Bangkit Dari Tidurmu!!!!…..Indonesia Sedang Menuju Gerbang Kehancuran

oleh -19 views

PADANG,SUMBARTODAY-Saat bangsa ini memerlukan dukungan dari segenap komponen masyarakatnya untuk melangkah keluar dari krisis global dunia, ada saja gesekan horisontal yang muncul antar umat beragama. Di saat bangsa-bangsa lain sedang berusaha menuju ke gemah ripah loh jinawi, bangsa ini malah mundur sekian langkah dalam hal toleransi umat beragama.

Seluruh komponen rakyat yang memiliki agama menuntut haknya beribadah karena dilindungi oleh UUD 1945 pasal 29 ayat 2. Namun apa jadinya ketika sekelompok umat beragama lain yang menjadi mayoritas bertindak laksana tirani? Bagi mayoritas, mendirikan tempat ibadah hanya butuh waktu hitungan minggu/bulan, sementara bagi minoritas mendirikan tempat ibadah butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Dan ketika surat ijin sudah dikantongi, masih saja ada pula otoritas pemda setempat yang dengan otoriter memaksa menutup tempat ibadah sampai-sampai ke-otoriter-an pemda setempat berani melawan keputusan Mahkamah Agung.

Ketika hal ini terjadi, kadang saya mempertanyakan apakah benar semboyan tepo seliro itu ada di dalam diri bangsa ini? Apakah benar bangsa ini masih bangga akan budayanya sendiri ketika memeluk agama tertentu? Ataukah budaya bangsa ini semakin terkikis digantikan dengan dogma-dogma agama dimana kebudayaan tempat kelahiran agama tersebut sangatlah berbeda jauh dengan sifat-sifat welas asih tepo seliro bangsa ini?

Kepada siapakah masyarakat minoritas menyuarakan aspirasinya ketika aparat pemerintah saja bahkan bisa ditentang keputusannya oleh pemda? Dimanakah otoritas dan kewibawaan otoritas pusat ketika ada sekelompok orang mengancam kebebasan umat agama lain beribadah?

Apakah bangsa ini di ambang kehancuran? Apakah bumi pertiwi tercinta ini pada akhirnya terkotak-kotakkan menjadi propinsi berdasarkan agama tertentu? Apakah bangsa ini semakin mundur?

Sejarah mengajarkan, selain invasi bangsa lain dan bencana alam, tenggelamnya sebuah bangsa juga disebabkan karena runtuhnya moralitas dan nilai-nilai, yang mengubah kebersamaan menjadi mementingkan kepentingan individu dan kelompok (agama, suku & parpol), mengubah rasa saling percaya menjadi saling curiga, mengubah persatuan jadi perpecahan.
Karena itu, kita hanya bisa mempercepat dan mengarahkan keruntuhan sistem negara era reformasi yang pasti berdampak pada Baratayudha.

Untuk tujuan meminimalisir ekses negatif terhadap masa depan bangsa dan negara.
Apapun obat mujarabnya, rasanya saat ini sangat sulit menyembuhkan penyakit bangsa yang telah kronis. Kini, keruntuhan moral dan nilai-nilai telah menimpa mereka yang berkuasa di eksekutif, yudikatif dan legislatif, juga di gerakan masyarakat sipil (LSM & gerakan mahasiswa & intelektual).

Bahkan, media massa yang harusnya menjadi kekuatan kontrol independen, tapi justru menjadi alat kepentingan parpol yang sebenarnya adalah maling.
Tak perlu heran jika terjadi gontok-gontokan antar institusi negara yang lebih buruk dari kebun binatang, lantaran pejabatnya adalah produk yang tak lepas dari sistem dan situasi politik Pemilu 2014 yang diwarnai politik uang.

Ciri-ciri Negara Kesatuan Republik Indonesia menuju Gerbang kehancuran semakin jelas.

Negeri yang subur makmur ini menjadi incaran banyak negara tamak dari dahulu sampai sekarang. Ancaman dari luar mengakibatkan maraknya adu domba semakin terasa.

Hanya saja rakyat sepertinya tak peduli dengan apa yang akan dihadapi kedepan, maka semakin sempurnalah kenyaaan dari rencana besar yang selama ini telah dilaksanakan. kita akan kembali dijajah. skenario besar Yahudi akan menjadi kenyataan pahit dikemudian hari.

Krisis multi dimensi sulit disembuhkan; penguasaan aset-aset negara oleh asing semakin merajalela, serangan ideologis, politis dan ekonomis oleh negara lain terasa semakin gencar, hilangnya identitas bangsa dengan semakin pudarnya rasa nasionalisme masyarakat di negeri ini, juga gurita korupsi yang semakin akut. dengan mata telanjang mereka sengaja membela kepentingan orang yang sebentar lagi akan membuat NKRI dipenjara.

Ironisnya, masyarakat seolah semakin menikmati adanya gempuran yang bertubi-tubi ini. gilanya, mereka asyik minum kopi di teras cafe malam tanpa merasa terancam.

Masyarakat dengan senang hati lebih memilih produk luar negeri dibandingkan produk sendiri. Masyarakat lebih membanggakan identitas budaya lain ketimbang budaya sendiri.

Sikap hedonisme menjadi panutan semua kalangan di negeri ini. Lebih memprihatinkan lagi, penguasa negeri ini tanpa merasa berdosa memeras rakyatnya sendiri dengan dalih kesejahteraan, menjual aset-aset negeri ini kepada asing dengan imbalan yang menggiurkan.

Tidak jarang penguasa memperkosa rakyat dengan menjual jasa perusahaan dalam negeri kepada rakyatnya dengan harga yang sangat mahal. Penguasa manfaatkan kesempatan dengan menyalahgunakan kekuasaan untuk memeras rakyatnya sendiri.

Kondisi memprihatinkan ini jika dibiarkan tentu akan mengancam eksistensi bangsa. Kejayaan bangsa akan segera pudar seiring dengan pudarnya rasa nasionalisme.

Saat ini kecenderungan untuk bergantung kepada negara lain sudah sangat jelas. Seperti, pengadaan bahan makanan.

Bukan hanya sekedar persoalan kedelai dan daging sapi, yang seharusnya menjadi produk andalan negeri agraris ini, malah  yang terjadi sebaliknya.

Dua komoditas ini menyadarkan betapa bodoh dan lemahnya bangsa kita dibandingkan dengan bangsa lain, negara yang gemah ripah loh jinawi, jnamun kebutuhan kedelainya bergantung pada Amerika Serikat yang notabene memiliki iklim yang tidak lebih baik dari kita.

Kepada bekapjabar.com H. Mulyadi salah satu kader terbaik partai Gerindra merasakan pemerintahan sekarang tidak memikirkan masa depan Bangsa.

Penguasa saat ini tidak lagi pantas memimpin Bangsa dan Negara sebesar ini  dimasa depan, yang mereka pikirkan bagaiman mengabil keuntungan pribadi maupun golongan mereka”, pukasnya.

Bangsa dan Negara ini harus berkelanjutan, kepentingan harus NKRI diatas segalanya kepentingan, saya mengamati tidak ada kebijakan yang mementingkan Masyarakat, Bangsa dan Negara hampir semua kebijakan berpihak pada kepentinga Asing dan Aseng. Dan celakanya lagi banyaknya Narkoba yang masuk dari Cina. Jelas ini sangat merusak mental dan moral Anak-anak Bangsa. Bangsa dan Negara ini adalah titipan dari anak cucu kita wajib kita jaga dengan Baik, kalau semua Aset-Aset Bangsa ini dikuasai oleh Asing karna terlalu melambungnya Hutang maka Kedaulatan Negara ini di Ambang Kehancuran. Kalo Rezim ini terus berkuasa saya pikir negara ini akan hancur dalam 3 tahun kedepan kita tidak akan lagi berdaulat dan kita akan jadi pembantu di Negara kita Sendiri, Selamatkan NKRI.

Wahai anak bangsa bangun dari tidurmu jangan terlena dengan Janji janji Palsu Rezim yang Arogan Bangunlah wahaii pemuda pemudi Bangsaku Indonesia, Kedaulatan NegaraMu diambang kehancuran.

TANDA-TANDA KEHANCURAN

  1. Seorang pakar pendidikan karakter dari Amerika mengatakan ciri-ciri kehancuran sebuah negara ditandai dengan adanya ketidakseimbangan masyarakat itu sendiri.
  2. Meningkatnya kekerasan remaja,
  3. Penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk,
  4. Meningkatnya perilaku merusak diri (narkotika, miras, seks bebas dll),
  5. Semakin kaburnya pedoman moral,
  6. Menurunnya etos kerja,
  7. Rendahnya rasa tanggungjawab individu/bagian dari bangsa,
  8. Rendahnya rasa hormat pada orang tua/guru,
  9. Membudayanya ketidakjujuran,
  10. Pengaruh kesetiaan  kelompok remaja yang kuat dalam kekerasan,
  11. Meningkatnya rasa curiga dan kebencian terhadap sesama (Ganiem, 2013).

Ciri-ciri kehancuran sebuah negara tersebut nampaknya sudah nyata di depan mata kita. Kekerasan remaja sudah seperti hal biasa di negeri ini. Lahirnya kelompok-kelompok remaja seperti geng motor yang beberapa bulan lalu menghebohkan bangsa ini adalah bukti adanya kecenderungan anak muda pada kekerasan. Tidak ketinggalan golongan tua pun, banyak melahirkan kelompok-kelompok radikal yang lebih mementingkan golongannya sendiri. Kelompok-kelompok ini suka menebarkan isu-isu kebencian terhadap golongan lain.

Dikutip dari TEMPO InteraktifJakarta: Muhammad Said Didu mengatakan sebanyak 85 persen saham BUMN yang sudah melantai di bursa dikuasai oleh asing. Walau dikuasai asing, kepemilikan tersebut tidak memiliki dampak negatif.”Itu memang saham BUMN yang ada di publik 85 persen dikuasai asing,” kata Said Didu seusai diskusi di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, hari ini.

Dengan kepemilikan asing yang besar itu, berarti pihak asing lah yang menikmati sebagian besar keuntungan BUMN yang sudah go public.Beberapa BUMN besar yang sudah menjadi perusahaan terbuka dan selalu membukukan keuntungan, antara lain PT Telkom Tbk, PT Indosat Tbk, PT Semen Gresik Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Kimia Farma Tbk, PT Adhi Karya Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, PT Bukit Asam Tbk.

Said Didu memang tidak merinci BUMN mana saja yang kepemilikan saham publiknya dikuasai asing.Said menambahkan, walau kepemilikan saham publik dikuasai asing, tidak memiliki dampak negatif. “Kalau 85 persen saham publik dipegang asing, berarti yang menikmati sebagian besar keuntungan adalah orang asing. Bukan orang Indonesia,” kata dia.

Tingginya kepemilikan asing, lanjut Said, menunjukkan minimnya kemampuan investor dalam negeri untuk memiliki saham-saham perusahaan milik negara. “Orang Indonesia harus ditingkatkan kemampuannya. Jadi bisa mendapatkan dividen atau menikmati keuntungan BUMN,” kata dia.tito sianipar

Dikutip dari KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Meski belakangan cenderung menggelar aksi jual, investor asing sepanjang tahun ini masih membukukan beli bersih alias net buy atas saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk alias Bank BRI.

Dihitung sejak awal tahun hingga awal pekan ini, investor asing telah membeli saham Bank BRI (BBRI) senilai Rp 53,4 triliun dengan volume pembelian sebanyak 13,2 miliar saham.

Pada saat bersamaan, penjualan saham BBRI oleh investor asing sebanyak 12,5 miliar dengan nilai sebesar Rp 51 triliun.

Alhasil, investor asing sepanjang tahun ini membukukan beli bersih alias net buy atas saham BBRI senilai Rp 2,39 triiliun di seluruh pasar baik pasar reguler maupun pasar negosiasi.

Aksi investor asing memborong saham BBRI sejak awal tahun membuat kepemilikan asing di BBRI meningkat.

Bahkan,investor asing tampak mendominasi kepemilikan publik atas saham BBRI.

Per akhir Juli 2019, berdasarkan data PT Datindo Entrycom selaku biro administrasi efek (BAE), investor asing menguasai 43,46 miliar saham BBRI.

Jumlah tersebut mewakili 35,23% dari total saham BBRI yang sebanyak 123,35 miliar saham.

Perinciannya, investor individu asing memiliki 40,29 juta saham BBRI. Sementara investor badan usaha asing menguasai 43,4 miliar saham BBRI.

Kepemilikan investor asing atas saham BBRI terus bertambah.

Pada Juni lalu, jumlah saham BBRI yang dimiliki investor asing sebanyak 43,33 miliar saham.

Artinya, dalam kurun waktu satu bulan, investor asing telah menambah 127,37 juta saham BBRI.

Jika dibandingkan dengan kondisi akhir tahun lalu, penambahan saham BBRI yang dimiliki oleh investor asing lebih besar lagi.

Masyarakat sudah semakin permisif, masing-masing mementingkan diri sendiri dengan tidak memperdulikan lingkungan disekitarnya. Sikap individualis sudah menjadi panutan di negeri ini. Akibatnya, pergaulan bebas telah mendarah daging di masyarkat. Negeri yang notabene mayoritas muslim ini, telah mengalami penggerusan identitas. Nilai-nilai luhur bangsa dan agama telah dikesampingkan diganti dengan nilai-nilai sekuler, liberal dan individualis. Hal ini merupakan bukti kemengan barat di dalam menanamkan nilai-nilai ideologis mereka pada masyarkat kita.

UPAYA YANG HARUS DILAKUKAN RAKYAT DAN PEMERINTAH

Adanya berbagai gejala negatif di ranah sosial dan politik di negeri ini harus segera diselesaikan. Jika masyarakat bangsa ini terlena dengan buaian sanjungan dan pujian negara lain atas sistem demokrasi di negeri ini, kita akan hancur dengan sendirinya. Kita tidak boleh terlena dengan sanjungan yang semu tersebut. Sebaliknya kita harus berhati-hati terhadap setiap nilai dan ideologi yang masuk ke negara ini. Penyaringan terhadap nilai-nilai itu perlu dilakukan karena serangan ideologis lebih berbahaya dibandingkan dengan invasi militer sekalipun. Itu sebabnya kewaspadaan dan kehati-hatian atas pengambilan kebijakan di negeri ini perlu dilakukan.

Pemerintah memiliki peran penting di dalam menjaga keberadaan bangsa ini. Pemerintah selaku penentu aran pembangunan harus mengambil langkah-langkah strategis agar kejayaan bangsa ini tetap diakui oleh bangsa lain. Tidak ada musuh terberat di dunia ini kecuali musuh terhadap diri sendiri. Jaman penjajahan kita telah terbukti berjaya karena telah berhasil mengusir penjajah di negeri ini. Namun sekarang ancamannya bukan penjajahan fisik, tetapi penjajahan ideologis, politis dan ekonomis akan menjadi tangtangan terberat masyarakat bangsa ini.

Itu sebabnya perlu diambil langkah-langkah strategis untuk menjaga eksistensi agar bangsa ini tetap berdiri:

Pertama, perlu dilakukan pengambilalihan aset-aset bangsa ini dari tangan asing. Gagasan Soekarno untuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing di negeri ini nampaknya perlu digalakan kembali. Pengambilalihan perusahaan asing di negeri ini akan mampu mengembalikan kekayaan sekaligus kejayaan bangsa ini untuk menjadi negara yang makmur. Bangsa ini tidak akan pernah bisa berjaya sepanjang masih dalam kekangan  dan intervensi negara lain. Salah satu hal yang memgang peranan penting adalah kekayaan alam yang terdapat di bumi tercinta ini.

Kedua, pemerintah harus menggalakan produk dalam negeri. Pemerintah memiliki kewenangan mengatur segala produk yang beredar di negeri ini. Itu sebabnya pengaturan terhadap persebaran produk perlu dikendalikan agar masyarakat tidak terjajah dengan produk-produk luar negeri. Produk dalam negeri harusnya lebih diutamakan agar memberikan kesejahteraan rakyat banyak. Membanjirnya produk-produk luar negeri hanya akan memberi keuntungan pada segelintir orang. Padahal banyaknya produk luar negeri nyata-nyata telah menjadi ancaman vital atas eksistensi negara ini.

Ketiga, masyarakat bangsa ini telah kehilangan identitas. Nilai-nilai luhur Pancasila yang ditanamkan oleh para Founding Father negeri ini telah luntur seiring dengan membanjirnya arus informasi yang sedemikian terbuka. Globalisasi telah menjadikan rakyat bangsa ini kehilangan arah, bahkan lupa terhadap identitas diri sendiri. Pancasila dianggap barang aneh dan asing bagi generasi muda di negeri ini. Generasi penerus kita lebih bangga dengan produk budaya luar negeri dibandingkan dengan budaya sendiri. Faham ini telah membawa perilaku yang menyimpang bagi sebagian besar generasi muda. Walhasil, negeri ini seolah negeri tidak bertuan, yang menjadi bancaan bagi banyak kekuasaan asing. Itu sebabnya pemerintah harus mengembalikan orientasi budaya masyarakat kepada ideologi bangsa, pancasila.

Pembatasan terhadap faham-faham sekuler dan faham apapun yang dapat mengancam identitas bangsa perlu dikendalikan. Pengendalian ini penting dilakukan mengingat derasnya arus informasi telah menjadikan masyarakat negeri ini kehilangan arah. Ideologi pancasila seolah tidak berdaya, bahkan dianggap sudah hilan ditelan bumi. Terbukti banyak masyarakat kita yang tidak faham falsafah negara ini. Negara-negera kuat adalah mereka yang dengan sagala daya upaya mempertahankan identitas bangsanya. Negara-negara seperti Cina, Jepang, Korea dan Amerika adalah negara-negara yang komit terhadap identitas bangsanya. Tidak jarang negara-negara tersebut tidak malu-malu menunjukan lambang negaranya dimana pun mereka berada. Tetapi bagaimana dengan khasus masyarakat kita. Lambang negara hanya keluar setahun sekali, itupun dengan pemahaman nilai yang sangat kering.

Keempat, munculnya ormas-ormas gadungan yang saat ini menjamur di negeri ini akibat lemahnya pengeterapan hukum. Pemerintah harus mengatur dan mengendalikan organisasi-organisasi yang bisa melemahkan persatuan dan kesatuan. Setiap organisasi yang lahir akan membawa faham, pemikiran dan ideologi yang berbeda. Hal ini akan melahirkan kondisi mudahnya masyarakat dipecah belah dan diadudomba. Rakyat akan berperang melawan saudaranya sendiri, masing-masing saling tikam dengan teman sendiri. Walhasil, negeri ini lemah dan rentan terhadap serangan dari negara lain.

Kelima : Berpecah belah menjadi golongan golongan, kita saksikan hari ini Bangsa Indonesia sedang di ganggu oleh politik pecah belah adu domba, sebagai muslim seharusnya kita pedomani Al Qur’an surat 30 ayat 30,31,32 bahwa orang yang mempersekutukan Allah adalah orang yang memecah belah agama mereka menjadi golongan-golongan dan mereka bangga dengan golongan mereka. kita harus menjadi umat yang satu keimanan, yaitu iman kepada Allah dengan sebenar-benarnya beriman.   

Keenam, sudah saatnya bangsa ini mengevaluasi diri akan orientasi demokrasi yang diimplementasikan selama ini. Demokrasi yang kita anut sekarang ini sepertinya telah kebablasan. Kita menganut sistem demokrasi yang digaungkan oleh Amerika Serikat secara membabibuta. Kita sering bangga dicap sebagai negara yang paling demokratis, padahal sesungguhnya kita telah dipecah belah. Barat memuji kita karena meraka telah berhasil memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat bangsa kita.

Siapapun yang memimpin negara ini kiranya perlu mempertimbangkan kembali sistem demokrasi yang kita anut. Lahirnya banyak partai yang begitu menjamur di negeri ini nyata-nyata telah menyulitkan kita sendiri. Kondisi ini semakin melemahkan ikatan emosional sesama masyarakat. Bukan hanya itu, lahirnya multi partai juga semakin memboroskan anggaran di pemerintahan kita. Sistem kepemimpinan kita semakin lemah dimana komando dari atas  kebawah semakin lemah. Walhasil, budaya korupsi merajalela dari Sabang sampai Meroke. Kondisi ini juga semkain mempersulit penyelesaian masalah di negeri ini.

Kita hanya berharap mudah-mudahan pertolongan Tuhan hadir kembali pada rakyat bangsa ini. Di jaman penjajahan, kekuatan persatuan dan kesatuan umat telah mampu mengobarkan semangat mengusir penjajah di negeri ini. Anugrah Tuhan telah menyatukan umat manusia yang ada di negeri ini bersatu padu membentuk sebuah kekuatan yang tidak terkalahkan oleh senjata-senjata super canggih.  Itu sebabnya kita berharap uluran tangan Tuhan datang kembali kepada bangsa ini, sebelum bangsa ini benar-benar berada dalam kehancuran. Semoga!

Mahfud: RI Bisa Bubar Kalau Hukum Tak Ditegakkan

Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Mahfud Md bicara tentang kemungkinan Indonesia bubar. Dia menyebut walau kisah tentang Indonesia bubar pada 2030 adalah cerita fiktif, namun hal itu bisa terjadi jika hukum dan keadilan tidak ditegakkan.

Mahfud mengawali penjelasannya dengan bicara tentang makna kemerdekaan. Menurut Mahfud, dengan kemerdekaan, Indonesia bisa mewujudkan tujuan nasionalnya sebagai sebuah negara.

“Kemerdekaan ini harus dipertahankan untuk menuju tujuan nasional, cita-cita bangsa. Cita-cita kita itu membangun masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Setiap orang berpidato ‘para pemimpin kita dulu kita bangun masyarakat adil dan makmur dasarnya Pancasila’,” ucap Mahfud di Auditorium Jos Soedarso Seskoal, Bumi Cipulir, Jakarta Selatan, Rabu (14/8/2019).

Hal itu disampaikan Mahfud ketika menjadi pembicara di Pembekalan Program Kegiatan Bersama Kejuangan kepada Perwira Siswa Sesko TNI, Sespimti Polri, Sesko Angkatan dan Sespimmen Polri tahun 2019. Mahfud mengatakan tujuan nasional itu bisa dilaksanakan dengan wawasan nusantara atau yang dia sebut sebagai geopolitik.

Gatot Nurmantyo mengutip novel ‘Ghost Fleet’ soal ‘Indonesia bubar pada 2030’ yang pernah diungkapkan Ketum Gerindra Prabowo Subianto. Waketum Gerindra Fadli Zon menilai wajar Gatot memiliki kesamaan berpikir dengan sang ketum.

“Saya kira semua orang yang berlatar belakang berpikir strategi, geo strategic, geo politic itu pasti akan memiliki logika yang sama, bahwa kita ini harus menjaga NKRI yang kita cintai ini jangan sampai pecah,” kata Fadli di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (26/4/2018).
Alasannya, Gatot dan Prabowo memiliki kesamaan latar belakang di bidang militer. Menurut Fadli, pandangan soal bubarnya Indonesia 2030 sudah menjadi kajian dan prediksi di kalangan militer.

Hal itu dibuktikan dengan berbagai tulisan dari jenderal-jenderal negara Barat yang menyatakan hal senada. Karena itu, menjadi tugas dan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk menjaga keutuhan bangsa.

“Karena itu kita harus berusaha dari sekarang mencegah itu dengan berbagai macam cara dan itu menurut saya tidak bisa take it for granted bahwa ini akan gini-gini saja. Karena tentu ada upaya-upaya di internal maupun eksternal yang menginginkan NKRI itu pecah dan itu nyata,” sebut Fadli.
Gatot Nurmantyo mengutip novel yang pernah dikutip Prabowo Subianto soal ‘Indonesia bubar pada 2030’. Novel itu berjudul ‘Ghost Fleet’ karangan PW Singer dan August Cole.

Hal itu disampaikan Gatot ketika menjadi pembicara kunci dalam dialog Urun Rembuk Kebangsaan di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (25/4)

Wejangan Mahfud MD Untuk Menuju Indonesia Emas 2045:

“Apa geopilitik? Itu adalah satu sistem dan aturan-aturan yang berlaku dalam kelompok masyarakat yang hidup dalam satu gugusan belahan bumi yang sama yang terdiri dari berbagai suku, agama, rasa, budaya yang bersatu karena nasib yang sama untuk mencapai tujuan yang sama. Secara geografis, geopolitik kita itu dari Sabang sampai Merauke, 17.504 pulau, dengan 1.360 suku berdasar catatan Kemendagri dan 726 bahasa daerah bersatu untuk tujuan yang sama,” ujarnya.

Dia pun mengatakan harusnya tak ada diskriminasi yang terjadi di Indonesia karena perbedaan yang ada seperti perbedaan agama. Mahfud menyatakan konstitusi melindungi setiap pemeluk agama di Indonesia.

Dia kemudian bicara soal tantangan yang terjadi dalam menuju Indonesia emas seperti radikalisme. Oleh sebab itu, dia berharap TNI-Polri bisa mempertahankan NKRI secara sinergis dalam konsep Sishankamrata (Sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta).

“Kita itu ada di dalam konsepsi sishankamrata. Bahwa seluruh daya alam, seluruh SDM, digunakan sebesar-besarnya untuk mempertahankan secara sinergis Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan geopolitik itu tadi. Oleh karena itu kita semua bagian dari Sishankamrata. Komponen utamanya TNI-Polri kemudian komponen pendukungnya ormas-ormas, siskamling, Pramuka dan lainnya semua itu bersatu dalam konsepsi Sishankamrata. Sehingga harus disinergikan dalam sebuah konsep untuk mencapai tujuan negara,” jelas mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini.

Mahfud kemudian mengatakan dengan Sishankamrata semua pihak akan berperan agar Indonesia emas tercapai. Dia menyebut Indonesia diprediksi bisa masuk kekuatan ekonomi terbesar ketiga di dunia pada 2045.

“Indonesia emas itu kekuatan ekonomi masuk ketiga dunia, itu sudah dihitung, Indonesia kuat tahun 2045. Tahun 2030 Indonesia masuk urutan 6, itu ilmiah,” ujarnya.

Namun, tetap ada pihak yang pesimis kalau Indonesia bisa bubar pada 2030. Meski pandangan itu fiktif, kata Mahfud, Indonesia bisa saja bubar jika hukum dan keadilan tidak ditegakkan.

“Tetapi ada yang pesimis, Indonesia tahun 2030 bubar. Pandangan ini walaupun fiktif harus diperhatikan. Indonesia bisa saja bubar kalau penegakan hukum dibiarkan, semua mau sendiri-sendiri nggak akan sampai Indonesia emas, kalau hukum dan keadilan tidak ditegakkan,” ujar Mahfud.

Dia mengatakan jika hukum tidak ditegakkan maka akan terjadi disorientasi dalam pemerintah hingga menyebabkan korupsi. Akibatnya, masyarakat menjadi tidak percaya pada pemerintah hingga muncul pembangkangan bahkan sampai disintegrasi.

“Orientasinya ketamakan, korupsi, jika tidak diatasi akan menimbulkan distrust, ketidakpercayaan rakyat. Disobedience atau pembangkangan, hakim dibantai, nggak percaya lagi kepada aparat keamanan dan pertahanan. Berikutnya adalah disintegrasi. Kalau itu diabaikan menjadi salah satu upaya yang menggagalkan Indonesia menjadi Indonesia emas 2045,” pungkasnya

Dikutip dari Merdeka.com: Indonesia diprediksi akan hancur di tahun 2020 jika tak segera berganti menjadi Nusantara. Prediksi itu datang dari Arkand Bodhana Zeshaprajna, pria yang belasan tahun mempelajari metafisika.

Doktor lulusan University of Metaphysics International Los Angeles, California, Amerika Serikat ini menjelaskan, dalam ilmu yang dikuasainya dapat terlihat kapan sesuatu hal bakal terjadi. Khusus Indonesia, kehancuran itu akan terjadi dalam enam tahun ke depan.

“Di sana ada satu garis waktu, justru kita bisa lihat polaritas-polaritas negatif. Nah kita sudah melewati 2 fase negatif polarity, nanti kita lewati lagi satu, di 2014 sampai 2023 dengan puncak tahun 2020,” kata Arkand kepada merdeka.com di Jakarta, Rabu (26/2)

Pria bernama asli Emmanuel Alexander ini menjelaskan, tidak ada satu negara maupun perusahaan yang mampu melewati tahapan negatif yang memuncak seperti itu. Maka dari itu, dirinya tetap optimis nama Indonesia diubah menjadi Nusantara.

“Dalam fase negatif seperti itu, jarang sekali hampir tidak pernah bahkan, bila satu perusahaan atau negara dengan polaristas fase memuncak tak bisa melampauinya. Tak pernah ada. Jadi kita sangat berbahaya bila kita tak menggunakan nama nusantara,” jelasnya.

Menurut Arkand, gejala kehancuran Indonesia bisa dirasakan di tahun ini dan tahun depan. Dirinya pun menyebut bahwa mempertahankan nama Indonesia sebagai hal yang nekat.

“Seharusnya nanti berjalan dari tahun ini sampai tahun depan kita lihat gejala-gejalanya itu. Adalah satu kenekatan ketika kita mempertahankan nama Indonesia,” ungkapnya.

Ketika ditanya persoalan selain kehancuran Indonesia dari segi metafisika, Arkand menyebut tidak ada lagi. Sebab, dari ilmu yang dikuasainya ini telah menganalisa bahwa negara ini akan hancur.

“Tidak ada, yang ada Pakar metafisika sebut tahun 2020 puncak kehancuran Indonesia. Bukan dari arti nama. Kita tidak bicara dari arti nama,” terangnya.

Seperti diketahui, Arkand yang merupakan doktor University of Metaphysics International Los Angeles, California, Amerika Serikat itu tetap bersikukuh jika nama Nusantara adalah nama terbaik untuk pengganti nama Indonesia. Sebab, menurutnya, dalam struktur nama Nusantara tak mempunyai angka merah dan bisa membuat kehidupan yang semakin baik untuk orang-orang yang berada di dalamnya kelak.

Analisa Arkand bukan tanpa alasan, dia sudah membuat piranti lunak atau software untuk menganalisa hitungan-hitungan struktur nama yang baik.

Berikut dikutip dari Jurnalisislam.com: Dewasa ini, Indonesia tengah dilanda berbagai masalah. Baik itu masalah bencana, sampai dengan masalah separatisme dan gerakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di tanah Papua yang tengah memakan puluhan korban.

Pemerintah bersama masyarakat terlihat aktif untuk mencari solusi dalam bentuk tindakan dan pikiran. Bahu-membahu agar bumi Pertiwi kembali stabil, tidak terlihat goncang lagi.

Setidaknya ada tiga sebab utama yang dirangkum penulis mengapa Allah menghancurkan sebuah negeri:

1. Bermaksiat Kepada Allah.

Diantara sebab Allah menghancurkan sebuah negeri yaitu disebabkan karena ulah manusia yang membuat kerusakan di bumi baik secara langsung dengan sengaja atau disebabkan kelalaianya.

Banyak yang memahami “kerusakan di muka bumi” hanya sebatas pada hal-hal yang nampak, seperti bencana alam gempa bumi, tsunami dan likuifaksi, kebakaran, pengrusakan hutan, tersebarnya penyakit menular dan lain sebagainya.

Sementara kerusakan-kerusakan yang tidak kasat mata, juga banyak dilakukan oleh manusia. Padahal ini adalah kerusakan yang paling besar dan fatal akibatnya, bahkan kerusakan inilah yang menjadi sebab terjadinya kerusakan-kerusakan yang nampak jelas di atas. Allah Ta’ala berfirman,

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Dalam ayat yang mulia ini Allah Ta’ala menyatakan bahwa semua kerusakan yang terjadi di muka bumi, dalam berbagai bentuknya, penyebab utamanya adalah perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan manusia. Maka ini menunjukkan bahwa perbuatan maksiat adalah inti “kerusakan” yang sebenarnya dan merupakan sumber utama kerusakan-kerusakan yang tampak di muka bumi.

Imam asy-Syaukaani ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Dalam ayat ini) Allah menjelaskan bahwa perbuatan syirk dan maksiat adalah sebab timbulnya (berbagai) kerusakan di alam semesta” (Kitab “Fathul Qadiir: 5/475).

2. Pemimpin yang tidak menjalankan syariat Allah

Allah Menghancurkan Suatu Negeri Lewat Pemimpinnya, Allah berfirman:surat 17 ayat 16

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada Pembesar di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
(Surah Al-Isra’ ayat 16).

Sungguh benar ayat ini membuktikan bahwa setelah kurang lebih 1400 tahun sejak zaman Rasulullah, banyak sekali ayat-ayat yang muncul sebagai kebenaran yang nyata.

Sudah terlihat apabila Allah berkehendak menghancurkan suatu negeri maka para Pembesar, Pejabat, Pemerintah atau orang-orang yang hidup dalam kemewahan telah melakukan berbagai macam kekufuran. Entah itu banjir di Kota Besar karena perselisihan pemerintahannya, entah itu hutan yang gundul karena keserakahan orang-orang kaya, bahkan para pemimpin yang jelas jelas tidak mau memberlakukan syariat Allah di dalam negeri tersebut dan masih banyak lagi contoh-contohnya.

Maka jika semua itu terjadi (kekufuran pembesar-pembesar itu) maka hak Allah untuk menghancurkan suatu negeri sudah final dan Allah akan mengahncurkan negeri itu sehabis-habisnya.

3. Tidak bersyukur kepada Allah (Kufur Nikmat)

Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ ﴿١٥﴾ فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ ﴿١٦﴾ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu: dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya!’ (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar. Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan adzab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (Q.S As saba’ 34:15-17)

وَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ امِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مّنْ كُلّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِاَنْعُمِ اللهِ فَاَذَاقَهَا اللهُ لِبَاسَ اْلجُوْعِ وَ اْلخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ. النحل:112

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezqinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. [QS. An-Nahl : 112]

Kemakmuran negeri saba’.

Kerajaan ini terkenal dengan hasil alamnya sehingga banyak orang yang berhijrah dan berdagang ke sana. Dengan demikian, kerajaan ini bisa menjadi kerajaan yang sangat kaya dan makmur pada saat itu. Allâh Azza wa Jalla mengabadikan keadaan mereka di dalam al-Qur’ân:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allâh) di tempat kediaman mereka, yaitu: dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri [Saba’/34:15]

Dua kebun itu sangat luas dan terletak di hamparan lembah antara dua gunung di Ma’rib. Tanahnya sangat subur dan menghasilkan berbagai macam tanaman dan buah-buahan.

Qatâdah rahimahullah dan ‘Abdurrahmân bin Zaid rahimahullah, dua orang tâbi’i, menceritakan bahwa apabila ada seseorang masuk ke dalam kebun itu dengan membawa keranjang di atas kepalanya, ketika keluar maka keranjang tersebut akan dipenuhi dengan buah-buahan tanpa harus memetik buah tersebut. Dan di sana tidak ditemukan nyamuk, lalat, serangga, kelajengking dan ular. (At-Tahrîr wa At-Tanwîr. Muhammad Ath-Thâhir bin ‘Âsyûr. 1997. Tinusia: Dar Sahnûn.)

Kenapa Allah hancurkan kaum saba’?

Sebelum Ratu Bilqis masuk Islam, kaum Saba’ menyembah matahari dan bintang-bintang. Setelah beliau memeluk Islam, maka kaumnya pun mengikutinya.

Sampai kurun waktu tertentu, kaum Saba’ dalam keadaan bertauhid kepada Allâh Azza wa Jalla , hingga akhirnya kembalilah mereka ke agama nenek moyang mereka.

Allâh Azza wa Jalla telah mengutus tiga belas rasul kepada mereka. Akan tetapi, mereka tetap saja tidak mau kembali ke dalam Islam. Allâh Azza wa Jalla pun murka dan menghancurkan bendungan yang telah mereka buat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir Al-‘Arim (Q.S Saba’/34:16)

Para ulama berbeda pendapat tentang makna al arim di ayat tersebut. Maknanya yang mereka sebutkan adalah sebagai berikut: air yang ditampung bendungan, air yang sangat besar, nama wâdi (lembah), dan mengirim seekor tikus yang menghancurkan bendungan . (Sunan At-Tirmidzi. Abu ‘Îsa At-Tirmidzi. Riyadh: Maktabah Al-Ma’ârif)

Dengan adzab yang Allâh Azza wa Jalla turunkan itu, hancurlah semua kebun yang mereka banggakan selama beratus-ratus tahun dan Allâh Azza wa Jalla gantikan dengan kebun-kebun yang tidak berarti.

Ini semua adalah balasan bagi orang yang sangat kafir kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak mensyukuri nikmat-Nya.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *