Cara beriman kepada Allah SWT

oleh -0 views

SUMBARTODAY- Sekilas tentang Ranah Minang, perlu di ulas guna meluruskan kembali tentang tugas seorang Pemimpin adalah menjadikan Iman landasan kehidupan, setelah Islam masuk ranah Minang bertambah kokoh dengan Iman Islamnya yang dikenal dengan (Adat basandi sarak sarak basandi kitabullah/Alqur’an.

Sejarah Singkat Nagari Ranah Minang  

Ranah Minang diawali oleh seorang raja yang bergelar Suri Maharajo Dirajo atau Maharajo Sulaiman dikenal dengan juga dengan nama Iskandar Zulkarnain.

Beliau adalah ayah dari Maha Rajo Dirajo,Maharajo Alif dikenal dengan gelar Sultan Alif khalifatullah dari Siak dan Maharajo Dipang yang pergi ke Negeri China, Raja Dili dari daerah Delli, raja Umar bin Razak dari Tiku dan banyak lagi anak anaknya yang tersebar diseluruh penjuru.

Suri Maharajo Dirajo adalah seorang Raja Agung yang beriman dan soleh, begitu yang diceritakan dalam Alquran (QS. Al-Kahfi: 83-98), beliau adalah se­orang raja yang menguasai wilayah dari ujung timur hingga ujung barat, beliau jugalah yang diceritakan yang mengurung Ya’Juz dan Ma’Juz beliau hidup diperkirakan tahun 989 SM, Beliaulah salah satu Leluhur raja-raja di Ranah Minang.

Sampai saat Kedatangan Adityawarman, yang dikabarkan sebagai putra dari Dara Jingga atau Dara Petak/Dara Pita yang merupakan utusan dari kerajaan dari daerah Jawa (Singasari,Majapahit). Pada awalnya diharapkan akan membawa perdamaian di Ranah Minang, namun tidak demikian yang terjadi setelah itu.

Menurut sejarawan Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Kerajaan Minangkabau didirikan oleh Adityawarman setelah berangkat ke Sumatra pada 1339. Sebelumnya, sebagaimana disebut Prasasti Manjusri (1341 M) di Candi Jago, dia menaklukkan Bali bersama Gajah Mada.

Sebenarnya, Adityawarman adalah berasal dari Majapahit, katanya keturunan Melayu. Dia keturunan Mahamantri Adwayawarman. Darah Melayu dari Dara Jingga, putri Kerajaan Dharmasraya.

Namun, Adityawarman tidak berhasil menjadi raja di Dharmasraya, tempat kakeknya memerintah. Di sana sudah ada raja keturunan Tribuwanaraja Mauliwarmadewa.

“Adityawarman lalu mendirikan kerajaan baru di Pagaruyung,” tulis Slamet.

Dari prasasti yang banyak ditemukan di daerah Minangkabau, dapat diketahui pada pertengahan abad ke-14 ada raja yang memerintah di Kanakamedinindra (raja pulau emas), Namanya Adityawarman.

Pada 1347, setelah meluaskan kekuasaannya sampai Pagaruyung, Minangkabau, Adityawarman mengangkat dirinya menjadi maharajadhiraja bergelar Udayadityawarman atau Adityawarmodaya Pratapaparakramarajendra Maulimaliwarmadewa.

Sebelum Adityawarman datang, telah ada dua kerajaan yaitu Dharmaçraya dan Palembang sebagai pelanjut kerajaan Melayu dan Sriwijaya. Keberadaan kerajaan itu diperkuat catatan dari Dinasti Ming. Kronik ini membedakan kerajaan Melayu dan San-fo-tsi.

“Yang dimaksud dengan Kerajaan Melayu adalah kerajaan di daerah Jambi. Pusatnya di Dharmasraya. San-fo-tsi ada di Palembang bekas Sriwijaya,” jelas Slamet.

Pada 1347, setelah meluaskan kekuasaannya sampai Pagaruyung, Minangkabau, Adityawarman mengangkat dirinya menjadi maharajadiraja bergelar Udayadityawarman atau Adityawarmodaya Pratapaparakramarajendra Maulimaliwarmadewa.

Sebelum Adityawarman datang, telah ada dua kerajaan yaitu Dharmaçraya dan Palembang sebagai pelanjut kerajaan Melayu dan Sriwijaya. Keberadaan kerajaan itu diperkuat catatan dari Dinasti Ming. Kronik ini membedakan kerajaan Melayu dan San-fo-tsi.

“Yang dimaksud dengan Kerajaan Melayu adalah kerajaan di daerah Jambi. Pusatnya di Dharmaçraya. San-fo-tsi ada di Palembang bekas Sriwijaya,” jelas Slamet.

Sejarawan Anthony Reid dalam Sumatra Tempo Doeloe berpendapat, kemungkinan kerajaan Budha Raja Adityawarman memberi jalan bagi munculnya tradisi kekuasaan raja di Sumatra Barat bagian tengah. “Tradisi itu hidup berdampingan tetapi kurang harmonis dengan masyarakat Minangkabau yang matrilineal dan pluralistik,” tulis Reid.

Sekira tiga abad setelah masa Adityawarman, raja-raja Minangkabau di Pagaruyung dikenal punya kharisma kuat bagi masyarakat pesisir, hampir di seluruh Pulau Sumatra. Sejak tahun 1660-an perwakilan Belanda di pantai barat Sumatra mulai berurusan dengan raja-raja itu, di sebuah tempat yang disebut “Negeri”.

“Sementara Belanda yang menguasai Melaka untuk VOC setelah 1641 mengetahui, meski samar tentang penguasa Minangkabau di tempat yang mereka sebut Pagaruyung,” kata Reid.

Thomas Diaz, salah satunya. Dia yang bekerja pada VOC, diutus Gubernur Belanda untuk Melaka, Cornelis van Quelbergh, pada 1683 pergi ke hulu Sungai Siak untuk menjalin hubungan dengan Raja Minangkabau.

Peneliti masa kini, kata Reid, menyatakan kalau deskripsi Diaz tentang Pagaruyung tak sesuai dengan lokasi Pagaruyung modern di Sungai Selo, Tanah Datar. Sementara Pagaruyung yang dideskripsikan Diaz terletak jauh ke timur di Sungai Sinaman, antara Buo dan Kumanis.

Dari dahulu sejarah yang sebenarnya sudah berusaha di selewengkan oleh orang-orang yang tidak menginginkan cerita sebenarnya diketahui dan berkembang dimasyarakat.

Adityawarman rupanya sengaja dikirim untuk sebuah misi merubah tatanan adat yang telah ada.

Semenjak dahulu kala Ranah Minang adalah masyarakat ber-Tauhid. Namun setelah kedatangan Adityawarman, sempat beredar kabar meganut kepercayaan Hindu dan Budha, karena bukti-bukti prasasti menunjukkan demikian.

Disaat Adityawarman berkuasa, Ranah Minang dikenal dengan Minangkabau, sejak saat itu kehidupan di Ranah Minang terjadi berbagai macam sengketa yang tidak sesuai dengan aturan adat dan agama Thauhid.

Masyarakat telah menganggap judi dan sabung ayam sebuah kebudayaan yang perlu dipertahankan. kelompok yang dapat dipengaruhi oleh Adityawarman disebut kaum adat, sedangkan lawannya adalah kaum agama, golongan yang menentang raja berkuasa.

Kedatangan Adityawarman utusan raja Jawa yang sebenarnya adalah anak keturan dari Prabu Silinwangi,terbukti adalah gangguan nyata yang tercatat dalam sejarah, bahwa sebenarnya maksud kedatangannya adalah untuk merusak tatanan kehidupan yang sudah mendarah daging di Ranah Minang.

Dengan mengetahui sepenggal cerita diatas, seharusnya kita sebagai anak keturunan Ranah Minang kembali lagi kepada adat yang sebenarnya, karena selama ini adat telah menjadi pedoman kehidupan di Ranah Minang.

Demikianlah sepenggal cerita tentang Adityawarwan raja berkuasa di kerajaan Pagaruyung.

 

Berikut mari kita pahami tentang Apa yang disebut ADAT.

Dalam bahasa Minang pengertian adat adalah Nan indak lakang dek Paneh, Indak Lapuak dek hujan.

Dari dahulu kala masyarakat Ranah Minang sudah memahami, bahwa adat nan sabana adat itu adalah Kebenaran.

Seperti petuah yang kita kenal selama ini, Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka Panghulu, panghulu barajo kepada kebenaran, kebenaran berdiri sendirinya.

Untuk itulah kita harus kembali tegakkan kebenaran, caranya adalah dengan Ber-IMAN dengan IMAN ISLAM, berhakikat dan bersyariat. hanya dengan beriman Islamlah kita akan dapatkan  jawaban semua fenomena yang terjadi diakhir zaman ini.

Setelah Islam diterima di Ranah Minang, adat Minang disempurnakan dengan ketentuan agama, yakni sesuai Al Qur’an dan Sunnah Rasul.

Dengan begitu, ada dua kutub yang menjadi rujukan masyarakat setempat, yakni adat dan agama.

Keduanya saling berdampingan tanpa harus saling meniadakan. Pepatah “Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” merupakan sintesis dari oposisi biner tersebut. Adat berjalan seiring dengan tuntunan agama (syara’/syariat).

Seorang pemuka adat mestilah seorang Muslim yang taat menjalankan syariat Islam. Di saat yang sama, seorang ulama harus memahami adat Minang secara komprehensif.

Pemaknaan “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” telah melalui proses yang amat panjang. Oleh sebab itu, sampai saat ini pun sulit memisahkan antara adat dan agama dalam kultur masyarakat di Ranah Minang.

Sekarang ini, diseluruh penjuru dunia diharapkan Islam akan kembali bersinar terang dari negeri Ranah Minang ini. selayaknya seluruh komponen masyarakat di Ranah Minang ikut menjadi pelaku dalam perubahan ini.

 

Dengan mengutip Firman Allah dalam Al Qur’an, surat Al Kahfi sbb:

Ayat 29..Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Ayat 30.. Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu.

Ayat 55.. Dan tidak ada (sesuatu pun) yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk telah datang kepada mereka dan memohon ampunan kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlaku pada) umat yang terdahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.

Ayat 110.. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu apapun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

berikut mari kita simak Firman Allah dalam Al Qur’an yang artinya :

“Hai orang orang yang yang beriman berjihadlah kamu di jalan Allah dengan harta dan jiwa.

 Dari ayat diatas dijelaskan bahwa tugas manusia adalah menjadi Pemimpin/Khalifah dimuka bumi, oleh sebab itu mari kita luruskan iman masing-masing kita dengan benar, hanya semata-mata dengan tujuan karena kita akan kembali kepada Allah SWT, dengan berpedoman kepada  Al Qur’an dan Sunnah/Hadist Rasulullah SAW.

 

DASAR-DASAR IMAN,TAQWA

Beriman diawali dengan Bertobat,untuk mensucikan diri kita dari perbuatan dosa, sebaiknya bertaubat dibimbing oleh seorang yang telah bertobat terlebih dahulu, jika selama ini kita hidub masih dalam keadaan mencampur adukan yang hak dengan yang batal, seharusnya kita mulai kembali kejalan kebenaran sesuai dengan tuntunann NYA, untuk itu mari kita pahami arti dari Al Qu’ran

Surat 30 (Ar Rum) ayat 30,31,32

  • Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
  • Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,
  • Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka

Dari ayat diatas jelas berpecah pecah suatu yang dilarang oleh Islam melalui Firman Allah.SWT  diatas, Artinya memecah belah Islam itulah yang disebut dengan mempersekutukan Allah.

Surat Al Baqarah :

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang ber TAQWA,

  1. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,
  2. dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.
  3. Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.
  4. (yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
  • Pada ayat 186 yang artinya: dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

Terlebih dahulu mengetahui (ber-ILMU) tentang IMAN, kemudian kita PAHAMI, kita YAKINI, kita IMANI dan AMALKAN.

Dasari semua perbuatan atas kebenaran Lillahi Taala. berikut ini mari kita berpegang pegang kepada Rukun Iman, pelajari dan ketahui tentang bagaimana beriman :

  1. Iman kepada ALLAH
  2. Iman kepada yang Gaib/Malaikat sesuai surat Al.Baqarah ayat 2
  3. Iman kepada Nabi dan Rasul
  4. Iman kepada Al Qur,an dan Kitab-kitab sebelumnya
  5. Iman kepada Qada dan Qadar
  6. Iman kepada hari kemudian

 

Kenapa Allah SWT dalam Firmannya sering memakai kata kami?

Jawab: karena Allah SWT bekerja melalui Alam Semesta dan seisinya termasuk hal-hal yang bersifat Gaib.

Manusia terdiri dari unsur JASAD, JISIM, ROH.

  1. Unsur JASAD terdiri dari Air, Api, Angin, Tanah. (kembali ke asalnya).
  2. Unsur JISIM diri dari NAFSU/ IFRIT/ SETAN/ ANAK CUCU IBLIS ( akan tertahan antara langit dan bumi).
  3. Unsur ROH adalah dari Tuhan, bisa disebut sebagai titik murni yang ada dalam diri manusia atau disebut Nur Muhammad, DIA lah yang akan kembali kepada Tuhan.

Setelah manusia meninggal atau berpisahnya JASAD/tubuh kasar dan JISIM/Tubuh halus.

Manusia yang tidak melakukan perbuatan dosa sekecil apapun atau setelah selesai bertaubat dan Taubat kita diterima oleh Allah SWT maka dosa maupun pahala kita dinilai NOL.

Sehingga setelah manusia meninggal dunia Arwah manusia akan berada di alam Langit/Istana Alam Gaib.

Karena yang ada hanya unsur perbuatan baik dan Ilmu yang bermanfaat, Perbuatan baik/Nur Muhammad inilah yang disebut sebagai Hamba Allah.

Roh diciptakan dari Nur Muhammad, Roh inilah yang akan kembali kepada Tuhan sang Maha Pencipta, sang Penguasa alam semesta, yang menguasai hari kemudian.

Sedangkan Nafsu/sifat Syaitan akan tertahan diantara langit dan bumi, sedangkan bahagian dari Nafsu  yang diterima dan diridhoi ALLAH hanyalah Nafsul Mutmainnah.

Disebut Nafsu Mutmainnah atau Jiwa yang tenang, di alam langit di ilustrasikan sebagai kebaikan dan Ilmu yang bermanfaat, disebut Nafsu Mutmainnah karena perbuatannya selama hidup didunia tidak berbuat jahat, perbuatannya setiap saat di Ridhoi oleh Allah SWT.

Kita akan kembali kepada Tuhan jika kita tidak berdosa atau dengan kata lain telah bertobat dengan taubat nasuha.

Dalam beriman, Bertobat sangat penting dilakukan oleh setiap manusia yang benar benar akan beriman kepada ALLAH SWT.

Nafsu manusia cendrung untuk berbuat jahat, karena selalu digoda oleh Syaitan. sehingga setelah  meninggal dunia jiwa kita belum akan sampai ke  alam langit, itulah yang menyebabkan tertahan antara langit dan bumi.

Apalagi selama didunia tidak mau menuntut Ilmu, sehingga tidak mengetahui asal kejadian dirinya, sehingga tidak paham, tidak yakin, tidak percaya, tidak beriman. Akibatnya jika kita beramal tidak akan diperhitungkan didalam Al Qur’an disebutkan, hanya akan diperlihatkan kemudian akan menguap seperti debu yang berterbangan atau seperti fatamorgana.

Kelebihan umat Nabi Muhammad SAW adalah Ibadah Hakikat/Imannya dilengkapi dengan ibadah Syariat yang dibebankan kepada tubuh kasarnya.

Disaat kita telah BERIMAN  serta melakukan SYARIAT sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Rasullullah SAW, itulah yang menyempurnakan kita untuk menemukan jalan kembali kepada TUHAN.

Arwah adalah bahagian dari tubuh halus/jisim manusia, setelah meninggal dunia, ada yang menyebut sebagai  arwah gentayangan, hantu, Iblis, jiwa jahat atau Jin jahat.

Jin dapat dibedakan atas sifatnya yaitu sifat baik dan buruk.

Jin pada dasarnya terbuat dari api seperti yang firman Allah dalam Al Qur’an, namun akhir-akhir ini diketahui bahwa anak keturunan Jin yang melakukan pelanggaran atas perintah ALLAH ada campuran dari unsur lain, sedangkan api sebagai unsur dasar kejadian jin, dapat artikan sama dengan darah yang berada dalam tubuh manusia.

Jin akan menjadi jin Jahat karena selama hidup di dunia perbuatannya selalu melakakukan perbuatan jahat yang tidak diridhoi oleh Allah SWT atau disebut Nafsu Syaitan, Syaitan adalah anak cucu ifrit/Iblis.

Di alam langit atau alam gaib semua kebaikan tersebut akan menjadi satu berbentuk Cahaya atau Nur, Nur inilah yang akan kembali kepada Tuhan NYA.

Sedangkan perbuatan jahat akan terkatung-katung tak tentu arah dan tujuan, posisinya hanya berada diantara langit dan bumi.

Perbuatan Jahat yang dilakukan oleh manusia disebabkan oleh sifat Syaitan seperti :

Hawa, Nafsu, Iri, Dengki, Hasut, Fitnah, Dendam,Tamak, Serakah, Sombong serta Angkuh. sifat-sifat Syaitan inilah yang menyebabkan manusia sesat/ubud dunia.

Demikianlah sedikit pengetahuan yang dapat menuntun kita kepada keimanan yang benar.

 

TATA CARA ATAU ADAB BERDOA

Firman Allah dalam surat As Sajadah ayat 5

“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-NYA dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”

Bagaimana mungkin doa kita akan terkabul dalam waktu dekat jika lama waktu 1 hari itu sama dengan 1000 tahun.

oleh sebab itu agar doa kita cepat sampai kepada Allah SWT, kita harus mendoakan leluhur kita/nenek moyang kita dalam setiap doa kita karena merekalah yang akan mengangkat doa tersebut ke langit yang lebih tinggi sampai ke pada Allah SWT.

Berdeda dengan Rasulullah Muhammad SAW, kita adalah manusia biasa yang tidak terjaga dari perbuatan dosa, agar doa kita diijabah oleh Allah SWT, maka doakanlah leluhur atau nenek moyang kita terlebih dahulu. karena diantara mereka sudah ada yang berada dilangit, mulai langit pertama sampai ke langit yang paling tinggi. Tak satupun diantara kita yang terlepas dari perbuatan dosa.

Berzikirlah sesudah Sholat sebagaimana yang biasa kita lakukan, seperti membaca Astaugfirullah, Subhaanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Lailahailallah, kemudian bersahalawat kepada Rasulullah Nabi Muhammad SAW.

Kemudian diikuti dengan berdoa setidak tidaknya membaca..

Allahumma’firli waliwalidayya.., Allahumma firlana zunubana, waliwalidayyna warkhamhumma kamarabbayani shagira.

Kemudian membaca Alfatiha berapa kali yang kita inginkan dan harus khusuk dikirimkan untuk seluruh

Nabi serta Rasulullah SAW, serta para sahabat Nabi dan Rasul, dll…(dengan cara sebagai berikut.. Yaa Allah yaa Tuhanku, Hamba memohon IZIN dan RIDHO Engkau yaa ALLAH untuk menyampaikan hadiah pahala dari semua yang hamba baca untuk :

Arwah-arwah Nenek moyang leluhur kita, Raja Alam Ranah Minang, Suri Maha raja Diraja/Maharaja Sulaiman, Sultan Alif Khalifatullah, Tumenggung sakti, Maruhun Alam, Dt Perpatiah Nan Sabatang,Raja Koto Alang,Raja Aur Kuning dll.  Siti hawa, Ratu Balqis, Raja Gerhana Emas penumggang kuda Mas, Putri Kucindan Emas, seluruh Bundo kanduang Ranah Minang, 1.Intan Suri, 2.Siti Zahra, 3.Intan Siti Fatimah, 4.Nilam Sari, 5.Nawang bulan, 6.Sari Bulan, 7.Siti Fatimah Intan Pasisia, 8.Serunting sakti, 9.Rubiah, boleh ditambah nenek kita dsb.

Seluruh penduduk langit, seluruh Syekh penyebar Islam dimuka bumi, Aulia-aulia  Allah, para Suhada,Tabiin dan boleh tambahkan yang lain.

Terkusus untuk Penghulu Alam Nabi Muhammad Rasulullah SAW, Kita memohon kepada ALLAH TUHAN Penguasa Alam Semesta, Pencipta Langit dan Bumi, TUHAN yang menguasai hari kemudian. Tuhan yang maha pengasih dan penyayang.

Garis keturunan Raja Alam /Para leluhur Raja Alam Ranah Minang.

  1. Adam as
  2. Syits
  3. Anusy
  4. Qainan
  5. Mahlail
  6. Yarid
  7. Idris as
  8. Mutawasylah
  9. Lamak
  10. Nuh as
  11. Sam
  12. Arfakhsyadz
  13. Syalih
  14. Abir
  15. Falij
  16. Ra’u
  17. Saruj
  18. Nahur
  19. Azar
  20. Ibrahim AS
  21. Ishaq AS
  22. Yahudza
  23. Farish
  24. Hashrun
  25. Aram
  26. Aminadab
  27. Hasyun
  28. Salmun
  29. Bu’az
  30. waibid
  31. Isya
  32. Daud AS
  33. Sulaiman AS Suri Maha Raja Diraja, Raja kerajaan Kandis, /Iskandar Zulkarnain (989 – 923 SM)
  34. Rajo Koto Alang (Kerajaan Koto Alang)
  35. Rajo Aur Kuning (Kerajaan Kelinci putih)
  36. Raja Umar bin Razaq ( keturunan ke 9, Raja daerah Tiku Pariman)
  37. Maha Raja Alif Khalifatullah (keturunan ke 10, Raja Kerajaan Siak)
  38. Suri Dirajo (Raja kerajaan Darmasraya)
  39. Marajo Basa (Tumenggung Sakti)
  40. Maruhun Alam ( Tanah datar)
  41. Dt Perpatiah Nan Sabatang (Agam)

 

SEBAGAI MANUSIA YANG BERIMAN.

LURUSKAN TUJUAN HIDUP KITA UNTUK KEMBALI KEPADA ALLAH SWT

Dengan memperhatikan Rirman Allah SWT berikut:

Innalillah (kita milik/berasal dari Allah) Wainna ilaihi rajiuun(dan akan kembali kepada Allah)

Mari kita amati proses Dari Allah SWT menjadi Manusia

Berasal dari Allah melalui proses pentajalian diri melalui:

  1. Turun ke alam LAHUT (alam ketuhanan)
  2. Turun ke alam JABARUT (alam ketuhanan)
  3. Turun ke alam MALAKUT
  4. Turun ke alam ROH
  5. Turun ke alam MITSAL
  6. Turun ke alam ASJAM
  7. Turun ke alam INSAN KAMIL/Manusia sempurna (Jasad,Jisim,Roh)

Begitu juga ketika sudah meninggal dunia kita akan Kembali kepada ALLAH SWT melalui proses berikut :

  1. MANUSIA meninggal dunia, berpisah jasad dan Jisim dan Roh, sementara kita ditempatkan ke alam Barzah(Alam Gaib) dimana perbuatan jahat selama didunia akan mengalami azab kubur setelah itu, Arwah manusia tersebut hanya akan berada diantara langit dan bumi sampai kiamat datang.
  2. Jika banyak berbuat kejahatan akan berada diantara langit dan bumi/gentayangan antara langit dan bumi, biasanya disebut Hantu, Syaitan,Ubilih dan banyak istilah lain disetiap daerah.
  3. Jika banyak berbuat kebaikan kita akan ditempatkan di alam langit/Istana alam gaib sesuai dengan tingkat amalan perbuatan kita, menunggu sampai kiamat datang.
  4. Setelah Kiamat manusia dikumpulkan di Padang Mahsar, menunggu masa berhisab, menimbang amal baik dan buruk dan menerima buku rapor perbuatan selama hidub di dunia.
  5. Bagi yang lolos ke alam langit, berzikir di alam Jabarut sampai kiamat datang
  6. Bagi yang lolos ke alam langit, berzikir di alam Lahut sampai kiamat datang
  7. Berzikir di Baitul Makmur, Sidratul Muntaha
  8. Kembali kepada TUHAN yang maha pencipta hanya saja waktunya tidak berhingga untuk sampai di kepada Tuhan kita.

Ihdinash shirothol mustaqim/tunjukanlah aku jalan yang lurus artinya jalan yang lurus untuk kembali kepada ALLAH,  waktunya tergantung pada kita,  setelah kematian atau hari ini saat masih hidub sebagai manusia di dunia fana

Akal sehat yang tidak dipengaruhi oleh nafsu akan memilih menjadi manusia sempurna karena manusia memang diciptakan dari Dzat yang maha sempurna.

Mengenal Allah SWT merupakan tonggak utama yang mendasari Rukun Iman, Setiap Muslim ketika mengucapkan dua kalimah syahadat melalui lidah dan membenarkan dengan hati dan melakukan denga perbuatan.

Beriman seharusnya adalah dengan mengenal Allah SWT terlebih dahulu, melalui ILMU kemudian kita PAHAMI,YAKINI, IMANI  dengan teguh, tidak gampang berubah, baru kemudian meng-AMAL-kan melalui segala perbuatan yang diperintahkan oleh oleh ALLAH SWT melalui Firmannya dalam Al Qur’an.

Seorang muslim yang beriman harus mengenal Allah terlebih dahulu, kemudian mencintai NYA sepenuh hati. Semua perbuatan yang kita lakukan adalah karena ALLAH SWT, Tuhan  Yang Maha Kuasa.

Kembali kepada Allah adalah tujuan hidup manusia, kita hanya akan  kembali kepada Allah dengan cara meng HAMBA kan diri kepada NYA.

kita jangan ragu lagi bahwa Agama yang diridoi Allah SWT adalah Islam, Islam adalah ajaran Allah SWT, yang merupakan jalan yang lurus yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibril AS.

Allah SWT telah menyempurnakan firman NYA dengan ISLAM, tak perlu diragukan, ISLAM diturunkan oleh Allah sebagaimana firmannya dalam surat Ali-Imran, ayat 19, artinya: Sesungguhnya agama yang diredhai di sisi Allah Taala hanyalah ISLAM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *