Asal Tuduh Akhirnya Minta Maaf

oleh -34 views

PADANG,SUMBARTODAY-Pemprov DKI Jakarta meminta pihak kepolisian untuk merehabilitasi nama baik institusinya terkait informasi mobil ambulans yang membawa batu dan bensin saat aksi demo di sekitar Gedung DPR/MPR.

Permintaan tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan DKI Widyastuti dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Kamis (26/9).

“Kami minta agar rehabilitasi nama baik institusi Pemprov DKI Jakarta termasuk jajaran Dinas Kesehatan DKI Jakarta,” kata Widyastuti.

Widyastuti menyampaikan pihaknya juga meminta kepolisian untuk mengklarifikasi berbagai informasi yang telah tersebar di media sosial, termasuk pemberitaan di media terkait insiden tersebut.

Apalagi, kata Widyastuti, mobil ambulans milik Pemprov DKI terbukti tidak digunakan untuk mengangkut batu dan bensin.

Selain itu, pihak Pemprov DKI juga meminta kepolisian untuk segera memulangkan tim medis yang sempat diamankan untuk dimintai keterangan.

“Memohon pemulangan tim medis kita yang kemarin telah dimintai keterangan oleh pihak Polda Metro Jaya,” ucap Widyastuti.

Diungkapkan Widyastuti, dalam aksi demo yang terjadi selama beberapa hari kemarin, Pemprov DKI memang ikut serta menyediakan dukungan kesehatan. Hal itu berdasarkan pada surat resmi permintaan dari Polda Metro Jaya dan surat resmi dari Kementerian Kesehatan.

Menurut Widyastuti, ke depannya perlu ada peningkatan kolaborasi dan koordinasi antara Pemprov DKI dan kepolisian di setiap jajaran, termasuk di tingkat lapangan. Tujuannya, agar insiden seperti ini tak terulang lagi.

“Kami memastikan juga bahwa jajaran pemprov dan dinas kesehatan, selalu akan mendukung kegiatan masyarakat yang dalam jumlah besar. Kami selalu akan berpartisipasi menyediakan dukungan kesehatan saat ini dan seterusnya ke depan,” tuturnya.
Sebelumnya, kepolisian mengklarifikasi perihal informasi sejumlah mobil ambulans yang diduga membawa batu dan bensin saat aksi di demo di sekitar Gedung DPR/MPR.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan pada saat kejadian anggota Brimob yang bertugas dilempari batu oleh perusuh. Kemudian, perusuh yang melakukan aksi pelemparan itu mencari perlindungan dengan masuk ke dalam mobil ambulans.

Atas dasar itu, sempat muncul anggapan di kalangan anggota Brimob yang bertugas bahwa mobil ambulans itu digunakan oleh perusuh. Padahal, dikatakan Argo, justru oknum perusuh itu yang kemudian memanfaatkan mobil ambulans untuk berlindung.

“Jadi anggapan dari Brimob ini diduga mobil yang digunakan untuk perusuh, tapi bukan,” ujarnya.

(sumber CNNIndonesia)

(Berikut ini dikutip dari Tirto.Id)

Demonstrasi pelajar SMP dan STM di Jakarta berujung ricuh pada Rabu (25/9/2019) malam. Muncul informasi simpang siur, di antaranya: polisi menuding ambulans Pemprov DKI Jakarta membawa batu untuk para demonstran.

Polda Metro Jaya dalam akun Twitter resmi @TMCPoldaMetro mengunggah informasi pada pukul 02.15: “Polri amankan 5 kendaraan ambulans milik Pemprov DKI Jakarta yang digunakan untuk membawa batu dan bensin yang diduga untuk molotov di dekat Gardu Tol Pejompongan Jl. Gatot Subroto.

” Unggahan video itu memperlihatkan ambulans putih berlogo Pemprov DKI Jakarta berpelat merah. Lalu, ada ambulans lain berlambang Palang Merah Indonesia. Seseorang meneriakkan tuduhan: “Ini ambulans pembawa batu, penyuplai batu untuk para demonstran!” Namun, cuitan itu dihapus pada pukul 10.50.

Sementara video dengan konten yang sama diunggah oleh akun resmi Instagram Polda Metro Jaya pada pukul 02.14. (Sampai artikel ini dirilis pukul 12.45, unggahan tersebut belum dihapus.)(sumber Tirti.id)

Petugas Medis Diintimidasi oleh Polisi Salah satu petugas medis di titik lokasi ambulans itu, yang minta namanya disamarkan dengan inisial AR, mengatakan polisi mengintimidasi petugas medis saat akan mengevakuasi korban demonstran.

“Saat jebol, ada satu korban yang harus ditangani di ambulans. Polisi bilang, ‘lo yang tadi, kan?'” “Memang sebelumnya rusuh, massa ambil batu dari taman di gedung BNI, marinir mencegah. Tapi, polisi kira ambulans yang siapkan batu,” kata AR, petugas medis dari salah satu kelurahan di Palmerah, Jakarta Barat.

AR bergerak ke area demo demi kemanusiaan. Maka, ia dan petugas medis serta dua ambulans lain (dari Kelurahan Pademangan dan milik PMI) bersiaga di depan Menara BNI Pejompongan, Jakarta Pusat.

Di situ, massa dipukul mundur ke area tempat lokasi dia berada, sekitar pukul 23.30. Areal Gedung BNI Pejompongan menjadi titik evakuasi, ujar AR. Saat itu gedung gelap. Polisi berseragam hitam berkumpul. Massa dari mahasiswa, pelajar dan warga sekitar masih dipukul mundur. Empat anggota marinir melerai dan mencegah. Tapi massa terus dipukuli oleh polisi. “Korban yang diinjak-injak polisi itu dilerai anggota marinir dan dibawa masuk ke ambulans,” ujar AR.

“Tapi korban digebuki di dalam ambulans, padahal ada polisi lain yang bilang ‘Hargai Saya’,” “Tapi polisi lain masih emosi.” AR menduga korban yang diinjak-injak itu masih di bawah umur. Ia menceritakan siapa pun yang ada di situ dilarang oleh polisi menggunakan gawai untuk merekam atau memotret peristiwa.

Lantas, empat personel PMI Jakarta Pusat dan dua personel PMI Jakarta Timur di situ juga jadi sasaran polisi, ujar AR. Padahal mereka hanya mencegah agar polisi tak main hakim sendiri dan membiarkan ambulans berangkat.

Dua petugas PMI berhasil menyelamatkan diri ke gedung BNI, tapi empat rekannya jadi bulan-bulanan polisi. Polisi meneriakkan: “Lo yang tadi halang-halangi gue tadi, kan?”

Polisi Klarifikasi Ambulans Pemprov DKI dan PMI Bawa Batu untuk Demonstran

sumber Liputan6.com-Polda Metro Jaya mengklarifikasi kabar yang menyebutkan adanya dugaan keterlibatan mobil ambulans milik pemprov DKI Jakarta dan Palang Merah Indonesia (PMI) dalam aksi demo 25 September 2019. Mobil ambulans diduga membawa batu dan bensin.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, usai meminta klarifikasi dengan petugas ambulans yang bertugas saat demo, batu di mobil tersebut berasal dari perusuh.

Argo menjelaskan, saat brimob bertugas meredakan situasi demo ada lemparan lemparan batu dari perusuh. Saat dikejar, perusuh itu mencari tempat perlindungan, salah satunya ke ambulans milik PMI dan Pemprov DKI.

“Dia itu masuk mencari perlindungan ke mobil PMI,” kata Argo saat melakukan konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (26/9/2019).

Argo menambahkan, diduga tindakan perusuh masuk ke dalam mobil ambulans agar seolah-olah tindakan anarkistis yang terjadi dalam aksi demo melibatkan fasilitas kesehatan seperti ambulans.

“Jadi anggapan anggota Brimob, diduga dia (perusuh) berharap bahwa mobil itu juga digunakan oleh perusuh,” kata dia.

Sementara Anies mengatakan, potensi fitnah itu ada karena cara kerja petugas medis yang luar biasa. Mereka bekerja ke tempat atau lokasi yang justru dijauhi oleh orang-orang lain.

Tuduhan bergulir baru-baru ini terkait Pemprov DKI Jakarta. Sejumlah akun Twitter mengunggah video yang memperlihatkan sejumlah personel kepolisian menahan dua mobil ambulans berlogo Pemprov DKI Jakarta.

Dalam video tersebut, pantauan hidayatullah.com, Kamis (26/09/2019), terdengar suara seseorang berkata, “Penyuplai batu untuk para pendemonstran.”

Akan tetapi, saat kedua ambulans tersebut dibuka pintu belakangnya, tidak terlihat ada batu yang dituduhkan. Hanya tampak sejumlah petugas berseragam merah dan bermasker khas petugas medis.

“Ini penyuplai batu ini ambulans ini,” masih terdengar suara seseorang dalam video tersebut. “Ini muka-mukanya ini penyuplai batu,” suara lain terdengar mengarah ke sejumlah orang dalam ambulans tadi.

Video tersebut antara lain diunggah oleh akun Denny Siregar @Dennysiregar7 baru-baru ini disertai tulisan, “Hasil pantauan malam ini.. Ambulans pembawa batu ketangkap pake logo @DKIJakarta.”

Anies meyakini bahwa para petugas medis melaksanakan tugasnya berdasarkan Standar Operasional Prosedur.

“Saya yakin mereka (petugas medis) dan ambulans kita bekerja sesuai standar prosedur (SOP). Di saat semua orang menjauh, petugas ambulans mendekat. Di saat semua orang menghindari, petugas ambulans mendekati.

” Polisi adalah pengayom masyarakat, jangan berlaku tidak adil, jangan memihak, jadilah penegak hukum yang benar dan mengayomi masyarakat, kita hidub dinia ini tidak lama, hanya berkisar 65 tahun buat apa melakukan perbuatan tercela, kita sendiri yang akan rugi “, ungkap ketua LSM KOAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *