TUMBAL, 584 Kyai dan 894 Petugas KPPS Meninggal Dunia

oleh -15 views

Sumbartoday.Net-Wakil Sekretaris Jendral MUI, Abdul Ghaffar Rozin mencatat sebanyak 584 kiai telah meninggal dunia selama pandemi virus corona (Covid-19) menerpa Indonesia. Data itu didapatkan berdasarkan catatan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU.
“Dalam catatan RMI, hingga 4 Juli 2021, sebanyak 584 kiai wafat selama pandemi virus corona,” kata Rozin dalam keterangannya resminya yang dikutip dari situs resmi MUI, Rabu (7/7).

Meski demikian, Rozin tak merinci khusus apakah semua kiai yang wafat itu akibat terinfeksi virus corona atau tidak. Ia hanya mengatakan Covid-19 turut menjangkit para pemimpin pesantren di wilayah Jawa dan Madura. Bahkan, terjadi peningkatan jumlah kiai dan ulama yang menderita Covid-19.

“Peningkatan penularan yang sangat signifikan terhadap para kiai dan pengasuh pesantren terutama di seluruh wilayah Madura dan wilayah lain seperti Jawa Tengah utara seperti Pati, Kudus, Demak, Jepara, dan daerah lainya secara merata,” kata Rozin.

Di sisi lain, Rozin mengatakan Pesantren pasti memiliki kesadaran yang tinggi terkait bahaya Covid-19. Namun, kondisi itu berubah setelah Hari Raya Idulfitri tahun ini. Kondisi di masyarakat, kata dia, banyak yang mulai bosan dan diiringi dengan kembalinya aktivitas pendidikan di pondok pesantren.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, kondisi ini turut diperparah dengan munculnya varian Delta virus corona. Sehingga menjadi salah satu faktor dalam meningkatnya kasus Covid-19 di lingkungan pondok pesantren.

“Untuk para jamaah, alumni, dan wali santri agar menghindari mengundang kyai untuk hadir dalam acara yang dapat mengundang banyak orang. Cukup meminta, doa restu saja kepada para kyai,” kata Rozin.(Berita ini dikutip dari cnnindonesia.com)

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman mengungkap jumlah petugas penyelenggara pemilu yang meninggal dunia pada Pemilu 2019 lalu. Menurut Arief, total ada 894 petugas yang meninggal dunia dan 5.175 petugas mengalami sakit. “Ini yang banyak dijadikan diskusi di publik tentang jumlah petugas yang meninggal dan petugas yang sakit. Kami sudah menyelesaikan tugas dan tanggung jawab kita,” kata Arief dalam acara Refleksi Hasil Penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019 dan Persiapan Penyelenggaraan Pemilihan Serentak 2020 di Kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (22/1/2020).

Diketahui, berdasarkan data Kementerian Kesehatan melalui dinas kesehatan tiap provinsi mencatat petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang sakit sudah mencapai 11.239 orang dan korban meninggal 527 jiwa. Berdasarkan siaran pers Kementerian Kesehatan yang diterima di Jakarta, Kamis (16/5/2019), seperti dikutip Antara, jumlah korban sakit dan meninggal tersebut hasil investigasi Kemenkes di 28 provinsi per tanggal 15 Mei 2019. demikian dikutip dari Kompas.com dengan judul “Refleksi Pemilu 2019, Sebanyak 894 Petugas KPPS Meninggal Dunia”

Beberapa bulan terakhir banyak ulama Indonesia yang meninggal dunia. Mengapa begitu banyak ulama meninggal dunia dalam kurun waktu setidaknya satu tahun terakhir?

Direktur Aswaja Center Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin, mengatakan bisa jadi wafatnya para ulama tersebut ada beberapa faktor penyebab. “

Saya tidak tahu secara pasti apa penyebabnya. Boleh jadi karena beberapa hal,” ujar dia, dalam keterangannya, Ahad (24/1). Dia menyebutkan faktor penyebab itu antara lain yang pertama faktor usia. Rasulullah dalam sejumlah riwayat menyebutkan:

ﻟﻜﻞ ﺷﻲء ﺣﺼﺎﺩ ﻭﺣﺼﺎﺩ ﺃﻣﺘﻲ ﻣﺎ ﺑﻴﻦ اﻟﺴﺘﻴﻦ ﺇﻟﻰ اﻟﺴﺒﻌﻴﻦ (اﺑﻦ ﻋﺴﺎﻛﺮ) ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ “Setiap sesuatu memiliki masa panen. Dan masa panen (wafat) umatku adalah usia antara 60 sampai 70 tahun.” (HR Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas)

Faktor kedua adalah musibah dalam agama.  Dia mengutip hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abu ad-Darda’ berikut:

ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ اﻟﺪﺭﺩاء ﻗﺎﻝ: ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻳﻘﻮﻝ: ” «ﻣﻮﺕ اﻟﻌﺎﻟﻢ ﻣﺼﻴﺒﺔ ﻻ ﺗﺠﺒﺮ، ﻭﺛﻠﻤﺔ ﻻ ﺗﺴﺪ ﻭﻫﻮ ﻧﺠﻢ ﻃﻤﺲ، ﻭﻣﻮﺕ ﻗﺒﻴﻠﺔ ﺃﻳﺴﺮ ﻟﻲ ﻣﻦ ﻣﻮﺕ ﻋﺎﻟﻢ» “. ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ

“Dari Abu ad-Darda’ bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Wafatnya orang berilmu adalah musibah yang tak terganti kan dan lobang menganga yang tidak bisa ditambal.

Wafatnya orang berilmu seperti bintang yang redup. Wafatnya satu suku lebih ringan bagiku dibanding wafatnya orang yang berilmu.” (HR Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir 

4 Tanda Kiamat, Salah Satunya Banyak Ulama Meninggal

Ada 4 tanda kiamat akan terjadi. Huru-hara akan terjadi dan sejatinya umat muslim memang harus mengimani akan terjadinya Hari Kiamat.

Namun hanya saja, mengenai kapan waktunya hari akhir akan tiba hanya Allah SWT saja yang tahu.

Kiamat merupakan peristiwa paling menakutkan bagi seluruh makhluk yang hidup di alam semesta. Pasalnya saat kiamat tiba, seluruh alam semesta beserta isinya akan hancur lebur tanpa bersisa.

Baca Juga: 4 Keistimewaan di Bulan Rajab

Mengutip dari buku berjudul “Dahsyatnya Hari Kiamat: Rujukan Lengkap Hari Kiamat dan Tanda-Tandanya berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah Karya Ibnu Katsir, pada Sabtu  (13/2/2021), sebelum hari kiamat tiba, akan terjadi huru-hara yang akan melanda manusia khususnya umat Islam.

1. Islam Kembali Asing sebagaimana Awal Kedatangannya

Di dalam Ash-Shahit disebutkan hadis al-A’masy dari Abu Ishaq dari Abu al-Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, Islam mulai dalam keadaan asing dan akan kembali asigg sebagaimana semula. Karena itu, berbahagialah orang-orang asing.” Seseorang bertanya, “Siapakah orang-orang asing itu?” Beliau bersabda, “Orang-orang yang menyingkir dari setiap kabilah.” Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini dari Anas dan Abu Hurairah.

2.Perpecahan Umat

Ibnu Majah berkata, “Abu Bakar bin Abi Syaibah bercerita kepada kami, Muhammad bin Basyar menuturkan kepada kami, Muhammad bin Amru mengisahkan kepada kami dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: ‘Orang-orang Yahudi terpecah menjadi 71 kelompok dan umatku terpecah menjadi 73 kelompok’.” (HR. Ibnu Majah).

3.Hilangnya Ilmu dengan Wafatnya Para Ulama

Dalam Ash-Shahil disebutkan dari Abdullah bin Amru bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu sekaligus dari manusia. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan kematian para ulama sehingga ketika tidak ada lagi orang berilmu, orang-orang menjadikan pemimpin yang bodoh kemudian mereka memberikan fatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari).

4. Hilangnya Ilmu dari Manusia pada Akhir Zaman

Ibnu Majah berkata, “Muhammad bin Abdillah bin Numair bercerita kepada kami bahwa Rasulullah bersabda: ‘Menjelang Kiamat akan terjadi hari-hari yang ketika itu ilmu diangkat dan kebodohan diturunkan serta merebak pembunuhan’.” (HR. Muttafaq ‘Alaib).

Demikianlah hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadis al-A’masy dengan redaksi seperti itu. Ibnu Majah berkata, “Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah bersabda: ‘Islam akan terhapus sebagaimana terhapusnya renda pakaian sehingga tidak diketahui apa itu puasa, sholat, ibadah, dan sedekah. Dalam satu malam timbul kelupaan terhadap al-Kitab sehingga tidak tersisa satu pun ayat di muka bumi dan tersisa satu kelompok manusia. Orang tua renta dan jompo yang berkata: “Bapak bapak kami pernah memberitahu mengenai kata la Itaha illallah latu kami mengucapkannya’.”  sumber Republika.co.id

Dalam beberapa pekan terakhir sejumlah ulama Tanah Air wafat. Banyak orang yang berpandangan bahwa meninggalnya banyak ulama akhir-akhir ini menjadi bukti hadits Rasulullah. Hadits yang dimaksud yakni hadits riwayat Bukhari dan Muslim berkaitan dengan diangkatnya ilmu dari umat Islam, sehingga tak tersisa ulama dan manusia menjadikan orang bodoh sebagai rujukan, dan orang bodoh akan berfatwa tanpa ilmu. Juga hadits riwayat Imam Bukhari tentang diangkatnya ilmu dan diteguhkan kebodohan.

Pendakwah sekaligus Kepala Lembaga Peradaban Luhur (LPL) Ustaz Rakhmad Zailani Kiki mengatakan mengaitkan hadits tersebut langsung dengan meninggalnya para ulama belakangan ini merupakan kekeliruan. Menurutnya hadits itu justru menjadi peringatan bagi umat untuk melakukan regenerasi ulama

“Ada kekeliruan dari sebagian umat Islam dalam memahami kedua hadits di atas,yaitu bahwa kedua sabda Rasulullah SAW tersebut bukan untuk membuktikan dan bukan saatnya isi dan maksud  dari kedua teks hadits tesebut terjadi, tergenapi, yang disebabkan telah banyaknya ulama yang wafat.  Tetapi kedua hadits terseebut merupakan peringatan bagi umat Islam dan ulama yang masih hidup untuk tidak lalai, harus lebih giat dan serius dalam melakukan regenerasi, kaderisasi, ulama yang bekualitas dan miliki kompetensi yang tinggi sehingga ilmu keislaman tidak jadi diangat atau hilang dari umat Islam dan salah satu tanda kiamat tidak terjadi,” jelas ustaz Kiki dalam pesan singkat yang diterima Republika,co.id pada Ahad (17/1).

Ustaz Kiki menjelaskan bahwa  sudah menjadi ketetapan Allah setiap orang termasuk para ulama akan mengalami kematian baik karena pandemi maupun sebab lainnya. Ia mengatakan banyaknya ulama yang wafat secara beruntun bukan hanya kali ini saja.

Sejak peristiwa perang Yamamah, Jamal dan perang Shiffin, perang antara sesama sahabat Rasulullah yang merupakan Al-Fitnatul Kubro, fitnah yang paling besar dalam sejarah umat Islam, banyak ulama dari kalangan sahabat yang tewas terbunuh.

Peristiwa yang paling dahsyat adalah saat serbuan pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan ke jantung kekuasaan kekhilafahan Abbasiyah di Kota Baghdad pada tahun 1258M. Serbuan ini bukan saja meruntuhkan Kekhalifahan Abbasiyah, tetapi banyak sekali ulama terbunuh.

Dikisahkan, pasukan Mongol ini membunuh banyak ulama, cendekiawan, membunuh imam-imam masjid dan penghafal-penghafal Alquran, masjid, sekolah dan segala aktivitas keilmuan berhenti total.

Perpustakaan yang merupakan gedung ilmu dihancurkan dan buku-buku yang ada di dalamya dibakar dan dibuang ke sungai  Tigris. Saking banyaknya buku yang dibuang di sungai Tigris, konon dilaporkan bahwa air Sungai Tigris menjadi  berwarna hitam sekelam tinta pada hari pelemparan buku-buku dari berbagai perpustakaan ke sungai tersebut.

Pertanyaannya, apakah dengan peristwa dahsyat ini, yang ulama banyak sekali terbunuh dan kitab-kitab terbakar habis dan hancur di sungai Tigris, lalu serta merta ilmu keislaman diangkat, hilang dari umat Islam dan salah satu tanda kiamat tergenapi?
Jawabannya jelas tidak karena setelah itu generasi ulama muncul kembali dan kitab-kitab keislaman kembali banyak diterbitkan karena umat Islam dan ulama yang tersisa sangat gigih melakukan regenerasi, kaderisasi ulama.

“Begitu pula dengan wafatnya ulama karena pandemi. Bukan kali ini saja, saat pandemi Covid-19, banyak ulama yang wafat, tetapi sudah sejak lama juga berkali-kali tejadi pandemi, telah menewaskan juga banyak ulama. Lalu apa juga serta merta ilmu keislaman diangkat, hilang dari umat Islam dan salah satu tanda kiamat tergenapi? Jawabannya sekali lagi jelas, yaitu tidak,” katanya.

Karena itu ustaz Kiki mengingatkan agar para mubaligh tidak berceramah yang menakut-nakuti dan berpandangan keliru tentang banyaknya ulama yang wafat.

“Janganlah berceramah yang terkesan menakut-nakuti, yang membuat umat berpandangan keliru tentang banyaknya ulama yang wafat, terutama di masa pandemi Covid-19 ini sehingga umat menjadi makin sedih, pesimis, putus asa, apalagi banyak umat lagi merana karena kesulitan ekonomi dan pendidikan akibat dari pandemi Covid-19 yang masih belum jelas kapan berakhirnya. Berikanlah ceramah yang membangkitan optimisme, harapan dan kebahagiaan. Memang ketika ada ulama yang wafat bahkan banyak ulama yang wafat di masa pandemi Covid-19 ini umat Islam harus bersedih, namun kesedihan itu harus dibalas dengan kerja keras bersama ulama yang masih ada untuk melakukan regenerasi, kaderisasi, agar kedua sabda Rasulullah SAW tersebut tetap menjadi peringatan yang tidak terjadi,” katanya.

Persiapkan diri kita, Akhir zaman sudah dekat, Luruskan iman dengan iman yang sempurna kepada Allah swt.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *