Masyarakat Harus Menyadari Bahwa Neoliberalisme Adalah Ancaman Bagi NKRI

oleh -17 views

PADANG,SUMBARTODAY-Semua orang paham bahwa liberalisme adalah sebuah ideologi tentang kebebasan. Dan lebih populer lagi paham ini lebih berkonsentrasi pada bidang ekonomi. Bagi dunia yang mengedepankan sistem ekonomi kekeluargaan (koperasi) dalam menjalankan roda keuangan negaranya, liberalisme merupakan ancaman terbesar bagi kelangsungan kehidupan perekonomiannya.

” Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama “.

Tetapi sangat perlu dicermati ketika paham Liberalisme itu bermigrasi menjadi Neoliberalisme, kata Neo didepannya tidak sekedar pembaharuan peristilahan. Bermigrasinya paham liberalisme menjadi neoliberalisme merupakan ancaman yang jauh lebih luas dari sekedar soal-soal ekonomi dan keuangan tetapi menjadi penyangga utama untuk mewujudkan neokolonialisme (penjajahan dengan sistem/pendekatan baru) yang lebih adaftif bagi bangsa-bangsa tertentu.

Menjadi Gurita.

Sebagai ideologi dan filsafat, neoliberlisme terus dikembangkan untuk kepentingan penguasaan terhadap seluruh asset sebuah bangsa. Dimulai dari penguasaan bidang ekonomi lalu secara perlahan dan semakin cepat belalainya mulai merambah keberbagai bidang kehidupan yang berada diluar persoalan ekonomi.

“…Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu.

Dimulai dari bidang ekonomi dengan target tumbuhnya ketergantungan akibat kemiskinan yang sengaja diciptakan maka selanjutnya akan memudahkan untuk masuk kebidang lainnya seperti ; bidang kebudayaan,bidang pendidikan,bidang kesehatan,bidang politik dan hukum,bahkan hampir menusuk kebidang agama.

Paham neoliberlisme tumbuh menjadi gurita dengan tentakel yang beroperasi sendiri-sendiri lalu kemudian menyatukan gerakannya kearah satu tujuan (goal) yaitu Neokolonialisme.

Bidang Ekonomi hanya sebagai permulaan.

Merambahnya paham neoliberalisme kebidang ekonomi hanyalah sebagai permulaan program untuk mewujudkan cita-cita berdirinya Neokolonialisme secara sistematis. Target dari kepentingan paham neoliberalisme dibidang ekonomi dan turunannya adalah menciptakan ketergantungan. Target ini disimpan secara rapi dalam bungkus rasionalitas dan faktual yang semu. Pendekatan yang dilakukan sengaja diciptakan sedemikian rupa sehingga menimbulkan penerimaan tanpa kritikal disebagian besar masyarakat dunia ketiga.

Keberhasilan paham neoliberalisme mencapai targetnya dalam menciptakan suatu ketergantungan ekonomi dan keuangan akan segera menyebabkan tumbuhnya ketergantungan-ketergantungan disektor-sektor sosial lainya. Dari ketergantungan itulah akan diciptakan suatu rezim yang menjadi perpanjangan tangan Kaum Neoliberalisme sebagai pelaku dinegara-negara yang mereka kuasai.

Bidang-Bidang lain sebagai penyempurna.

Biasanya paham neoliberalisme ini akan berhadap-hadapan dengan paham-paham yang lebih banyak dipengaruhi oleh adat budaya lokal dan ajaran agama tertentu yang dianut suatu bangsa. Penerimaan masyarakat terhadap paham-paham yang selama ini tidak ia kenal sangat ditentukan oleh budaya (kultur) masyarakat tersebut. Oleh karenanya maka paham neoliberlisme harus memaksakan dirinya untuk masuk kepersolan kultur tersebut. Kultur masyarakat yang dinilai menjadi penghambat dalam mengideologikan liberalisme ini harus dirubah dengan berbagai cara, satu diantaranya tentulah melalui pendidikan.

Pendidikan dirambah melalui berbagai cara termasuk yang terpenting adalah mempengaruhi sistem pendidikan yang ada itu. Berbagai media digunakan untuk mempengaruhi daya tangkal budaya masyarakat terhadap pandangan-pandangan baru yang tak sejalan dengan akal pikiran mereka (kultur asal). Perlahan-lahan satu persatu kearifan lokal berpikir mereka mulai ditanggalkan dari kehidupan mereka. Kata-kata pantang yang dahulunya berperan sebagai filter kebudayaan masyarakat mulai menjadi asing dan aneh. Kata-kata dan makna sakral mulai disamarkan dari kehidupan mereka sehari-hari sehingga masyarakat tak lagi bisa menempatkan dengan benar dimana posisi terlarang dan dibenarkan dalam kehidupan sehari-harinya. Akibatnya adat istiadat mulai kehilangan popularitasnya karena masyarakat semakin tidak cerdas memaknai kehidupan adat istiadat itu.

Kondisi ini akan berpengaruh terhadap kemudahan paham neoliberalisme memasuki alam pikiran masyarakat yang berdiam disebuah negara yang pemerintahnya tidak memiliki kesadaran sosial dan kepekaan sosial, sehingga tidak melakukan tindakan sosial yang dapat membendung abrasi pemikiran rakyatnya itu.

Bahkan neoliberalisme menusuk bidang agama.

Setelah bidang ekonomi,budaya, berhasil dikuasai, maka satu sasaran penting lainnya yang perlu dimasuki oleh paham neoliberlisme ini tentu saja bidang agama dan kepercayaan. Hal ini menjadi penting karena bidang ini merupakan pintu terakhir dari pertahanan kemandirian suatu bangsa. Ajaran agama mulai dibenturkan dengan persoalan rasionalitas dan logika semu. Kepatuhan masyarakat tertentu dalam mengamalkan ajaran agamanya mulai direstrukturisasi. Kesulitan dalam melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agamanya mulai diperlonggar dengan berbagai dalil-dalil penyimpangan. Kemudahan-kemudahan mulai disebar luaskan bagi penganut yang tak lagi menjalankan ajaran agamanya dengan janji-janji peruntungan dan perjudian nasib. Tradisi-tradisi komersialisasi dan materialistik mulai diperkenalkan kedalam majelis-majelis keagamaan.

Kondisi seperti ini tentu saja berhasil merubah cara berpikir religius menjadi cara berpikir materialistik. Sebagai contoh dikalangan ummat Muslin telah terjadi konflik pemikiran tentang tanggung jawab kolektif terhadap pelaksanaan penguburan saudara Muslimnya yang meninggal hanya karena persoalan beliau terdaftar sebagai anggota STM (Serikat Tolong Menolong, organisasi kemasyarakatan dilingkungan ummat Muslim) atau tidak. Hingga-hingga tak sedikit yang bersikap bahwa orang itu (saudara Muslimnya itu) yang meninggal itu bukan merupakan tanggungjawabnya dalam hal pelaksanaan pemakamannya, padahal Islam mengajarkan bahwa itu merupakan tanggungjawab kolektif.

Walaupun barangkali contoh diatas belum dapat dijadikan refresentasi namun faktanya hal itu mulai terdengar diberbagai kelompok-kelompok masyarakat Muslim dan terjadi dimana-mana. Paling tidak penguburannya hanya dihadiri sekelompok kecil masyarakat Muslim yang masih menyadari tanggungjawab sosial dan agamanya.

Perbedaan-perbedaan status sosial dikalangan masyarakat menjadi menonjol (walaupun tidak senyata ketika manusia masih diliputi kehidupan berkasta-kasta zaman dulu). Orang lebih senang mengundang atau menghadiri undangan masyarakat berkemampuan tinggi dalam hal keuangan atau yang berstatus sosial menengah dan tinggi ketimbang sebaliknya. Orang lebih menghormati pejabat yang kebetulan hadir di Mesjid (tempat beribadah kepada Allah/rumah Allah) ketimbang sang Imam (pemimpin jama’ah ketika menghadap Allah). Ini hanya baru beberapa contoh kecil .Dan masih banyak contoh-contoh lain yang saat ini terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan semua ini tidak bisa dianggap persoalan remeh temeh karena dimulai dari hal sekecil inilah paham neoliberalisme itu merambah secara lebih luas dan masif.

“…Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.[3] Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas “.

Neoliberalisme memusnahkan peradaban kemanusiaan.

Neoliberlisme tidak hanya persoalan dibidang perekonomian. Paham ini merupakan ancaman yang siap memusnahkan peradaban kemanusiaan. Paham ini adalah kegelapan sejarah peradapan manusia masa lampau yang diadopsi secara lebih modern (reinkarnasi) oleh kepentingan sekelompok orang yang berkeinginan untuk mengulang sejarah gelap itu didunia yang sekarang ini. Paham ini akan menyebabkan kehidupan manusia yang tak lagi menghormati budaya kebersamaan dan sekaligus menghapus prinsip-prinsip bahwa sesungguhnya manusia itu adalah makhluk sosial

Jadi sangat salah jika ada orang yang berpendapat bahwa paham neoliberalisme ini hanya sebatas persoalan perekonomian dan keuangan atau kepentingan para pengusaha (korporasi). Padahal paham ini pada akhirnya akan menjadikan rakyat/masyarakat sebagai korban utama. Sebagai contoh lihat saja persoalan ketidak seimbangan kenaikan harga-harga dengan perkembangan pendapatan masyarakat, sepertinya tidak berhubungan langsung padahal itulah salah satu indikator keberadaan dan keberhasilan paham neoliberlaisme itu. Lihat saja persoalan nelayan dan petani serta buruh yang tidak menikmati hasil jerih payahnya,semua itu karena paham neoliberlisme itu sudah masuk kedalam sistem perekonomian dan politik kita.

Penutup

Neoliberalisme adalah sebuah ideologi gelap yang bisa memusnahkan peradaban manusia. Neoliberalisme tidak berhenti dibidang ekonomi saja. Neoliberalisme adalah alat untuk melakukan Neokolonialisme yang tak memilih siapa bakal korbannya kecuali seluruh masyarakat dan harta kekayaan negaranya.

Penolakan terhadap konsepsi Neoliberalisme harus terus disuarakan. Semua masyarakat/rakyat harus diberitahu secara konkrit tentang kejahatan paham/ideologi Neoliberalisme ini agar keberadaannya yang terus menerus mengembangkan dirinya dalam berbagai bentuk dapat dimusnahkan dari permukaan bumi Indonesia ini.

Negara Indonesia serta rakyatnya tentu saja punya pandangan sendiri tentang bagaimana menata sistem perekonomian kita yang bernama Koperasi itu. Rakyat harus terus bergerak menyuarakan agar pemerintah kembali kejalan kebenaran pelaksanaan sistem ekonomi Indonesia. Tidak bisa ditawar-tawar lagi sebab kita seluruhnya tidak mau tanah air bumi persada kita ini kembali dijajah. Kita harus menyuarakannya hingga kepintu langit.

PERISTIWA besar terjadi Senin (4/12/2017), ketika Kepala BNN mampu menggerebek dua pabrik pil PCC di Gilingan-Solo, dan satu gudang penyimpanannya di Sukoharjo, Jateng. BNN dan Polri berhasil mengamankan bahan pembuatan pil PCC 12 ton, menangkap tujuh tersangka bersama barang bukti berupa tiga jutaan pil PCC, tiga mesin pencetak pil, dan bahan-bahan pembuat pil PCC. Sungguh sayang, peristiwa ini tidak masuk kategori good news yang diviralkan, padahal daya rusak pil PCC amat dahsyat bagi generasi muda millenial.

Disadari, hari-hari ini masyarakat dan Negara dihadapkan pada darurat narkoba. Narkoba dalam berbagai bentuknya, seperti: pil PCC dan lain-lainnya, deras mengalir, merambah, dan menargetkan generasi muda millenial sebagai korban-korbannya. Betapa pun, deklarasi anti narkoba, seperti : Say No to Drugs, Fight aginst Narkoba, dan sebagainya, dikumandangkan sedemikian menggelegar, nyatanya, tidak menurunkan kuantitas dan kualitas korban-korban narkoba.

Bagaimana fenomena hitam-kelam ini mesti dipahami? Marilah, dianalisis secara ideologis dalam skala global.

Tahun 1940-an dapat dikenang sebagai era kebangkitan dan kemerdekaan Negara-negara terjajah, sekaligus keruntuhan Negara-negara penjajah. Indonesia, sebagai satu dari barisan Negara baru yang merdeka, berani menyuarakan propaganda internasional, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Perihal penjajahan, Bung Karno pernah mengingatkan: “… kolonialisme lama itu hanya menyingkir sementara untuk memberi jalan kepada kolonialisme dalam bajunya yang baru.” Dipaparkannya, bahwa, banyak Negara sudah meraih kemerdekaannya, akhirnya menemukan kekecewaan besar. Kenapa? Sebab kemerdekaan nasional yang diraih dengan susah-payah itu gagal melikuidasi sepenuhnya kekuatan imperialisme. Akibatnya, imperialisme masih leluasa mencegah Negara merdeka mengkonsolidasikan stabilitas kedaulatan atas negerinya. Walaupun secara formal, negara bersangkutan independen dan mendapat pengakuan internasional, namun, secara substantif dan praktis, sistem politik, ekonomi, dan kebudayaannya didikte dan dikendalikan oleh negeri-negeri imperialis. Neokolonialisme tidak lain merupakan imperialisme yang bermetafora dalam bentuk penguasaan (tidak langsung) atas segala sumber daya alam dan sumber daya manusia, melalui lorong-lorong ideologi, politik, ekonomi, sosial, militer, dan teknologi.

Baca Juga :  Sistem Baru Penerimaan Siswa SMA dan SMK

Maraknya narkoba (termasuk pil PCC) dapat dilihat sebagai indikator konkrit berlangsungnya neokolonialisme atas Indonesia. Indikator-indikator dimaksud antara lain:

Pertama, banyaknya agen-agen narkoba. Peningkatan jumlah dan kapasitas sebagai agen narkoba, dilakukan dengan memanfaatkan residivis, oknum aparat penegak hukum, dan oknum birokrasi imigrasi. Mereka menjalankan kegiatan spionase untuk menyiasati kelengahan aparatur Negara. Mereka menyusup dengan menggunakan kedok hak asasi manusia melalui komunitas profesionalis, organ kebudayaan, lembaga filantropis, dan korps-korps lain.

Kedua, upaya-upaya pemecahan keutuhan negeri melalui federasi, otonomi daerah, dan penyuburan pembentukan komunitas lokal. Semua itu dihubungkan langsung dengan agen-agen narkoba, sehingga mereka leluasa masuk ke sembarang wilayah dan segmen kehidupan masyarakat. Pada komunitas lokal maupun nasional, dilakukanlah propaganda berbau fitnah (hoax) melalui media sosial, maupun media mainstream (radio, televisi, pers, dan literasi) yang dikendalikan oleh agen-agen tersembunyi.

Baca Juga :  Menuju Kota Inklusi

Ketiga, mengalihkan perhatian bangsa ke isu-isu ideologi, politik, teroris, subversi, atau radikalisme, sehingga sepak terjang agen narkoba tidak mudah terjerat hukum. Pelemahan aparat penegak hukum, diawali dengan pelemahan personil militer dan kepolisian, melalui pembinaan teknis-operasional, nir ideologi kebangsaan.

Keempat, intervensi terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi, politik, dan keamanan, melalui pinjaman modal asing, tenaga ahli, dan berbagai bentuk konsesi atau kontrak lainnya. Berbagai bantuan yang diberikan, direkayasa sedemikian rupa agar terjadi ketergantungan pada donatur.

Neokolonialisme tidak pernah membiarkan negeri ini merdeka secara substantif. Kemerdekaan substantif dan keterbebasan dari narkoba, hanya dapat dicapai ketika rakyat betul-betul berdaulat atas negeri sendiri, tidak ada rekayasa hukum melalui politik praktis dan traksasi bisnis, serta bangkitnya kekuatan rakyat bersama-sama melawan segala bentuk penjajahan.

Pil PCC, hanyalah secuil dari proses neokolonialisasi atas negeri ini. Makanya, jangan sepelekan masalah pil PCC dan narkoba. Kelalaian melakukan pemberantasan terhadapnya, berakibat fatal bagi kehidupan generasi millenial, bangsa, dan Negara. Wallahu’alam(*)

Prof. Dr. Sudjito, SH, MSi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *