Kenapa Islam selalu Dijadikan Target Operasi, Ini Alasannya

oleh -18 views

PADANG,SUMBARTODAY-Paska perang salip, Barat mengikrarkan permusuhannya kepada Islam. Di manapun. Bahkan kristolog, Irena Handono mengatakan hal itu dapat dilihat dari beberapa tulisan para tokoh, di antaranya melalui yel-yel yang diciptakan untuk tanda memusuhi umat Islam.

“Count Henri Decastri, dalam bukunya yang berjudul  ‘ISLAM’ (1896), mengungkapkan betapa bencinya Barat terhadap Islam. Hymne-hymne itu dipenuhi oleh kebencian kepada kaum Muslimin dikarenakan ketidakpedulian mereka terhadap agamanya. Dikatakannya, bahwa hymne-hymne yang muncul  sebelum abad ke-12 berasal dari konsep yang merupakan akibat dari Perang Salib,” katanya, melalui akun Twitter pribadi miliknya.

Mantan biarawati ini juga menjelaskan bahwa kebencian itu pun hingga saat ini masih bertahan. “Akibat dari hymne itu, kebencian terhadap Islam pun  berakar, dan beberapa di antaranya masih terbawa hingga saat ini.”

Penulis tersebut juga menurutnya mengatakan bahwa umat Islam yang ada di dunia ini sebagai umat yang musyrik. Tidak beriman. Umat Islam juga dikatakan oleh penulis tersebut sebagai umat yang senantiasa memuja berhala serta murtad. “Kebencian Barat kepada Islam bukanlah hal yang mengada-ada. Menurut Count Hneri Decastri, tiap orang menganggap Muslim sebagai orang musyrik, tidak beriman, pemuja berhala dan murtad. Walau sudah demikian jelas faktanya, pengungkapan fakta itu justru dianggap provokatif.”

Ada sebuah peristiwa yang bisa dijadikan penguatan mengapa Islam itu dibenci dan dimusuhi, salah satunya ialah melalui pidatonya Kaisar Manuel II Palaeologus. Dalam pidatonya itu, Irena mengatakan Kaisar menghina dan mengecam Islam dan juga Nabi Muhammad.

“12 September 2006, Paus berpidato dengan tema ‘Korelasi Antara Iman & Logika dan Pentingnya Dialog Antar Peradaban & agama’, Paus mengutip pernyataan Kaisar Manuel II  Palaeologus,yang berisi hinaan dan kecaman terhadap Islam & Nabi Muhammad. Pidato itupun menimbulkan kecaman ummat Islam.” Namun Paus berdalih umat Islam salah menafsirkan. Padahal telah jelas apa yang dikatakan oleh Kaisar Manuel II tersebut.

Mengapa Islam Terus Diserang ?????

Serangan kepada Islam berjalan simultan pada dua sasaran, yakni terhadap institusi keislaman dan umatnya. Kasus internasional seperti Salman Rusydi dengan ‘Satanic Verses’ nya, Wilder di Belanda, Pernyataan Paus, Pembakaran al Qur’an, juga kasus nasional seperti Nabi baru setelah Nabi Muhammad SAW, al Qur’an sebagai produk budaya, berhaji tidak harus di Arofah dan tidak pada 09 Dhulhijah, pengingkaran Hadits, dan semacamnya adalah bentuk serangan pemikiran pada institusi Agama Islam, baik terhadap aqidah maupun syariah.

Pada sisi lain serangan fisik militer terhadap umat Islam, apakah skala komunitas maupun negeri muslim terus berlangsung, seperti penaklukan Pemerintahan Islam di Afganistan, diteruskan ke serangan pada negara Iraq dengan alasan penuh fitnah dan kebohongan, Pergolakan sosial yang membuat porak-porandanya Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, dan Syria oleh kelompok dalam negeri namun dikendalikan dan dipersenjatai oleh asing jelas merusak/menghancurkan kekuatan umat Islam. Palestina yang terus menerus diperangi secara politik dan  milter sehingga gagal menjadi negara merdeka berdaulat adalah contoh  pelemahan umat bentuk lain. Sikap permusuhan terhadap Iran yang mau mengembangkan kemampuan nuklir untuk kepentingan damai begitu sistematis dan agresif, bahkan diancam serangan militer setelah memperoleh berbagai sanksi ekonomi dari PBB oleh inisiatif Barat, jelas bukti lain lagi betapa agama Islam dan umatnya terus mendapat permusuhan. Ironisnya, sebagian pemeluk agama Islam malah ikut melemahkan agamanya baik dalam hal mengacaukan pemikiran keislaman maupun ikut menghancurkan kekuatan umat Islam sendiri. Sebagian lain membantu musuh Islam melalui cara tidak langsung, samar, seperti menyebut tidak ada serangan pada agama Islam, bahwa pertikaian pemikiran itu adalah hikmah dan penyerangan fisik-militer seperti kejadian di atas tidak ada kaitannya dengan agama. Astaghfirullah. Tidak sadarkah (tokoh) umat Islam seperti itu bahwa mereka akan dikenai adzab Allah SWT yang menimpanya dunia-akherat sesuai sunnatullah?

Sebagaimana sudah banyak difahami, Islam sebagai tuntunan cara hidup haruslah dipatuhi secara keseluruhan (‘kaffah’), tidak sepotong-sepotong, supaya hidup manusia berhasil dunia akherat.

Cara hidup Islami memang khas, berbeda dengan cara hidup penganut keyakinan yang bukan berasal dari Islam. Cara hidup Islami acuannya juga jelas yakni Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. 

Agama Islam tidak hanya memandu cara hidup terkait masalah ibadah ritual (‘mahdhah’) seperti sembahyang (dalam Islam disebut shalat), puasa, atau doa saja, namun juga memberi tuntunan bagaimana mengurus keluarga, mengelola masyarakat- bangsa-negara.

Agama Islam juga memberi panduan bagaimana cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang benar dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana memahami hakekat alam semesta, dan memberi makna yang tepat terhadap sains (ilmu pengetahuan) dan teknologi yang semakin pesat perkembangannya di dunia. Begitu utuh lingkup agama Islam, menyentuh seluruh  aspek kehidupan manusia, sehingga manusia sesungguhnya tidak memerlukan sumber acuan lain lagi untuk bisa hidup benar dan berhasil di dunia fana ini.

Sains-teknologi yang selama ini banyak dituhankan manusia dan dianggap panduan hidup paripurna ternyata sarat dengan kekeliruan manusiawi, apalagi jika sudah menyangkut permasalahan sosial, sehingga bisa membawa manusia ke jurang kerusakan-kehancuran.

Islam memasukkan sains-teknologi sebagai bagian dari Islam di mana kekeliruan-kekeliruan yang terjadi akan dikoreksi oleh sumber wahyu yang dituntunkan Allah SWT melalui jalur langsung ke nabi Muhammad SAW. Umat Islam wajib mendalami dan mengembangkan sains-teknologi namun dalam koridor naungan payung dan koreksi oleh al Qur’an dan Sunnah(silahkan  rinciannya bisa dilihat di artikel lain BLOG ini).

Dilihat dari begitu maraknya serangan pemikiran dan fisik-militer terhadap agama Islam dengan umatnya maka fakta tersebut sungguh mengherankan serta patut menjadi pertanyaan besar mengapa agama ini amat deras diganggu, berupaya dilemahkan, dan dimusuhi. Jika mau sedikit merenung saja sesungguhnya jawabannya tidak rumit.

Seandainya agama Islam hanya mengajarkan cara yang spesifik bagaimana manusia harus menyembah tuhannya saja (ritual), tentu tidak akan banyak orang peduli, silahkan semau mereka (orang Islam itu).

Namun begitu agama Islam juga memberi tuntunan bagaimana  manusia harus mengelola masyarakat-bangsa-negara supaya terwujud kesejahteraan dan ketenteraman bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin) maka otomatis orang lain (penentang Islam) yang di benaknya memiliki kehendak berbeda dalam mengurus masyarakat-bangsa-negara tentu menjadi tersaingi.

Mereka memiliki cara sendiri bagaimana harus mengelola masyarakat-bangsa-negara. Oleh sebab itu pada  skala masyarakat-bangsa-negara yang penduduknya pasti plural umat Islam lalu berhadapan dengan berbagai macam penganut ideologi yang bersifat non-Islami, seperti kapitalisme, komunisme, sosialisme, hedonisme, dll (sebut saja ideologi sekuler).

Berhadapan tentu saja tidak harus dalam artian berbeda pendapat begitu saja, namun di dalamnya terkandung tantangan serius “jangan cara Islami yang dipakai dalam mengurus masyarakat-bangsa-negara”. Proses persaingan itu lalu berwujud dalam berbagai bentuk, mulai dari benturan pemikiran, perdebatan, tekanan ekonomi dan kekuasaan, bahkan sampai memerangi secara fisik-militer.

Di sinilah sesungguhnya masalah pokok yang terjadi dalam dunia manusia: persaingan, persaingan,  dan persaingan tentang cara mana yang akan dipakai dalam mengelola sebuah masyarakat plural, apakah pada skala komunitas kecil atau skala bangsa-negara, bahkan skala yang lebih luas lagi, yakni dunia internasional.

Dalam kehidupan sosio-kultural manusia, bahkan di dunia makhluk hidup pada umumnya, berlaku kaedah ekologi sebagai SunnatuLLAH bahwa  makhluk yang berada dalam spesies yang sama (manusia tergolong satu spesies: homo sapien), akan mengalami interaksi kompetisi (persaingan) karena memiliki kebutuhan hidup yang sama. Manifestasi interaksi kompetisi tersebut  bentuknya bisa bermacam-macam namun esensinya adalah persaingan. Di sinilah hakekat permasalahannya, tidak bisa ditolak atau dinafikan, tapi harus dihadapi, di selesaikan oleh umat Islam.

Mengapa cara Islami dalam mengelola masyarakat-bangsa-negara yang plural harus ditentang atau bahkan dimusuhi? Jawabannya juga sederhana: mereka yang tidak sefaham dengan cara Islami, Mereka memiliki kepentingan pribadi dan kelompok terkait  masalah memperoleh kebutuhan hidupnya.

Di satu sisi ada yang khawatir jika cara Islami dipakai mengelola masyarakat-bangsa-negara maka kelompok mereka tidak akan mendapatkan kebutuhan hidupnya secara memadai.

Mereka yang masuk kelompok ini tidak mau secara jernih melihat substansi ajaran sosial-kenegaraan Islam yang jelas2 amat rasional menjamin mampu menyejahterakan semua warga negera apaun agama yang dipeluknya tanpa pilih kasih. Di sisi lain ada yang memang memiliki motivasi buruk, yakni mau mengeksploitasi sebanyak-banyaknya kekayaan dunia untuk dinikmati sendiri semaksimal mungkin senyampang mereka hidup, yang apabila cara Islami yang diterapkan maksud tersebut akan terhalang.

Mereka berfikir jika cara Islami yang dipakai untuk mengelola masyarakat-bangsa-negara maka mereka tidak mampu merealisir  agenda terselubungnya karena cara Islami memang tegas untuk memberantas perbuatan jahat dan eksploitatif (ingat kasus penjajahan), menindak perilaku/budaya tidak beradab termasuk kebrutalan, porno, dan perzinahan, menjaga kekayaan tanah air agar tidak diekspoitir fihak asing dan akan dikelola efisien untuk kepentingan masyarakat luas terutama untuk memberdayakan  mereka yang sedang kekurangan, hukum akan menjerakan bagi penjahat dan diberlakukan tanpa pandang bulu, pemimpin harus hidup sederhana sesuai dengan tingkat kehidupan rakyat pada umumnya, tidak lagi bisa menimbun kekayaan,  kekuasaan akan diberikan pada orang yang berkualitas baik dalam hal agama, keilmuan, dan manajemen sehingga para munafik, penipu, korak, pembohong akan tersisih dalam pemerintahan.

Semua aspek pengelolaaan masyarakat-bangsa-negara seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, ketertiban (poleksosbudhankam) sudah dituntunkan oleh Allah SWT melalui sumber acuan al Qur’an dan Sunnah, bersifat amat spesifik, dan berbeda nyata dengan cara pengelolaan masyarakat-bangsa-negara yang non-Islami (sekuler). Di sinilah sesungguhnya sumber utama dari semua masalah gangguan, penentangan, dan permusuhan pada agama Islam.

Upaya penentangan dan  permusuhan terhadap agama Islam bisa berwujud dalam berbagai bentuk, mulai dari yang amat kasar seperti penjajahan atau pendudukan wilayah atau penyerangan secara fisik-militer, sampai ke cara yang amat halus yakni mengacaukan pola pikir umat Islam melalui upaya penyesatan  pemikiran keislaman di kalangan umat Islam sendiri. Hal terakhir inilah yang sering disebut sebagai perang pemikiran. Perlawanan terhadap agama Islam bukan saja berskala lokal namun sudah  merambah pada skala nasional dan internasional.

Untuk mengatasi segala bentuk penentangan dan permusuhan terhadap agama Islam seperti disebutkan di atas maka umat Islam dituntut harus kuat, baik dalam hal keyakinan keimanannya, keyakinan akan benar dan baiknya syariat Islam di semua dimensi kehidupan, juga harus unggul dalam pemikiran, serta kokoh secara  sosial-fisiknya.

Kekuatan keyakinan harus terus dibina dengan pemantapan tauhid, yang salah satu kaidahnya adalah kemantapan hati bahwa tidak akan terjadi kejayaan di dunia-akherat tanpa Islam (“laa izzata illa bil Islam”). Kekuatan pemikiran harus terus dimantapkan dengan menambah kemampuan olah pikir, penguasaan sains-teknologi, dan kecerdasan menjawab segala bentuk serangan yang mengarah pada pelecehan substansi ajaran syariat. Jawaban  secara ‘naqli’ (alasan nash al Qur’an-Hadits) dan ‘aqli’ (alasan rasional yang sehat) terhadap argumen kelompok pendukung faham sesat seperti Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme, dan musuh Islam secara luas, termasuk masalah peraguan akan keabsahan al Qur’an-Hadits, tuduhan Radikalisasi dalam Islam, dan penyimpangan makna Rahmatan lil ‘Alamin harus terus dikembangkan.

Argumentasi yang berdasarkan naqli dan aqli perlu terus proaktif disiapkan mengantisipasi kreatifitas serangan pemikiran fihak lawan. Materi jawaban diperlukan untuk menanggapi pemikiran menyimpang sebagaimana yang sering dilontarkan oleh pendukung faham liberalisme, sekularisme, pluralisme, dan lainnya yang gencar beroperasi di negeri ini, termasuk polemik keabsahan Akhmadiyah, upaya pembubaran Ormas Islam yang menonjol seperti MUI, alasan pembatalan perundang-undangan terkait penodaan agama, promosi tokoh aliran sesat internasional yang mau disusupkan ke tengah umat Islam Indonesia, adu domba sesama  madhab, dan permasalahan pertarungan pemikiran lain-lain terkait agama Islam. Ulama, mubaligh, dan cendekiawan muslim perlu memperkaya diri dalam  menambah bahan untuk menangani tantangan pemikiran sesat yang terus menerus dilontarkan para penentang dan musuh Islam, yang selanjutnya perlu diteruskan ke umat yang awam agar tidak mudah terpengaruh dan menjadi goyah keimanan mereka.

Kemampuan sosial dan fisik umat juga harus dikembangkan melalui pembinaan kekuatan organisasi, khususnya kekuatan organisasi politik (Partai Politik ber-Azaskan Islam) yang memikul tanggung jawab untuk memenangkan persaingan dalam perebutan kekuasaan formal negara agar bisa dibentuk dan diterapkannya  Pemerintahan dan Kebijakan Nasional yang Islami.

Di samping upaya memperkaya diri dengan berbagai argumentasi dalam  menjawab serangan pemikiran menyimpang yang dilontarkan musuh Islam seperti yang diuraikan sebelumnya, tentunya umat juga harus difahamkan akan pentingnya masalah kemampuan untuk bertahan dan memenangkan pertarungan “non-pemikiran”. Perlu diketahui bahwa perang pemikiran akan terus berlangsung bahkan bisa mendominasi wahana sosial umat Islam di sebuah negeri muslim apabila kekuasaan formal pemerintahan negeri tersebut memberi hati pada para pengikut faham sesat Islam itu.

Pendukung faham sesat Islam yang dibelakangnya berada kepentingan politik Yahudi dan Komunis pasti tidak henti-hentinya akan terus melakukan serangan pada substansi keimanan dan syariat Islam melalui berbagai forumnya, Dukungan dana besar dan fasilitas dari kelompok di dalam dan luar negeri akan membuat umat ISLAM kesulitan.

Oleh sebab itu umat Islam harus disadarkan secepatnya bahwa perlu segera memiliki Pemerintahan Negara yang Islami yang proaktif menindak perilaku warga negara yang bermaksud menodai ajaran agama Islam. Untuk mencapai tujuan mulia dan strategis ini harus digunakan cara efektif-efisien, yakni umat beramai mendukung kekuatan politik (Partai Politik) yang memiliki visi menegakkan Pemerintahan yang Islami.

Umat harus faham bahwa dukungan seperti itu merupakan kewajiban syar’i bagi dirinya sebagai orang Islam. Jangan sampai umat Islam dibiarkan tidak peduli pada kegiatan politik praktis sehingga lalu bersikap netral saja (menjadi golput) dalam pemilu memilih pemimpin, apalagi jika sampai mendukung  Figur-Partai Politik Sekuler yang tidak memiliki visi syar’i dalam mengelola Indonesia. Ulama, mubaligh, dan cendekiawan muslim selain perlu canggih dalam menjawab pemikiran menyimpang terhadap ajaran Islam, juga seharusnya mengajarkan Islam Politik pada dakwah-dakwah mereka, tidak hanya mengajari ritual dan akhlak pribadi Islam saja.

Semoga umat Islam Indonesia memperoleh petunjuk dan kemudahan dari Allah SWT dalam upayanya membuat negerinya menjadi negeri “baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur”, aman sejahtera dalam berkah dan ampunan Allah SWT, melalui kesadaran untuk memenangkan pertarungan pemikiran dan pertarungan politik di negeri Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim.

Dikutip dari VOAISLAM, Kita ambil contoh cerita Kematian Siyono (39 tahun) yang menjadi terduga teroris setelah ditangkap oleh Densus 88 kembali menambah daftar panjang tidak transparan dan akuntabelnya operasi pemberantasan terorisme. Siyono, warga Klaten, ditangkap Densus pada 9 Maret lalu, namun pada tanggal 11 Maret dia dinyatakan tewas.

Pengamat terorisme, Harits Abu Ulya, mengatakan, selama ini masyarakat sudah mengindikasi adanya tindakan yang tidak sesuai oleh Densus 88. “Kalau Densus mau jujur buka data, setidaknya ada 120-an orang yang tewas dalam operasi terorisme di luar pengadilan,”.  Kemudian, untuk kasus salah tangkap, setidaknya lebih dari 40 orang dan 99 persen dari mereka yang salah tangkap ini mengalami penyiksaan. (Republika, 13 Maret 2016).

Polisi menyebut Siyono tewas kelelahan setelah melakukan perlawanan saat berada di dalam mobil sehingga terlibat perkelahian dengan aparat Densus. Alasan tersebut diragukan banyak pihak karena sesuai prosedur penanganan terhadap terduga teroris harus diborgol tangan dan kakinya, apalagi perkelahian yang disebutkan terjadi di dalam sebuah mobil. Bagaimana seseorang dengan kondisi tersebut bisa melakuan perlawanan bahkan sampai mengancam nyawannya sendiri, inilah sekiranya pertanyaan sebagian besar masyarakat.

Berbagai tindakan Densus dalam menangani target operasinya yang seringkali berujung pada kematian sebelum sampai ke pengadilan untuk membuktikan salah benarnya seseorang dalam sebuah perkara hukum, hal ini mengurangi tingkat profesionalitas Densus 88 dalam memerangi terorisme di Indonesia. Setiap tindakan salah tangkap yang dilakukan oleh densus 88 selalu seseorang yang beragama Islam.

Penegakan hukum terkait terorisme tidak adil. Kasus ancaman bom di Mall Alam Sutera tidak pernah dikatakan sebagai aksi teror atau terorisme. Pelakunya—yang kebetulan non-Muslim—juga tidak dijerat dengan UU Terorisme. Padahal aksi itu jelas merupakan aksi teror karena telah menimbulkan rasa tidak aman publik. Aksi-aksi teror yang dilakukan separatis OPM—yang bahkan telah menewaskan sejumlah aparat—juga tidak pernah disebut terorisme. Apakah karena pelakunya juga non-Muslim dan didukung asing?

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menilai selama ini Densus 88 sama sekali tidak bisa dimintai pertanggungjawabannya atas terduga terorisme. Bahkan menurut dia, banyak terduga terorisme di Indonesia justru mati dibunuh Densus.

Selama ini operasi kontra terorisme oleh Densus kerap berakhir dengan terbunuhnya terduga teroris dan mereka selalu beragama ISLAM. Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Netta S Pane menyebut kinerja Detasemen Khusus (Densus) 88 pada aksi penembakan terduga teroris malah seperti sinetron. Menurut dia, unsur penegakan hukum tak terlihat dalam aksi penembakan itu.

Densus 88 tak lagi mengutamakan fungsi pokok Kepolisian, yaitu penangkapan target. Menurut dia pula, aksi penembakan terhadap setidaknya 116 terduga teroris, seperti dalam data Komnas HAM, malah tak menunjukkan adanya penegakan hukum. Apalagi banyak kemungkinan salah tembak. (Republika.co.id, 13/3).

Jika mengacu UU No 15 Tahun 2003, yang berhak membunuh teroris itu pengadilan, bukan polisi yang hanya bertugas untuk menangkap. Selama ini alasan polisi selalu dalam kondisi bahaya, akhirnya menembak teroris atau melakukan tindakan fisik yang berujung kepada kematian orang yang baru “terduga teroris”. Mereka bukan tersangka, terdakwa, apalagi terpidana. Seandainya pun mereka terdakwa dan terpidana pun, bisa saja tidak layak dihukum mati (dibunuh). Namun, faktanya mereka dibunuh meski baru terduga.

Aksi kekerasan dan terorisme apalagi menyebabkan orang terbunuh jelas tidak dibenarkan dalam syariah Islam sehingga harus ditolak. Namun, membunuh atau menyebabkan tewasnya orang (termasuk yang terduga teroris) dengan alasan untuk pemberantasan terorisme juga tidak dibenarkan. Keduanya jelas dilarang oleh syariah. Allah SWT berfirman:

“Janganlah kalian membunuh jiwa yang telah diharamkan Allah (untuk dibunuh) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS al-Isra’ [17]: 33).

Rasulullah mengingatkan dengan keras, “Segala dosa Allah dapat mengampuninya kecuali yang mati dalam keadaan kafir dan orang yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja.” (HR Imam Ahmad).

Oleh karenanya, kedzaliman berupa pembunuhan terhadap jiwa-jiwa yang diharamkan oleh Allah SWT, baik dalam kasus terorisme maupun kasus-kasus kejahatan lainnya harus segera dihentikan. Menghentikan pembunuhan maknanya adalah menghentikan kedzaliman. Menghilangkan kedzaliman harus dimulai dengan menghilangkan akar atau sebab masalah, yakni diterapkannya aturan dan sistem yang dzalim, sistem yang tidak berasal dari Allah SWT.

Sesuatu yang sangat bertentangan telah dan sedang terjadi, Teroris selalu menjadi korban, Islam Teroris tapi Islam Juga korban, Umat Islam harus sadar bahwa Islam sedang dijadikan Target Operasi bagi kepentingan yang memiliki Rencana serta dana yang besar.

Menghilangkan kedzaliman hanya bisa diwujudkan, manakala umat ini kembali menerapkan syariat Islam yang mulia dalam setiap aspek kehidupan dan dalam setiap penyelesaian permasalahan dan  sehingga menjadikan umat manusia benar-benar menghamba kepada Allah semata serta menolak untuk tunduk, taat, dan patuh kepada selain-Nya. Wallahu ‘alam bish shawab.*

Dewi Linanti Bandung, Jawa Barat (sumber VOAISLAM, Fuad Assyamsi Center,Surabaya)

APA ITU KHILAFAH ?

Ya, hari ini mungkin banyak yang sudah tidak asing dengan istilah Khilafah. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi umat Islam di seluruh dunia untuk menerapkan syariat Islam dan mengemban misi dakwah Islam ke seluruh penjuru alam.

Ingat ! Khilafah ya? Bukan Khilafiyah, Khofifah, bukan pula khazanah.

Khilafah akhir-akhir ini menjadi satu istilah yang menghebohkan. Sebagiannya menganggap ancaman serius. Wajar saja, ketika Khilafah tegak memang hukum syariat yang diterapkan akan menjadi ancaman serius para penjajah kafir dan antek-anteknya.

Pertama

Khilafah akan menjadi ancaman serius bagi Freeport, Newmont, Chevron, Conoco, Philips, Bumi Resources, Toba Energy, dan seluruh perusahaan tambang lainnya, baik asing maupun domestik. Kenapa? Karena begitu Khilafah tegak, sistem Islam ditegakkan, maka semua harta milik umum yang masuk kategori “Milkiyatul Ammah” seperti tambang, hutan, laut, harta-harta yang pada asalnya tidak boleh dimiliki oleh individu, semuanya akan diambil alih oleh Negara Khilafah.

Otomatis, berdasarkan syariah untuk mengambil alih tambang tersebut tidak dibutuhkan skema divestasi, tidak butuh kompromi untuk menghentikan kontrak karya, semua tambang secara sekaligus, serta merta dan seketika diambil alih kepemilikannya oleh negara Khilafah, tanpa kompensasi.

Khilafah hanya mempertimbangkan untuk menilai (aprasial) berapa investasi alat dan teknologi yang telah dibenamkan pada pertambangan, itupun bisa dikompensasikan dengan nilai penambangan yang selama ini sudah dilakukan. Jika tidak bersedia, perusahaan penambang dipersilakan angkat Kaki dan membawa seluruh alat dan mesin tambangnya.

Kedua

Khilafah akan menjadi ancaman serius industri perbankan, baik bank umum maupun bank swasta. Keharaman riba, telah menjadi dasar bagi negara Khilafah untuk menghilangkan riba dan melarang transaksi ribawi di daulah Khilafah.

Semua gedung perkantoran jawatan perbankan negara, ditutup dan dialih fungsikan menjadi struktur Baitul Mal. Baitul Mal adalah sistem perbendaharaan keuangan Khilafah yang akan melayani kebutuhan anggaran negara dan pelayanannya kepada umat.

Beberapa fasilitas non ribawi yang ada pada perbankan diadopsi oleh Baitul Mal sebaga bentuk pelayanan negara kepada umat. Jadi, masih ada fasilitas menabung, transfer, kirim uang, tarik uang, dan yang semisalnya. Sementara seluruh konpensasi, baik karena menabung atau mengajukan kredit, berupa bunga-bunga perbankan dihapuskan.

Terbayang siapa yang paling dirugikan ? Ya, sindikat perbankan yang dikuasai para bankir Yahudi.

Ketiga

Khilafah akan menjadi ancaman serius bagi kapitalisme global dan sosialisme internasional. Sebab, Khilafah hanya akan menerapkan hukum Quran Sunnah, yang meniscayakan proteksi negara dari serangan pemikiran, budaya, sistem hukum dan politik dari asing yang memasuki negara Khilafah.

Ini ancaman serius bagi kapitalisme global. Mereka akan kehilangan akses sumber daya, pasar, dan kader-kader untuk melanggengkan penjajahan. Yang dimaksud kader ini adalah jongos kekuasaan, bisa yang ada di pemerintahan maupun di bidang lainnya.

Keempat

ancaman serius bagi penguasa antek penjajah!. Sebab, tanpa demokrasi sekuler yang diwariskan penjajah niscaya penguasa antek ini tidak mungkin duduk di kursi kekuasaan. Mereka hanya mampu berkuasa dengan persetujuan tuannya para kafir penjajah, atas manipulasi sistem demokrasi ysng diterapkan di negeri ini.

Jadi para penguasa antek yang saat ini menjalankan misi penjajahan asing aseng, adalah pihak yang sangat terancam atas tegaknya Khilafah.

Sementara empat poin saja pihak yang saya sebutkan terancam. Lantas, siapa saja sebenarnya pihak yang paling diuntungkan dengan tegaknya Khilafah ?

Pertama, seluruh umat akan diuntungkan karena semua harta kekayaan umat yang masuk kategori milik umum seperti tambang, hutan, dan yang semisalnya dikelola oleh Khilafah.

Kekayaan yang super besar ini dijadikan modal bagi Khilafah untuk melayani kepentingan umat.

Pelayanan Khilafah juga tidak khusus diberikan kepada warga negara yang bergaya Islam, tetapi juga kepada ahludz dzimah (non muslim). Semua warga negara Khilafah, baik muslim maupun non muslim mendapat layanan dari Khilafah. Yang non muslim ikut Happy.

Tiga layanan utama yang akan diberikan Khilafah kepada warga negaranya tanpa memandang status agama, yang wajib diselenggarakan Khilafah yakni :

  1. Sandang pangan papan,
  2. Pendidikan dan Kesehatan
  3. Keamanan.

Keamanan yang ditanggung negara , menjadikan engkoh dan encik tidak perlu lagi sewa satpam untuk mengamankan dagangannya. Khilafah lah yang akan memberi pengamanan, perlindungan, pengayoman kepada seluruh warga negaranya.

Dengan harta Milkiyatul amanah, rakyat tidak perlu dipungut pajak. Bahkan, negara Khilafah mengharamkan pajak bagi setiap warga negaranya. Bayangkan, kita tidak perlu ribet lagi SPT pajak. Bisnisnya juga lebih untung, karena tidak ada yang memalak.

Kedua, seluruh kaum muslimin akan diuntungkan dengan adanya ridlo dan berkah ekonomi. Karena riba dihilangkan oleh negara Khilafah, seluruh muamalat (transaksi) ekonomi dibangun berdasarkan akad sy’ari . Akan bermunculan syairkah-syirkah Islami balik mudlorobah, Inan, abdan, dan yang semisalnya.

Dengan taatnya negara dan rakyat pada hukum Allah, maka Bumi dan langit akan mengeluarkan perbendaharaan harta yang melimpah. Sungguh, akan benar-benar terjadi semua orang tercukupi kebutuhannya, sehingga sampai-sampai kelak orang kesulitan untuk menyalurkan harta zakat.

Ketiga, seluruh rakyat dan umat benar-benar akan menjadi hamba yang taat sempurna. Bayangkan, bagaimana jika seluruh rakyat diperintah taat dengan teladan seorang Khalifah yang taat.  Seluruh kaum muslimin merasa Qonaah dalam ibadah, karena urusan kehidupannya selain telah diupayakan secara pribadi, negara Khilafah juga hadir untuk mencukupi.

Hari ini, umat terbelenggu kesyirikan. Negara diam. Umat terhimpit kelaparan, negara diam. Umat menderita sakit, negara diam. bahkan terkadang Negara dibuat seakan akan sebagai pelaku, pada hal merekalah pelakunya, mengatas namakan negara, jadi Makar sesungguhnya adalah makar kepada ALLAH SWT.

Negara Khilafah, prinsipnya benar-benar akan memakmurkan bumi dan membebaskan penduduk bumi dari penghambaan kepada selain Allah SWT dan hanya menghamba, menyembah kepada Allah semata.

Jadi tergambar, betapa Khilafah itu bukanlah visi politik sesaat yang ecek-ecek. Jadi wajar, membutuhkan waktu dan kesabaran, juga wajar mendapat penentangan dan hambatan. (Red).

Oleh : Nasrudin Joha

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *