Ketika Keadilan Tidak Tegak, Pertanda Bangsa Ini Diambang Kehancuran

oleh -9 views

PADANG,SUMBARTODAY-“Akhir-akhir ini ramai diberitakan di media masa adanya oknum penegak hukum yang menerima sejumlah dana yang patut diduga berkaitan dengan perkara yang sedang ditanganinya. Bila hal ini benar, yakni apabila penegak hukum yang mempermainkan hukum, maka tunggu masa-masa kehancuran,” kata Ketua DPW Pekat-IB Sumbar

Di dalam surat Al Baqarah ayat 188 Allah SWT berfirman yang artinya “Janganlah sebahagian di antara kamu dengan yang lain memakan harta kamu dengan cara yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian dari pada harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui”.

“Janganlah kamu memakan harta sebagian dari kamu”, artinya cara memperoleh dan menggunakannya. Keuntungan dan kerugian dari interaksi itu, tidak boleh ditarik terlalu jauh oleh masing-masing, sehingga salah satu pihak merugi, sedang pihak yang lain mendapat keuntungan, sehingga bila demikian harta tidak lagi berada di tengah atau harta antara dan kedudukan kedua belah pihak tidak lagi seimbang. Perolehan yang tidak seimbang adalah bathil, dan yang bathil adalah segala sesuatu yang tidak hak, tidak dibenarkan oleh hukum serta tidak sejalan dengan tuntunan Ilahi walaupun dilakukan atas dasar kerelaan namun dengan melanggar hukum Tuhan.

Salah satu yang terlarang dan sering dilakukan dalam masyarakat adalah sogok menyogok. sogokan menurunkan keinginannya yang berwenang untuk memutuskan sesuatu secara adil.

Di dalam ayat ini ada beberapa kandungan yang patut untuk dicermati, di sekeliling kita banyak banyak sekali yang dapat kita saksikan, orang yang senantiasa berbuat zalim kepada sesamanya dengan berbagai dalih, namun alasannya sebenarnya adalah untuk meraup keuntungan.

Ayat di atas juga bermakna, janganlah sebagian kamu mengambil harta orang lain dan menguasainya tanpa hak, dan jangan pula menyerahkan urusan harta kepada hakim yang berwewenang untuk memutuskan perkara bukan untuk tujuan memperoleh hak, tetapi untuk mengambil hak orang lain dengan melakukan dosa, sebenarnya dia mengetahui bahwa itu bukan haknya.

Kebatilan yang merajalela

Mari kita melihat kejadian demi kejadian akhir-akhir ini, ada orang yang memberikan alat pemutih kepada beras agar beras tersebut putih dan jernih. Orang menggunakan formalin kepada produk yang dikonsumsi oleh orang banyak. Allah SWT menegaskan dalam surat Al- Muthaffifin ayat 1-3 yang artinya “Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang), yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dan orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi”.

Dalam surat Al Baqarah ayat 188 Allah dengan tegas dan gamblang menyatakan bahwa ada sebahagian di antara manusia yang senantiasa memberikan sogokan kepada para hakim dan penegak keadilan dalam rangka mempengaruhi keputusan-keputusan yang akan diambil oleh hakim itu.

Ada hadis Rasulullah SAW, yang sangat terkenal dalam kehidupan peradilan, Rasulullah SAW mengatakan “Sungguh telah celaka orang-orang sebelum kamu, kalau seseorang yang berbuat kriminal adalah orang-orang mempunyai kedudukan yang tinggi, orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan status sosial, maka para penegak hukum sengaja mempermainkan hukum.

Tetapi apabila yang mencuri itu adalah orang yang lemah dan miskin, mereka dengan tegas berkoar-koar menegakkan keadilan, menegakkan hukum. Karena yang berbuat kriminal adalah orang-orang yang lemah, miskin dan orang-orang yang tidak mempunyai pengaruh di dalam kekuasaan”.

Dalam hadis lain juga dijelaskan dimana membuat bulu roma kita menjadi merinding yaitu “Demi Allah yang jiwa-Ku yang berada dalam kegengamannya, andai saja Fatimah anakku yang melakukan mencurian aku sendiri yang memotong tanganya dan aku sendiri yang menegakkan hukum itu tanpa pandang bulu”.

Pilar-pilar penegakan keadilan

Dalam menegakkan keadilan ada beberapa hal yang perlu kita ketahui yaitu:

Keseimbangan, yaitu dasar dari penegakan keadilan itu sendiri. Yang disebut dengan keseimbangan adalah apabila semua anggota di dalam komunitas itu menegakkan fungsi-fungsinya dan aturan-aturan yang sesuai dengan fungsinya dan bekerja sesuai dengan fungsinya maka disana akan terjadi keseimbangan yang merupakan sendi dari keadilan itu.

Persamaan, kita mengetahui dalam ajaran Islam semua sama di hadapan Allah SWT, tetapi yang membedakan kita adalah nilai keimanan dan ketakwaan, tetapi dalam keseharian kita semua sama di hadapan Allah.

Kembali kita perhatikan ayat tadi bahwa orang-orang yang melakukan kecurangan adalah orang yang mengerti hukum, kalau saja yang melakukan pelanggaran itu adalah orang-orang yang tidak mengerti tentang hukum, kita bisa menerima, tetapi karena orang yang melakukan itu adalah mereka yang mengetahui persis tentang hukum. Allah menegaskan “sungguh hina orang-orang yang melakukan perbuatan seperti itu karena dia mengetahui tetapi mempermainkan hukum”. (sumber Mimbarjumat. com)

Berikut dikutip dari Al Qur’an Surat 17 ayat 16

وَاِذَآ اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا

wa iżā aradnā an nuhlika qaryatan amarnā mutrafīhā fa fasaqụ fīhā fa ḥaqqa ‘alaihal-qaulu fa dammarnāhā tadmīrā

Artinya Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar mentaati Allah SWT), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu).

Berikut dikutip dari Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 177 artinya : Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Mari kita perhatikan, sebelum bergabung dengan pemerintah ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menegaskan negara akan hancur kalau keadilan hukum tidak ditegakkan. “Banyak contoh negara yang hancur karena keadilan tidak ditegakkan. Contohnya kerajaan yang dipimpin oleh Firaun atau Namrud. Dari Mesir kuno sampai modern, negara hancur karena tidak adanya keadilan,” katanya di Pesantren Al Qurthuby, Pujer, Bondowoso, Jawa Timur, Ahad (5/8).

MK yang dipimpinnya didirikan pada 2003, katanya, juga dalam rangka menegakkan hukum dan keadilan sehingga Indonesia selamat dari kehancuran sebagai negara. Ia banyak menyampaikan contoh bagaimana Nabi Muhammad menolak dengan tegas ketika sejumlah orang mengajaknya untuk bermain-main dengan masalah hukum atau keadilan.

Salah satunya adalah saat sekelompok perempuan bangsawan datang kepada Nabi untuk diadili. Salah satu dari wanita aristokrat itu berbuat salah, kemudian Nabi disuruh mengadili dengan menyebut bahwa perempuan itu tidak bersalah. “Nabi dengan tegas menjawab bahwa seandainya Fatimah, putrinya, yang mencuri, Beliau sendiri yang akan memotong tangannya. Jadi, dalam masalah hukum, tidak ada orang terhormat atau bangsawan,” katanya.

Dia juga mengutip di dalam Alquran ditegaskan negara yang hukumnya tidak ditegakkan adalah negara “jahiliyah”. Ciri negara di tengah masyarakat jahiliyyah itu adalah aparatnya mempermainkan hukum.

Suatu ketika, kata dia, dua orang Yahudi yang berselisih dengan kaumnya datang kepada Nabi Muhammad minta diadili. Keduanya minta diadili dengan “permainan”, yakni dimenangkan. Keduanya berjanji, jika Nabi mau menuruti permintaan itu, seluruh kaum Yahudi akan berbondong-bondong masuk Islam.

“Nabi kemudian diingatkan oleh Allah lewat firman-Nya yang menyebutkan bahwa apakah hukum orang jahiliyah yang akan digunakan? Oleh karena itu, Nabi juga dilarang untuk bernegosiasi dalam hukum,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Mahfud mengemukakan MK sudah menangani banyak kasus hukum sehingga sejumlah undang-undang dibatalkan karena bertentangan dengan hak asasi manusia. Mahfud hadir di pesantren tersebut bersama dengan Katib Aam Syuriah PBNU KH Malik Madani.(ANT/JUM)

 

Berikut contoh kasus yang terjadi pada zaman Nabi, tersebutlah seorang perempuan dari Bani Makhzum meminjam suatu barang dari orang lain tapi kemudian mengingkarinya. Diakuinya barang itu sebagai miliknya.

Ketika Rasulullah saw mendengar berita ini langsung memerintahkan agar dipotong tangannya. Dia dianggap telah mencuri barang orang lain dengan sengaja.

Kejadian ini memusingkan bangsa Quraisy, karena pelakunya adalah wanita turunan suku yang terhormat dan putusan hukumannya adalah potong tangan.  Dan hal ini dianggap sebagai kehinaan bagi suku Quresy.

Oleh sebab itu mereka mengutus Usamah RA ( seorang sahabat yang dianggap dekat dengan Rasulullah saw) untuk meminta keringanan agar dibatalkan hukum potong tangan tersebut.

Setelah mendengarkan permohonan Usamah,  Rasulullah saw menjawab dengan tegas: Apakah kamu meminta pertolongan (keringanan) dalam masalah hudud (ketetapan hukum Allah)?

Kemudian Rasulullah saw berkhutbah: “Sesungguhnya umat sebelum kamu sekalian dihancurkan karena ketidakadilan, bila orang elit mencuri dibiarkan dan bila orang lemah mencuri ditegakkan hukum had. Demi Allah, seandainya Fatimah anak Muhammad mencuri akan aku potong tangannya”.

Lalu Rasulullah saw memerintahkan agar wanita Makhzumiyyah tersebut dipotong tangannya. (HR Al Bukhari dan Muslim).

Hukum potong tangan dalam Islam tidaklah sembarangan diterapkan tapi harus memenuhi syarat-sayarat yang telah disepakati para ulama fiqh, seperti :  dilakukan dengan sengaja, pencurinya berakal bukan orang gila, tidak ada syubhat, diterapkan oleh penguasa dan sebagainya.

Dalam hadits di atas,  Rasulullah menegaskan dengan kata-kata: “Seandainya Fatimah anak Muhammad mencuri pasti akan aku potong tangannya” ini menunjukkan urgensinya penegakan hukum untuk kalangan elit.

Fatimah yang  berasal dari suku yang terhormat dan masih turunan Rasulullah saw, bahkan dia adalah ratu bagi semua wanita muslimah di syurga.

Hukum itu akan ditegakkan bila dia mencuri, apalagi wanita Makhzumiyah  yang martabatnya berada di bawah Siti Fatimah baik suku atau nasabnya.

Hadits di atas sering digunakan sebagai dalil untuk membuktikan keadilan Islam dalam menegakkan hukum dan sikap Islam yang anti rasdiskriminasi, kastaisme dan fanatisme kelompok.

Rasulullah menegaskan hukum harus ditegakkan secara adil kepada siapapun tanpa pandang bulu atau tebang pilih. Bila tidak ditegakkan maka akan mengakibatkan kehancuran suatu bangsa.

Mengapa demikian? Keadilan adalah sendi utama masyarakat, sedangkan kedzaliman adalah penyebab musnahnya umat-umat terdahulu dan juga umat yang akan datang.

Bila sendi masyarakat sudah tumbang maka musnahlah masyarakat tersebut. Allah mewajibkan kita untuk menegakkan keadilan. Allah berfirman : Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (QS Ar Rahman 9).

Kalau seorang pejabat elit melakukan tindak pidana korupsi, tidak segera diadili tapi kalau orang alit segera diadili, ini pertanda buruk, bangsa ini sedang menuju ke arah kehancuran.

Bagi seorang Muslim, hukum yang paling adil adalah hukum Allah yang Maha Penyayang dan Bijaksana. Tidak ada hukum yang lebih baik dan lebih adil daripada hukum Allah.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah: 50).

Seorang Muslim juga yakin bahwa penerapan hukum Allah akan membawa kepada kebaikan bagi individu, masyarakat dan negara. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

حَدٌّ يُعْمَلُ به في الأرضِ خيرٌ لأهلِ الأرضِ مِن أن يُمْطَروا أربعين صباحًا

“Suatu hukum yang ditegakkan di bumi lebih baik baginya daripada diberi hujan selama empat puluh hari”

Tatkala Allah memerintahkan kita untuk menegakkan hukum bagi orang yang melakukan kriminal, pasti di sana ada manfaat dan tujuan di dalamnya. Di antaranya:

Menjaga kemaslahatan pokok manusia

Islam menjaga kebutuhan pokok manusia berupa agama, jiwa, akal, nasab dan harta manusia. Adanya hukum tersebut adalah untuk menjaga kebutuhan pokok manusia. Hukum bagi murtad untuk menjaga agama, hukum qishash untuk menjaga nyawa, hukum rajam untuk menjaga nasab, hukum potong tangan untuk menjaga harta, dan hukum cambuk untuk peminum khamr untuk menjaga akal.

Menegakkan keadilan di antara manusia

Keadilan adalah pokok syariat yang harus ditegakkan. Dan termasuk keadilah apabila orang yang bersalah dan melalukan kriminal harus di hukum, sebab bila pelaku dibirkan saja maka akan menyebabkan suburnya kejahatan.

Kasih sayang kepada pelaku dan masyarakat

Adanya hukuman dapat mengerem pelakunya dan tindak kejahatan dan menyadarkan dari kekeliruannya selama ini. Semua itu merupakan kasih sayang Islam baginya, sebagaimana penegakkan hukum ini dapat menyebabkan keamanan semakin tersebar di masyarakat. Alangkah bagusnya ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Hukum itu adalah obat yang mujarab untuk mengobati orang-orang yang sakit hatinya. Dan ini termasuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya”.

Peringatan bagi masyarakat

Hikmah lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai peringatan bagi masyarakat agar tidak meniru perbuatan tersebut sehingga setiap kali mereka akan melakukan kriminal tersebut maka harus berpikir seribu kali. Oleh karena itu, Islam mensyariatkan agar penegakkan hukum itu disaksikan oleh masyarakat luas.

Pelebur dosa bagi pelaku kriminal

Sesungguhnya penegakkan hukum itu bisa melebur dosa pelaku kejahatan. Adapun bagi orang yang tidak menyusikan dirinya dari dosa dengan taubat atau penegakkan hukum maka dia akan mendapat hukuman yang lebih berat dan lebih pedih pada hari kiamat.

Teks Hadits

عن عائشة رضي الله عنها زوج النبي صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أنَّ قريشًا أهمَّهم شأنُ المرأةِ المخزوميَّةِ التي سرقت في عهدِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . في غزوةِ الفتحِ . فقالوا : من يُكلِّمُ فيها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فقالوا : ومن يجترئُ عليه إلا أسامةُ بنُ زيدٍ ، حِبُّ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فأتى بها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فكلَّمه فيها أسامةُ بنُ زيدٍ . فتلوَّنَ وجهُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فقال ( أتشفعُ في حدٍّ من حدودِ اللهِ ؟ ) فقال له أسامةُ : استغفِرْ لي . يا رسولَ اللهِ ! فلما كان العشيُّ قام رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فاختطب . فأثنى على اللهِ بما هو أهلُه . ثم قال ( أما بعد . فإنما أهلك الذين مَن قبلكم ، أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريفُ ، تركوه . وإذا سرق فيهم الضعيفُ ، أقاموا عليه الحدَّ . وإني ، والذي نفسي بيدِه ! لو أنَّ فاطمةَ بنتَ محمدٍ سرقت لقطعتُ يدَها ) ثم أمر بتلك المرأةِ التي سرقتْ فقُطعَتْ يدُها . …قالت عائشةُ : فحسنُتْ توبتُها بعد . وتزوَّجتْ . وكانت تأتيني بعد ذلك فأرفعُ حاجتَها إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ

Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, bahwa orang-orang Quraisy pernah digemparkan oleh kasus seorang wanita dari Bani Mahzum yang mencuri di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tepatnya ketika masa perang Al Fath. Lalu mereka berkata: “siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Siapa yang lebih berani selain Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam?”. Maka Usamah bin Zaid pun menyampaikan kasus tersebut kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, hingga berubahlah warna wajah Rasulullah. Lalu beliau bersabda: “Apakah kamu hendak memberi syafa’ah (pertolongan) terhadap seseorang dari hukum Allah?”. Usamah berkata: “mohonkan aku ampunan wahai Rasulullah”.

Kemudian sore harinya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda: “Amma ba’du. Sesungguhnya faktor penyebab kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat, mereka biarkan. Dan jika ada pencuri dari kalangan orang lemah, mereka tegakkan hukum pidana.

Adapun aku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Fatimah bintu Muhammad mencuri niscaya akan aku potong tangannya”. Lalu Rasulullah memerintahkan wanita yang mencuri tersebut untuk dipotong tangannya. ..

Aisyah berkata:”setelah itu wanita tersebut benar-benar bertaubat, lalu menikah. Dan ia pernah datang kepadaku setelah peristiwa tadi, lalu aku sampaikan hajatnya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”

Mutiara Hadits

Hadits ini menyimpan beberapa pelajaran berharga sekali, terutama bagi mereka yang mendapatkan amanat kepemimpinan di pundak mereka. Di antara pelajaran berharga tersebut adalah:

Sesungguhnya kabilah dari suku Quraisy yang paling mulia adalah 2 macam: Kabilah Bani Makhzum dan Kabilah Bani Abdu Manaf. Nah, sekalipun wanita tersebut dari kabilah ternama dan tersohor, ditambah lagi oleh lobi kekasih Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, semua itu tidak menjadikan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam lemah dari menegakkan hukum Allah. Bahkan beliau marah kepada Usamah hingga beliau menegaskan, “seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri niscaya akan aku potong tangannya“.

Hukuman bagi pencuri adalah dipotong tangannya apabila telah memenuhi syarat-syaratnya berdasarkan dalil Al Qur’an, hadits dan ijma. Allah berfirman:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Maidah: 38).
Adapun dalil hadits maka banyak sekali, di antaranya adalah hadits pembahasan di atas. Adapun dalil ijma maka para fuqaha telah menukil ijma tentang wajibnya memotong tangan pencuri.
Hikmah dari potong tangan ini adalah untuk melemahkan alat yang dijadikan untuk melakukan tindak kriminal. Sebab tangan bagi pencuri adalah ibarat sayap bagi burung, Maka memotong tangan pencuri dapat meruntuhkan sayapnya dan memudahkan penangkapannya bila dia mengulang mencuri lagi. Jadi, hukuman ini adalah untuk menjaga keamanan dan harta manusia.

Kecintaan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam terhadap Usamah radhiallahu’anhu tidak menjadikan beliau menerima lobinya. Karena ini bersangkutan dengan hukum hak Allah yang tidak bisa dibatalkan oleh lobi seseorang. Padahal biasanya dalam permasalahan yang tidak berkaitan dengan hukum Allah, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam selalu menerima lobi sahabatnya sekalipun mungkin lebih rendah dari Usamah radhiallahu’anhu.

Seorang yang biasa terkadang dapat mengungguli kedudukan orang yang kaya. Perhatikanlah Usamah bin Zaid radhiallahu’anhu, beliau adalah budak sebab ayahnya, Zaib bin Haritsah radhiallahu’anhu, adalah budak yang diberikan Khadijah radhiallahu’anha kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Namun demikian, beliau memiliki kedudukan yang begitu tinggi dalam hati Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Peringatan bagi orang yang melobi untuk gugurnya hukum Allah. Sebab Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memberikan peringatan kepada Usamah radhiallahu’anhu yang telah melakukan hal itu. Tidak cukup hanya ditolak lobinya. Bahkan lebih dari itu, hendaknya dia diberi peringatan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi di waktu mendatang.

Bolehnya membuat perumpamaan dan permisalan. Di sini Nabi membuat permisalan dengan Bani Israil, beliau bersabda: “Sesungguhnya faktor penyebab kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat, mereka biarkan. Dan jika ada pencuri dari kalangan orang lemah, mereka tegakkan hukum pidana“.

Sungguh ini termasuk keterbalikan Bani Israil. Karena justru seharusnya para bangsawan itu mendapatkan hukuman yang lebih berat sebab mereka seharusnya lebih harus menjauhi kriminal dari pada rakyat biasa. Oleh karena itu, lihatlah ketajaman pikiran Khalifah Umar bin Khathab radhi Allahu’anhu. Beliau apabila melarang manusia dari sesuatu maka beliau mengumpulkan keluarganya seraya mengatakan kepada mereka,

“Saya telah melarang manusia dari begini dan begitu, dan manusia sekarang akan melihat kepada tingkah laku kalian layaknya melihat burung kepada daging. Karena itu siapa pun seorang di antara kalian yang melanggarnya maka saya akan lipat gandakan hukumannya”.

Kenapa Umar radhiallahu’anhu melipat-gandakan hukuman bagi mereka? Bukankah seharusnya sama saja hukumannya? Ya. Memang asal hukumnya sama, tetapi Umar radhiallahu’anhu melipat-gandakannya agar mereka tidak meremehkan hukum hanya karena kedekatan mereka dengan Umar radhiallahu’anhu.

Barangsiapa dari kalangan pemerintah melakukan seperti ini yaitu tidak menegakkan hukum kecuali kepada rakyat biasa maka ini adalah faktor kehancuran negara dan bangsanya. Sebagaimana Bani Israil hancur karena hal tersebut. Kita pun tidak ada bedanya dengan Bani Israil kalau kita melakukan hal yang sama. Apa yang menimpa Bani Israel dikarenakan tidak menerapkan hukum Allah akan menimpa kita juga apa bila kita tidak menerapkan hukum Allah.

Lihatlah fakta sekarang! Adakah kehinaan yang lebih dari pada apa yang dirasakan oleh umat Islam sekarang? Walaupun jumlah mereka milyaran, memiliki kekuatan militer dan persenjataan, karena mereka melalaikan agama Allah maka Allah melalaikan mereka.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memiliki hikmah dan kata-kata yang mendalam dalam ucapan dan perbuatannya, beliau bersumpah padahal tidak diminta bersumpah, bersumpah dengan Fathimah radhiallahu’anha yang juga dari kabilah Quraisy dan wanita yang paling dekat dan paling dicintai Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Sekalipun demikian, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan, “seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri niscaya akan aku potong tangannya“. Allahu Akbar,

Demikianlah hendaknya hukum Allah ditegakkan. Tanpa pilih kasih kepada siapa pun orangnya yang melalukan tindak kriminal dan pelanggaran. Semoga Allah memberikan taufiq kepada para pemerintah kita agar meniru apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam.

Demikian beberapa mutiara ilmu yang dapat kita petik dari hadits ini. Semoga bermanfaat.

(sumber : Ust. Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi, diambil dari Majalah Al Furqon edisi 2 tahun ke 11, Syawal 1432H, hal.13-15)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *