Bundo Kanduang, Sosok Ibu Sejati Ranah Minang

oleh -7 views

PADANG SUMBARTODAY-Setelah NKRI berdiri sampai sekarang Bundo Kanduang bukan lagi sebagai seorang ratu yang berkuasa di Ranah Minang, namun Bundo Kanduang tetap memiliki peranan yang sangat besar bagi sebuah keluarga, kaum suku,nagari di Ranah Minang Sumatera Barat. Perannya bukan hanya sebagai ibu, tapi juga pelindung seluruh anak-anak.

Bundo Kanduang  sering disebut sebagai Limpapeh rumah gadang, amban paruik pagangan kunci, pusek jalo kumpulan tali, hiyasan di dalam kampuang, sumarak dalam nagari.

“Bundo Kanduang itu tiang rumah gadang di Ranah Minang, perempuan dengan cahaya yang menerangi,” begitu tutur Yapriati, perempuan Minang berusia 58 tahun yang tinggal di kaki gunuang Sago Sitanang kabupaten lima puluh kota Provinsi Sumatera Barat.

Peribahasa di atas merupakan gambaran peran perempuan dalam komunitas masyarakat sukudi Ranah  Minang. Perempuan dipandang sebagai sosok kuat tapi juga tapi juga menguatkan.

Tak heran jika perempuan di Ranah Minang memiliki tempat istimewa dalam kehidupan sosial budaya. Konsep tersebut terangkum lewat gelar Bundo Kanduang bagi kaum perempuan Minang.

Bundo Kanduang sendiri merupakan sebuah personifikasi dan identitas budaya yang melekat pada perempuan di Ranah Minang. Dalam Bahasa Indonesia, Bundo Kanduang biasa diterjemahkan secara kasar menjadi Bunda Kandung.

Namun menurut Yapriati, Ibu Sejati merupakan padanan kata yang lebih tepat untuk menerjemahkan arti Bundo Kanduang.

“Yang dimaksud dengan Bundo Kanduang adalah seorang perempuan di Ranah Minang yang telah berkeluarga, artinya yang telah menikah, beragama Islam, adik atau kakak atau mande dan mengurus kegiatan-kegiatan kelangsungan adat istiadat di Ranah Minang,” tambah Yapriati.

Dalam tatanan masyarakat adat budaya Minang, Bundo Kanduang dibagi dalam dua jenis yaitu Bundo Kanduang Adat atau Bundo Kanduang Sako, dan Bundo Kanduang Organisasi.

Bundo Kanduang di Ranah Minang Sumatera Barat dapat dibagi menjadi.

Bundo Kanduang Adat atau Sako memiliki tanggungjawab selingkar rumah gadang atau kaumnya. Sementara Bundo Kanduang Organisasi dipilih melalui musyawarah daerah, baik itu ditingkat dari Nagari (desa), kecamatan, kabupaten, hingga provinsi dan nasional.

Ibu sejati urang Awak Minang

Urang Awak atau Urang Minang memang dikenal sebagai salah salah satu suku di Indonesia yang menganut sistem kekerabatan matrilineal. Bagi mereka yang masih tinggal di rumah adat–rumah gadang, akan ada satu Dato (datuk) dan Bundo Kanduang Sako.

Ingin tahu lebih lanjut soal Bundo Kanduang? Simak di halaman selanjutnya ya!

Di dalam rumah gadang yang begitu besar, umumnya terdapat lebih dari satu keluarga. Bisa empat bahkan sampai tujuh keluarga.

Itu juga yang membuat peran Bundo Kanduang Sako begitu penting. Ia muncul sebagai tiang keluarga, sosok kunci penyelesaian masalah sekaligus penjaga adat, nilai dan peradaban.

“Satu rumah gadang biasanya memiliki seorang Datuak yang disebut Penghulu dan seorang Bundo Kanduang Adat yang akan mengepalai rumah adat masing-masing, beliau adalah ibu dari Datuak penghulu terebut”, tambah Gusnawilis.

Tapi kata Sofia dan Gusnawilis, semua perempuan Minang yang telah menikah memiliki peran yang sama, mereka semua adalah Bundo Kanduang, ibu sejati dari anak-cucu urang Minang.

Maka tak heran jika semua anak dalam sebuah rumah gadang kaum bukan hanya tanggungjawab ibu kandungnya saja, tetapi juga para Bundo Kanduang yang lain.

“Misalnya ada seorang anak yang sedang tidur dalam buayan, siapa saja yang ada di rumah gadang yang  melihatnya,akan mengayun anak tersebut,” tambah Yapriati.

Lain Bundo Kanduang Sako lain juga organiasi. Bundo Kanduang Organisasi pertama kali dibentuk pada 18 November 1974 lewat musyawarah daerah Bundo kanduang di Kota Payakumbuah.

Ketua pertama Bundo Kanduang saat itu adalah almarhumah Jamilah Djambek. Kini, peran yang sama diemban oleh Puti Reno Raudha Thaib, seorang sastrawati, budayawati, dan akademisi sekaligus ahli waris Kerajaan Pagaruyung, Sumatera Barat.

“Organisasi ini juga terdiri dari seorang perempuan Minangkabau yang telah menikah kemudian yang beragama Islam kemudian dia menurut kegiatan yang menyangkut dengan adat istiadat Nagari dan melaksanakan kegiatan ABS-SBK atau adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah,” tambah Yapriati.

Di Kabupaten Tanah Datar, terdapat sekitar 14 kecamatan dengan 75 Nagari di dalamnya.

Peran organisasi pun beragam, mulai dari menjaga budaya dan adat-istiadat Minangkabau, menjadi kader pemberdayaan anak dan perempuan sampai turun melalukan penyuluhan ilmu perkawinan.

“Kami Bundo Kanduang turun ke kecamatan memberi ilmu parenting kepada calon pengantin. Mengajarkan pola asuh untuk anak dan mengajarkan anak bagaimana melayani orangtua seperti ibu dan bapak,” tutup Sofia.

Kini Bundo Kanduang menjadi salah satu kader pembangunan masyarakat adat Minang. Mereka dilibatkan dalam banyak kegiatan. Meski rumah gadang berganti jadi tembok-tembok perumahan, Nagari berubah menjadi cluster dan perkampungan multikultural, namun peran luhur tersebut akan terus diturunkan, sampai nanti.

Ramo-ramo si kumbang janti, Katik endah pulang bakundo, Patah tumbuah hilang baganti, Pusako lama baitu juo.

Bundo Kanduang di Ranah Minang, Pengertian Bundo Kanduang dapat dibagi menjadi:

Bundo kanduang dalam kaum: memiliki sebutan sebagai

  1. Limpapeh rumah nan gadang, amban paruik pagangan kunci, pusek jalo kumpulan tali, hiyasan di dalam kampuang, sumarak dalam nagari.
  2. Nan gadang basa batuah.
  3. Ka pai tampek batanyo, kok pulang tampek babarito,  kok hiduik tampek  baniaik, kok mati tampaik banazar, ka undang-undang ka Madinah, payuang panji ka Sarugo.
  4. Muluik manih kucindam murah.
  5. Baso baiak gulo di bibie, muluik manih talempong kato, sakali rundiang disabuik, takana juo salamonyo.
  6. Masaklah buah kacang padi, padi nan masak batangkai-tangkai, dibawok urang katangah pasa.Bundo kanduang tuladan budi, budinyo nan indak amuah tagadai, paham nan indak amuah tajua.

Inilah gambaran ideal seorang perempuan yang disebut Bundo Kanduang di Ranah Minang, sungguh mulya dan sangat elok.

Bundo kanduang secara harfiah berarti, Bundo, adalah Ibu nan Kanduang, adalah ibu Sejati. Jadi, Bundo Kanduang berarti ibu yang sebenarnya. Tetapi ada juga ahli adat menyebutkan bundo kanduang berasal dari kata bundo ka anduang, bundo berarti seorang ibu yang sayang kepada anak keturunannya, sedangkan anduang adalah seorang ibu yang sayang kepada anak, cucu serta cicitnya.

Bahwa secara fitrahnya, manusia, baik perempuan maupun laki-laki, disisi Allah derajatnya sama, yang membedakannya adalah hanya tingkat Iman dan Taqwa semata.

Demikian Syariat Islam mengangkat derajat perempuan ketempat yang mulya, sehingga dalam Al-Quran Allah merasa perlu menjelaskannya melalui firmannyat, yakni Surat An Nisa. untuk melengkapi Firman Allah dalam Al Qur’an banyak hadist Rasullulah menyerukan akan pentingnya menghormati perempuan, baik sebagai ibu maupun sebagai istri.

Sebagai manifestasi dari menyatunya adat dengan agama Islam, Hukum Adat di Ranah Minang yang disusun dan dibentuk berdasarkan falsafah; “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, alam takambang jadi guru”, maka untuk mengingat pentingnya keberadaan Bundo Kanduang,  budaya Minang telah menempatkan kedudukannya pada posisi yang sangat tinggi dan mulya.

Adat di Ranah Minang menempatkan Bundo Kanduang memiliki peran dan fungsi yang sangat strategis dalam menanamkan nilai-nilai adat dan budaya Minang, terutama guna membentuk akhlak generasi muda.

Bundo Kanduang diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial lainnya, baik itu di lingkungan keluarga, sanak famili, maupun di lingkungan tempat tinggal, baik sebagai pemimpin dalam kaum maupun sebagai pemimpin masyarakat dalam kampung dan Nagari.

Sebagaimana diungkapkan dalam gurindam adat Minang tersebut di atas.

Berdasarkan Tambo Adat Minang, Bundo Kanduang adalah julukan yang diberikan kepada perempuan yang memimpin kerajaan di Ranah Minang. baik sebagai ratu di kerajaan maupun selaku ibu dari raja (ibu suri).

Gelar tersebut diwariskan secara turun-menurun, sehingga sebagian pendapat menyatakan bahwa gelar ini pertama kali diberikan kepada Puti Indo Jelito seorang putri dari kerajaan Ranah Minang yang menikah dengan Suri Maharajo Dirajo. (cerita ini adalah versi dari kerajaan Pagaruyung)

Dalam perkembangan kebudayaan di ranah Minang selanjutnya, Bundo Kanduang juga diartikan sebagai istilah atau julukan terhadap terhadap golongan perempuan Minang yang  memiliki sifat-sifat keibuan sekaligus sifat-sifat kepemimpinan, yang cerdas, bijaksana dan berhati mulya sebagaimana yang digambarkan dalam gurindam adat di atas.

Bundo Kanduang ialah pemimpin non formal terhadap seluruh perempuan-perempuan dan anak cucu dalam kaumnya. Kepemimpinannya tumbuh atas kemampuan dan kharismanya sendiri yang diakui oleh anggota kaum yang bersangkutan.

Adanya Bundo Kanduang dalam suatu kaum karena kaum membutuhkan seorang pemimpin perempuan yang dapat memimpin anak cucu dalam kaumnya.

Bundo Kanduang bukanlah jabatan formal yang dipilih dalam suatu pemilihan resmi, ia merupakan figur seorang pemimpin yang tampil secara spontan diantara pemimpin-pemimpin yang ada.

Penampilannya merupakan potensi tersendiri berkat kemampuan dan kharisma yang tumbuh dari dalam dirinya  sendiri. tentu saja didukung oleh ilmu pengetahuan yang memadai disertai kejujuran dan tingkah laku yang baik sehingga diterima oleh semua pihak.

meningkat menjadi seorang ibu. Jadi, ibu sebagai seorang limpapeh rumah gadang adalah tempat meniru, teladan. “Kasuri tuladan kain, kacupak tuladan batuang, satitiak namuah jadi lawik, sakapa buliah jadi gunuang.” Seorang ibu bertugas membimbing dan mendidik anak yang dilahirkan dan semua anggota keluarga lainnya di dalam rumah tangga.

Sebagai,” amban paruik pagangan kunci”, artinya perempuan Minang diibaratkan sebagai kain pelilit pinggang semacam korset yang mempunyai kantong untuk menyimpan segala sesuatu yang berkaitan dengan harta kekayaan kaum. Hal ini karena, perempuan, sesuai dengan sifatnya yang pandai berhemat dan pandai mengatur ekonomi, maka yang menyimpan hasil sawah ladang dipercayakan kepada beliau.

Sebagai, “pusek jalo kumpulan tali”, ibarat jala ikan, Bundo Kanduang diibaratkan sebagai pangkal semua tali, pangkal semua benang, tempat berhimpunnya atau terkumpulnya semua informasi dan permasalahan. Oleh karena itu, perempuan atau Bundo Kanduang, dalam musyawarah, mempunyai hak suara dan pendapat sama dengan laki-laki menyangkut segala sesuatu yang akan dilaksanakan dalam lingkungan kaumnya. Bahkan suara dan pendapat perempuan menentukan lancar atau tidaknya pekerjaan tersebut. Misalnya, dalam upacara pernikahan belum dapat dilaksanakan jika belum mendapat persetujuan dari kaum perempuan atau kaum ibu.

Demikian pula dalam mendirikan gelar penghulu dalam suatu kaum baru dapat diresmikan apabila semua ibu dalam kaum tersebut telah menyetujuinya. Di samping itu penggunaan harta pusaka seperti menggadai, atau hibah dapat dilakukan tetapi harus mendapat persetujuan dari seluruh wanita anggota kaumnya.

Penggunaannya pun untuk kepentingan bersama, misalnya untuk biaya upacara kematian, biaya upacara perkawinan anak perempuan dan untuk memperbaiki rumah gadang (rumah adat) serta yang terakhir untuk menyelenggarakan mayat .

Sebagai, “unduang-unduang ka madinah, payuang panji ka sarugo”, dalam pergaulan sehari-hari Bundo Kanduang harus mencerminkan sifat-sifat baik dalam berkata-kata, bertingkah laku serta berpendirian benar selaras dalam perbuatan.

Dia harus selalu menjauhi sifat dusta, selalu berpihak dan menegakkan kebenaran serta ahklak sesuai tuntunan agama Islam. Perempuan adalah bundo atau “ibu”. Annisaa adalah tiang bagi suatu negeri, begitu penafsiran tentang perempuan.

Al Quran diturunkan melalui Rasullah adalah Rahmad semesta alam, semenjak itu perempuan ditempatkan dalam derajat tinggi, laki-laki pada posisi azwajan (pasangan hidup) Perempuan menyimpan arti pemimpin (raja), orang pilihan, ahli, yang pandai, dengan segala sifat keutamaan yang dikurniakan Allah kepada Nya sebagaimana firman Allah Ta’ala , Artinya :

Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].

Pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadist, kaum ibu itu adalah tiang utama dalam nagari, kalau mereka baik, akan baiklah seluruh nagari, dan kalau mereka rusak, maka binasalah seluruh nagari. Sunnah Nabi menyebutkan ;

“Dunia itu adalah perhiasan dan perhiasan yang paling indah adalah perempuan yang shalih (perempuan baik-baik yang tetap pada peran, dan konsisten menjaga citranya).”

Perempuan Ranah Minang dapat digelari Bundo Kanduang dari suatu kaum/suku, walaupun demikian tidak semua perempuan dapat dijuluki dengan Bundo Kanduang, hanya perempuan yang bertingkah laku dan bersikap sebagaimana yang diibaratkan gurindam adat berikut;

  • Muluik manih kucindan murah;
  • Baso baiak gulo di bibie, muluik manih talempong kato, sakali rundiang disabuik, takana juo salamonyo.

Bahwa yang disebut perempuan adalah sebagai berikut :

  • Tapakai taratik jo sopan, mamakai baso jo basi, tahu ereang jo gendeang, artinya : Perempuan itu memakai etika dan sopan santun dalam tata pergaulan, dan memakai basa-basi, arif dengan keadaan, mengenal kondisi dan memahami posisi keberadaan mereka.
  • Mamakai raso jo pareso manaruah malu jo sopan, manjauhi sumbang jo salah, Muluik manih baso katuju, kato baiak kucindan murah, pandai bagarau samo gadang.
  • Takuik di budi katajua Malu, takuik di paham ka tagadai, Pandai menata, menyajikan kebahagiaan di rumah tangga Pandai menuntun kepada yang baik dan menghimpun nan terserak, Takut budi akan terjual sangat cemas dan malu pendirianya akan tergadai (perempuan dalam budaya minang sangat teguh memelihara citranya dan konsisten)
  • Perempuan di Ranah minang pandai dan mengerti dengan posisinya : Tau dimungkin jo patuik Malatakan sasuatu pado tampeknyo, Tahu ditinggi randah bayang-bayang, sapanjang jalan buliah ditiru ditauladani, kasuri tauladan kain ka cupak, tauladan batuang Artinya adalah mengetahui mana yang pantas dan patut untuk dilakukan Pandai meletakan sesuatu pada tempatnya, sangat arif (meletakan sesuatu ditempatnya, Pandai berhitung, hemat, dan tidak boros, sikap dan perilakunya dapat ditiru, amalanya dapat dicontoh, seperti patron kain yang dapat dipotong dan dijahit bertindak adil seperti cupak (gantang) dan tindakanya dapat jadi ukuran Maleleh buliah dipalik Manitiak buliah ditampuang, Satitiak buliah dilauikan Sakapa buliah digunuangkan Iyo dek urang dinagari pemurah jon penyantun, perbuatanya dapat dipedomani dan bermanfaat bagi orang di nagari
  • Hiduik batampek, Mati bakubua, Kuburan hiduik dirumah gadang Kuburan mati di tangah padang Artinya : Memiliki tempat dikala hidup dan memiliki kuburan dikala mati, Tempat perempuan semasa hidupnya adalah dirumah gadang dan kalau dia sudah meninggal, kuburanya terletak ditengah padang, Dapat dipahami bahwa tidak pantas perempuan minang bermain ditanah lapang kalau tidak ada keperluan penting

Lebih lanjut, di dalam adat Minang Hakymi Dt. Rajo Penghulu, membagi perempuan minang ke dalam tiga bagian, yaitu (1) parampuan, (2) simarewan, dan (3) mambang tali awan.

  • Parampuan, mengacu kepada perempuan yang mempunyai budi pekerti yang baik, tawakal kepada Allah, sopan dan hormat pada sesama. Sifat ini tampak dalam ungkapan: budi tapakai taratik dengan sopan, memakai baso-basi, mangarati ereng jo gendeng, tau sumbang jo salah, takut kepado Allah dan Rasul, muluik manih baso katuju, pandai bagaua samo gadang, hormat pado ibu jo bapa, baitupun jo urang tuo.
  • Simarewan, istilah yang mengacu kepada perempuan yang tidak mempunyai pendirian, tidak mempunyai budi pekerti. Sifat ini tampak dalam ungkapan berikut: paham sebagai gatah caia, iko elok etan katuju, bak cando pimpiang di lereng, bagai baliang-baliang di puncak bukik, ka mano angin inyo kakian, bia balaki umpamo tidak, itulah bathin kutuak Allah, isi narako tujuan lampiah.
  • Mambang tali awan, adalah perempuan yang sombong, tidak punya rasa hormat, tenggang rasa, selalu ingin tinggi kedudukannya. Sifat ini terlihat dalam ungkapan: parampuan tinggi ati, kalau mangecek samo gadang, barundiang kok nan rami, angan-angan indak ado ka nan lain, tasambia juo laki awak, dibincang-bincang bapak si upiak, atau tasabuik bapak si buyuang, sagalo labiah dari urang, baiklah tantang balanjonyo, baiak kasiah ka suami, di rumah jarang baranjak-ranjak, dilagakkan mulia tinggi pangkek, sulit nan lain manyamoi, walau suami jatuah hino, urang disangko tak baiduang, puji manjulang langik juo.

Jelaslah sudah, bahwa adat Minang, khususnya membentuk individu yang berbudi luhur, manusia yang berbudaya, manusia yang beradab.

Sifat-sifat ideal itu adalah;

  1. Hiduik baraka, baukua jo bajangko, artinya orang minang harus mempunyai “rencana yang jelas dan perkiraan yang tepat”;
  2. Baso jo basi malu jo sopan, artinya adat Minang mengutamakan sopan santun dalam pergaulan;
  3. Tenggang raso, artinya di dalam pergaulan yang baik kita harus menjaga perasaan orang lain. Dalam pergaulan, adat mengajarkan kita selalu berhati-hati dalam berbicara, bertingkah laku tidak menyinggung perasaan orang lain;
  4. Setia, artinya teguh hati, merasa senasib dan menyatu dalam lingkungan kekerabatan.

Apakah konsep adat dan budaya Minang ini sudah tersosialisasikan dan tertanamkan dalam diri masyarakat?

Seberapa jauh perempuan Minang menghayati sifat yang melekat pada Bundo Kanduang seperti yang dilukiskan dalam Kato Pusako?

Menurut opini penulis, sosialisasi mengenai konsep-konsep adat dan budaya Minang ini tentu saja sangat memotivasi dan membantu masyarakat dalam membentuk kepribadiannya dan menentukan sikap ke depan dalam rangka mempertahankan budaya Minang dari pengaruh budaya asing yang begitu kuat masuk dan mempengaruhi perilaku masyarakat sehingga cenderung tidak lagi berpijak ke budaya adat Minang bahkan akan bisa menyebabkan hilangnya identitas diri.

Bagi kaum perempuan, dengan memahami peran dan kedudukannya dalam adat Minang itu secara mendalam tentu saja lebih memotivasi dirinya dan memberikan inspirasi untuk menjalankan peranannya sebagai perempuan Ranah Minang. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *