar ini disandang seseorang, mesti dilakukan suatu upacara adat atau malewakan gala (Bahasa Minang), dengan sekurangnya memotong seekor kerbau dan kemudian diadakan jamuan makan. Dan jika calon Datuk tersebut tidak mampu untuk mengadakan acara tersebut, maka dia tidak berhak untuk menyandang gelar Datuk tersebut.

Pewarisan gelar Datuk dalam tradisi Minangkabau, berbeda dengan tradisi Melayu yang lain, gelar datuk dapat diwariskan menurut sistem matrilinial. Bila seorang Datuk meninggal dunia, gelar Datuk tersebut dapat diberikan kepada saudara laki-lakinya, atau keponakan (kemenakan) yang paling dekat hubungan kekerabatannya dari garis ibu.

Datuk atau Datuak atau Dato’ berasal dari bahasa Sanskerta yaitu datu yang tersusun dari kata da atau ra  berarti yang mulia dan to artinya orang sehingga dapat bermakna sama dengan raja. Selanjutnya hal ini dapat juga dirujuk dari Prasasti Telaga Batu, di mana pada baris 11 terdapat kata kedatuan yang ditafsirkan sama dengan kedaton atau keraton yakni istana raja, sehingga kedatuan dapat disamakan dengan wilayah datu. Selanjutnya kata datu ini berubah penuturan menjadi “datuk”, suatu gelaran yang masih digunakan sampai saat ini di ranah Minang, Malaysia, Brunei dan Filipina Selatan.

Di Ranah Minang, gelar adat khususnya gelar datuk diwariskan menurut garis ibu (matrilineal). Tapi ada juga beberapa gelar di Padang Pariaman dan kota Padang yang diwariskan menurut garis bapak (patrilineal) misalnya gelar Marah (dari Aceh, Meurah), Sutan (dari kata sulthan), Sidi (dari kata Sayyidi) dan Bagindo (Baginda).

Gelar Datuak disebut juga sebagai gelar sako di Ranah Minang. Selain gelar datuak ada gelar yang diberikan kepada seorang laki-laki pada hari pernikahannya dan semenjak itu dianjurkan sekali bagi siapapun untuk memanggil laki-laki tersebut dengan gelar yang diberikan, bukan lagi dengan memanggil nama kecilnya sebagai bentuk penghormatan pada orang yang sudah dewasa, Datuak diangkat oleh anak kemenakannya.

Gelar Datuak adalah Gelar Sako dan Pusako yang disandangnya merupakan gelar turun-temurun, dari niniak turun ka mamak, dari mamak turun ka kamanakan.

Berbeda dengan tradisi Melayu yang lain, gelar datuk dapat diwariskan menurut sistem matrilinial. Bila seorang Datuk meninggal dunia, gelar Datuk tersebut dapat diberikan kepada saudara laki-lakinya, atau keponakan (kemenakan) yang paling dekat hubungan kekerabatannya dari garis ibu. Namun dapat juga diberikan kepada selain kepada kerabat dekatnya asal masih dalam satu suku, dan biasanya seluruh warga suku tersebut juga menyetujuinya. Datuk yang baru dinobatkan tetap memakai gelar yang sama, tanpa ada tambahan lain digelar tersebut.

Jika suatu suku telah berkembang dengan banyak, dan kemudian telah berpencar secara kelompok ke daerah lain, dan jika suku tersebut merasa perlu mengangkat Datuk yang baru, maka biasanya gelar Datuk sebelumnya tetap dipakaikan dengan menambah satu atau dua kata lagi sesudah nama Datuk sebelumnya. Misalnya nama Datuk sebelumnya adalah Datuak Bandaro maka gelar Datuk belahannya adalah Datuk Bandaro Putiah atau Datuak Bandaro nan Putiah. Dan setiap suku dapat melakukan pemekaran bergantung dari kesepakatan suku masing-masing.

Gelar Datuk tergantung pada masing-masing suku yang ada di Ranah Minang. Berdasarkan tingkat status sosial dari gelar masing-masing Datuk dapat dilihat dari gelar kebesaran yang diikuti setelah gelar Datuk tersebut. Untuk gelar Datuk yang awal atau tertua biasanya terdiri dari satu suku kata dan berasal dari bahasa Sanskerta, misalnya Datuak ketemanggungan. Sedangkan bila terdiri dari dua kata atau lebih, biasanya dianggap gelar belahan atau pecahan, misalnya Datuak Parpatiah nan Sabatang. Dan kemudian setelah masuknya pengaruh Islam, maka gelar Datuk ada diserap dari bahasa Arab. Berikut daftar gelar Datuk yang utama dalam tambo dan tradisi umum Wilayah Minang:

  1. Datuak Ketumanggungan
  2. Datuak Parpatiah nan Sabatang
  3. Datuak Bandaro
  4. Datuak Makhudum
  5. Datuak Indomo
  6. Datuak Sinaro

Gelar-gelar Datuk yang terdapat dalam Tambo

  • Datuak Parpatiah nan Sabatang
  • Datuak Katumanggungan
  • Datuak Suri Dirajo
  • Datuak Tantejo Garahano
  • Datuak Marajo nan Bamego-mego
  • Datuak Nan Sakalok Dunia
  • Datuak Indo Jati
  • Datuak nan batuah
  • Datuak rajo bijayo

Gelar selain datuk di dalam Tambo :

  • Sutan Paduko Basa
  • Sutan Marajo Basa
  • Sutan Cadiak
  • Sutan Balun
  • Sutan Pandak

Ada sebagian tokoh minangkabau yang tidak bergelar Datuk seperti:

  • Dang Tuanku
  • Cindua Mato
  • Cati Bilang Pandai
  • Salamat Panjang Gombak
  • Barakat
  • Baruliah
  • Tambahi

Misalnya dalam kaba Cindua Mato:

  • Datuak Bandaro
  • Datuak Indomo
  • Datuak Rajo Mangkuto
  • Datuak Tamani
  • Datuak Rajo Indo Piliang
  • Datuak Rajo Panghulu
  • Datuak Tunaro
  • Datuak Bandaron Putiah
  • Datuak Ali Basa
  • Datuak Rajo Endah
  • Datuak Manti tuo
  • Datuak Makhudum
  • Datuak Maruhum Basa
  • Datuak Maruntun Manau
  • Datuak Biawak Kasek
  • Datuak Salah Cangkuang
  • Datuak Harimau Lapa
  • Datuak Palajang Bukik
  • Datuak Baruak Pajaguang
  • Datuak Ampiang Basi
  • Datuak Harimau Campo
  • Datuak Garagasi

Contoh Gelar Datuak di Kabupaten Solok

 

Gelar selain datuak

Gala-gala penghulu kenagarian Koto Sani (Aktif)

A. Penghulu Suku Sumagek

  • Dt Rajo Nan Sati
  • Dt Rajo Malelo
  • Dt Rang Kayo Basa
  • Dt Mangkuto Sati
  • Dt Rajo Mangkuto
  • Dt Mangkuto Marajo

B. Penghulu Suku Koto

  • Dt Tumangguang
  • Dt Bunsu
  • Dt Rajo Nan Salasai
  • Dt Mudo Nan Kusuik
  • Dt Siri Marajo
  • Dt Kayo
  • Dt Batuah

C. Penghulu Suku Panyalai

  • Dt Sinaro Sati
  • Dt Mangkuto Sati
  • Dt Sutan Dilangik
  • Dt Tandi Langik
  • Dt Tandi Nan Mudo
  • Dt Marajo

D. Penghulu Suku Panindu

  • Dt Pamuncak
  • Dt Tanan Sati
  • Dt Gindo Nan Panjang

E. Penghulu Suku Guci

  • Dt Rajo Dipati
  • Dt Tumak Alam

Sumber: (Manti Rajo Bagaga, Manti Bagindo Kayo, Dt Rajo Malelo)

Datuak Mangkudun Sati adalah salah satu Penghulu nan balipek dari suku sumagek yang berada di nagari Koto Sani,Datuak Mangkudun Sati adalah penghulu dari kaum suku “SUMAGEK TALAGO BARUAH-BURAI“.Kamanakan dari Datuak Mangkudun Sati ini antara lain adalah:

  • Mangguluang Alam
  • Rajo Taduang
  • Rajo Alam
  • Kunci Alam
  • Khatik mangkuto
  • Mangkuto Alam
  • Pakiah Mangkuto, dll.

ALASAN PENGANGKATAN PENGHULU

Sebelum kita membahas tentang tata cara pengangkatan penghulu, kita harus mengetahui alasan, mengapa diadakan pengangkatan penghulu. Untuk itu mari kita simak beberapa alasan diadakannya pengangkatan penghulu tersebut:

  1. Hiduik Bakarelaan, Hiduik bakarelaan artinya, pertukaran penghulu disebabkan karena penghulu yang lama sudah tidak sanggup lagi menjalankan tugasnya. Sebagaimana pepatah mengatakan: ” kok Bukik lah tinggi, kok lurah lah dalam “, sehingga ia tidak sanggup lagi menjalankan amanah yang dipikul dipundaknya sehingga perlu diganti dengan cara menyerahkan gelar kebesaran adat tersebut ke kemenakan.
  2. Mati Batungkek Budi, Mati batungkek budi maksudnya adalah penghulu yang meninggal dunia dalam keadaan masih memegang gala sako atau gala penghulu. Sedangkan orang yang menerima jabatan kepenghuluan selanjutnya disebut batungkek budi. Gelar pusaka dihimbaukan di tanah sirah, yang artinya pusara. Keadaan seperti ini segera mengadakan helat untuk menegakkan kepenghuluannya.
  3. Mambangkik Batang Tarandam, Mambangkik batang tarandam artinya, mengangkat seorang penghulu karena gelar pusaka, sudah lama terpendam yang disebabkan karena kekurangan alat untuk melaksanakannya.
  4. Malakekkan Baju Talipek: Malakekkan baju talipek artinya, gelar pusaka tidak dipakai. Dalam hal ini bukan alat yang kurang, tetapi orang yang akan menyandang gelar tersebut tidak ada. Ini mungkin disebabkan karena orang yang berhak menyandang gelar pusaka masih kecil sehingga gelar pusaka dilipat dahulu, menunggu dia akil baligh dan berakal. Setelah ia besar dan akil baligh, barulah diadakan pengangkatan penghulu.
  5. Manurunkan Nan Tagantuang: Manurunkan nan tagantuang artinya, mengangkat seorang penghulu dengan alasan pengangkatan sudah lama tertangguh karena belum mendapat kesepakatan dari kaum atau kamanakan terhadap calon pengganti penghulu, sehingga  gelar pusaka digantung dahulu.
  6. Babalah Siba Baju: Babalah siba baju atau disebut juga dengan padi sarumpun dibagi duo, artinya menambah penghulu baru karena anak kemenakan bertambah banyak.
  7. Mangguntiang Siba Baju: Mangguntiang siba baju artinya, mendirikan penghulu baru karena ada persengketaan diantara beberapa kaum dalam menentukan calon pengganti penghulu.
  8. Gadang Manyimpang, Gadang manyimpang artinya mendirikan penghulu baru oleh suatu kaum yang ingin memisahkan diri dari kepemimpinan yang telah ada.

Syarat-syarat jadi penghulu.

Setelah kita mengetahui alasan mengapa diadakannya pengangkatan penguhulu tersebut, kemudian kita juga harus mengetahui syarat-syarat menjadi seorang penghulu. Adapun syarat- syarat menjadi seorang pemghulu antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Laki-laki, seorang penghulu haruslah laki-laki, tidak boleh perempuan. Karena penghulu adalah pemimpin, maka laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan.
  2. Baik bibitnya, maksudnya, orang tuanya berasal dari keluarga yang baik-baik, sehingga berguna sebagai jaminan akhlaknya.
  3. Baligh dan Berakal, Seorang penghulu haruslah orang dewasa, berakal dan berpendidikan, serta teguh dan tegas dalam segala tindakan.
  4. Berilmu, Penghulu harus mempunyai ilmu pengetahuan tentang adat, agama, termasuk undang-undang dan hukum adat serta memiliki ilmu pengetahuan umum menurut zaman.
  5. Adil, Penghulu tidak boleh berat sebelah. maksudnya, semua kemenakan dianggap sama, baik yang kandung maupun yang tidak. Penghulu harus adil dan tidak boleh pilih kasih.
  6. Arif Bijaksana Penghulu harus mempunyai perasaan yang halus, berpikiran tajam, cerdik-cendikiawan,paham yang tersirat.
  7. Tabligh atau menyampaikan. Seorang penghulu hendaklah menyampaikan sesuatu yang baik kepada masyarakat.
  8. Pemurah, Penghulu harus bersedia memberi nasehat-nasehat kepada siapa saja yang menghendaki.
  9. Tulus, Seorang penghulu harus memiliki sifat yang lurus dan benar.
  10. Sabar,Seorang penghulu hendaklah berlapang dada dan beralam luas.
  11. Kaya,Penghulu hendaklah orang yang berada, sehingga ia tidak menyusahkan anak kemenakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

PANTANGAN SEORANG PENGHULU

Penghulu sebagai pemangku adat adalah nan didahulukan salangkah, nan ditinggikan sarantiang,

Tidak boleh melanggar pantangan, gunanya untuk menjaga martabat dan wibawa penghulu diantaranya adalah:

  1. Marah, Marah adalah pantangan seorang penghulu dalam pergaulan sehari- hari, lebih- lebih dalam acara rapat/ musyawarah. Penghulu tidak dibenarkan memerahkan muka dan menuturkan kata-kata yang menyinggung perasaan orang yang mendengar.
  2. Menghardik, Penghulu tidak boleh menghardik. Ia harus bersikap lembut dan tenang  serta manis tutut sapanya.
  3. Menyingsiangkan Langan Baju, Penghulu hendaklah senantiasa tertib dalam setiap gerak geriknya, karena selain menjadi suri tauladan yang baik, penghulu juga harus di hormati dan di segani oleh anak kemenakannya.
  4. Berlari, menjujung atau memanjat, Pantangan ini gunanya untuk menjaga martabat, kehormatan, dan harga diri seorang penghulu.

Mulai dari alasan diadakannya pengangkatan penghulu, syarat- syarat menjadi seorang penghulu, serta pantangan dari seorang penghulu. Terakhir, kita akan membahas tentang cara- cara pengangkatan penghulu. Ada beberapa cara yang harus dilalui dalam pengangkatan penghulu, yaitu diantaranya sebagai berikut:

  1. Menentukan Baniah: Menentukan baniah maksudnya, menentukan calon penghulu yang akan diangkat oleh kaum yang patut menyandang gelar penghulu. Pemilihan calon ini harus di rundingkan terlebih dahulu baik buruk calon penghulu tersebut.
  2. Dituah dicilakoi: Dituah dicilakoi artinya, calon penghulu diperbincangkan baik buruknya dalam suatu rapat khusus yang dihadiri oleh lelaki dan wanita dalam kaum itu. Keputusan rapat dibawa ke dalam rapat keluarga saparuik ( keluarga berdasarkan garis keturunan ibu ). Di sini “dituah dicilakoi” lagi sesuai dengan sifat- sifat yang harus dimiliki seorang penghulu.
  3. Penyerahan Baniah: Setelah di peroleh kata sepakat, perlu di undang penghulu setungku untuk menerima penyerahan baniah. Penghulu setungku maksudnya penghulu-penghulu yang akan sehilir- semudik nantinya dengan calon penghulu dalam memimpin masyarakat nagari. Dalam rapat penghulu setungku ini, juga di beri kesempatan untuk hadirnya anak dan pinak, serta andan dan pasumandan untuk mengenal calon penghulu lebih dekat.
  4. Manakok Hari: Manakok hari artinya, menentukan kapan perhelatan berlangsung. Manakok hari juga ditentukan dalam rapat penghulu setungku. Di sini anak kemenakan membagi- bagi tugas untuk dikerjakan pada perhelatan nanti.
  5. Pelaksanaan Upacara Menegakkan Penghulu atau Melewakan Gala: Untuk peresmian pengangkatan calon penghulu menjadi penghulu bagi nagari, di adakan jamuan seisi nagari dengan maksud agar gelar itu dapat di ketahui oleh pihak umum. Dalam menjamu ini berlakulah apa yang di katakan dengan mengisi adat yaitu manurunkan jamua , artinya mengeluarkan padi dari rangkiang dan menyembelih hewan

Disamping hak, penghulu mempunyai pula kewajiban-kewajiban yang telah digariskan oleh adat. Ada empat kewajiban yang dimiliki oleh penghulu dalam memimpin anak kemenakan. Keempat kewajiban itu adalah sebagai berikut:

Menuruik alue nan lurus (menurut alur yang lurus), yang dikatakan menurut alur yang lurus, yaitu tiap-tiap sesuatu yang akan dilaksanakan oleh penghulu hendaklah menurut garis-garis kebenaran yang telah digariskan oleh adat. Penghulu berkewajiban untuk tidak menyimpang dari kebenaran tersebut dan kebenaran itu dapat dibuktikannya, seperti ungkapan adat mengatakan “luruih manahan tiliak, balabeh manahan cubo, ameh batuah manahan uji”. Alur yang lurus ini dapat pula dibedakan atas dua bahagian, yaitu alur adat dan alur pusaka.

Alur adat yaitu peraturan-peraturan di dalam adat minangkabau, asal peraturan tersebut disusun dengan kata mufakat oleh penghulu-penghulu atau ninik mamak dalam satu nagari. Sedangkan alur pusaka artinya semua peraturan-peraturan yang telah ada dan diterima dari nenek moyang Dt. Ketumanggungan dan Dt. Perpatiah nan sabatang. Alur pusaka ini di dalam adat dikatakan “hutang babaia, piutang batarimo. Salah batimbang, mati bakubua”.

Manampuah jalan nan pasa (menempuh jalan yang pasar), yang dikatakan manampuah jalan nan pasa yaitu peraturan-peraturan yang harus dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat. Seorang penghulu hendaklah meletakkan atau melaksanakan apa yang telah digariskan oleh adat dan tidak boleh menyimpang dari yang telah digariskan adat, yaitu balimbago, bacupak, dan bagantang (berlembaga, bercupak, dan bergantang).

Mamaliharo harato pusako (memelihara harta pusaka), penghulu berkewajiban harta pusaka, seperti dikatakan warih dijawek, pusako ditolong. Harta pusaka merupakan kawasan tempat anak kemenakan berketurunan mencari kehidupan, tempat beribadah dan berkubur. Harta pusaka yang dipelihara seperti pandam perkuburan, sawah ladang, labuh tapian, korong dengan kampung, rumah tangga, balai dan mesjid. Harta pusaka yang berupa adat istiadat yang telah diwarisi turun-temurun dari nenek moyang juga dipelihara dan ditolong untuk dilanjutkan pada generasi selanjutnya.

Mamaliharo anak kemenakan (memelihara anak dan kemenakan). Penghulu berkewajiban memelihara anak kemenakan “siang mancaliak-caliakk-an, malam bandanga-dangakan, barubah basapo, batuka baanjak, hilang bacari, luluih basalami”

Dalam hal-hal yang umum penghulu juga mempunyai kewajiban yang sama terhadap anak-kemenakan penghulu lainnya, jika mereka bersalah perlu di tegur dengan batas-batas tertentu.

Disamping hak Panghulu juga memiliki hak didalam kaumnya diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, Memutuskan sesuatu permasalahan secara tegas dan tepat. Di tengah-tengah kaumnya seorang penghulu berhak untuk mengambil suatu keputusan yang tegas dan tepat mengenai sesuatu permasalahan, tetapi tidak ditinggalkan unsur-unsur MUSYAWARAH MUFAKAT dengan seluruh anggota kaum. Dia tidak ragu-ragu bertindak dan mengatur sesuatu yang bertujuan baik untuk kepentingan kaum. Seorang penghulu tidak boleh membeo saja, apa yang diingini oleh anggota kaumnya. Kelebihannya sebagai seorang pemimpin harus ditunjunkkannya dalam sikap dan tindakannya.

Kedua Memperoleh sawah kagadangan(sawah abuan). Karena tugas penghulu tersebut cukup sibuk, baik urusan kedalam maupun keluar yang menyangkut dengan kaumny, sudah jelas dia tidak mempunyai waktu lagi untuk mencari nafkah, maka penghulu mempunyai hak untuk mendapatkan sawah kagadangan (sawah kebesaran) milik kaumnya. Hasil sawah kagadangan ini diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketiga Menetapkan hak dan kewajiban kemenakan. Dalam kerapatan suku dan nagari seorang penghulu mempunyai hak suara untuk menyampaikan sesuatu berupa usul dan pendapat demi kepentingan suku, nagari dan anak kemenakan pada umumnya. Seseorang penghulu secara mufakat dan bersama-sama pada tingkat nagari, untuk menetapkan atau memutuskan sesuatu yang akan diberlakukan pada anak kemenakannya.

Keempat Memperoleh hasil ulayat. Penghulu pada suku dan nagari juga mempunyai hak untuk mendapatkan hasil dari ulayat suku dan nagari, seagaimana diaktakan : karimbo babungo kayu, kasawah babungo ampieng, kalauik babungo karang (kerimba berbunga kayu, kesawah berbunga emping, kelaut berbunga karang).

Dengan sajian singkat ini setidaknya dapat menjadi ilmu buat anak-anak minangkabau yang sedang bermasalah dengan penghulu di kampung masing masing.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *