Indonesia Diambang Krisis, Beban Kehidupan Rakyat Semakin Berat

oleh -5 views

PADANG,SUMBARTODAY-Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu bicara mengenai resesi ekonomi. Pengaruh pelemahan ekonomi global yang mulai mengancam ekonomi Indonesia.

Menurutnya, Indonesia harus persiapkan diri untuk segala kemungkinan dengan cara memperkuat fondasi perekonomiannya.

Ekonom Josua Pardede mengatakan, ancaman resesi memang semakin nyata, tapi itu akan berdampak lebih besar terhadap negara yang kontribusi net ekspornya cenderung lebih tinggi. Ia mencontohkan, negara yang rentan terkena adalah Singapura dan selanjutnya Indonesia.

Namun, ia menilai hal ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan, karena ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat. Meski begitu, pemerintah harus tetap waspada.

“Ketahanan ekonomi Indonesia cenderung terus membaik terindikasi dari kondisi keseimbangan eksternal yang terus membaik seperti rasio utang luar terhadap PDB yang tetap stabil,” ujar Josua.

Selain itu, “cadangan devisa Indonesia cenderung meningkat seiring peningkatan investasi baik portofolio dan PMA (Penanaman Modal Asing). Hal ini sejalan dengan perbaikan peringkat utang pemerintah yang saat ini sudah layak investasi “,tambah Josua

“Perekonomian Indonesia diperkirakan akan tetap stabil dan akan dapat bertahan terhadap perlambatan ekonomi global mengingat ekonomi domestik masih menjadi pendorong utama perekonomian,” kata dia.

Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa nasional naik pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya. Penerimaan devisa yang meningkat menopang kenaikan cadangan devisa.

Pada Jumat (6/9/2019), cadangan devisa Indonesia tercatat US$ 126,4 miliar. Naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 125,9 miliar.

“Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,4 bulan impor atau 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” demikian sebut keterangan tertulis BI.

Menurut BI, kenaikan cadangan devisa didorong oleh penerimaan devisa migas dan penerimaan valas lainnya.

“Kedepan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik,” lanjut keterangan BI.
Cadangan devisa Agustus merupakan yang tertinggi sejak Februari 2018. Data ini bisa menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia, karena ada keyakinan BI punya amunisi yang semakin memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Waspada!!!!! Ekonomi Dunia Melambat, Sinyal Bakal Ada Resesi

Untuk itu, tambah Josua, pemerintah dan BI harus bisa membuat kombinasi kebijakan yang efekif untuk meredam gejolak.

“Selain itu, kombinasi kebijakan dari otoritas moneter dan fiskal yang prudent dan kredibel juga diperkirakan akan tetap menjaga iklim investasi dalam negeri,” tegasnya.

Jokowi menekankan, ekspor dan investasi menjadi kunci utama memperbaiki defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang sudah menahun jadi penyakit ekonomi nasional.

“Sesuai keinginan saya sejak awal untuk terobosan di bidang investasi, ekspor dan perdagangan. Saya sudah berkali-kali sampaikan ekspor, investasi, kunci utama,” tegas Jokowi.

Bila melihat kondisi Indonesia saat ini, agaknya memang wajar dan sudah semestinya Jokowi menaruh perhatian lebih pada upaya untuk memperbaiki kondisi transaksi berjalan. Pasalnya, melihat data-data indikator ekonomi Indonesia, kondisinya sudah cukup memprihatinkan.

Menanggapi ramainya sindiran politisi partai oposisi yang mengatakan bahwa ‘5 tahun pemerintahan Jokowi-JK, perekonomian Indonesia makin hancur’, kubu petahana pun membuka suara.

Pasalnya tudingan oposan selalu mengarah pada pertumbuhan ekonomi yang mengalami stagnasi di level 5 persen. Sementara pada masa pemerintahan sebelumnya (Susilo Bambang Yudhoyono/SBY) perekonomian pernah tumbuh diangka 6,3 persen.

Bahkan calon Presiden oposisi Prabowo Subianto, mengutip sebuah buku, dengan terang-terangan mengatakan bahwa pada tahun 2030 jika tidak ada perubahan, maka Indonesia akan punah.

“Kita mesti fair dengan keadaan, biar kalau ngomong nggak sepotong-sepotong. Pertumbuhan

ekonomi 5 persen sebelumnya sampai 6 persen. Indonesia kalau pertumbuhan sebelumnya tinggi sebabnya harga komoditas di dunia naik,” katanya di Jakarta (12/1/2019).

Rosan menjelaskan bahwa hampir 70 persen ekspor Indonesia mengandalkan komoditas. Karena itu pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada ekspor komoditas. Sedangkan harga komoditas di masa sekarang anjlok habis-habisan.

“Karena ekspor kita 70 persen masih komoditas. Misalnya batubara produksi 500 juta ton dan ekspor taruhlah 400 juta ton. Tahun 2014 harga komoditas turun. Nah itu kenapa ekspor kita tertekan pertumbuhan melambat,” tambah dia.

Menurut Rosan pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat tergantung pada 4 hal. Mulai dari konsumsi rumah tangga, investasi, belanja Pemerintah dan ekspor.

“Pertumbuhan ekonomi itu bergantung 4 hal, pertama konsumsi rumah tangga menyumbang 53 persen, 30 persen investasi dan Ekspor terakhir belanja pemerintah sisanya ekspor minus,” pungkasnya. dikutip dari AKURAT.CO

Rizal Ramli sebut era Jokowi perekonomian Indonesia tambah nyungsep

Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini dinilai bertambah nyungsep akibat kebijakan ekonomi makro yang diterapkan. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang terus mandeg di angka 5 persen.

Hal itu diungkapkan oleh Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Rizal Ramli sewaktu deklarasi alumni Perguruan Tinggi se-Sumsel pendukung 02 di Palembang, Minggu (31/3). “Ekonomi sedang melambat, budget malah dipotong, pajak diuber, itu bikin ekonomi nambah nyungsep,” kata dia.

Hingga saat ini, dirinya tidak pernah mendengar rencana atau strategi baru dari Joko Widodo agar ekonomi Indonesia mampu tumbuh di atas 5 persen. Berbeda halnya dengan Capres Prabowo yang mana meminta agar pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen dan itu dapat dicapai dalam 100 hari.

Salah satu upaya yang dilakukan, semisal yakni dengan menurunkan tarif listri. Sehingga ibu-ibu dapat menghemat Rp 500-600 ribu. Kemudian, menurunkan harga sembako sehingga mampu menghemat Rp 50 ribu per hari dan dalam sebulan dapat menghemat Rp 1,5 juta.

Dengan langkah ini, menurutnya mampu mendongkrak daya beli, ekonomi pun dapat tumbuh satu persen. Kemudian, Prabowo juga akan membuat 1 juta rumah untuk rakyat. “Pak (Joko) Widodo hanya bisa 320 unit rumah saat ini,” terangnya.

Dengan dibangunnya 1 juta rumah per tahun maka lapangan kerja bertambah 3,5 juta baik langsung maupun tidak langsung. Langkah ini mampu menumbuhkan ekonomi sebesar 1,5 persen. Artinya, upaya yang akan dilakukan Prabowo ini mampu menumbuhkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,5 persen.

Sedangkan, upaya yang dilakukan Joko Widodo menunjukkan tidak mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.

Saat ini, dirinya juga sangat prihatin melihat petani di Indonesia yang mana karet, sawit dan kopra anjlok. Sedangkan pemerintah memberikan solusi menanam jengkol, pete dan durian. “Ini jelas sekali solusi pemerintah tidak cerdas. Menanam jengkol dan durian itu butuh waktu 7 hingga 8 tahun untuk panen,” pungkasnya. (dikutip dari Jawa Pos)

Jika Kita lihat dari Penyebab ekonomi indonesia tidak stabil dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Sejak masa krisis moneter 1992 atau sejak runtuhnya orde baru Indonesia memang dilanda krisis yang sangat panjang. Dampak krisis tersebutlah yang masih kita rasakan hingga saat ini. Turun naiknya pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh indonesia atau penyebab ekonomi melemah  menurut beberapa pengamat ekonomi tidak lain disebabkan oleh  dua hal yakni produksi dan pengeluaran. Sebagai negara berkembang tentu saja Indonesia amat bergantung pada negara maju yang selama ini melakukan aktivitas impor dalam skala besar.

Salah satu yang menjadi tujuan impor produk Indonesia ialah negara China. Krisis yang dialami oleh China saat ini tentu sangat berpengaruh pada permintaan sejumlah komoditas sehingga juga menjadi penyebab ekonomi menurun . Meskipun pemerintah rutin melakukan konsolidasi dengan negara ekonomi kuat, namun dampak kriris china ini sangat berpengaruh pada penurunan permintaan. Tentunya ketidakstabilan ekonomi yang dialmi Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh satu sebab saja. Untuk lebih jelasnya berikut 7 penyebab ekonomi indonesia tidak stabil dilihat dari berbagai faktor. Simak selengkapnya.

1.Perencanaan yang Kurang Matang

Strategi dan rencana untuk mencapai pertumbuhan ekonomi pada semua lini memang telah ditetapkan. Target pertumbuhan ekonomi pada semua koridor memang sudah dijadwalkan sejak awal. Namun, eksekusinya pada saat dilapangan ternyata masih terdapat perubahan disana sini. Perubahan inilah yang kemudian secara tidak langsung akan mempengaruhi pelaksanaan dan eksekusi rencana yang telah dibuat. Bagaimanapun juga perubahan yang ada pasti akan memakan waktu sehingga target yang harusnya dapat tercapai tepat waktu cenderung menjadi molor. Simak juga perbedaan perusahaan  kecil menengah dan besar .

Penyebab utamanya ialah perencanaan yang digunakan dirasa tidak cukup matang. Dalam artian tidak memikirkan alternatif A, B, C atau D. Sebab jika tidak mengantisipasi faktor-faktor penghambat tentunya saat dihadapkan pada kondisi tidak memungkinkan maka tentu harus bisa mencari celah untuk tetap terus maju. Perencanaan yang tidak matang akan membuat rencana yang sudah jalan setengah jalan lalu kemudian terhambat, maka bisa dipastikan akan membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan solusinya. Berbeda dengan perencanaan matang, jika terhambat maka sudah memiliki planning cadangan sehingga rencana akan tetap bisa berjalan dan target akan tercapai tepat waktu.

2.Proses Tender yang Bertele-tele

Banyak yang mengatakan bahwa Indonesis memiliki sistem birokraai yang cukup rumit. Sebelum pasar bebas dibuka, untuk dapat mengekspor atau memgimpor barang kita harus melewati serangkaian tahapan panjang yang prosesnya bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan. Bisa anda bayangkan bagaimana para investor asing akan sabar menghadapi hal yang demikian. Sebab tentunya mereka ingi semuanya serba cepat dan kilat, karena pastinya mereka tidak inhin uangnya terbuang hanya untuk menunggu proses yang bertele-tele. Inilah salah satu penyebab mengapa para investor asing kurang tertarik untuk menginveatasikan dananya di pasar ekonomi kita.

3.Permasalahan Pencairan Dana

Serupa dengan penjelasan pada poin sebelumnya. Selain proses ang bertele-tele. Rata-rata perbankan kita enggan mencairkan dana (Disbursed Loan) terutama pada proyek yang sifatnya pembangunan infrastruktur. Sebab seauai dengan prosedur, perbankan tidak akan mau mencairkan pinjaman jika pembebasan lahan belum cleae atau tuntas. Inilah yang kemudian membuat beberapa proyek jalan tol dan infrastruktur besar lainnya mandek. Tentunya mandeknya pembangunan ini akan semakin berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi. Harusnya jika selesai tepat waktu maka tentu akan bisa menaikkan dan meningkatkan perekonomian pada wilayah dimana infrastruktur tersebut dibangun.

4.Pembangunan yang Kurang Tepat Sasaran

Banyak yang mengatakan bahwa Indonesia memiliki kebiasaan dalam pembangunan yang tidak bisa dihilangkan dari waktu ke waktu. Dimana terdapat proyek-proyek yang dinilai kurang strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Justru yang ada kemudian adalah pembangunan proyek yang pada akhirnya tidak banyak dilirik dan digunakan oleh banyak orang. Padahal pada faktanya masih banyak sejali terdapat peoyek yang harusnya menjadi poin utama pembangungan ekonomi. Seperti misalnya ada banyak sekali daerah pedalaman yang belum tersebtuh listrik. Selain itu juga banyak sekali jalan yang notabene merupakan penghubung satu daerah dan daerah lainnya terhambat.

Kondisi ini harus menjadi perhatian terutama oleh pemerintahan daerah. Sebab jika suatu daerah memiliki akses jalan yang bagus maka tentu perkembangan perekonomian akan lebih cepat. Sebagai contoh jika anda memilili kios yang berada disekitar jalan raya yang bagus tentu pasti akan didatangi banyak pembeli. Sebaliknya jika akses jalan untuk mendatangi tempat usaha anda jelek maka tentu konsumen akan malas. Nah, semakin banyak pembangunan strategis yang tepat sasaran maka tentu saja percepatan pertumbuhan ekonomi terutama di daerah dapat digenjot melalui jenis usaha mikro kecil dan menengah .

5.Dampak Krisis Ekonomi Global

Sebagai negara dengan ekonomi terkuat, krisis yang dialami oleh Amerika Serikat tentu sangat berdampak terutama bagi Indonesia yang notabene adalah negara berkembang yang sangat bergantung pada negara dengan ekonomi terkuat. Meskipun saat ini perekonomian Amerika berangsur-angsur kembali pulih namun pada faktanya pertumbuhan ekonomi belum tumbuh secara signifikan dan masih menjadi penyebab ekonomi lesu . Krisis yang dialami AS benar-benar memukul hampir seluruh negara di dunia.

Beberapa negara berkembang termasuk Indonesia tentu sangat merasakan dampaknya. Krisis ini membuat ekonomi dalam negeri menjadi tidak stabil. Sebagai akibat melemahnya bursa ekonomi. Serta kecenderungan dan ketakukan para pelaku pasar akan krisis yang menyebabkan transaksi ekonomi semakin melemah. Krisis global ini benar-benar memukul perekonomian kita. Meskipun beberapa sektor ekonomi tetap menggeliat namun beberapa usaha terutama usaha mikro kecil dan menengah mengalami dampak langsung dan harus gulung tikar.

6.Menurunnya Daya Beli Masyarakat

Penyebab utama ketidakstabilan ekonomi Indonesia disebabkan oleh semakin menurunnya daya beli masyarakat terhadap suatu produk yang tidak memahami cara mengatur keuangan bulanan . Penurunan konsumsi dan daya beli ini terjadi kepada mereka yang memiliki penghasilan rendah. Meskipun upah buruh dan kuli bangunan meningkat namun , imflasi yang terjadi belum mampu mengendalikan harha kebutuhan. Sehingga harga kebutuhan utama naik dan pada akhirnya gaji mereka hanya cukup untuk membeli kebutuha  primer saja. Inilah yang kemudian menyebabkan sektor properti, ritel makanan dan minuman mengalami penurunan penjualan yang cukup drastis.

7. Kurs Mata Uang yang Tidak Stabil

Kurs atau nilai tukar mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing diharapkan dapat terus stabil sebagai upaya untuk menstabilkan ekonomi. Pada faktanya menjaga kestabilan nilai kurs mata uang kita terutama terhadap dollar bukan hal yang mudah. Sebab ada berbagai faktor yang melatar belakanginya. Dalam perdagangan Intetnasional nilai mata uang yang digunakan ialah dollar, maka jika rupiah lemah terhadap dollar sudah pasti biasa impor barang akan naik. Sebab kita membayar menggunakan mata uang rupiah yang dikonversikan ke dollar. Ketidakstabilan nilai kurs mata uang rupiah inilah yang kemudian juga berpengaruh pada kestabilan perekonomian Indonesia.

Tujuh Penyebab Ekonomi Indonesia Tidak Stabil  dilihat dari berbagai faktor. Tentu akan semakin menambah pengetahuan kita dalam memandang arti pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Ini bukan hanya tugas pemerintaj saja namun menjadu tugas kita bersama untuk bisa mencapai kejayaan ekonomi dan menghadapi era globalisasi dan pasar bebas dengan lebih siap. Semoga artikel ini dapat membantu.

Dikutip dari Kompas.com – Venezuela dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Namun, sejalan dengan harga minyak yang anjlok dan minimnya investasi di sektor energi, berkah itu malah jadi petaka bagi Venezuela.

Ketika sedang jaya-jayanya karena harga minyak perkasa, pemerintah Venezuela memberikan subsidi pangan, akses ke perguruan tinggi, hingga layanan kesehatan yang mumpuni bagi warganya. Namun, semua itu kini tinggal kenangan.

Mengutip Deutsche Welle, Kamis (3/8/2017), ada beberapa hal yang patut Anda ketahui terkait krisis ekonomi parah yang terjadi di Venezuela.

1. Kaya minyak, kenapa Venezuela bisa krisis? Menurut data Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) tahun 2015, Venezuela terbukti memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, yakni mencapai 300 miliar barrel. Angka ini melampaui Arab Saudi (266 miliar barrel), Iran (158 miliar barrel), dan Irak (142 miliar barrel). Ini membuat mantan Presiden mendiang Hugo Chavez menempatkan minyak sebagai jantung ekonomi negara itu. Sekitar 90 persen ekspor dan separuh penerimaan negara Venezuela berasal dari minyak.

Ketika harga minyak anjlok dari 115 dollar AS per barrel menjadi separuhnya pada tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Venezuela anjlok 10 persen.

2. Industri minyak tanpa keahlian tak ada artinya Harga minyak bukan satu-satunya penyebab krisis Venezuela saat ini.

Faktor lainnya adalah kesalahan pengelolaan akibat terlalu meraup untung dari minyak. Petróleos de Venezuela (PDVSA), BUMN minyak Venezuela, mengadakan unjuk rasa pada 2002, yang berujung pada PHK 18.000 pegawainya oleh Chavez. Sejak saat itu, Chavez meminimalisir investasi infrastruktur minyak dan memaksimalkan kendali atas ladang minyak.

Produksi akhirnya turun tanpa adanya teknologi dari perusahaan asing, termasuk injeksi pasokan gas alam untuk mengelola minyak. Tahun lalu, Venezuela mengimpor 50.000 barrel minyak mentah ringan untuk mempersiapkan minyak mentah pekat untuk diekspor.

3. Rusia dan China utangi Venezuela Salah satu masalah yang dikhawatirkan saat ini adalah Venezuela tak mampu lunasi utang. Moody’s merevisi outlook Venezuela dari stabil ke negatif akibat tingginya kemungkinan gagal bayar. Pada tahun 2014, Venezuela meminjam hampir 50 miliar dollar AS dari China dan sekitar 5 miliar dollar AS dari Rusia ketika harga minyak bagus. Pinjaman ini untuk membayar utang pada kreditur minyak dan bahan bakar minyak (BBM).

Berbagai berita diatas tentunya dapat membuat kita sebagai rakyat berfikir akan kemanakan kita dibawa oleh Presiden Jokowi.?

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *