Mengenal Dasrizal Datuak Rajo Mangkuto, Sang Maestro Adat Minangkabau

oleh -44 views

PADANG,SUMBARTODAY-Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto masih mengingat kata-kata ibunya yang mengiringi taburan kacang goreng di atas tikar rumah 59 tahun yang lalu. Kala itu jelang malam, wanita bernama Aminah baru pulang dari warung membawa kacang goreng sebanyak satu slop rokok dan langsung menaburkannya ke tikar yang digelar di atas lantai palupuah (lantai dari bambu).

Musra dan saudara-saudaranya langsung berebut. Ada yang dapat banyak, ada yang dapat sedikit. Bocah berusia 8 tahun itu kemudian mengadahkan telapak tangan kepada ibunda untuk meminta tambahan kacang.

“Manga ang ndak kuek bausaho!” (Kenapa kamu tidak berusaha  lebih gigih!)

Ia mengaku terkejut mendengar jawaban sang ibu kala itu. Sekali lagi, Aminah menaburkan kacang di atas tikar dan kembali dikerubungi anak-anaknya. Kali ini Musra dapat banyak. Lantas Aminah berkata, “aaa kan! Kuek ang bakarajo banyak rasaki ang!”(Ya kan! Ketika kamu bekerja keras maka rezekimu akan lebih banyak).

Mak Katik, sebagaimana pria itu kini akrab disapa, dibesarkan di tengah-tengah keluarga dengan pemahaman Adat Minangkabau dan Agama Islam yang kental. Ayahnya Ridwan Katik Rangkayo Endah adalah seorang pemuka agama sekaligus orang yang memahami seni dan adat budaya Minangkabau. Ketika Mak Katik masih kecil, ayahnya sering meletakkan kertas-kertas berisi petatah-petitih adat Minangkabau di lantai rumah. Tujuannya supaya Mak Katik membaca-baca tulisan itu selagi duduk hingga akhirnya punya kesadaran untuk mempelajarinya.

Menginjak usia 10 tahun, Mak Katik sudah mulai mendalami adat-adat dan seni budaya Minangkabau. Di sela-sela membantu orangtua berjualan dan bekerja di sawah, Mak Katik berguru dengan sang Ayah, kakek dan orang lain di kampungnya di Subang Anak, Nagari Batipuh Baruah, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat.(Red)

(sumber Klikpositif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *