Dibawah Kaki Gunung Sago, Nagari terkenal Penjual Anak itu kini hanya tinggal nama

oleh -422 views

🌐 Redaktur : Robbi Engles Yunisco, B.nP

_

_

Kabupaten 50 Kota, Sumbar Today – Tepatnya dibawah Kaki Gunung Sago, Nagari Mungo dan Andaleh yakni dikawasan Kecamatan Luak Kabupaten 50 Kota Provinsi Sumatera Barat, salah satu Nagari (Desa) yang terkenal dengan Nagari  Penjual Anak.

Nagari yang Latah disebutkan oleh daerah lain sebagai Nagari Penjual Anak tersebut adalah Nagari yang terkenal dengan Penjual Anak (Bibit) Ikan yang memiliki kualitas yang cukup bagus, sehingga pernah meraih prestasi di sektor budidaya ikan yakni juara 1 tingkat Nasional dalam usaha bisnis ikan Gurami.

Disamping sebagai Sentral Pembibitan dan Budidaya Ikan di Kabupaten 50 Kota dengan Luas lahan Perikanan lebih dari 105 hektar tersebut, para penggiat perikanan didaerah ini terbilang sudah berpengalaman dalam pembibitan dan budidaya ikan, sehingga bibit-bibit yang berkualitas tinggi mampu memenuhi permintaan kebutuhan dari daerah lain seperti Padang Pariaman, Maninjau Kabupaten Agam, Tanah Datar hingga ke beberapa Daerah di Provinsi Riau dan Jambi.

Semenjak beberapa dekade ini Nagari Mungo dan Andaleh cukup memiliki Potensi Alam dan Pengairan yang mendukung dalam proses pembibitan dan Budidaya Ikan, tetapi sudah lebih 5 tahun ini penggiat pembibitan dan Pembudidaya ikan di Nagari Mungo dan Andaleh sudah banyak beralih profesi sebagai pekerja serabutan dikarenakan Pengairan didaerah tersebut tidak lagi memenuhi ketersedian air yang cukup untuk bisa beternak ikan.

Mirisnya lagi, semenjak banyaknya kolam tempat Pembibitan dan Pembudidayaan ikan tidak lagi berfungsi sepenuhnya, bekas kolam ikan tersebut telah beralih fungsi menjadi Parak (ladang) Jagung dan ubi serta menjadi areal persawahan jika ketersediaan air masih ada.

Disaat Kepemimpinan Bupati 50 Kota, Irfendi Arbi pernah menyebutkan Nagari Mungo termasuk Kawasan yang sudah ditetapkan sebagai daerah Mina Politani di Kabupaten 50 Kota, dikarenakan sebagian masyarakat dibawah kaki Gunung Sago tersebut bergerak dibidang usaha perikanan terutama pembenihan ikan.

Sebelumnya, Khusus didua Nagari ini setidaknya setiap minggunya bisa memproduksi lebih dari 2 juta ekor benih ikan dalam berbagai jenis seperti Ikan Gurami Sago yang merupakan Maskotnya Bibit di Nagari tersebut.

Adapun jenis ikan lain yang sering diproduksi adalah ikan Lele, ikan Nila, Berbagai jenis ikan Mas, Ikan Rayo, Ikan Kaloe, Paweh hingga berbagai jenis ikan Hias.

Aprianti Sahar Dt.Rang Kayo Basa Sekretaris Gabungan Kelompok Perikanan  (GAPOKAN) Gurami Mungo Lestari kepada Media, Selasa (08/06/2021) menyebutkan, sebelumnya  ada sekitar 23 kelompok pembenihan dan pembibitan ikan di Nagari Mungo, rata-rata ada sekitar lebih kurang beranggotakan 15 orang disetiap kelompok sadar perikanan.

“Sebelumnya Ada sekitar 23 Kelompok Sadar Perikanan yang tergabung di Gapokan Gurami Mungo Lestari, masing-masing kelompok rata-rata beranggotakan lebih dari 15 orang yang aktif di Perikanan dan apabila ditotalkan mencapai lebih dari 400 orang yang hidup dari usaha perikanan di Nagari Mungo” sebut Aprianti Sahar.

“Tapi seiring waktu berjalan saat ini, ditambah lagi karena ketersedian air di Nagari Mungo sudah dibilang jauh dari cukup walaupun ada sekitar 4 embung di nagari mungo untuk menampung air dimusim hujan belum mampu mencukupi, maka penggiat perikanan dan kelompok sadar perikanan sudah semakin berkurang, boleh dikatakan 25 porsen personal yang masih aktif, selebihnya sudah beralih mencari kehidupan diluar perikanan” lanjutnya

Aprianti Sahar Dt.Rang Kayo Basa yang juga Ketua Kelompok Sadar Perikanan Bibit Jaya dan Ketua Pasar Ikan Mungo Online (PIMO) menyarankan agar ketersedian Air di Nagari mungo kembali ada, solusinya adalah untuk membuat Sumur Bor dan Tandom permanen tempat pengumpulan Air disetiap rumah yang menekuni kegiatan usaha perikanan.

“Solusinya 1 sumur bor dan tandom  permanen disetiap rumah yang giat dalam usaha perikanan, 1 rumah tersebut dengan dianggarkan sekitar lebih kurang 20 juta, semua itu sudah termasuk untuk biaya pembuatan sumur bor dan tandom untuk penyetakon dan penyaringan air dengan kedalaman lebih dari 30 meter sumur bor, nah dengan itu baru bisa selalu tersedia dan tidak mengalami ketekoran air disetiap kolam pembibitan” ungkapnya.

“Solusi tersebut berdasarkan dari hasil Konsep pertemuan kita dengan Balai Riset KKP Pusat baru-baru ini, disaat mereka melakukan peninjauan dan sosialisasi untuk perencanaan mendirikan Kampung Ikan Hias di Nagari Mungo dengan kesimpulan mengadakan sumur bor dan tandom disetiap rumah sebagai pelaku usaha perikanan” tuturnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *