Megawati soal Ganti Pancasila: Datang ke DPR Jangan di Jalan

oleh -35 views

PADANG,SUMBARTODAY-Ketua Umum PDI PerjuanganMegawati Soekarnoputri meminta semua pihak menghargai jasa pahlawan-pahlawan yang sudah dimakamkan di Tempat Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Karena itu, setelah kemerdekaan Indonesia, bukan berarti Pancasila tidak bisa diganti apapun begitu saja.

“Jadi jangan setelah menikmati (kemerdekaan), lalu kita mencoba-mencoba dengan ilmu baru (menggantikan Pancasila). Itu tidak cocok,” ujar Megawati dalam pidatonya di Kongres V PDIP, di Hotel Grand Inna Beach, Bali, Kamis (8/8).

Megawati menyindir pihak-pihak yang ingin merombak atau mengganti ideologi Pancasila dengan paham lain. Megawati mengajak pihak-pihak itu untuk tidak berkoar-koar di jalanan yang hanya menyengsarakan rakyat.

“‘Pancasila itu apa? Tidak ada artinya, kita harus rombak, kita harus dirikan, yang lain sifatnya’. Mari kalau mau seperti itu, saya berkata jangan main di jalanan hanya menyengsarakan rakyat, datang ke DPR,” ujarnya.

PDIP tidak akan mungkin mengganti ideologi negara melalui Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP).

Apalagi, Bung Karno merupakan penggali Pancasila. Sedangkan PDIP dipimpin Megawawati Soekarnoputri yang merupakan putri Proklamator RI itu.

Demikian disampaikan pengamat komunikasi politik Ari Junaedi menanggapi tudingan yang diarahkan kepada partai berlambang kepala banteng hitam moncong putih itu.

“Saya hakulyakin PDIP tidak akan mungkin mengubah Pancasila lewat RUU HIP. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, ayah ketua umum PDIP adalah penggali Pancasila,” ujar Ari kepada jpnn.com, Jumat (26/6/2020).

Sebaliknya, pembimbing program doktoral di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung itu menambahkan, PDIP lebih Pancasilais dibanding partai lain.

Pendapat Ari itu didasari pada pengamatan dan penelitiannya selama menjadi akademisi di berbagai perguruan tinggi.

“Justru menurut pengalaman dan keyakinan saya, PDIP adalah partai yang paling Pancasilais dibanding partai-partai yang lain,” ulasnya.

Mantan wartawan itu pun mengingatkan pihak-pihak yang menyudutkan PDIP membaca dan mempelajari anggaran dasar partai pemenang Pemilu 2004 dan 2019 itu.

“Sebaiknya pedemo harus lebih pintar dan mau membaca anggaran partai dulu sebelum mencelanya,” tutur Ari.

Niat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan untuk menggolkan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) tampaknya tak pernah surut.

Setelah ditolak banyak pihak terutama dari ormas Islam, pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) telah ditunda oleh pemerintah.

Namun, kontroversi RUU HIP itu belum berakhir, sejumlah elemen masyarakat meminta agar RUU itu dibatalkan sepenuhnya dan dicabut dari Prolegnas.

Menanggapi hal itu, Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah mengatakan tujuan awal partainya memotori RUU HIP agar menjadi landasan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam menjalankan tugasnya.

Agar tak menjadi polemik berkepanjangan, Basarah pun mengusulkan agar nama RUU HIP diubah menjadi RUU Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP), sesuai rancangan awal.

“Kami menginginkan agar nama RUU HIP dikembalikan sesuai nomenklatur awal dengan nama RUU Pembinaan Ideologi Pancasila (RUU-PIP) dan materi muatan hukumnya hanya mengatur tentang tugas, fungsi, wewenang dan struktur kelembagaan tentang pembinaan ideologi Pancasila serta tidak membuat pasal-pasal yang menafsir falsafah sila-sila Pancasila menjadi norma hukum UU,” kata Basarah dalam keterangan tertulisnya, Jumat (26/6/2020).

“Pancasila sebagai norma dasar (ground norm) yang mengandung nilai-nilai falsafah dasar negara bersifat meta-legal dan tidak dapat diturunkan derajat hukumnya menjadi norma hukum. Apalagi mengatur legalitas Pancasila dalam sebuah hierarki norma hukum apa pun. Karena sebagai sumber dari segala sumber pembentukan hukum, tidak mungkin legalitas Pancasila dilegalisir oleh sebuah peraturan perundang-undangan apa pun,” sambung anggota DPR Fraksi PDIP ini, dikutip dari Kumparan.

(sumber pojoksatu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *