“Menerawang Balon Gub Sumbar” Conjecture Politik : Dwi Tarung Mahyeldi VS Fakhrizal

oleh -127 views

PADANG,SUMBARTODAY-Kendati Pilkada serentak 9 bulan lagi, gaungnya sangat nyaring kedengarannya, hal ini mungkin tahapan pilkada sudah akan dimulai masing –masing Bakal calon Gubernur sudah menampilkan wajahnya secara terbuka melalui berbagai pose, gaya dan slogan terpasang pada alat peraga kampanye atau baliho dipinggir jalan.

Didalam politik sering terjadi social engineering dan Politic engineering bertujuan menarik hati Publik tapi didalam Politik selalu berlaku ketidakpastian. Bila diterawang para calon dengan mengamati parameter tertentu cukup beralasan karena Politik selalu digumuli perkiraan keadaan yang mungkin terjadi dimasa depan dengan apa yang disebut Future Logi Politik, kondisi ini tak terkecuali dalam pemilihan Kepala Daerah.

Tampilnya beberapa nama di permukaan seperti Nasrul Abid, Mulyadi, Fakhrizal, Reydonnyzar Moenek, dan Mahyeldi. Sedangkan  Balongub yang tidak disebutkan disini bukan berarti mereka dipandang enteng. Mereka sebenarnya orang – orang hebat berpengalaman, tapi untuk bakal calon Gubernur setelah melalui pengamatan terhadap Perkuatan Kapasitas atau Strengthening Capacity mereka kurang lengkap sebagai Balongub sebutlah Ali Mukhni, Indra Catri, Sadig Pasadique, Reza Fahlepi.

Sebelum dipaparkan pengamatan deskriptif para Balongub perlu dicermati bahwa Pilkada analog dengan Pilpres, Pilkada Paradok dengan Pileg. Artinya perolehan suara legislatif tidak mencerminkan suara Pilkada. Karena Pilkada banyak variable yang diukur : Integritas,  Ketokohan dan Rekam jejak, kredibilitas dan kapabilitas para calon akan menjadi pengamatan utama Publik. Untuk memperkirakan Balongub yang mungkin tampil difinal atau yang akan memperoleh suara terbanyak diperlukan pengamatan melalui analisa komparatif dan deskriptif Morphology Politik berkenan dengan tingkah laku Politik.

Untuk membuat Penerawang Conjecture tidak lepas dari tingkah laku Politik masa lalu. Sebut saja Nasrul Abid Wakil Gubernur,  yang sebetulnya Abid selangkah lagi jadi Gubernur karena dia sekarang orang kedua( Incumbent ),  Irwan Prayitno sudah dua periode maka Abidlah paling punya peluang. Tetapi sikap, kebijakan Nasrul Abid  cendrung mempersulit diri sendiri. Kebijakan Abid yang di anggap kurang objektif dalam penempatan Ketua DPRD Sumbar dan Kota telah membuat Gerindra berisik, sulit dihindari Power Struglle atau Petarungan Kekuatan di dalam tubuh Partai Gerindra Pengurus vs Abid. Indikator Abid dijegal partainya ketika Partai Gerindra membuka pendaftaran bakal calon Gubernur tanggal 25 Oktober 2019. Hal ini menandakaan Abid tak berdaya lagi dapat menguasai partainya. Puncaknya minggu kedua Desember Nasrul Abid dicopot sebagai Ketua DPD Partai Gerindra. Indikator ini pertanda sulit bagi Abid tampil memenangkan  Gubernur Sumbar, belum lagi dibahas deskriptif tingkah laku politik dan kebijakan Abid  selama 10 tahun sebagai penguasa Kabupaten Pesisir Selatan.

Menerawang para calon Gubernur tentu tidak mudah, yang diamati hanya sebatas tampilan, ucapan slogan dan tingkah politik yang bersangkutan. Begitu juga dengan sosok Mulyadi seorang Tokoh Nasional dari Partai Demokrat. Pada Pilkada  tahun 2015  Mulyadi mengebu – gebu memasang Balihonya dan alat peraga kampanye lainnya. Pada tahun  2015 sebenarnya peluang yang paling bagus baginya. Publik sangat mengharapkan Mulyadi tampil  sebagai Kompetitor  karena pecahnya duet Politik Iwan dan Muslim membuat publik  ingin wajah baru memimpin  Sumatera Barat tapi Mulyadi kecut tidak berani tampil karena harus mengundurkan diri terlerbih dahulu dari anggota DPR sesuai ketentuan yang berlaku.

Untuk sekarang tentu semakain sulit baginya. Peraturan Pilkada tetap tidak berubah, setiap anggota legislatif yang mencalonkan  diri sebagai Kepala Daerah harus mengundurkan diri terlebih dahulu. Menoleh kemasa lalu Mulyadi cendrung bertipe Politisi Betina takut mengambil resiko. Bila sekarang Mulyadi memaksakan diri maju, sulit baginya tampil sebagai pemenang sekalipun memperoleh suara terbanyak waktu Pileg. Publik Sumbar sangat paham bahwa kendaraan utama Mulyadi Partai Demokrat. Di Sumbar infrastruktur  politik Partai Demokrat sangat minim, Demokrat sedikit memiliki Tokoh. Sejalan dengan itu tingkah laku politik SBY dipusat yang kurang konsisten  akan berpengaruh pada suara Mulyadi sebagai calon Gubernur pada Pilkada Sumbar.

Menelusuri Rekam Jejak Bakal Calon Gubernur adakalanya kita berjalan dalam malam kelam, tidak semuanya terkaver. Begitu juga Mayjen  Pol Fakhrizal yang telah mengambil ancang – ancang maju melalui calon Independent. Langkah ini merupakan langkah politik yang cukup berani. Di Sumatera  selama Pilkada Langsung  calon  Gubernur belum ada yang melalui jalur Independent, bila ini berhasil Fakhrizal sudah membuat spekuler. Menjadi calon Pemimpin di Sumbar dominan masyarakat selalu melirik takah dan tokoh, dan ini dimiliki Fakhrizal. Kelebihan Fakhrizal banyak bergaul dengan berbagai Lapisan masyarakat dan sering turun kebawah sebagai Pengayom rakyat, saat menjabat Kapolda Sumatera Barat Fakhrizal selalu elegan dan bertingkah laku sebagai Kapolda Ninik Mamak. Suatu hal yang menjadi modal bagi Fakhrizal maju sebagai Calongub bersekolah dan besar di Sumatera barat . Sebagai anak Tentara yang akrab dengan lingkungan asrama Fakhrizal punya basic yang cukup bersama Capabilitas dan Kredibilitas dirinya yang baik.

Bagi Futurolog perkiraan keadaaan atau Perkiraan Politik, itu benar atau salah tidaklah menjadi topik utama, bagi Futurolog yang penting bagaimana mengumpulkan isu – isu, dan kejadian Politik, tingkah laku Politik yang mungkin diperkirakan terjadi sehingga dapat mewarnai jalan masa depan yang sekalipun masa depan itu tidak pasti, Performance Fakhrizal selalu digeluti supprises atau kejutan – kejutan seperti yang dilakukakn yang bersangkutan di Sumatera Barat orang tidak tersentuh Hukum ditangannya tak berkutik.

Sebagai seorang Polisi lama  berdinas diluar Sumbar Fakhrizal kaya pengalaman. Hal ini sangat diperlukan sebagai seorang Pemimpin yang menurut masyarakat Minang “ Mamaknya Batareh ke dalam dan Batareh ke luar”. Fakhrizal memang Batareh ke dalam dan Batareh ke luar sebagai faktor pendukung maju dalam Pilgub, Fakhrizal memiliki semua itu, Suatu hal yang menarik bagi Fakhrizal mudah akrab dengan banyak orang.

Sekalipun Fakhrizal memiliki kredibilitas, kapabilitas, dan integritas yang bagus, Fakhrizal bukan berarti akan mudah memenangkan Pilkada. Pilkada identik dengan Pilpres. Kita baru saja selesai melaksanakan Pilpres dimana Jokowi mengalami kekalahan telak di Sumatera Barat hanya memeperoleh 14,05%. Kondisi eksternal ini akan jadi batu sandungan dan berkerikil tajam bagi Fakhrizal karena Rakyat Sumatera Barat cerdas membaca dimana gelagat dan Tren Kepolisian pada Pilpres cendrung mendukung Jokowi. Mudah – mudahan kondisi ini tidak dikaitkan Publik pada Pilkada.

Membuat deskriptif melalaui penerawangan memang tidak bisa tajam Pengamatannya,  Demikian juga Morphologi Politik Mahyeldi Ansharullah Walikota Padang yang banyak disebut – sebut Publik maju sebagai calon Gubernur Sumbar, karena figur anggota PKS di Sumbar belum ada yang sekelas Mahyeldi sebagai calon Gubernur. Keberhasilan Mahyeldi yang memimpin Kota Padang dengan teduh, kalem, dan tanpa gejolak banyak Publik menoleh kepadanya.

Recovery yang dilakukan Mahyeldi telah berhasil mendesain Kota Padang menjadi yang Kota beradab, Membebaskan Padang dari gejolak – gejolak (shocks) yang sering terjadi atas ketidak puasan masyarakat pada kebijakan Pemko, dan Mahyeldi mendapat kepercayaan atau Trust dari masyarakat.

Sulit dipungkiri Mahyeldi sudah berhasil merubah wajah Kota Padang. Terobosan – terobosan Mahyeldi di akui banyak pihak. Sosok Mahyeldi sebagai Ulama, Umara, dan Ninik Mamak menandai Perkuatan Kapasitas atau  Strengthening Capacity Mahyeldi sangat lengkap. Orang minang selalau berfikir melihat contoh ke nan sudah melihat Tuah ka nan manang Mahyeldi sudah memilikinya. Memang Mahyeldi telah berhasil membangun Kota Padang,  setiap masalah atau gejolak yang mungkin muncul Mahyeldi tidak selalu menyelesaikannya secara komprehensif jika.

Didalam memimpin Kota Padang Mahyeldi selalu tampil tut wuri handayani sering mendorong staff untuk maju dan selalu memberikan keleluasaan untuk berkembang, Sebagai seorang buya, juru dakwah tak lupa menjalankan puasa senin dan kamis memperlihatkan dia sebagai seorang Pemimpin yang taat, punya karakter yang tidak pernah marah. Bila bicara dengan buya Mahyeldi terlihat buya selalu serius mendengar lawan bicaranya, Buya memang selalu menjalankan sunah Rasul tidak ada undangan yang tidak tidak dihadiri, selalu mendengar dan menampung keluhan masyarakat. Memang hidupnya dari Majid ke Masjid dan Mushalla dan Mushalla guna mengayomi umat. Pemimpin seperti ini amat dirindukan dan dicintai masyarakat Minang

Bila tidak ada faktor – faktor eksternal yang bermain dalam Pilkada Gubernur Sumbar, Perebutan Sumbar I sesungguhnya kemungkinan besar akan terjadi dwitarung Mahyeldi vs Fakhrizal, kedua – duanya Punya basic yang kuat, Sekalipun calongub lebih dari dua pasang diperkirakan Mahyeldi vs Fakhrizal yang bersaing ketat.

Kedua calongub ini bukan tidak ada Pesaingnya, Dua pasang calongub ini dibayangi oleh pamong senior Reydonnyzar  Moenek. Berokrat senior yang pernah menjadi PLT Gubernur Sumbar. Moenek punya peluang kendati belum banyak berbuat untuk Sumbar tapi di tingkat Nasional dia sudah berkiprah dengan bagus.Moenek bagian dari kuda hitam yang sulit diperkirakan.

Pilkada identik dengan Pilpres semua kekuatan politik bermain karena serat kepentingan, diharapkan mereka Seyogya memakai sportifitas dan Fairplay yang tinggi, Para Balongub menjauhi pendekatan  Kekuasaan dan kampanye negatif guna menghindarai zero sum game “Kita bersaudara, Perlihatkanlah diri anda sebagai anak minang yang cerdas”.

Sumber Penulis : Indra Syarif, Pemimpin Redaksi, Majalah Bidik Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *