Tak Pantas Jadi Gubernur Sumbar, Jika Tuntaskan Masalah Pasar Banda Buek Tak Mampu

oleh -55 views

PADANG,Sumbartoday– (berita ini kami kutip dari Covesia.com): Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah salah satu dari sekian Bakal Calon (Balon) gubernur atau wakil gubernur yang sering disebut-sebut menjelang Pilkada Sumbar 2020 mendatang.

Kepemimpinannya telah dimulai dari Wakil Ketua DPRD Sumbar, Wakil Walikota Padang dan sekarang untuk periode keduanya sebagai Walikota Padang.

Dengan pengalaman itu, peluang Mahyeldi sebenarnya terbuka lebar. Tapi yang namanya politik tentunya punya banyak kemungkinan. Di dalam internal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), partainya Mahyeldi, terdapat beberapa kader lain yang layak juga untuk maju, seperti Anggota DPR RI Refrizal dan Walikota Payakumbuh Riza Pahlevi.

Menanggapi hal itu, Koordinator Komunitas Peduli Sumbar (KAPAS) Isa Kurniawan mengungkapkan, bagi Refrizal, yang gagal duduk kembali menjadi Anggota DPR RI, ada 2 pilihan posisi politik baginya ke depan, pertama maju di Pilkada Padang Pariaman 2020 sebagai calon bupati, dan di Pilkada Sumbar 2020 sebagai calon wakil gubernur, bisa berpasangan dengan Nasrul Abit (Gerindra) atau dengan Epyardi Asda (PAN).

“Kalau Refrizal maju di Pilkada Padang Pariaman 2020 berarti tekanan bagi Mahyeldi di internal PKS menjadi berkurang, tinggal Riza Pahlevi.

Riza Pahlevi pun tidak bisa dianggap enteng walau hanya memimpin kota yang berpenduduk di bawah 100 ribu orang. Isme Gonjong Limo (Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh), atau Luhak Nan Bungsu, akan terbawa emosinya oleh Riza,” ujar Isa kepada covesia.com, Kamis (20/6/2019).

Kekuatan lainnya, ujar Isa, Riza telah memiliki pengalaman elektoral untuk daerah pemilihan yang mencakup Sumbar secara keseluruhan. Di mana ia pernah sukses menjadi salah satu dari 4 orang Anggota DPD RI utusan Sumbar, sebelum terpilih menjadi Walikota Payakumbuh.

Jadi maju di Pilkada Sumbar 2020 bagi Riza tinggal menikam jejak.

Kembali ke Mahyeldi, sebutnya, pengalaman 3 kali ikut Pilkada Padang, dengan meraih kemenangan ketiga-tiganya, merupakan modal besar bagi Mahyeldi, karena menang di ibukota provinsi dengan penduduk yang hampir 1 juta orang.

“Kemudian menjadi Ketua Umum DPP IKA Fakultas Pertanian Unand, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sumbar, dan lainnya, merupakan bukti eksistensi Mahyeldi di Sumbar,” imbuhnya.

Sementara di posisi calon wakil gubernur, Mahyeldi berpeluang berpasangan dengan Nasrul Abit (Gerindra) atau Epyardi Asda (PAN), karena “chemistry” koalisinya ada.

“Maju sebagai calon gubernur, pilihan Mahyeldi tidak banyak, berpeluang berpasangan dengan Ali Mukhni atau Shadiq Pasadique, dari PAN. Tapi koalisi antara PKS dengan PAN, faktor Epyardi Asda untuk menjadi calon gubernur yang diusung PAN tentunya tidak bisa dinafikan,” jelasnya.

Menurut Isa, itulah yang menjadi persoalannya, menjadi calon wakil gubernur rasanya tidak banyak halangan bagi Mahyeldi, tinggal fatsun politik di pusat dijalankan, dimana koalisi Gerindra dan PKS, atau PAN dan PKS. Walaupun masih berhadapan dengan Refrizal dan Riza Pahlevi, tapi peluang Mahyeldi cukup besar.

Di posisi calon gubernur, untuk mendudukkannya diyakini akan membutuhkan energi politik yang cukup besar.

“Mencermati dinamika politik tersebut, tentunya terpulang ke Mahyeldi. Apakah ingin menjadi “ekor gajah” dengan maju sebagai calon wakil gubernur, atau menjadi “kepala semut” dimana tetap menjadi Walikota Padang? Yang namanya wakil, seperti cerita yang sudah-sudah tentunya kewenangan terbatas,” ujarnya. (dikutip dari Covesia.com)

Lain halnya setelah kami konfirmasi kepada Indrawan ketua LSM KOAD.

Menurut Indrawan ketua LSM KOAD kepada media ini,” dulu disaat Mahyeldi mengikuti Pilkada sebagai cawako bersama wakilnya mereka adalah pilihan saya”,kata Indrawan.

“Disaat Mahyeldi berpasangan dengan M Zalmi, Saya bahkan ikut meramaikan, agar Mahyeldi terpilih sebagai walikota Padang, namun dalam perjalanan saya sangat kecewa dengan Buya Mahyeldi bagaimana tidak, beberapa kali bertemu buya tidak menunjukkan kwalitasnya sebagai walikota, sepertinya beliau tidak mampu mengurus pasar Banda Buek, oleh sebab itu saya rasa dia tidak pantas jadi Sumbar satu”, Pungkas Indrawan

“Saya tidak yakin Mahyeldi mampu untuk menjadi Gubernur Sumbar. Pendapat tesebut bukan tidak beralasan, saya sudah beberapa kali mengirim surat kepada sang Walikota, agar segera menyelesaikan masalah pasar Banda buek, saya kecewa, tak satupun surat saya yang dibalas, beliau selalu menolak untuk membicarakan, akhirnya saya menerima ditolak Mahyeldi, sebenarnya beliau tidak mampu, nah, kalau Mahyeldi saja tidak mampu, tidak akan mungkin bawahannya sanggup, terbukti sudah tiga tahun ditangan Endrizal, SE, MSi sebagai kadis perdagangan kota Padang, malah masalah hukum yang terjadi bertambah banyak”,ungkap Indrawan ketua LSM KOAD.

Demikian juga dengan Mairawati yang sekarang menjadi Tim Relawan Fakhrizal,” saya sangat kecewa dengan Mahyeldi, dulu saya adalah tim sukses sang walikota, ternyata saya salah dalam menolong buya, saya mengalami sendiri dimana disaat saya berkunjung menemui beliau, dia seperti tidak mengenal saya, atau pura pura tidak kenal, tanpa basa basi, saya disuruh menghadap ke Kadis Perdagangan Padang. Terlebih lagi saya adalah salah satu tim sukses beliau untuk periode sekaran ini, saya mengamati, sangat kelihatan ketidak mampuannya dalam memimpin dan menyelesaikan masalah, sekarang saya memilih menjadi Tim relawan Irjen Pol Fakhrizal”, ungkap Mairawati kesal.

“Apalagi sang walikota Mahyeldi pernah berjanji akan menjadi walikota sampi selesai masa jabatan satu periode, jadi kalau Mahyeldi ikut pencalonan Sumbar satu, berarti beliau bohong kepada masyarakat kota Padang, jika dia tinggalkan pemilih Padang saya yakin Mahyeldi akan ditinggalkan pemilihnya”, tambah Mairawati lagi mengakhiri.

Kita lihat dalam problem lain yang dikutip dari REPUBLIKA.CO.ID, PADANG: Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Wilayah Sumbar, Mahyeldi Ansharullah kemarin, Jumat (15/3) melantik pengurus MES wilayah Kabupaten Solok Selatan. Mahyeldi berharap adanya MES Solok Selatan dapat memerangi praktek riba.

Sangat aneh, ditempat dimana Mahyeldi jadi walikota banyak terjadi praktek Riba, terutama di pasar pasar seperti Pasar Banda buek, seakan sepwrti dibiarkan, kok malah daerah lain yang dia urus. dipaparkan Indrawan ketua LSM KOAD dalam sebuah pertemuan dengan tim redaksi.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *