Bank Mandiri Diambang Kebangkrutan, Benar atau Hoaks?

oleh -11 views

PADANG,SUMBARTODAY– Beredar berita di media sosial Bank Mandiri terkena serangan siber dan akan segera mengalami kebangkrutan. Informasi ini beredar di media sosial Wahtsapp. Apakah informasi Bank Mandiri terkenda serangan siber dan akan bangkrut. apakah benar demikian?

Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas membantah isu terkait serangan siber dan Bank Mandiri akan mengalami kebangkrutan. Bank Mandiri juga dikabarkan akan diambil oleh pemerintah Cina.

“Pesan gelap di media sosial dan aplikasi percakapan Whatsapp yang menginformasikan bahwa bank Mandiri mengalami kerugian, akan segera bangkrut dan akan diambil Cina adalah tidak benar. Tindakan penyebaran isu itu merupakan upaya pendiskreditan dengan tujuan merusak kepercayaan masyarakat, baik kepada Bank Mandiri, perekonomian Indonesia serta pemerintah RI,” kata Rohan Hafas dalam siaran pers yang diterima Tribun, Rabu (14/8/2019).

Menurutnya, Bank Mandiri merupakan bank milik pemerintah terbesar di Indonesia dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Bank Indonesia.

“Dengan kondisi ini, tidak mungkin segala kejadian tidak dimonitor dan diawasi oleh kedua institusi tersebut. Kami melihat, informasi yang disebarkan melalui kanal media sosial tersebut seperti diskenariokan oleh pihak tertentu yang memiliki itikad tidak baik untuk mengganggu perekonomian dan pemerintah,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Bank Mandiri akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk menindak pelaku penyebaran isu tersebut.

Bank Mandiri menghimbau agar masyarakat tidak ikut menyebarkan berita bohong karena dapat melanggar UU ITE.

Sumber tribunjabar.id dengan judul Bank Mandiri Terkena Serangan Siber dan Bangkrut, Benarkah? Ini Penjelasan Petinggi Bank,  Ditulis: Siti Fatimah , Editor: Kisdiantoro

Berikut kami kutip dari MSN.com :

Narasi yang menyebutkan bahwa Bank Mandiri terancam bangkrut pasca serangan siber beredar luas di media sosial. Narasi itu juga dibagikan Luqman Ibrahim Soemay melalui artikel opininya yang dimuat di laman fnn.co.id pada Selasa 13 Agustus 2019.

Dissajikan oleh PT. Tempo Inti Media (tbk) Gambar tangkapan layar beberapa unggahan artikel tentang terancam bangkrutnya Bank Mandiri (kiri) dan gambar tangkapan layar artikel opini oleh Luqman Ibrahim Soemay di situs fnn.co.id (kanan)

Dalam tulisannya, Luqman mengaku memperoleh informasi dari seseorang yang ia sebut sebagai sumber di dalam Bank Mandiri.

“Sumber di dalam, Bank Mandiri memang sedang menuju liang kebangkrutan. Pasalnya, secara teknis keamanan, sistem IT Bank Mandiri sangat tidak mungkin untuk bisa dipulihkan. Kejadian ini murni akibat serangan dari dalam Mandiri sendiri,” kata Luqman membuka opininya.

Luqman menuturkan keanehan utamanya adalah sampai detik ini pemerintah selaku pemegang saham pengendali tidak melakukan pemecatan terhadap direksi Bank Mandiri. Tidak ada pula pemberhentian sementara minimal terhadap Direktur Teknologi Informasi Bank Mandiri.

Hingga kini, menurut Luqman, peristiwa “blackout” di Bank Mandiri juga tidak ada kelanjutannya. Padahal, kabarnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno dan Otoritas Jasa Keuangan telah memanggil Direksi Bank Mandiri. Tidak jelas apakah pemanggilan itu terkait dengan sanksi atau siasat untuk meredam gejolak di publik.

Sumber yang disebut oleh Luqman mengatakan Bank Mandiri bukan hanya merugi sekitar Rp 10 miliar. Bank Mandiri kehilangan dana pihak ketiga hingga Rp 9 triliun. Sampai pekan pertama Agustus, dana Rp 9 triliun itu belum bisa di-trackback ke Bank Mandiri.

Luqman pun mengatakan, “Kalau soal Bank Mandiri rugi Rp 10 miliar itu perkara yang mudah. yang jadi pertanyaan bagaimana dengan yang Rp 9 triliun tersebut? Tampaknya tim IT bank pelat merah ini tidak mampu mengembalikannya lagi ke Bank Mandiri.”

Pemeriksaan fakta : Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas membantah isu tentang serangan siber dan terancam bangkrutnya Bank Mandiri tersebut.

“Pesan gelap di media sosial dan aplikasi percakapan Whatsapp yang menginformasikan bahwa Bank Mandiri mengalami kerugian, akan segera bangkrut, dan akan diambil Cina adalah tidak benar,” kata Rohan di Jakarta pada Rabu, 14 Agustus 2019.

Rohan menuturkan bahwa Bank Mandiri akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk menindak pelaku penyebaran isu tersebut. Bank Mandiri pun mengimbau masyarakat untuk tidak ikut menyebarkan berita bohong itu karena melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Menurut Rohan, tindakan penyebaran isu tersebut merupakan upaya pendiskreditan dengan tujuan merusak kepercayaan masyarakat, baik kepada Bank Mandiri, perekonomian Indonesia, ataupun pemerintah.

“Bank ini adalah bank milik pemerintah terbesar di Indonesia dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta Bank Indonesia. Dengan kondisi ini, tidak mungkin segala kejadian tidak dimonitor dan diawasi oleh kedua institusi tersebut,” ujar Rohan.

Oleh karena itu, pesan yang beredar di media sosial itu seperti diskenariokan oleh pihak tertentu yang memiliki iktikad yang tidak baik untuk mengganggu perekonomian dan pemerintah.

Kesimpulan: Berdasarkan sumber yang ada, narasi yang menyatakan bahwa Bank Mandiri terkena serangan siber dan terancam bangkrut merupakan pernyataan yang tidak akurat. sumber Zainal Ishaq

Dalam dunia bisnis tentu Anda sudah tidak asing lagi dengan istilah pailit dan bangkrut. Namun, sangat disayangkan masih banyak orang yang beranggapan pailit dan bangkrut adalah dua hal yang sama. Padahal keduanya berbeda. Mari kita bahas lebih mendalam lagi mengenai perbedaan antara keduanya.

Menurut kamus bahasa, kata pailit itu berasal dari bahasa Prancis yaitu failite yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti kemacetan pembayaran. Ada pula pengertian secara hukum yang dikutip Warta Ekonomi sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang, pailit dapat dijatuhkan apabila debitor :

  1. Mempunyai dua atau lebih kreditor, dan
  2. Tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih,
  3. Baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya.

Pailit juga memiliki arti sebagai sebuah proses di mana debitur menghadapi kesulitan keuangan untuk membayar utangnya dinyatakan oleh pengadilan. Pengadilan yang berhak menggugat di sini adalah pengadilan niaga, dikarenakan debitur tidak bisa membayar utangnya.

Lantas, apa perbedaannya dengan bangkrut? Dalam KBBI, bangkrut memiliki arti menderita kerugian besar hingga jatuh (tentang perusahaan, toko, dan sebagainya) atau dapat disebut dengan “gulung tikar”. Penyebab kebangkrutan sebuah perusahaan karena kerugian yang dialaminya, artinya perusahaan tersebut memiliki kondisi keuangan yang tidak sehat, sedangkan pailit, dalam kondisi keuangan yang sehat pun ia dapat dinyatakan pailit karena utang.

Setelah meninjau perbedaan dari sisi definisi dan peraturan, mari kita jabarkan perbedaan pailit dan bangkrut dari sisi penyebabnya. Sebenarnya, apa perbedaan yang mencolok antara pailit dan bangkrut jika ditilik dari sebabnya? Berikut penjelasannya:

Pahami Sebabnya : Ditinjau dari penyebabnya, pailit dan bangkrut juga memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Menurut Pasal 2 ayat (1), suatu perusahaan dapat dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan jika debitor mempunyai dua  atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih.

Sementara Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-VI/2008 halaman 27 menyatakan bahwa perusahaan bangkrut bukan karena kesalahan buruh dan banyaknya kebangkrutan di Indonesia disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal di luar kewenangan pengusaha dan mismanagement.

Contoh dari faktor eksternal di luar kewenangan pengusaha yang dikutip Warta Ekonomi dari Marketplus.co.id adalah kebijakan IMF menutup sejumlah bank di Indonesia yang juga mempunyai dampak pada pengusaha maupun buruh. Sedangkan contoh dari mismanagement, yakni pada tahun 1998 IMF memaksa menutup beberapa bank di Indonesia yang mengakibatkan beberapa bank bangkrut. Sehingga banyak perusahaan di Indonesia yang juga ikut bangkrut. Itu merupakan salah satu kebijakan IMF yang tidak dipikirkan dengan matang.

Setelah kita mengetahui perbedaan antara pailit dan bangkrut, ada baiknya kita juga mengetahui perusahaan apa saja yang mengalami kepailitan atau kebangkrutan.

PT Sariwangi Agricultural Estate Agency, dan PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung resmi dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Rabu (17/10) kemarin. Status kepailitan resmi disandang keduanya karena kelalaian mereka menjalankan kewajibannya sesuai kesepakatan perdamaian dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang sebelumnya telah disepakati pada 9 oktober 2015, kepada  PT Bank ICBC Indonesia.

Selain Sariwangi dan Indorub, adapula perusahaan yang dinyatakan pailit, antara lain Nyonya Meneer, TPI, Peti Kemas Multicon, Akira, PT Asuransi Jiwa Nusantara, dan Bali Kuta Residence.

Lalu, bagaimana dengan perusahaan yang bangkrut? Seperti yang dikutip Redaksi Warta Ekonomi, berikut beberapa contoh perusahaan yang mengalami kebangkrutan: Nokia di Finlandia, Adam Air, Kodak, Toshiba di Indonesia, Panasonic di Indonesia, Ford Motor Indonesia, General Motor Indonesia, Sharp, Lehman Brothers, dan Sempati Air. (sumber /www.wartaekonomi.co.id)

Bantahan Bank Mandiri terkait serangan siber dan akan mengalami kebangkrutan

Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas membantah isu terkait serangan siber dan akan mengalami kebangkrutan. Hal ini menyusul tersebarnya isu jika Bank Mandiri mengalami kerugian dan berpotensi mengalami kebangkrutan.

“Pesan gelap di media sosial dan aplikasi percakapan Whatsapp yang menginformasikan bahwa bank Mandiri mengalami kerugian, akan segera bangkrut dan akan diambil Cina adalah tidak benar. Tindakan penyebaran isu itu merupakan upaya pendiskreditan dengan tujuan merusak kepercayaan masyarakat, baik kepada Bank Mandiri, perekonomian Indonesia serta pemerintah RI,” kata Rohan Hafas di Jakarta, Rabu (14/8/2019).

lanjut Rohan, merupakan bank milik pemerintah terbesar di Indonesia dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Bank Indonesia.

“Dengan kondisi ini, tidak mungkin segala kejadian tidak dimonitor dan diawasi oleh kedua institusi tersebut. Kami melihat, informasi yang disebarkan melalui kanal media sosial tersebut seperti diskenariokan oleh pihak tertentu yang memiliki itikad tidak baik untuk mengganggu perekonomian dan pemerintah,” ujar Rohan.

Rohan juga mengemukakan jika Bank Mandiri akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk menindak pelaku penyebaran isu tersebut. Bank Mandiri pun mengimbau masyarakat tidak ikut menyebarkan berita bohong karena dapat melanggar UU ITE.

Saldo Nasabah Hilang, Ini Penjelasan Bank Mandiri

Bank Mandiri mengungkapkan penyebab terjadinya gangguan sistem yang menyebabkan adanya perubahan pada data 10 persen nasabahnya. Hal ini disampaikan oleh Corporate Secretary Bank Mandiri, Rohan Nafas.

Dia mengatakan, perubahan tersebut terjadi saat perpindahan proses dari core system ke back up system yang rutin dilaksanakan di akhir hari. Namun pada kali ini, terjadi error pada data saldo 10 persen nasabah Bank Mandiri.

“Hasil investigasi sementara, semacam defect di hardware, salah satu hardware. Memory defect lah. Jadi dia tidak bisa, error. Jadi saldo-saldo ketukar antara nasabah A, nasabah B,” kata dia, di Plaza Mandiri, Jakarta, Sabtu (20/7).

Bank Mandirimemperkirakan gangguan sudah terjadi sejak dini hari. Hanya memang komplain baru muncul di pagi hari, ketika masyarakat mulai ramai melakukan transaksi.

“Ini kalau secara teknis. proses backup itu akhir hari, Tengah malam. Mungkin jam dua pagi (dini hari) sebetulnya masalah ini sudah terjadi,” ujar dia.

“Tetapi mungkin orang tidak bertransaksi di jam-jam tersebut jadi masalah ini. baru sekitar jam 8 pagi mulai banyak yang komplain,” tandasnya.

OJK Minta Bank Mandiri Perbaiki Sistem agar Insiden Eror Tak Terulang,

Nasabah menunggu untuk melakukan pengaduan terkait gangguan sistem di Bank Mandiri KCP Jakarta Mal Pondok indah 2, Sabtu (20/7/2019). Nasabah Bank Mandiri mengeluhkan perubahan drastis saldo di rekening yang mengalami pengurangan dan ada juga yang mengalami penambahan. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memonitor upaya mitigasi yang dilakukan oleh PT Bank Mandiri (Persero) dalam mengatasi permasalahan teknologi informasi bank tersebut. Perbankan harus memiliki dan menerapkan standar operasional yang baik, jika gangguan sistem terjadi, dengan memprioritaskan aspek perlindungan konsumen terkait dengan hak nasabah, termasuk pemulihan layanannya.

Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Manajemen Strategis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Anto Prabowo menjelaskan, OJK meminta Bank Mandiri untuk segera melaporkan permasalahan yang terjadi dan langkah-langkah yang akan mereka lakukan agar kejadian serupa tidak terulang lagi di kemudian hari.

“Saat ini yang terpenting adalah pelayanan sudah kembali normal dan mereka juga telah menjamin keamanan dana nasabah, sehingga tidak ada nasabah yang terkurangi hak-nya,” jelas dia dalam keterangan tertulis, Senin (22/7/2019).

Permasalahan yang telah terjadi ini penting untuk menjadi perhatian industri perbankan. OJK meminta semua bank untuk terus melakukan review fungsi IT yang dimiliki secara berkala dalam rangka menegakkan tata kelola manajemen risiko operasional yang prudent dan berjalan dengan baik.

Hal ini merupakan bentuk upaya peningkatan pelayanan perbankan ke depannya dan mencegah agar permasalahan ini tidak terulang lagi ke depannya. (demikian dikutip dari Liputan6.com)

Seiring dengan krisis multi dimensi yang menimpa Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 yang dimulai dengan merosotnya nilai rupiah terhadap
dollar Amerika Serikat telah menghancurkan struktur ekonomi termasuk sektor perbankan. Krisis moneter yang terus menerus mengakibatkan krisis kepercayaan, akibatnya banyak bank mengalami masalah yang sama karena kredit macet.

Krugman (1999) mendukung pentingnya persoalan corporate failure yang mengulas mengenai global financial downturns dan memasukkan teori balance sheet fundamentals sebagai signal dari krisis yang akan terjadi. Walaupun penelitian corporate failure telah banyak dilakukan, tampaknya penelitian mengenai hal ini akan terus berlanjut karena perkembangan dunia usaha yang begitu cepat.

Menurut Setyorini dan Ardiati (2006), kebangkrutan perusahaan dapat dilihat dan diukur melalui laporan keuangan, dengan cara menganalisis laporan keuangan. Analisis laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan kondisi keuangan perusahaan serta hasil-hasil yang telah dicapai sehubungan dengan pemilihan strategi perusahaan.

Dengan melakukan analisis laporan keuangan perusahaan, maka pimpinan perusahaan dapat mengetahui keadaan serta perkembangan finansial perusahaan serta hasil-hasil yang dicapai, diwaktu lampau dan diwaktu yang sedang berjalan. Selain itudengan melakukan analisis keuangan diwaktu lampau, maka dapat diketahui kelemahan-kelemahan perusahaan serta hasil-hasil yang dianggap telah cukup baik, dan  mengetahui potensi kebangkrutan perusahaan tersebut.

Kreditur dan investor tentu tidak menginginkan perusahaan perbankan di mana kreditur dan investor menyimpan atau menanamkan uangnya mengalami kebangkrutan, dilikuidasi atau ditutup. Sedangkan calon kreditur dan calon investor, akan mencari informasi agar tidak menyimpan atau menanamkan uangnya pada perusahaan perbankan yang berpotensi bangkrut, likuidasi atau ditutup. Untuk itu mereka memerlukan informasi mengenai indikasi-indikasi penting agar mereka tidak mengalami kerugian.

Adanya kondisi tersebut menyebabkan para kreditur dan investor merasa khawatir jika perusahaan mengalami kesulitan keuangan (financial distress) yang bisa mengarah pada kebangkrutan. Oleh sebab itu diperlukan pengusaha yang tangguh yang mampu meningkatkan kinerja perusahaan serta mempunyai pemikiran dan tindakan kreatif untuk menjadikan perusahaan unggul dan kompetitif pada saat perusahaan lain mengalami kegagalan serta mampu mengembangkan kemampuannya untuk mengikuti perubahan terus menerus dalam era globalisasi agar perusahaan tetap eksis di masa mendatang.
Indira dan Dadang (1998) dalam D. Suryandari beramsumsi suatu sistem perbankan dikatakan sehat apabila bankbank dalam sistem tersebut berada dalam kondisi solvent. Suatu bank dikatakan solvent, apabila nilai asset lebih besar dari jumlah kewajiban yang harus ditanggung baik dari deposan maupun kreditur.

Menurut Indrawan ketua LSM KOAD, ” Saya tidak membantah issue tersebut, namun jika Bank Mandiri tidak sanggup mengembalikan dana nasabah tentu bisa dituntut secara hukum kepengadilan. jika hal itu benar, Bank Mandiri diduga akan kesulitan mengembalikan, agar tidak dituntut tentu harus disediakankan ruang negosiasi dengan nasabah, jangan didiamkan. Gangguan dari siber adalah tanggung jawab Mandiri, nasabah tidak memiliki akses terhadap hal itu, yang jelas Bank Mandiri assetnya besar. Jika dibandingkan dengan asset, rugi 9 trilyun tentunya belum seberapa, tetapi kita juga jangan lupa bahwa dana segar yang tersedia di kas Bank adalah sekitar 10% saja, ini yang membuat keadaan tersebut berbahaya, bisa kalah clearing, akhir-akhir ini banyak BUMN yang bangkrut, kita jangan lengah. kok semua pada bangrut, ada apa ??? “, pungkasnya

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *