Malang Tak Dapat Ditolak, Hidub Lehar Berakhir Sebagai Tersangka

oleh -42 views

PADANG,SUMBARTODAY–Lehar, satu dari empat tersangka kasus dugaan sengketa tanah di Padang yang saat ini berstatus tahanan Polda Sumatera Barat dikabarkan meninggal dunia.

Kabar itu menyebutkan bahwa Lehar meninggal di Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) Dr. M. Djamil Padang, Kamis (2/7) malam.

Dikonfirmasi kepada Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto membenarkan hal itu.
Pihaknya melakukan koordinasi dengan PH tersangka dan dokter untuk mengetahui penyebab kematian dan meminta surat keterangan meninggalnya Lehar.

Berdasarkan keterangan dokter penyebab meninggalnya Lehar karena tumor dan ada infeksi di saluran pernafasan.

Jenazah setelah dinyatakan meninggal telah dibawa keluarganya untuk dimakamkan.

Sebelumnya Singgalang memberitakan bahwa Polda Sumbar resmi menahan empat tersangka sengketa tanah yang melibatkan kaum Maboet dengan objek tanah 765 hektare. Lehar Cs ditetapkan tersangka Direktorat Reskrim Umum Polda Sumbar.

Sebelumnya kasus ini sempat memanas, karena ada penolakan dari masyarakat yang menjadi korban rampasan tanah Lehar Cs.

Sementara itu, Direktur Reskrim Umum Polda Sumbar, Kombes Pol Imam Kabut Sariadi, mengatakan, pengungkapan perkara ini berawal dari laporan polisi nomor LP/182/IV/2020/SPKT-Sbr tanggal 18 April dengan pelapor Budiman.

Dari laporan ini pihaknya menjerat keempat pelaku dengan tindak pidana pemalsuan dan penipuan yang diatur dalam pasal 263 atau 379 jo 55 56 KUHP.

“Keempat  mempunyai peran yang berbeda-beda dalam perkara ini,” kata Imam.

Diceritakan oleh Indrawan ketua LSM KOAD, ” Saya pernah bertemu dengan yang mengurus tanah Ma’boet tersebut, di antaranya Eko, Lehar di Hotel Pangeran sekitar awal tahun 2016. Saat itu Eko melalui seorang teman saya mengajak kami ikut termasuk beberapa orang penyidik Polda Sumbar yang menagani kasus laporan Lehar terhadap pengusaha pengusaha yang sudah menepati tanah sengketa yang berlokasi di By Pass Padang. kalau saya tidak salah Direskrim Polda Sumbar dijabat oleh Kombes Dodi.

Saat itu Lehar dan Eko membuat kesepakatan jual beli dengan harga Rp 500.ooo per Meter persegi. saya sengaja terlibat dalam pembicaraan itu untuk mengetahui keadaan yang sedang terjadi.

Disaat yang beberbeda Eko juga mengajukan diri menjadi perantara kasus lain denga pelapor lain, imbalan yang diminta adalah berupa uang, dengan dibantu Eko kasusnya akan berjalan.

Saya jadi takjub cara mereka mencari uang, karena setahu saya salah satu tanah yang diperjanjikan adalah tanah yang dikuasai syafril atau pirin yang berlikasi di samping SPBE.

Kebetulan tanah tersebut juga sedang bermasalah dengan Budi CS, saya tak habis berfikir, pantasan banyak kasus kasus yang mandek. mana mungkin kasus akan berjalan jika orang-orang seperti ini masih berkeliaran. mungkin ini yang disebut mafia oleh orang orang selama ini “,tutup ketua LSM KOAD

(sumber Harian Singgalang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *